Emir Alfath. Pria berusia tiga puluh satu tahun. Memiliki fostur tubuh tinggi, tegap, proporsional. Berkulit sawo matang. Wajah tampan dengan senyum alakadar ciri khas-nya itulah yang berhasil membuat seorang Eyjaz memilihnya menjadi suami.
Pada awalnya, Emir hanyalah seorang bodyguard yang bekerja untuk papanya Eyjaz. Menjadi salah satu anak buah kepercayaan sang tuan yang mencuri perhatian. Sikapnya yang dingin, tapi berkarisma itulah yang menumbuhkan rasa penasaran. Hingga suatu ketika, tanpa curiga ia diminta menghadap tuannya.
Emir masih ingat saat ia diberondong pertanyaan oleh sang tuan, yang tak biasa. Pertanyaan yang menjurus ke ranah pribadi yang membuatnya kurang nyaman untuk menjawab. Namun, karena merasa tak enak hati jika menolak, ia pun mengamini demi loyalitasnya.
"Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Wiryawan, papanya Eyjaz. Emir tak lantas menjawab, ia malah tersenyum sekilas.
"Sampai saat ini, belum ada, Pak!" jawabnya tegas.
Pak Wiryawan manggut-manggut. Ia tampak berpikir sejenak, sebelum melanjutkan perbincangan. Sesekali, ia menatap Emir. Lalu kembali merenung sambil bersidekap, duduk dengan tenang di kursi putar meja kerjanya. "Apa kau sudah siap untuk menikah?" tanyanya lagi, penuh selidik.
Emir mengernyit. Ia merasa heran ditanyai seperti itu. Namun lagi-lagi ia tetap harus menjawabnya. "Sebenarnya, saat ini saya belum berpikir tentang pernikahan, Pak!" sahutnya jujur. Tentu saja, sebab memiliki kekasih saja tidak, bagaimana mungkin berpikir tentang pernikahan. Ia justru tengah menikmati pekerjaannya demi membantu meringankan kondisi ekonomi keluarga. Bahkan bisa dikatakan, ia menjadi tulang punggung karena sang ayah sudah sakit-sakitan.
"Tapi apa kau siap jika harus menikah saat ini?" Wiryawan kembali menuntut jawaban yang meyakinkan. Sehingga membuat Emir semakin heran dan penasaran.
Saat melihat ekspresi kebingungan Emir, cepat, Wiryawan pun melanjutkan ucapannya. "Putriku memilihmu!" katanya, membuat Emir termangu. "Diam-diam, dia menaruh hati padamu!"
"Anggap saja ini sebuah tawaran. Jika kau bersedia, aku percayakan dia padamu. Akan kunikahkan kalian dengan pernikahan yang mewah." Wiryawan menjeda. Ia menarik napas panjang sejenak. "Kau tentu tau aku sangat menyayangi Eyjaz. Setelah kepergian ibunya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk memenuhi semua keinginannya. Termasuk saat dia berbicara padaku, tentang perasaannya terhadapmu."
Pada detik itu, Emir benar-benar tak menyangka akan ucapan Pak Wiryawan. Sepengetahuannya tentang Eyjaz, gadis itu justru selalu bersikap biasa dan sewajarnya. Seperti pada saat Emir ditugaskan menemaninya ke beberapa tempat. Di antara mereka nyaris tidak pernah berbincang lebih dari sekedar saja. Selayaknya anak majikan dan bodyguard.
Namun kini, saat sudah mengetahui semua, semakin bingunglah Emir harus menjawab apa. Bukan, ia bukan tak tertarik pada Eyjaz. Tentu ia mengakui kecantikan dan semua kelebihan gadis itu, tapi saat menyadari siapa dirinya yang jika diumpakan bagai langit dan bumi, Emir pun merasa tak pantas. Ia merasa tahu diri.
"Jangan berpikir kerdil atas perbedaan status sosial kalian!" ucap Pak Wiryawan, seolah mampu menebak kebimbangan yang Emir rasakan. "Kau tentu tau, aku bukan orang yang terlalu mempersoalkan hal itu," sambungnya meyakinkan.
Emir masih terdiam. Sungguh, perkara ini benar-benar membuatnya bingung.
"Kau hanya perlu membahagiakan putriku! Apa itu sulit?"
"Justru itu yang saya takutkan, Pak! Saya takut tidak bisa membahagiakannya!" Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Emir. Ungkapan jujur dari dalam hatinya.
"Aku yakin kau bisa melakukannya!" Pak Wiryawan menatap lekat pada Emir. "Jadi bagaimana? Apa kau bersedia?"
Saat pria paruh baya itu semakin menuntut ketegasan, siap tak siap akhirnya Emir pun menyanggupi. Meski sebenarnya tidak begitu yakin, tetap ia menjawab. "Baiklah, saya siap!" tegasnya yang seketika memunculkan senyum bahagia pada bibir sang tuan.
Setelah itu, hanya berselang satu bulan, pernikahan antara Emir dan Eyjaz pun digelar dengan sangat mewah. Wiryawan Effendi, sang pengusaha batu bara tentu sangat bahagia dengan pernikahan mereka. Apalagi Eyjaz adalah putri kesayangannya dari istri kedua yang telah tiada. Sungguh, tiada yang lebih berharga dari senyum bahagia putrinya.
Sebaliknya, Emir justru merasakan tekanan luar biasa. Sebab tak dimungkiri perbedaan status sosialnya dengan Eyjaz begitu jauh berbeda. Meski berulang kali ia mengingat ucapan tuannya yang tak mempersoalkan hal itu, tetap saja tak bisa membohongi kenyataan yang tampak depan mata. Hingga menjadi beban tersendiri untuknya, yang kemudian semakin menjadi saat statusnya sudah berubah menjadi menantu Pak Wiryawan.
