Menyadarkan

1194 Words
Tak terasa waktu pun terus berlalu dan kini sudah pagi, sinar mentari pun masuk dari celah-celah gorden. Kepala Mikayla terasa pusing, mungkin karena sudah lelah menangis tadi malam meratapi hidup nya yang kenapa bisa sampai begini. Dia menatap om Burhan yang masih tertidur lelap di sebelah nya. Mikayla merasa jijik kepada dirinya dia merasa benar-benar kotor sekarang setelah melihat tubuh polos nya di bawah selimut. "Semua nya benar-benar terjadi, apa yang kamu lakukan Mikayla hanya demi uang kamu melakukan ini. Kau tau kan ini dosa besar." Batin nya yang tanpa sadar kini air matanya menetes membasahi kedua pipi nya. "Aku tidur dengan om-om bahkan yang sudah beristri, aku menyerahkan kesucian ku ke pria macam ini?" Batin Mikayla yang menyadari betapa bodohnya dirinya dan sangat menyesal i keputusan nya. Setelah lelah berkelahi dengan pikirannya akhirnya Mikayla pun mencoba keluar dari dalam selimut dan turun dari ranjang, namun saat ingin mencoba turun Mikayla merasakan sakit di bawah nya. "Awwww..." Pekik Mikayla yang merasa sakit. Karena suara Mikayla om Burhan pun terbangun dari tidur nya. "Kamu sudah bangun sayang?" Tanya om Burhan yang melihat Mikayla sudah duduk di ranjang dengan punggung yang membelakangi dirinya. "Ahhh..." Spontan Mikayla menutup tubuhnya dengan selimut. "Kenapa harus di tutup sih, om sudah melihat semua nya kemaren cantik." Ujar om Burhan sembari menarik selimut itu dari tangannya mikaya. Karena sentakan selimut pun tertarik dari tangan Mikayla. "Omm." Mikaya langsung menutupi daerah sensitif nya. "Kenapa kau begitu menggoda sayang," ujar om Burhan yang langsung membuang selimut ke lantai dan menarik tubuh Mikayla sehingga kini Mikayla kembali terjatuh ke ranjang. "Om mau ngapain, Jagan om." Ujar Mikayla saat dirinya sudah berada di bawah Kungkungan nya om Burhan. "Kau kenapa begitu menggoda sayang? Lihat lah hanya melihat tubuh polos mu saja dia sudah berdiri di sana." Ujar om Burhan yang memang sudah polos sembari melirik milik nya. Mikayla pun ikut melirik, tiba-tiba bulu kuduk nya merinding, dia membayangkan bagaimana bisa benda se besar dan se panjang itu bisa masuk ke milik nya. pantas saja dia merasa semua tulang-tulang terasa patah dan terasa nyeri. "Om, Mikayla mohon jangan lagi, semua nya terasa sakit." Ujar Mikayla saat kedua tangan nya di kunci oleh om Burhan dan kini om Burhan mulai menjelajahi inci demi inci tubuh Mikayla. Entah kenapa saat bersama Mikayla hasrat lama nya datang lagi. Kini dia jadi merasa bersemangat, dan tangisan Mikayla membuat dirinya semakin memuncak. Mikayla mencoba melawan namun sepertinya tenaga nya tidak sebanding dengan Om Burhan. Dan setelah melakukan pemanasan akhirnya om Burhan ingin lagi mencetak gol. Dia pun mulai mengarahkan milik nya ke milik Mikayla, namun sepertinya untuk kali ini tubuh Mikayla menolak nya. Karena semua nya masih terasa kesat dan susah. Om Burhan bahkan sampai memerlukan bantuan air liur nya untuk memperlicin perjalanan menuju surga dunia nya. "Om Jagan om, itu terasa sakit." Mohon Mikayla saat dia merasa ada benda hangat yang menempel dan mencoba menerobos masuk. "Tenang sayang, ini hanya sebentar bukan kah tadi malam kau sudah menikmati nya?" Jawab om burhan yang semakin bersemangat. "Om, sudah cukup Mikayla mohon hentikan." Pinta Mikayla yang merasa semakin sakit. Namun sepertinya om Burhan tidak memperdulikan tangisan dan kata-kata Mikayla, bahkan itu menjadi semangat untuk om Burhan. Akhirnya om Burhan pun kembali membobol gawang yang masih terasa sempit itu. Dia pun memberikan waktu beberapa saat untuk dirinya dan Mikayla menyesuaikan nya. Lalu setelah nya dia pun mulai memimpin permainan untuk mendapatkan kenikmatan nya. Permainan kasar dari om Burhan hanya bisa menambah kan sakit kepada Mikayla, dia hanya bisa menahan rasa perih di tubuh dan hatinya. Air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya. Dan setelah nya Beberapa menit kemudian om Burhan pun kembali mencapai puncak kenikmatan nya. "Ahh terimakasih sayang." Ujar om Burhan setelah tetes terakhir. Mikayla hanya diam saja tidak menjawab kata-kata om Burhan. Mata nya kini memerah karena sedari kemaren menangis terus. "Ohh om harus ke kantor sayang, ini sudah telat." Ujar om burhan saat melihat jam di pergelangan tangan nya. Dia pun segera turun dari ranjang lalu mengecup kening Mikayla yang masih diam membisu. Lalu om Burhan pun segera ke kamar mandi dan mandi. Mikayla pun bersusah payah mengambil kembali selimut yang sudah jatuh ke lantai untuk menutupi dirinya. Lalu diam seribu bahasa di atas ranjang. Hatinya terasa sakit tersayat-sayat. Beberapa menit kemudian om Burhan pun keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan kembali pakaiannya. "Saya ke kantor dulu ya sayang, kalau butuh apa-apa nanti kamu hubungin saya saja ini kartu nama om, dan iya ini ada ATM isinya sekitar seratus jutaan lah buat biaya hidup kamu, dan ini pin nya." Jelas om Burhan sembari kembali mengecup kening Mikayla. "Om benar-benar puas bahkan sangat kagum karena masih ada wanita se cantik kamu yang masih menjaga kesucian nya sampai di usia segini. Dan om merasa beruntung bisa menjadi laki-laki pertama kamu, Om harap ini bukan pertemuan terakhir kita." Ujar nya lagi lalu segera meninggalkan Mikayla karena dia sudah sangat telat berangkat ke kantor. "Bodoh, Mikayla bodoh wanita kotor." Mikayla menyiksa dirinya sambil menangis tersedu-sedu saat om burhan meninggalkan nya. Dia pun terus menyalahkan dirinya untuk kesalahan yang sudah di pilih. "Heh heh Mikayla tenang dulu sayang." Celine yang baru saja sampai mencoba memenangkan Mikayla. Dia memeluk Mikayla untuk menenangkan wanita kecil itu. Mikayla pun menangis di pelukan Celine. "Sayang, kenapa kamu menangis?" Tanya Celine setelah Mikayla sudah lebih tenang. "Mikayla wanita kotor mbak, Mikayla sudah tidak suci lagi mbak, masa depan Mikayla sudah hancur sekarang." Ujar nya sembari menatap darah kesucian nya yang sudah mengering di seprai putih. Celine juga menatap darah itu, dia tidak percaya bahwa Mikayla masih suci sampai usia segini di zaman sekarang ini. Terbesit sedikit rasa bersalah di hati Celine kepada Mikayla. "Sudah lah Mikayla, semua nya sudah terjadi lagian kamu di bayar untuk itu mbak tau pasti om Burhan memberikan banyak untuk mu kan?" Lanjut Celine yang mencoba menyadarkan Mikayla untuk realistis. Mikayla diam saja, dia baru ingat om Burhan memberikan dia yang seratus juga hanya untuk satu malam itu. Rasa-rasanya tubuhnya begitu berharga sampai hanya untuk hal seperti itu om Burhan rela memberikan uang sebanyak itu. Mikayla diam dan hanya merenungi nya. "Sudah lah Mikayla semua nya sudah terjadi, mau di sesali juga tidak ada gunanya. Sekarang yang terpenting kamu lanjutkan semua nya selagi bisa, bayangkan saja jika setiap bulan nya kamu dapat uang sebanyak itu dari om Burhan apa tidak bahagia hidup kamu. Kamu bisa membeli apapun yang kamu mau, mendapatkan semua yang kamu inginkan dan yang paling penting membalaskan semua dendam kamu." Jelas Celine mencoba menyadarkan Mikayla. "Jangan lemah Mikayla, mencoba lah bangkit dari keadaan, ini kesempatan kamu untuk memperbaiki hidup dan mengubah semua nya. Ingat ada rumah dan tanah orang tua kamu yang harus kamu tebus, ada orang-orang yang ingin kamu balas, kamu pikir semua nya bisa terlaksana jika kamu tidak punya uang?" Sambung Celine lagi. Mikayla masih terdiam, namun lama-kelamaan dia menyadari kata-kata Celine ada benar nya. Buat apa dia meratapi semua nya, bukan kah memang hidup nya sudah lama hancur saat adik nya dan ibu nya pergi meninggalkan dirinya seorang diri. Lalu kenapa dia masih mau diam di posisi itu, dia harus bangkit keluar dari zona menyakitkan itu dan merubah hidup nya walaupun ada harga yang harus dia bayar untuk itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD