Rasa takut serta berdebar membuat keringat Eisha menetes di tengah ruangan ber-AC ini. Bagaimana mungkin Alister langsung mengetahui kalau dirinya bukan Galuh? Tidak, ia pasti telah salah mengira.
“Ke-kenapa kamu bilang begitu?” Eisha memberanikan diri memberi respon. Ia harus meyakinkan pria itu bukan?
Namun, ia menyesali suara yang keluar dari mulutnya. Padahal sudah berusaha setenang mungkin, tetapi tetap saja suaranya terdengar bergetar. Sekarang ia justru semakin berdebar berkat respon tidak efektifnya tersebut.
Tapi, siapa sangka reaksi Alister di luar dugaan. Eisha mendengarnya tertawa pelan. Ini sungguh mengejutkan. Sepertinya mood-nya sudah jauh membaik dibanding sebelumnya.
“Karena Galuh yang kukenal biasanya terlihat tegas dan berani.” Entah perasaan Eisha saja, nada pria itu terdengar mengejek. “Dia tidak pernah sekali pun menunduk di hadapanku.”
Kini Eisha kembali dibuat bingung harus merespon bagaimana. Setidaknya sekarang ia mendapat satu informasi penting soal Galuh yang nantinya bisa ia praktekan.
Ah, bicara soal Galuh … tiba-tiba ia penasaran akan sesuatu.
“Bagaimana … kalau aku memang bukan Galuh?” Entah mendapat keberanian dari mana, Eisha mempertanyakan hal tersebut.
“Aku akan langsung menyingkirkanmu, tentu saja,” jawab Alister tanpa ragu. “Lancang sekali kamu berani meniru Galuhku.”
Seketika Eisha merinding mendengar jawaban itu. Ia menyesal telah bertanya. ‘Apa menyingkirkan itu berarti membunuh?’ Refleks Eisha meneguk saliva membayangkan dirinya bisa jadi akan bernasib demikian.
Menyadari rasa tidak nyaman terpancar dari wanita yang tengah direngkuhnya, dengan lembut Alister memutar tubuh wanita itu menghadapnya.
“Tenang saja, sekarang aku sudah cukup yakin bahwa kamu memang Galuhku,” ujarnya mencoba menenangkan.
Eisha mengembuskan napas lega. Setidaknya ia punya kesempatan bertahan hidup dengan cara berperan menjadi Galuh sebaik mungkin.
Omong-omong, posisi ini membuat Eisha merasa tak karuan. Jarak mereka begitu dekat, wajah Alister berada tepat di depan wajahnya. Dari jarak ini Eisha dapat merasakan jelas tatapan dalam Alister serta aroma nafasnya yang maskulin. Terlebih tangan kekar pria itu juga masih setia memeluk pinggang rampingnya. Situasi ini betul-betul membuat sisi sensualitas Eisha bergetar.
“Kebiasaanmu masih sama persis, Galuh. Bahkan setelah melupakan segalanya, kamu masih setia mengagumi mahakarya kita. Foto pernikahan kita,” ujar Alister lagi.
Pria itu kembali mengarahkan tubuh Eisha menghadap foto yang sebelumnya sempat menyita perhatiannya. Sampai saat ini pun rangkulannya tak pernah lepas dari tubuh mungil Eisha. Justru semakin merapat. Seolah-olah Alister sedang melampiaskan rasa rindu yang telah ditahannya cukup lama.
Entah apa yang ada di pikiran Alister kala mereka kembali memandangi foto tersebut, kalau Eisha jelas mempertanyakan banyak hal. Salah satunya, kenapa Galuh memiliki kebiasaan memandangi foto pernikahan mereka? Walaupun itu cukup umum, tetapi penjelasan Alister seolah mengarah pada kebiasaan yang lebih spesifik.
Itu sedikit aneh menurut Eisha. Membuatnya bertanya-tanya untuk kesekian kalinya, sebenarnya seperti apa sosok Galuh itu? Semakin Eisha menambah satu pengetahuan tentangnya, dia terasa semakin unik dan misterius.
“Mengagumkan bukan?” Tiba-tiba Alister kembali membuka suara setelah cukup lama hening.
“Apanya?” Eisha menyahut bingung.
“Fotonya,” jawab pria itu. “Andai kamu mengingatnya, kamulah yang menciptakannya sehingga benda itu bisa terlihat begitu mengagumkan seperti ini.”
“Oh, ya?”
“Ya. Kamu yang memilih sendiri foto ini, langsung dari kamera fotografer pernikahan kita dulu. Kamu meminta foto tersebut dicetak besar-besar, kamu yang memilih bingkainya, kamu juga yang menyarankan untuk memajangnya di sini. Tepat di tengah ruangan, menjadi pusat dari segala dekorasi yang ada.”
Sekarang satu pertanyaan Eisha terjawab. Sepertinya karena itu Galuh jadi sering memandangi foto ini. Karena dia yang merangkainya. Padahal tadinya Eisha mengira ada alasan yang lebih khusus. Ternyata pikirannya saja yang berlebihan.
Tawa renyah Alister sekali lagi lepas. Membuat Eisha refleks mengangkat kepala, mencoba melihat wajah pria itu yang lebih tinggi darinya.
“Kenapa kamu tertawa?” Sekarang Eisha sudah lebih berani untuk banyak bicara. Ia rasa ia harus memperdalam komunikasinya dengan Alister, supaya pria itu bisa lebih yakin kalau ia memanglah Galuh.
Alister menggeleng, “Tidak apa. Aku hanya kembali teringat akan momen itu. Pada saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat seorang Galuh heboh sendiri hanya untuk mencetak sebuah foto. Padahal kamu bisa suruh orang untuk melakukannya.”
Eisha ikut melempar senyum, untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka. Walau agak kaku, tetapi setidaknya ia harus menghargai Alister bukan?
“Ah, aku betul-betul merindukan senyum ini,” ujar Alister lagi seraya membelai wajah Eisha. “Kamu kejam sekali, Galuh, menyiksaku dengan rasa rindu.”
Sekali lagi, hening kembali menyelimuti kedua sejoli itu. Keduanya sama-sama terbuai dalam tatapan. Bedanya, tatapan rindu Alister tulus. Sementara yang Eisha lakukan hanya mengimbangi.
Sesuai kata pria itu sebelumnya, Galuh adalah sosok yang tegas dan berani. Maka Eisha rasa, ia harus berlakon seperti itu.
“Galuh?” Alister memanggil nama istrinya. Posisi mereka masih sama, saling bertatapan sambil tangan Alister masih membelai lembut wajah Eisha yang dalam pandangannya adalah sang istri tercinta.
“Ya?” sahut Eisha.
Alister tidak langsung lanjut bicara. Sampai beberapa saat berikutnya ....
“Boleh aku menciummu?”
**