Kehidupan Eyjaz yang high-class menjadi dilema bagi Emir yang biasa. Meski sang mertua sudah memberikan posisi tinggi di perusahaan, demi membuat keduanya setara, tetap tak berpengaruh. Sebab Emir bukan tipekal pria yang suka memanfaatkan, kehidupan yang sulit membentuk karakternya menjadi pribadi pekerja keras yang anti mengiba bantuan.
Hari-hari berlalu, Emir berusaha menjalankan perannya sebagai suami Eyjaz. Sikapnya tidak berubah, tetap dingin dan seperlunya. Namun, Eyjaz justru menerima itu. Baginya pria seperti Emir lebih baik dari pria-pria yang pernah singgah di hatinya. Terbukti, dengan senang hati Eyjaz pun selalu berusaha memahami semua yang Emir lakukan. Meski kadangkala ia juga mengharapkan kehangatan sikap pria itu padanya.
Kemudian, saat hampir satu tahun kebersamaan Emir dan Eyjaz. Tak dinyata ujian itu hadir mengoyak bahtera rumah tangga mereka. Adalah Emir yang membawa masalah itu. Ia yang dikenal sebagai pria dingin, tampan, berkarisma, apalagi sekarang sudah mempunyai jabatan tak ayal membuat wanita-wanita di luar sana tergoda. Termasuk teman wanita saat SMA.
Berawal dari sebuah reuni yang Emir hadiri. Saat itu ia yang datang dengan penampilan nyaris sempurna idaman wanita menjadi pusat perhatian. Terutama pada Sandra, wanita yang dulu pernah dekat dengannya.
Sebenarnya, Emir tak begitu merespon akan perhatian yang Sandra berikan. Tentu saja, sebab ia tak mungkin berbuat macam-macam di belakang Eyjaz. Bukan karena takut, tapi ia sudah berjanji untuk menjadikan dia satu-satunya belahan jiwa. Pantang baginya mempermainkan hubungan.
Begitu juga dengan janji yang ia ucapkan pada sang mertua, yang tak mungkin ia khianati kepercayaannya. Terlebih saat itu, ia juga mulai menyadari perasaan cintanya pada Eyjaz, tetapi tak kunjung ia ungkapkan.
Namun, Emir tetap pria biasa yang bisa lengah. Saat suatu malam ia diundang makan malam bersama teman-temannya. Di situlah Sandra masuk dan memanfaatkan keadaan. Ia mengelabuhi Emir dengan cara murahan. Hingga membuat pria itu lupa diri dalam asmara satu malam.
Setelah malam itu, Sandra seolah merasa dirinya korban. Dengan cara halus ia memutar balikan fakta, hingga Emir tak bisa menghindarinya. Terlebih saat wanita itu mengaku hamil, semakin bingunglah ia menghadapi kenyataan. Terutama pada Eyjaz.
Begitu berat hari-hari yang harus Emir lalui dengan menyimpan rapat rahasia tersebut. Saat satu sisi ia merasa semakin membutuhkan Eyjaz, di sisi lain ia juga harus bertanggung jawab pada Sandra yang juga menuntut perhatian lebih padanya.
Namun, seperti kata pepatah yang mengatakan, sepandainya-pandainya menyembunyikan bangkai, suatu saat pasti tercium baunya. Seperti itu pulalah yang dialami Emir. Eyjaz mengetahui rahasia yang ia sembunyikan, dan memutuskan untuk berpisah dengannya. Cerai.
"Aku mencintaimu!" ungkap Emir dengan lirih. Dipeluknya Eyjaz, erat. Seakan tak ingin kehilangan. "Aku tidak akan menceraikanmu!" sambungnya lagi.
Eyjaz termangu mendengar ungkapan cinta yang baru pertama kali ia dengar dari mulut Emir. Di area parkiran tersebut, suasana begitu syahdu. Angin malam bertiup pelan, menimbulkan rasa dingin. Hanya ada mereka berdua, berdiri di dekat mobil. Waktu seakan melambat, mengiringi debaran tak biasa yang mereka rasakan. Tetapi, tak lama Eyjaz melepaskan pelukan Emir, lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kau sadar? Ini adalah kali pertama kau mengucapkan kata cinta untukku." Eyjaz mengerjap, seketika buliran bening itu jatuh membasahi pipinya. "Selama satu tahun kita bersama, aku nyaris putus asa menerka-nerka tentang perasaanmu padaku. Kau hanya menjalankan peranmu sebagai suami. Tanpa pernah berusaha menjadi seorang kekasih."
Kedua tangan Emir terulur, menyeka air mata Eyjaz. Sungguh, dirinya pun bisa merasakan kesedihan yang dirasakan sang istri. "Maafkan, aku!" ucapnya penuh penyesalan. "Tapi demi Tuhan aku tidak pernah berniat menyakitimu! Aku-"
"Tidak! Aku sudah bilang tak ingin mendengarkan apa pun lagi!" potong Eyjaz cepat sembari menepis tangan Emir dari pipinya. "Tanda tangani surat itu. Biar aku yang mengalah, demi dia yang mengandung anakmu!" sambungnya lagi lirih.
Setelah mengucapkan itu, tanpa ragu Eyjaz lantas segera masuk mobil. Memerintahkan sang supir untuk melajukannya. Meninggalkan Emir yang masih berdiri, menatap pilu hingga kendaraan itu berlalu.
Bersambung.