bc

ANDAI AKU TAK MENIKAH DENGANNYA

book_age4+
1.1K
FOLLOW
17.1K
READ
drama
sweet
like
intro-logo
Blurb

"Andai aku tak menikah dengannya...."

Adalah kisah bahtera rumah tangga yang ternoda oleh kehadiran orang ketiga. Eyjaz Haura Yasmin dan Emir Alfath, sepasang suami istri itu akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan sebuah 'syarat'.

Syarat apakah itu?

chap-preview
Free preview
Aku ingin cerai!
Dari awal, akulah yang bersalah dalam hubungan ini. Mencintainya yang tak pernah mencintaku. Berpikir bahwa dia akan luluh, dan menerima pernikahan kami, nyatanya hanya angan kosongku saja. Dia, pria berpribadi dingin itu menduakan aku. Aku tahu, sejuta sesal dalam hati kini tiada berguna. Saat penghianatannya tampak jelas di depan mata, aku roboh. Hatiku hancur berkeping-keping, bahkan lebih dari itu rasanya seperti ditikam belati berkali-kali. Lalu, bertambah menyedihkan keadaan ini saat aku menyadari bahwa akulah yang bertanggung jawab atas perih yang kurasa sendiri. Bukan dia, atau pun wanita itu. Aku sadar, meski terus berandai-andai jika saja aku tak memilihnya menjadi belahan jiwa. Tentu lukaku takan separah ini. Namun nyatanya waktu terus berjalan, meninggalkan hari kemarin yang tak bisa diputar kembali. Bahkan sekuat apa pun aku memohon, takan bisa memperbaiki keadaan ini. Yang ada hanya ratapan tanpa asa. Hampa. Aku kalah, iya pada akhirnya aku harus mengakui itu. Deraian air mata yang kusembunyikan dari semesta menjadi buktinya. Menghapus semua memory satu tahun kebersamaan kami, dalam ikatan pernikahan bodoh ini. Namun sialnya tak serta merta mengikis rasa cintaku padanya yang masih bertahta dalam hati. Utuh, tak tersentuh. ** [Aku sudah memesan meja di restoran favorit-mu. Aku tunggu kau di sana!] Emir. Aku masih terduduk di tepi ranjang, pandangan tertuju pada layar ponsel di tangan. Membaca kembali deretan kata yang ia kirimkan dengan hati yang sesak. Harusnya aku bahagia saat ini, sebab telah berhasil melalui satu tahun masa pernikahan kami. Satu tahun yang sangat berkesan, meski setelah diingat-ingat kembali hanya akulah yang berusaha membuat hari-hari penuh warna. [Apa gaunnya sudah kau terima?] Emir. Saat pesan itu muncul, aku hanya mampu tersenyum getir. Entah apa yang dia pikirkan. Di saat aku sudah berusaha membulatkan tekad untuk mengakhiri pernikahan, dia justru mulai menunjukkan perhatian. Memberikan sebuah gaun malam selutut, berwarna broken white untuk dikenakan saat kami bertemu. Aku mengerjap. Tetes air mata yang perlahan jatuh membasahi pipi, tak bisa kutahan. Tanganku mengelus gaun yang ia berikan. Hati kecilku menjerit, berteriak memerintahkan untuk memakainya. Namun, egoku tak kalah kuat menyadarkan diri bahwa jika aku melakukannya, maka akan semakin sulit untukku melepaskan dia. Emir Alfath, pria yang berhasil membuatku menjadi wanita bodoh. [Eyjaz?] Emir. Layar ponsel kembali menampilkan satu pesan baru darinya. Apa mungkin dia memang tak sabar ingin segera merayakan first aniversary kami, hingga mengirim pesan beruntun? Biasanya, jangankan pesan singkat, teleponku saja jarang ia angkat jika sedang berada di luar. [Are you okey?] Emir. Baiklah, ini sudah cukup. Aku tidak boleh geer akan perhatian tak wajar dari sikapnya. Aku tidak boleh lemah! Aku harus tegas! Segera kugerakan jemari ini untuk mengetik pesan balasan. [Aku akan segera datang!] balasku, sekejap langsung terkirim dan terbaca olehnya. Beberapa detik kemudian, kulihat dia kembali mengetik balasan. Bodoh! Mengapa aku tak sabar ingin mengetahui apa yang akan dia kirimkan. [Oke. Can’t wait to see you, tonight, Darl!] Emir. Terbaca, tapi sekejap pesan itu hilang. Dia menghapusnya! Sontak aku tersenyum kecut, lihatlah betapa tinggi gengsinya untuk mengungkapkan perasaan itu. Atau jangan-jangan dia sedang mempermainkanku? Oh, ayolah, Eyjaz Haura Yasmin! Ini sudah cukup! Bangunlah dan segera akhiri semua ini. ** Tepat saat mobil yang membawaku menepi di dekat restoran, yang menjadi tempat janjian bersama Emir, segera aku turun. Udara malam ini terasa dingin, sehingga membuatku merekatkan mantel yang menutupi gaun. Aku sudah berdiri di depan bangunan yang didominasi pemandangan syahdu di hadapan. Lampu-lampu hias bersinar indah tampak dari sini. Kucoba mengatur napas sejenak, demi menetralisir degub jantung. Kusugestikan kembali pada hati bahwa tekadku untuk berpisah dengan Emir sudah bulat. Hanya tinggal satu langkah lagi. Langkahku mantap menuju meja nomer delapan yang Emir beritahukan lewat pesan. Sejurus mata memandang, tepat di salah satu sudut ruangan ini pandanganku langsung bertemu dengannya. Dia tersenyum, menyambutku. Nyaris saja aku membalas, tapi kuurungkan sembari terus melangkah menghampirinya. “Maaf, aku telat!” ucapku mencoba tak acuh. Kutarik kursi lebih dulu, saat ia beranjak hendak mempersilakanku duduk. Dia tertegun, aku memalingkan wajah. Membuka mantel yang kukenakan. “Apa gaunnya tidak cukup?” tanyanya menyiratkan rasa penasaran. “Cukup! Tapi aku tidak mau memakainya!” “Kenapa?” “Terlalu simple, sederhana... dan murahan!” Aku mengatakan itu seraya menatapnya lekat, dia bergeming. Mungkin tak menyangka dengan apa yang kukatakan barusan. Jujur saja, ini adalah kali pertama aku bersikap sengak padanya. Dan sepertinya, itu berhasil membuatnya tersentak. “Bukankah kau tidak suka gaun warna hitam?” tanyanya lagi. “Kenapa memakai pakaian seperti berkabung macam itu?” Aku tersenyum kecut. Iya, aku memang sengaja memakai gaun berwarna hitam ini. Begitu juga dengan makeup yang seadanya. Bukankah ini sesuai dengan kondisi hatiku yang merana? Lagi pula, mengapa aku harus memakai pakaian berwarna untuk menyenangkannya? “Mulai saat ini aku suka warna hitam!” “Baiklah, terserah!” Seolah tak mau memperpanjang obrolan tentang gaun, dia mengalihkan perhatian pada buku daftar menu. Memindai benda itu, sedangkan aku mengeluarkan sebuah map dari dalam tas. “Mau pesan apa?” Emir mendongak, menatapku. Aku menggeleng, kusodorkan map itu padanya. “Aku tidak ingin makan!” ujarku datar. “Aku datang kemari hanya untuk memberikan surat itu padamu!” Emir terdiam. Pandangannya tertuju pada map itu, tapi entah mengapa ia seolah tak tergerak untuk mengeceknya. Yang terjadi justru di luar prediksi, dengan tenang ia malah berucap. “Bisakah kita membahas pekerjaan di lain waktu? Saat ini aku hanya ingin merayakan aniversary kita!” katanya, membuatku mengernyit. Sepertinya dia salah paham. Siapa pula yang hendak membicarakan pekerjaan dengannya. Aneh! “Katakan padaku, apa yang kau inginkan untuk kado pernikahan kita?” Apa? Kado pernikahan? Baiklah, akan kukatakan. “Aku ingin bercerai!” Sontak raut wajah tampan itu menjadi masam. Kedua matanya lekat menatapku. “Ada apa ini sebenarnya? Aku tidak mengerti!” Aku menghela napas panjang, sejenak. Sungguh, sejujurnya aku benci harus memberitahukan alasan di balik keinginan berpisah ini. Ini serupa mengorek luka yang masih menganga, perih. Terserah, orang lain akan menganggap aku berlebihan. Sebab nyatanya memang seperti itu. “Aku sudah tau hubunganmu dengan wanita itu!” lirihku. “Bahkan lebih dari itu, aku juga sudah tau tentang kehamilannya. Dia sedang mengandung anakmu ‘kan? Usia kehamilannya sekarang enam bulan, iya ‘kan?” Kulihat, raut wajah Emir menegang. Sementara aku, berusaha menahan sesak yang menyeruak dalam hati, demi melanjutkan ucapan. “Tanda tangani surat cerai itu, aku ingin kita berpisah secara baik-baik. Hanya itu!” Emir menggeleng. “Tidak!” sahutnya tegas, membuatku tercekat. “Aku bisa jelaskan masalah ini!” Seperti reaksinya barusan, aku pun menggeleng. Kujawab dengan kata yang sama. “Tidak! Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang kalian! Ini sudah cukup!” “Tapi kebenarannya tidak seperti yang kau pikirkan Eyjaz!” protesnya tak mau kalah. “Aku tidak peduli! Keputusanku sudah bulat, aku ingin bercerai!” Aku segera beranjak dari kursi sembari memakai mantel, sekejap ia pun mengikuti. Pergerakannya cepat hingga berhasil menghadang langkahku. Saat tangannya berusaha meraih tangan ini, spontan aku menepis. “Beri aku kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya! Please! Jangan egois seperti ini!” Apa? Egois? Refleks aku kembali melempar senyum kecut padanya. Dia menatap, seakan mengiba. “Egois? Lalu kau sendiri apa, hah?” Aku kembali menepis tangannya yang hendak meraih tanganku. “Apa kau masih ingat lima bulan yang lalu saat aku memintamu menemaniku konsultasi kehamilan? Apa yang kau ucapkan? Kau sibuk! Sibuk mengurus wanita itu, iya ‘kan?” “Aku—“ “Cukup! Tanda tangani saja surat itu, lalu menikah dan berbahagialah bersama dia dan juga anakmu. Aku tidak akan mengadukan masalah ini pada papa, asal kau mempermudah semuanya.” “Aku tidak akan menikahinya!” ungkapnya dengan nada penekanan. “Aku tidak akan menikahinya!” ulangnya lagi. Aku termangu, tak mengerti dengan jalan pikirannya. Bukankah justru dia akan bebas jika berpisah denganku? Oh... I see, dia takut kehilangan semuanya. Harta dan kedudukan yang diberikan oleh papa. Dasar pria b******k! “Aku tidak mencintainya!” Emir mengucapkan itu sambil berusaha meraih tanganku lagi. Lalu menggenggamnya. “Aku hanya....” “Hanya apa?” Dia mendengkus pelan. “Aku tidak akan menceraikanmu!” jawabnya. Entah, sepertinya dia mengalihkan pembicaraan. Kupikir dia akan mengatakan... ah! Bodoh! Mengapa aku masih mengharap ungkapan cinta darinya. “Lepaskan!” sentakku. “Aku sudah berbaik hati meminta berpisah dengan cara baik-baik. Kalau kau tetap menolak, terpaksa akan kutempuh cara lain.” Setelah mengucapkan itu, aku menyingkirkannya dari hadapan. Langkahku terasa berat, sejurus dengan hati yang semakin sesak. Keluar dari restoran ini, kemudian menapaki paving menuju parkiran. “Eyjaz!” panggilnya. Aku berusaha tak acuh, terus melangkah menuju mobil. “Eyjaz! Tunggu!” Saat aku hendak masuk mobil, dengan cepat dia menarik lengan ini lalu membawaku dalam dekapan. Erat, hingga menimbulkan hangat yang sudah lama kurindukan. “Aku mencintaimu! Aku tidak akan menceraikanmu!” bisiknya. Entah mengapa jantungku seketika bertalu-talu. Aku termangu, lidah ini seakan terkunci. Pun dengan tubuh. Padahal ego-ku memerintahkan untuk meronta. Melepaskan diri dari pelukannya. Ini adalah kali pertama dia mengungkapkan perasaannya. Dan aku merasa bahagia mendengarnya. Tapi apakah dia tulus? Oh Tuhan... bagaimana ini? To be continue ☺️

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Noda Masa Lalu

read
205.7K
bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

MENGGENGGAM JANJI

read
484.2K
bc

Orang Ketiga

read
3.6M
bc

DIA UNTUK KAMU

read
39.9K
bc

Pengganti

read
304.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook