Setelah sampai rumah aku segera membersihkan diri lalu menuju dapur untuk memasak makan malam kami. Mas Fahri masih sibuk memberi makan ikan-ikannya di akuarium yang ia letakkan di dekat taman belakang rumah. Malam ini menu makan kami adalah Ayam dan tempe penyet seperti permintaan Mas Fahri kemarin malam, dia bilang pengen makan sambal penyet sama nasi hangat lalu dikasih lalapan, ini yang hamil siapa yang ngidam siapa sih?
"Kamu mau masak apa Yang? Jadi bikin sambal penyet?" Tanya Mas Fahri memasuki dapur dia masih memakai setelan kerjanya yang sudah berantakan, namun jangan salah biarpun sudah berantakan gini wangi Mas Fahri masih menempel di bajunya walaupun bercampur dengan keringatnya, namun itu menjadi kesukaanku saat dia pulang kerja
"Iya, sesuai request Mas." Jawabku masih singkat
"Mau aku putikan daun kemangi di belakang nggak? Sama cabenya sekalian mungkin?" Tawarnya dengan berjalan mendekati ku
Salah satu kesamaan Aku dan Mas Fahri yaitu memiliki hobi bercocok tanam dan untungnya Mas Fahri pandai memilih rumah sewaktu dia masih bujangan dulu, dia memilih ada space tanah yang terbilang sedikit luas dibelakang, dan kami gunakan untuk menanam beberapa jenis tanaman sayuran yang sewaktu waktu bisa kami gunakan untuk dimasak.
"Boleh. Sekalian jeruk nipis ya juga."
"Oke, aku ke belakang dulu, jangan lama-lama kalau ngambek cantik, aku udah kangen Sayang." Bisiknya yang entah sejak kapan dia ada dibelakang ku dan memelukku dari belakang lalu mengelus perut buncitku yang terlihat jelas, karena kalau dirumah seperti saat ini aku hanya memakai daster batik yang berbahan tipis dan ringan, menurutku ini adalah pakaian ternyaman saat dirumah dan apalagi saat ini aku sedang mengandung, pastinya terasa nyaman saat dipakai. 'Tuh Dek, Papamu bisa aja ngrayunya, gimana Mama bisa lama lama ngambeknya?'
"Hmm." Sahutku dan berusaha untuk tidak termakan rayuannya, aku menghela napas panjang setelah ku rasa dia keluar dari dapur dan melanjutkan memasak ku. Gengsi deh, masak cuma dibilang cantik aja udah luluh.
----
Setelah makan malam dan berhubung diluar hujan deras kami memutuskan untuk menonton film di kamar, tiba-tiba aku terfikirkan ingin menggoda Mas Fahri malam ini, aku sengaja memakai dress tidur bertali spageti berwarna putih kesukaannya, dan sengaja aku tidak memakai bra, karena udah kebiasaan akunkalau tidur tidak pernah memakai bra dan itu menjadi keuntungan Mas Fahri tiap malamnya, malam ini aku ingin menguji dia seberapa kuat kah dia menahan untuk tidak menempel denganku padahal dia tahu aku sedang mode silent padanya.
Aku duduk dan bersandar dikepala ranjang tanpa menghiraukan dia yang sedang menatapku, dengan sikap cuek aku memainkan ponsel dan tiba-tiba ia mengambil ponselku.
"Eh, kok diambil sih ponsel ku?"
"Cuekin aja terus, ada suaminya disini kok asyik mainin ponsel. Ini juga kenapa pakai baju ginian? Nggak dingin apa?" Tanyanya dengan mengangkat dagu menunjuk pakaian yang aku kenakan
"Nggak, kamu sendiri kenapa ngga pakai baju?" Tanyaku balik, karena memang dia udah terbiasa setiap malam kalau tidur nggak pakai baju, risih katanya
"Ya aku kan kalau tidur emang nggak pernah pakai baju, Yang."
"Kan mau nonton, bukan tidur." Sanggahku
"Ck, Yang beneran ini kamu masih marah? Aku kan udah minta maaf, udah dong marahnya. Kasihan lho baby kangen sama Papa gara gara Mamanya kelamaan kalau ngambek." Bujuknya, kenapa kamu jadi gemesin gini sih Mas ekspresi nya mana bisa nahan buat ketawa coba.
"Sok tau, mana ada hubungannya juga baby sama aku ngambek." Aku masih berusaha menahan tawa
"Ada ya, kan dia juga ikut merasakan apa yang kamu rasakan. Udah dong ya, aku minta maaf, janji nggak kayak tadi lagi. Aku kapok, isengin kamu Yang.Coba sini aku mau bisikin baby, masak dia tega sama Papa dan malah ikut-ikutan ngambek kayak Mamanya." Bukannya mendekat ke perutku tapi dia malah mendorong kepalaku buat mendekat ke wajahnya, dan menempelkan bibir kami
"Ihh curang kok malah cium aku sih." Sebalku
"Biarin, dari tadi aku tuh gemes, pengen kasih hukuman sama bibir kamu bisa-bisanya seharian ini diajak bicara diam mulu, sekali jawab singkat lagi. Pengen aku gigit tau nggak." Jawab dia sambil mencubit hidungku dan mengusap ujung bibirku yang sedikit basah
"Habis kamu bikin aku kesel sih." Kataku lalu tidur di pahanya sambil memainkan jariku di perutnya, nggak tau sih bawaannya sekarang malah pengen manja manjaan sama si suami
"Iyaa ngaku deh, aku ngaku salah. Lagian juga udah minta maaf sayang. Kamu nggak kasihan sama aku? Udah nggak dapat kecupan berangkat kerja, pulang kerja kamu masih cemberut terus, makan malam juga masih sunyi aja. Bikin nggak semangat hidup tau nggak hari ini. Udah puas ngambeknya? Hm.." tanyanya menunduk menunduk menatapku
"Sebenernya sih aku juga udah maafin kamu, tapi ngga tau sih bawaannya pengen tuh pengen aja cuekin kamu, dan pengen aja gitu liat wajah kamu yang gemesin kayak tadi, uring-uringan nggak jelas. Kayaknya emang yang minta buat ngambek tuh anak kamu Yang, nggak aku." Jawabku
"Apaan bawa-bawa baby, duh kasihan ih anak Papa di pakai alasan Mama buat ngambek. Iya nanti Mama dihukum Papa ya Nak, okay malam ini kita buat Mama kalah dan nggak dikasih ampun ya, Sayang." Kata Mas Fahri seolah - olah bicara mengajak kerja sama dengan baby ada ada aja kan dia, dasar!
"Tuh kan Dek, Papa mu tuh modus. Bilang aja Papa kangen sama Mama, sok sok kan dia bilang mau hukum Mama, padahal tadi tuh waktu Mama masak ada yang bilang kangen lho, dih berubah ubah kan kalau ngrayu." Ucapku dan Mas Fahri tertawa terbahak mendengarnya
"Wahh, berarti kalau Papa bilang kangen pasti Mama ijinin Papa buat nengok kamu nih. Boleh kan Ma? Papa kangen lho, sama Baby mau nengok baby ya, Mama kan cantik, malam ini biar Papa kasih hukuman buat Mama."
"Dih, ngrayu nya nggak nguatin. Lagian siapa takut, untuk malam ini Mama nggak bakal kalah yaa." Tantangku
Setelah itu Mas Fahri menarik kepalaku dan di sangga dengan tangan kanan nya agar aku lebih mendekat dengan wajahnya dia mulai melumat bibir ku dan tangan kirinya mulai meremas pahaku yang tertutup selimut. Lidahnya berhasil masuk ke dalam mulutku dan mulai mencari lawan mainnya, tangan kiri yang semula meremas pahaku kini semakin naik dan sampai di tempat favorit nya. Di remas dadaku dari luar dress tidurku dan dia mencari-cari puncak dadaku yang mulai mengeras, menambah ciuman kami semakin panas. Namun, saat aku mulai kehabisan nafas dan ku dorong wajah nya untuk mundur memberiku sedikit ruang.
"Ahh, wait Sayang... Enghh" kataku menghentikan ciuman kami sambil mengatur nafas yang sudah memburu
Dia mengerutkan keningnya merasa tidak senang karena aku menghentikan ciuman kami.
"Emm, Sayang malam ini biarin aku yang diatas ya, kayaknya Anak kamu pengen Mamanya beraksi." Bisikku di telinganya lalu berpindah posisi ke pangkuan Mas Fahri dan menghadap dia, dia yang melongo mendengar bisikkanku lalu terkekeh melihat tingkah ku
"As you wish, Mama. Lakukan sesuai keinginan Mama." Jawabnya sambil tersenyum kemenangan dan segera melepas dress tidur yang aku pakai tanpa menunggu lama kami mulai berciuman menikmati malam indah dengan diiringi suara hujan diluar menambah gairahku dan Mas Fahri.