Bab 9 - Galuh yang Misterius

1280 Words
Untuk ke sekian kalinya hanya dalam beberapa menit terakhir, jantung Eisha kembali dibuat berpacu. ‘Bagaimana ini? … Aku harus menjawab apa?’ Mungkin jika dilihat dari sudut pandang Eisha sendiri, sebuah ciuman bukanlah perkara yang besar. Ia akan langsung mengiyakan permintaan Alister. Tapi, jika ia adalah Galuh, apa yang akan dikatakannya ketika dihadapkan dengan Alister yang meminta untuk menciumnya? Di tengah badai kebingungan yang terasa menekan, mata Eisha menangkap sesuatu. Tidak, lebih tepatnya seseorang, tengah bersembunyi di balik pintu kamar yang masih terbuka sedikit, sambil melambaikan satu tangannya seolah sengaja ingin menarik perhatian Eisha. Dia adalah pelayan tua yang tadi mengantarnya serta Damar saat hendak mendatangi kamar Alister. ‘Ada apa?’ Eisha mempertanyakan maksud kedatangannya dengan melebarkan sedikit matanya. Pelayan itu memberi sebuah isyarat dengan menempelkan telunjuknya di kening. Untuk sesaat Eisha tidak mengerti, tetapi kemudian ia menyadari maksudnya. Ia pun memberikan tatapan penuh terima kasih pada pelayan itu. Tepat saat Alister ikut menoleh ke arah pandang Eisha lantaran wanita itu mengalihkan perhatian darinya, sang pelayan sudah lebih dulu pergi. Eisha mengembuskan napas lega, sementara Alister kembali memandangnya penuh tanya. “Ada apa di sana, sampai kamu mengalihkan pandangan dariku?” tanya pria itu penuh selidik. Eisha menggeleng pelan, “Tidak ada apa-apa, hanya tidak sengaja menatap ke arah sana.” Alister masih menatap tidak senang. Eisha pun segera berinisiatif mempraktikkan apa yang didapatnya dari pelayan tadi. Ditatapnya Alister dalam, seulas senyum Eisha pancarkan di hadapan pria itu. Kemudian telunjuknya mengetuk dua kali pada keningnya, membuat Alister menatapnya bertanya-tanya. “Apa maksudnya itu?” Eisha semakin melebarkan senyumnya. “Jawaban atas permintaanmu sebelumnya,” jawabnya. Untuk sejenak Alister masih menatapnya bingung. Sampai kemudian sorot mata pria itu kembali meneduh. Bahkan yang kali ini terasa sangat menghipnotis, seolah Alister menjerat Eisha dengan hangat tatapannya. “Sekarang tidak perlu diragukan lagi, kamu memang Galuhku,” gumamnya seraya kembali membelai kepala sampai wajah Eisha. Alister memberi kecupan hangat di kening Eisha, sesuai permintaan wanita itu. Hal ini persis sama seperti yang biasa dilakukannya dengan Galuh sejak pertama mereka menikah sampai sebelum dia menghilang. Bukan tanpa alasan Alister sempat sedikit meragukan sosok Galuh yang ditemuinya kembali setelah dua bulan menghilang. Walaupun tengah dalam kondisi hilang ingatan, harusnya itu tidak akan mengubah kepribadian atau kebiasaannya. Tapi, tadi Galuh sempat terlihat seperti orang yang berbeda. Tidak biasanya dia bergetar ketakutan walau semarah apa pun Alister kepadanya. Untungnya segala keraguan itu kini ter tepiskan dengan Alister melihat langsung dua kebiasaan spesifik Galuh yang masih sama. Hal itu sudah lebih dari cukup untuk meyakinkannya bahwa wanita yang berdiri di hadapannya memang lah Galuh istrinya. Mungkin sebelumnya Galuh begitu syok dan ketakutan, karena kondisinya belum stabil, pikirnya. “Aku masih ingin melepas rindu denganmu. Tapi, ada banyak sekali pekerjaan yang harus segera dibereskan,” ujar Alister setelah kecupan romantis barusan. “Tidak apa jika aku pergi sekarang?” Eisha mengangguk. “Tidak apa, kita masih punya banyak waktu. Aku tidak akan pergi kemana-mana lagi.” “Bagus. Untuk sementara waktu, tetaplah di rumah, jangan kemana-mana. Mungkin akan sedikit membosankan, tapi sabarlah. Begitu aku selesai membereskan beberapa hal, aku janji akan mengajakmu jalan-jalan.” “Benarkah?” Alister memberi tatapan penuh keyakinan. “Aku tidak pernah mengingkari janjiku,” ucapnya sebelum melangkah pergi meninggalkan Eisha seorang diri. Setelah punggung pria itu benar-benar menghilang dari pandangan, Eisha mengembuskan napas panjang sekali. Ia bahkan memegangi dadanya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Sungguh ia merasa lemas sekali saat ini. Menghadapi Alister betul-betul menguras tenaga. Beruntung tadi pikirannya tergerak untuk menatap lekat-lekat foto pernikahan Alister dan Galuh. Beruntung juga ia mendapat bantuan dari pelayan tadi. Kalau tidak, mungkin Alister tak akan secepat ini menaruh kepercayaan padanya. Atau yang lebih buruk lagi, bisa jadi pria itu akan menangkap basah dirinya yang merupakan Galuh palsu, lalu menyingkirkannya dengan keji. Eisha bergidik membayangkan hal tersebut. ** Setelah perginya Alister dan Damar yang entah kemana, Eisha kembali berakhir di ruangan pribadi Galuh. Sudah hampir seharian juga ia puas berkeliling menghafal setiap seluk-beluk sudut rumah besar ini. Sekarang ia tengah berbincang serius dengan pelayan yang tadi pagi membantunya memberikan jawaban di hadapan Alister. Tentu saja untuk membahas lebih jauh mengenai alasan di balik tindakan pelayan tersebut. Jika dipikir-pikir, hal itu terasa janggal. “Saya sudah mengetahui kebenarannya dari Tuan Damar, karena itu lah saya membantu Nyonya.” Begitu kalimat pertama meluncur dari mulut pelayan itu, Eisha langsung terkejut pias. Siapa sangka Damar akan melibatkan orang lain selain mereka berdua, serta beberapa bawahannya yang ikut menyaksikan perekrutan Eisha sebagai pengganti Galuh. “Sebelumnya perkenalkan dulu, saya Lestari, kepala pelayan baru di rumah ini menggantikan ibu Tuan Damar yang sekarang sudah tidak bekerja lagi,” ujarnya memperkenalkan diri. Eisha mengerjap, lantas menerima uluran tangannya. Akan tetapi, ia langsung dibuat bingung ingin memperkenalkan diri sebagai siapa. Mendengarnya berkata sudah mengetahui kebenarannya, apa berarti dia sudah tahu kalau Eisha bukan Galuh? Pertanyaan Eisha pun segera terjawab dengan kalimat pelayan itu berikutnya. “Tidak perlu menyebutkan nama, saya sudah tahu siapa Nyonya. Tapi demi menjaga kerahasiaan, saya akan tetap memanggil Anda sebagai Nyonya Galuh.” Eisha masih diam. Ia masih ingin terus mendengarkan apa saja yang ingin dikatakan kepala pelayan itu kepadanya. “Tuan Damar akan sering sibuk belakangan ini karena situasi perusahaan sedang kurang baik. Maka dari itu Tuan Damar mengutus saya untuk membantu Nyonya dalam mempelajari beberapa hal. Khususnya mengenai kebiasaan Nyonya Galuh dalam bersikap ketika di hadapan Tuan Alister.” Melihat dari caranya memanggil Eisha, ia langsung mengakui keprofesionalannya. Sepertinya ia bisa mempercayai Lestari. “Nyonya mungkin sudah melihat sisi Tuan Alister yang temperamental. Tapi di balik itu, dia adalah orang yang sangat berhati-hati. Tuan Alister bukanlah seseorang yang akan mempercayai orang lain dengan mudah. Mangkanya tadi dia mengetes Nyonya beberapa kali, untuk memastikan langsung apakah Nyonya benar-benar Nyonya Galuh atau bukan.” Eisha mengembuskan napas lega. “Aku sangat berterima kasih Bu Lestari sudah datang membantuku,” ujarnya. “Asal Bu Lestari tahu, tadinya aku hampir mengiyakan langsung permintaan Alister. Karena kupikir, Alister dan Galuh adalah sepasang suami istri. Maka wajar jika Alister meminta hal seperti itu dari istrinya, dan istrinya mengiyakan dengan senang hati.” Lestari menggeleng pelan. “Tidak, sayangnya Nyonya Galuh bukan sosok yang seperti itu. Dia sedikit berbeda.” Setelah berhenti sejenak untuk menelan ludah, Lestari kembali melanjutkan, “Di satu sisi, Nyonya kelihatan baik-baik saja dengan pernikahannya. Tapi di sisi lain, terkadang dia terlihat seolah tidak menyukainya. Entah bagaimana pendapatnya yang sebenarnya mengenai pernikahannya dengan Tuan Alister, tidak ada yang mengetahui pasti, bahkan Tuan Damar yang merupakan orang terdekatnya sekalipun.” “Lalu bagaimana aku harus mengambil sikap di hadapan Alister kedepannya? Kalau Galuh semisterius itu, aku jadi ragu tiap kali hendak mengambil tindakan. Aku takut salah langkah dan akhirnya berujung mengacaukan segalanya.” Eisha mempertanyakan keresahannya. “Menurut saya, apa yang Nyonya lakukan sejauh ini sudah cukup baik. Tetap pertahankan saja apa yang sudah berjalan. Hanya saja, coba untuk jangan terlalu ekspresif. Nyonya Galuh cenderung tegas dan jarang berekspresi berlebihan.” Eisha mengangguk-angguk paham. Tapi, ada satu lagi yang mengganggu pikirannya. “Eum, anu … bagaimana dengan … keintiman mereka di ranjang?” Eisha agak malu mempertanyakan hal ini, tetapi ia rasa ini cukup penting. “Aku juga perlu tahu soal itu bukan?” Untuk beberapa saat Lestari hanya menatapnya. Sampai wanita itu memberikan jawaban yang membuat Eisha kembali dihantui gundah gulana. “Mengenai hal itu, itu tugas Nyonya sendiri untuk mencari tahu. Saya pikir, seharusnya Nyonya akan mudah mempelajari hal itu.” Setelah mengatakan itu, Lestari berpamitan untuk kembali bekerja. Meninggalkan Eisha yang merasa tersindir oleh tatapannya ketika mengucap kalimat terakhir tadi. Ya, seolah-olah dia mengejeknya. Sekarang Eisha yakin bahwa Damar telah memberi tahu segala hal tentangnya kepada Lestari, termasuk pekerjaan kotornya selama ini. ‘Lancang sekali pria itu!’ makinya dalam hati. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD