Merelakan

1153 Words
 Sebelumnya Satu hari setelah pertemuan terakhir bersama Emir, aku sengaja tidak pulang ke apartemen yang menjadi tempat tinggal kami selama ini. Aku lebih memilih bermalam di rumah papa, meski sebenarnya kurang nyaman berada satu rumah bersama istri pertamanya. Apalagi saat mereka menanyakan keberadaan Emir, kujawab saja dia tengah sibuk di luar kota sebagai alasan. Beruntung, keduanya percaya. Sementara hari ini, aku sudah berada di Green cafe. Tempat usaha yang kudirikan semenjak lulus kuliah. Seperti namanya, tempat ini kudesain dengan tertata. Tanaman hias yang menyejukkan pemandangan, memenuhi setiap sudut ruangan. Dari mulai monstera, tanaman secullent, philodendron, tilandsia, heliconia, asplenium, dan masih banyak lagi. Sementara di kaca samping cafe ini, tanaman Lee kwan yew yang menjuntai indah itu adalah salah satu view favorit-ku. Selain tanaman hias, tentu yang paling utama tersedia di cafe ini adalah makanan dan minuman. Dari mulai hidangan Indonesia, Thailand, Korea, hingga Western dapat dipesan. Sengaja, kupekerjakan satu orang chef profesional, bersama beberapa karyawan untuk melayani pelanggan. Hingga sekarang, cafe ini cukup populer dan selalu ramai. Dan aku bersyukur untuk hasil kerja keras ini. Setelah mengecek beberapa tanaman yang juga kujual, aku beranjak duduk di depan bar tempat pemesanan. Suasana belum begitu ramai, kuperhatikan dia yang sedang menghidangkan kopi pesanan pelanggan. Namanya Faraz, aku memanggilnya Araz. Seorang barista yang kupercayakan memegang menu minuman. Dia tampak melirik dengan tersenyum, seolah menyapa ramah padaku yang merana ini. "Mau kopi, Non?" celetuknya menawarkan. Aku menggeleng, malas. Menghela napas panjang sesaat, lalu mengembuskannya perlahan. "Hidupku sudah pahit, Raz! Aku tidak membutuhkan kopi!" ucapku miris. Dia tersenyum lagi. "Hot coklat?" Aku menggeleng lagi. "Aku sedang diet!" kataku tak acuh, sebab pandangan tertuju pada layar ponsel di tangan. Aku sedang mengecek akun sosial cafe ini. Seperti review pelanggan, siapa tahu ada update-an yang bisa membuat mood-ku sedikit lebih baik. "Kupikir makan hati ampuh menjadi salah satu cara untuk diet!" cetus pria bercelemek itu. Sontak aku mengalihkan pandangan padanya. "Ternyata tidak, ya!" sambungnya enteng. "Maksudmu?" "Hehe... tidak! Lupakan! Aku hanya asal bicara!" Dasar! Aku tahu dia hanya berkilah. Sebab sebenarnya, aku pun mengerti maksud ucapannya. Dia tahu masalahku dengan Emir. Sebab, sesekali aku pernah curhat tentang sikap dingin suamiku itu padanya. Termasuk meminta pendapat, harus bagaimana sikapku menghadapi pria kutub Selatan itu. "Buatkan aku teh hijau saja, Raz!" Aku mematikan layar ponsel, lalu bangkit dari kursi ini. "Antarkan ke ruanganku, ya!" pintaku sembari melangkah. Kudengar dia langsung menyahut. "Oke!" katanya. Saat aku tengah berjalan menuju ruangan, sekilas mata ini menangkap sesosok wanita yang familiar. Aku memperlambat langkah sembari memeindainya melalui dinding kaca. Mendadak napas ini memburu, saat ingatanku mengarahkan pada satu nama. Sandra. Mau apa dia ke mari? Apa mungkin ingin menemuiku? Atau... hanya berkunjung ke cafe ini saja? Saat dia hampir sampai ke pintu, dengan cepat aku masuk ke ruangan. Jangan sampai dia melihatku! Sebab aku takut tak bisa menahan diri jika berhadapan dengannya. Apalagi melihat perutnya yang sudah menonjol itu. Sungguh ironi memang, saat aku begitu mengharap kehamilan, dia justru lebih dulu hamil darah daging Emir. Menyedihkan! Begitu masuk ruangan dengan dinding kaca transparan satu arah dari dalam, aku lantas duduk di kursi meja kerja. Pandanganku luruh pada gerak gerik wanita itu yang kini sudah menempati meja pelanggan. Ia tampak memindai satu sudut ruangan. Sementara aku, memandangnya dengan nanar. Ingatanku mundur pada saat pertama kali memergokinya bersama Emir. Saat itu, kakak tiriku -Faaz- tak biasa menghubungi. Perlu kuberitahukan bahwa hubungan di antara kami setelah papa dan ibunya menikah kembali, masih canggung. Lebih tepatnya aku yang sengaja memberi jarak. Bukan karena tidak