Makan malam disiapkan dengan cukup meriah. Aneka ragam masakan tersaji di atas meja makan dengan plating ala restoran. Padahal Eisha dengar, yang nantinya boleh duduk di sana hanya dirinya dan Alister. Jelas tidak mungkin semuanya akan habis oleh mereka berdua saja. ‘Tidakkah ini mubazir?’ pikir wanita itu.
Eisha sempat menanyakan, apa memang sebanyak ini makanan yang biasa disajikan untuk makan malam mereka berdua? Lalu salah satu pelayan menjawab, “Tidak selalu, Nyonya. Khusus malam ini, Tuan Alister berpesan untuk menghidangkan beraneka ragam makanan sebagai sambutan kepulangan Nyonya. Supaya Nyonya bisa memilih sendiri hidangan mana yang ingin Nyonya nikmati.”
Eisha lumayan tersanjung. Tapi, menurutnya ini berlebihan. Pemborosan. Apa pria itu tidak memikirkan orang-orang kecil di luar sana yang demi mencari sesuap nasi saja harus merendahkan harga diri? Ah, Eisha lupa. Pria sepertinya mana mungkin berpikir ke arah sana. Bahkan bisa jadi dia tidak tahu kalau ada orang-orang yang tidur hanya beratapkan langit.
Waktu demi waktu berlalu, Eisha menunggu kepulangan Alister dengan sabar. Duduk di meja makan dengan ditemani aroma aneka ragam masakan membuat perutnya keroncongan. Namun, sampai pukul delapan malam pria itu belum juga datang. Rasanya Eisha ingin makan duluan, tetapi takut Alister akan marah atau lebih parahnya, mengamuk.
Satu jam lagi Eisha menunggu, rasa lapar mulai berubah menjadi kantuk. Kepalanya sudah jatuh-jatuh, tetapi ia berusaha keras menahannya. Sebagai Galuh ia harus selalu kelihatan tenang nan anggun bukan? Bahkan di tengah mengantuk seperti ini. Hah ... melelahkan juga rasanya menjadi pribadi yang kaku seperti Galuh.
“Permisi, Nyonya, saya membawa kabar dari Tuan Alister.”
Kedatangan Lestari yang tiba-tiba membuat Eisha sedikit terkejut dan kembali terjaga penuh. Eisha pun menoleh padanya, mendengarkan.
“Tuan Alister bilang kalau dia baru akan pulang sekitar tengah malam. Nyonya tidak perlu menunggunya untuk makan malam.”
Eisha menatap datar Lestari. ‘Kenapa baru sekarang bilangnya? Kenapa tidak dari tadi?’ rutuknya dalam hati.
“Kalau begitu aku ingin makan dengan tenang di ruanganku saja,” jawab Eisha menahan kesal. “Apa boleh?”
Lestari mengangguk. “Tentu, Nyonya. Nyonya mau dibawakan makanan apa?”
Eisha lantas berdiri. “Apa saja,” sahutnya singkat, setelah itu segera berbalik berjalan menuju kamar Galuh di lantai dua.
Sesampainya di sana, Eisha langsung menjatuhkan diri di atas ranjang. Napasnya menderu cepat lantaran emosi. Jika saja Alister bukan sosok yang mengerikan, Eisha pasti sudah meneleponnya lalu memakinya sampai puas. Enak sekali dia membiarkan orang kelaparan menunggunya, lalu dengan santainya berkata tidak perlu menunggunya setelah cukup lama dia ditunggu-tunggu untuk makan bersama. Harusnya kalau dia tahu pekerjaannya banyak dan tidak bisa ditunda, dia mengabari lebih cepat. Sungguh tidak berperasaan!
Eisha mulai memejamkan mata mengatur napas. Ia harus menetralkan emosinya sebelum pelayan datang mengantarkan makanan untuknya. Ingat pesan Lestari sore tadi, sebaiknya ia jangan terlalu ekspresif. Karena Galuh jarang sekali berekspresi.
Eisha pun bangkit terduduk dengan hembusan napas panjang. Sambil menunggu makan malamnya datang, ia ingin melihat-lihat isi kamar ini. Siapa tahu ia bisa mendapat informasi penting di sini.
Pandangan Eisha mulai mengedar ke sekeliling. Lalu, matanya terpaku pada meja kerja Galuh. Di sana ada beberapa tumpukan majalah. Eisha membuka beberapa di antaranya. Rupanya semua ini majalah fashion. Sepertinya Galuh memiliki minat pada fashion. Bukan sesuatu yang aneh sih, mengingat dia seorang wanita berkelas yang pakaiannya saja rata-rata dari koleksi brand ternama.
Kemudian pandangan Eisha beralih pada deretan bingkai foto kecil yang menghiasi meja kerja tersebut. Salah satu di antaranya adalah foto yang sama dengan foto besar yang ada di kamar utama. Ya, foto pernikahan mereka. Eisha mengambilnya.
Dipandangnya sejenak foto tersebut, lalu tanpa sengaja tangannya membalik bingkainya. Mata tajam Eisha segera menangkap ada tulisan kecil di belakang foto itu. Ia pun membongkar bingkainya untuk membaca tulisan itu lebih jelas.
Hadiah pertama untuk Mama & Papa. Hadiah berikutnya akan segera datang.
“Maksudnya pernikahan mereka merupakan hadiah untuk orang tua Galuh? Apa mereka dijodohkan?” gumam Eisha menerka-nerka.
Namun, tepat saat itu pintu diketuk, membuat Eisha terlonjak kaget dan buru-buru membereskan kembali bingkai foto pernikahan Alister dan Galuh tersebut.
“Permisi, Nyonya, makan malamnya sudah dipanaskan.”
Setelah menaruh kembali bingkai foto itu di tempat semula, Eisha menyahut memberi jawaban, “Ya, silakan masuk.”
**
Eisha sudah tertidur lelap ketika tengkuknya tiba-tiba merasakan hangat nafas seseorang. Sontak ia terkejut dan berbalik. Rupanya itu ulah Alister. Di tengah kegelapan kamar pria itu menatapnya diiringi dengan senyum yang begitu teduh. Tangan kekarnya merangkul pinggang Eisha yang hanya berbalut piyama tipis.
Jantung wanita itu pun berpacu. Pikirannya kini mulai mengira-ngira apa yang akan pria itu lakukan padanya. Tidak, pada Galuh lebih tepatnya. Terlebih di tengah kesunyian dan keremangan malam, yang hanya ada mereka berdua. Eisha harus mulai mempelajari hal ini. Jangan sampai ia salah langkah.
“Maaf jika aku membangunkanmu,” tutur pria itu dengan suara yang begitu lembut. “Aku tidak bisa menahannya. Aku sangat merindukanmu, Galuh. Aku rindu terlelap dengan kau dipelukanku.”
Diam-diam Eisha meneguk saliva. Ia tegang tentu saja. Pikirannya sudah menduga-duga, jangan-jangan Alister minta ... itu!
Ini gawat, Eisha tidak boleh sembarang merespon. Ia belum tahu bagaimana hubungan mereka ketika di ranjang. Maksudnya, mengenai gaya b******a juga perlu diketahuinya bukan? Tapi, Lestari bilang Eisha harus mencari tahu soal ini sendiri. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui hal itu selain Alister dan Galuh sendiri.
“Aku ....” Eisha membuka suara, walau ia tidak yakin dengan apa yang akan diucapkannya. “Apa kamu ingin kita ....”
“Sstt ....” Alister menempelkan telunjuknya di bibir Eisha. “Aku ingin, tentu saja. Aku sangat merindukanmu. Tapi, aku tidak ingin memanfaatkanmu dalam keadaan ini.”
‘Apa maksudnya?’ batin Eisha bingung.
“Jika aku boleh jujur, Galuh, aku selalu menginginkanmu, setiap malam,” ujar Alister lagi. “Tapi, aku ingin menghargaimu. Aku hanya akan melakukannya ketika kamu benar-benar siap. Kapan pun itu, meski seratus tahun lagi pun aku akan menunggu, hingga kamu juga sama menginginkannya sepertiku.”
Eisha terkesiap. ‘Jadi selama 6 tahun mereka menikah, mereka belum sama sekali berhubungan intim?! Wah ... Galuh ... sebenarnya apa yang ada di pikiran wanita itu?’
Eisha membelai wajah Alister. Senyum sangat tipis ia pasang di bibir mungilnya.
“Terima kasih untuk selalu menghargaiku, Alister. Padahal dalam kondisiku yang amnesia ini, kamu bisa saja berbohong bahwa kita sudah sering melakukannya. Supaya kamu bisa melakukannya malam ini. Tapi, kamu memilih untuk tetap menghargai keinginanku, yang bahkan tidak kuingat sama sekali.”
Alister balas membelai Eisha. “Aku lebih suka berbohong bilang tidak begitu menginginkannya, daripada memaksamu lalu kamu merasa tidak nyaman denganku.”
“Apa kamu selalu seperti ini padaku?”
Alister mengernyit bingung. “Seperti apa tepatnya yang kamu maksud?”
“Entahlah, berhati-hati? Mungkin itu kata yang paling tepat,” jawab Eisha. “Aku heran saja, kenapa rasanya kita seperti asing? Padahal kita telah menikah. Harusnya, sekalipun aku hilang ingatan, koneksi batin di antara kita, aku bisa merasakannya.”
Sebetulnya Eisha takut mempertanyakan hal tersebut. Ia takut Alister mencurigainya lagi. Tapi, menurutnya ini penting untuk diketahui. Supaya kedepannya ia bisa semakin lancar menjalankan peran sebagai Galuh.
Pandangan Alister teralihkan sejenak. Matanya menatap kosong entah kemana seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Setelah beberapa saat, pria itu kembali menatap Eisha.
“Aku ingin kamu dapatkan sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu,” ucap Alister.
“Bagaimana caranya? Aku bertanya karena aku tidak ingat apa pun.”
“Maka dari itu cobalah untuk mengingatnya, Galuh. Ingatlah segala hal tentang kita. Barangkali di antaranya ada yang berhasil menyentuh hatimu yang dingin.”
Eisha mengernyit. “Maksudnya?”
Namun, sepertinya Alister enggan menjawab. Dia hanya memasang senyum miring yang menyiratkan setitik kekesalan. Eisha pun tidak berani banyak bicara lagi.
“Tidurlah, ini sudah larut,” titah pria itu seraya membawa Eisha dalam rengkuhannya.
Mau tidak mau Eisha menurut saja. Daripada nantinya pria itu mengamuk lagi jika ia membantah. Baru membayangkannya saja sudah membuat bergidik.
**