"Mas kamu kok gini sih.. " Aku nggak sanggup membantah ucapannya rasanya aku udah ngga kuat menahan air mata ku yang seolah olah sudah memberontak ingin berjatuhan. Aku hanya bisa menunduk dan menggenggam kedua tanganku sendiri, aku terheran tidak seperti biasanya dia seperti ini, atau mungkin ini sikapnya yang lain yang baru aku tahu setelah kami mengenal?
"Kamu nangis, Yang?" Bisa-bisa nya dia masih tanya aku nangis, dasar nyebelin
"Sayang, hei lihat aku. Lho kamu nangis beneran?" Panggilnya sambil mendekat ke arahku lalu memegang daguku agar aku menatap dia.
"Nggak, aku nggak nangis, ngapain juga nangis." Lagian kenapaa aku cengeng banget sih biasannya juga aku masih bisa nahan biar nggak nangis sekalipun aku berdebat pendapat sama Mas Fahri kenapa sekarang aku cengeng banget
"Masih aja nyangkal, sini lihat aku. Yaampun aku tuh nggak serius sayang, kamu kok kebaperan sih." kata dia sambil mengusap air mataku, apa coba maksudnya dia mau ngeprank aku ceritanya?
"Maksud kamu?"
"Ya aku cuma mau tau aja respon kamu kalau kamu nggak aku ijinin, eh taunya kamu malah nangis gini. Emang aku keterlaluan banget ya tadi?" Tanyanya seolah dia tidak menyadari ucapannya tadi membuat aku kalut, emang segitu posesif ya suami sampai kerja aja nggak dibolehin
"Jadi kamu tetep bolehin aku ngurus Butik sama Deandra?"
"Ya boleh dong, emang aku tega ngurung kamu dirumah tanpa ada kegiatan apa apa di luar, yang ada nanti malah kamu bosen trus ujung-ujung nya stres yang repot juga siapa? Aku juga. Aku kan nggak tega sama kamu. Yang penting kamu nggak capek dan buat kamu stres, Sayang.."
"Ngga tega tapi kamu bikin aku nangis sekarang. Jahat ih kamu, nyebelin banget tau nggak Mas kamu itu hiks hiks..." Kata ku terisak dan memukul lengannya yang keras, percuma sih orang bakalan yang sakit juga tangan aku sendiri
"Iya-iya udah dong aku minta maaf, duhh maaf yaa Sayang.. Ini minum dulu." Ucapnya sambil mengapai segelas air di samping kanan ku
"Padahal kan tadi aku udah bilang lagi bicara serius kamu malah tanggapannya kayak gitu, tau ah make up aku jadi luntur kan." Gerutuku setelah minum segelas air yang diberikannya
"Aduh pengen ketawa tapi kok kasihan banget sih istri aku, iya iya aku minta maaf, aku salah Sayang. Udah yaa jangan nangis lagi, tenang masih ada waktu buat benerin make up kamu. Jangan ngambek dong." Bujuknya dengan mengelus pipiku
"Bodo amat. Aku mau ambil tas, aku make up di mobil aja." Ketusku lalu naik ke kamar kami untuk ambil tas dan domukenku
Setelah hampir 20 menit perjalanan kami sampai di parkiran tempat kerjaku, dalam perjalanan aku berusaha untuk mendiamkan Mas Fahri salah siapa pagi-pagi bikin aku kesel. Gapapa deh sekali sekali ngerjain dia, padahal aku juga nggak bakalan kuat buat ngambek sama dia lama-lama. Selama perjalanan dia berusaha menggodaku tapi maaf ya Pak Suami kayaknya anak kamu juga setuju sama Mama nya buat ngambek. Hihi, makasih ya Nak..
"Yang, udah dong ngambeknya. Kan Mas udah minta maaf, Mas mau kerja lho nanti kalau kerjanya ngga semangat gimana?hmm?" Bujuk dia kesekian kalinya saat kami sudah sampai di parkiran tempat kerjaku
"Hati-hati nanti jalannya, jangan lupa makan siang. Aku turun dulu." Pamitku sambil menyodorkan tangan untuk salim tak lama dia membalas tanganku namun dia menggenggam lebih erat lalu membawa tanganku ke bibirnya, nggak salah nih kan harusnya aku yang cium tangan dia
"Yaudah, semangat kerja. Hati-hati kerjanya jangan sampai capek ya. Love you baby dan Mama. Sekali lagi aku minta maaf." Ucapnya sambil cium keningku dan mengelus perut buncitku
Akhh mana tahan kenapa dia manis banget sihhhh, dasar Mas Mas suami perayuuu aku buru-buru turun dari mobil dan bergegas masuk kantor.
----
Tring
Suami :
Sayang udah makan siang?
Seperti biasa setiap jam makan siang dia selalu kirim pesan biasanya juga dia sering jemput ke kantor aku buat makan siang bareng nggak jarang juga sama Mbak Linda.
Yasmine :
Lagi makan sama Mbak Linda
Suami :
Yaudah, aku juga baru mau makan siang. I love you
Yasmine :
I know.
Setelah ku balas aku mulai menyentuh makanan didepanku, hari ini aku makan siang di cafe depan kantor bareng Mbak Linda dan Siska teman divisi ku.
"Siapa Yas? Fahri yang kirim pesan?" Tanya Mbak Linda
"Iyaa Mbak, biasalah." Jawabku, karena hampir setiap hari dijam makan siang dia selalu mengirim pesan dan hanya sedekat menanyakan atau mengingatkan untuk makan siang.
"Ih aku juga pengen dong Mbak dapet suami kayak Pak Fahri, mungkin Bu Linda punya adek lagi Bu aku mau kok." Kata Siska dia baru gabung dengan kami beberapa bulan lalu ya anak fresh graduate lah
"Haha ada kok aku punya adek satu lagi, tanyaa aja sama Yasmine." Kata Mbak Linda menanggapi ucapan Siska
"Beneran Bu? Aku mau dong kenalin siapa tau 11 12 kayak Pak Fahri hihi."
" Beneran kamu mau? Ya boleh aja sih kenalan, tapi kayaknya dia cocok deh sama kamu Sis, sama sama bawel soalnya." Kataku meneruskan aksi Mbak Linda yang sepertinya ingin mengerjai Siska
"Iyaa bener kayaknya cocok sama kamu, tapi ya gimana ya." Jawab Mbak Linda gantung
"Kenapa Bu? Masih sekolah ya ? Gapapa kok aku sama berondong kan sekarang lagi trend tuh sama yang lebih muda."
"Tapi adekku itu Cewek dan nggak bakal mau sama kamu, tuh kalau mau sama adeknya Yasmine anak kuliahan cowok ganteng lagi."
"Yahh, Bu Linda ih. Nggak ah nanti di bohongin lagi.." Rajuk Siska
Kami tertawa dengan tingkah Siska yang gampang merajuk tapi juga menghibur, setelah makan siang kami kembali ke kantor.
----
Suami :
Aku udah di parkiran Yang, aku tunggu di mobil apa di lobi?
Yasmine :
Tunggu mobil aja.
Suami :
Yaudah hati-hati turunnya, aku lagi ngobrol sama Pak Yono.
Setelah merapikan meja aku segera pamitan dengan Siska yang masih sibuk dengan kertas-kertas dimejanya.
"Sis, aku duluan ya?" Pamitku
"Eh iya Mbak Yas, udah dijemput sama pangeran kuda putihnya ya?" Canda Siska
"Iyaa, udah dijemput sama pangeran berkuda putih dibawah, yok aku duluan, kasihan kalau disuruh nunggu lama."
"Iya Mbak hati-hati."
Setelah pamit dengan Siska aku turun ke lantai bawah dan melangkahkan kaki ke parkiran seperti biasa ku lihat Mas Fahri sedang ngobrol dengan Pak Satpam kantor, ini nih point plus dari Mas Fahri dia bisa berbaur dengan orang dari segi kalangan mana pun walaupun dia terkesan kaku dan cuek, namun kalau sudah kenal baik dan dia merasa cocok dengan orang tersebut maka Mas Fahri tak segan untuk selalu menyapa dan memberikan bantuan pada orang tersebut.
"Nah itu Mbak Yasmine udah kesini Pak." Kata Pak Yono, satpam kantor yang melihatku berjalan mendekat ke arah mereka
"Oh iya, yasudah Saya permisi dulu Pak, mari." Pamit Mas Fahri
"Mari Pak Yono." Ujarku menyapa beliau
"Iyaa Mbak Yasmine, Pak Fahri. Hati-hati dijalan." Ucap Pak Yono lalu melambaikan kedua tangannya saat Mas Fahri membunyikan klakson
"Langsung pulang atau mampir kemana dulu, Yang?"
"Langsung pulang aja."
"Oke.. hmm, gimana hari ini ?"
"Seperti biasa, fine." Jawabku sesingkat mungkin, masih kesel aja sih sama kejadian pagi tadi. Biarin ah toh juga salah dia ngerjain aku, itung-itung sekarang giliran aku yang ngerjain dia.
❤️❤️❤️