suka, tetapi hanya butuh waktu untuk menerima kehadiran mereka. Kak Faaz memintaku untuk menemani ibunya chek up kesehatan ke rumah sakit. Sebenarnya aku tidak mau, tapi tak enak hati bila menolak. Jadilah kupenuhi permintaannya dengan setengah malas. Namun, siapa sangka, justru berkat dialah, aku bisa mengetahui perselingkuhan Emir dengan w************n itu. Aku masih ingat, betapa hatiku hancur saat melihat wanita itu menggapit lengan Emir menuju salah satu ruangan dokter. Mereka tak melihatku, karena terhalang beberapa orang. Saat itu, rasanya langit runtuh menimpa diriku. Sakit, sesak, perih, hancur kurasakan secara bersamaan. Beruntung, ibu tiriku sedang diperiksa, jadi tak mengetahui apa yang lihat. Aku berusaha menahan tangis yang nyaris pecah, sebab tak mungkin menumpahkan kesedihan di depan umum. Mungkin tak akan sesakit itu rasanya jika saja aku tak mencintai Emir. Mungkin tak akan sesakit itu rasanya saat menyadari sikapnya yang begitu dingin, seperlunya. Tapi ternyata, di belakangku dia bisa begitu intim dengan wanita lain. Setelah kejadian itu, aku langsung menyuruh seseorang untuk mengorek informasi tentang hubungan Emir dan wanita kurang ajar itu. Yang kemudian semakin membuatku sakit, saat kutahu mereka mempunyai hubungan sebelum aku mengenal Emir. Jadi, bisa dikatakan cinta lama yang menyambung kembali. Atau mungkin, memang masih terjalin bersamaan dengan pernikahanku dengannya. Entahlah! Hanya mereka dan Tuhan Yang Tahu. Tok! Tok! Tok! Pintu ruangan ini terbuka, membuyarkan lamunan. Araz muncul dengan mambawa nampan berisi gelas. Dia lantas meletakkan gelas itu di meja. "Ada yang ingin bertemu denganmu, Non!" ucapnya. "Siapa?" "Itu!" Araz menunjuk pada Sandra. "Wanita itu!" katanya lagi, membuatku termangu. Ya Tuhan... mau apa dia? "Kau mengenalnya?" tanya Araz menyelidik. "Iya! Dia selingkuhan Emir!" "Apa?" Sontak Araz menatapku seakan tak percaya. Aku mengangguk lemas. "Oke, biar aku usir dia!" "Tidak usah!" "Kau yakin?" Lagi, aku mengangguk. "Suruh dia ke mari!" Tanpa membantah, Araz langsung memenuhi perintahku. Dia keluar dari ruangan ini. Kemudian, menghampiri Sandra yang tak lama beranjak menuju ke mari. ** Aku memindainya yang tampak kikuk, duduk di hadapan meja yang menghalangi kami. Wanita ini tak seperti pelakor pada umumnya yang bertubuh seksi dan bermakeup tebal. Dia justru tampak sederhana, memakai dres selutut bercorak abstrak. Rambutnya yang panjang dan hitam itu tergerai. Raut wajahnya yang sendu benar-benar telah berhasil menyembunyikan kebobrokannya. Dasar pelakor sok polos! "Ada yang bisa kubantu?" tanyaku memecah kebisuan. Jujur saja, rasanya aku ingin menghajarnya jika saja tak ingat dia tengah berbadan dua. Dia mendongak, membalas tatapanku. "A-ku...." "Aku tak punya banyak waktu!" ketusku, berharap dia mengerti dan tak berbasa-basi. Dia terdiam sejenak. Mungkin tengah merangkai kata untuk diucapkan. "Aku datang ke mari untuk meminta ke lapang hatimu, Eyjaz!" Deg! "Tolong, Relakan dia untukku!" "Dia harus menikahiku!" "Dia harus bertanggung jawab atas anak yang kukandung ini!" Aku tersenyum getir. Benar-benar tak menyangka akan mendengar semua ini dari mulutnya. Perlu kuakui dia cukup berani. Bahkan sikapnya begitu tenang, seolah tak mempunyai perasaan dan simpati padaku yang terluka. "Tanpa kau pinta, aku akan memberikan Emir padamu!" Kuucapkan itu dengan nada penekanan. "Kau tenang saja! Sebab aku sudah tak membutuhkan dia. Asal kau tau, bagiku dia hanya s****h yang sudah selayaknya di buang ke tempat s****h! Bukan begitu?" Seketika, kulihat wajahnya memerah. Seakan menahan amarah yang kupantik barusan. Matanya masih menatapku, tapi kali ini begitu tajam. Kubalas dengan senyuman culas. "Baiklah, kalau sudah tidak ada yang ingin kau sampaikan. Silakan, pintu keluarnya tidak dikunci!" Kuucapkan itu sembari mengalihkan pandangan pada ponsel, berpura-pura tak acuh dan sibuk. Biarkan saja. Siapa pula yang ingin berlama-lama melihatnya. "Terima kasih atas waktumu!" sahutnya seraya beranjak. Mau lanjut?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD