Kesepakatan perceraian

1314 Words
 Malam hari saat meninggalkan Green Cafe, aku memutuskan untuk pergi ke apartemen dengan tujuan mengemasi pakaian. Sejujurnya enggan jika bertemu dengan Emir, tapi mau bagaimana lagi. Semakin cepat berpisah, kupikir akan semakin baik bagi kami. Terlebih untuk diriku sendiri. Setelah pertemuan dengan w************n itu tadi siang. Aku semakin mantap untuk berpisah dengan Emir. Seperti yang kukatakan, bahwa aku akan memberikan pria itu padanya. Maka hal tersebut benar-benar akan kulakukan. Lagi pula, untuk apa tetap mempertahankannya jika hanya  membuatku semakin terluka. Sudah cukup selama ini aku dibutakan dengan cinta. Menghabiskan waktu hampir satu jam perjalanan, menuju apartemen. Mobil yang kukemudikan pun tiba. Setelah kuparkirkan, segera aku menuju lantai delapan gedung ini. Di sana apartemenku berada. Semoga saja Emir belum pulang dari kantor. Setidaknya sampai aku selesai berkemas barang-barang. Saat langkahku semakin dekat menuju pintu hendak membukanya. Mendadak sesak di hati kembali menyeruak. Bagaimana tidak? Di tempat ini semua kenangan selama satu tahun begitu banyak tercipta. Satu tahun yang kuhabiskan untuk berbakti menjadi istri Emir, meski penerimaan yang kudapat justru tak sebanding dengan apa yang telah kuberikan. Bukan, bukan maksud pamrih. Tapi hanya ingin jujur saja mengutarakan pandangan diri, bahwa cinta bertepuk sebelah tangan itu sangat bodoh. Dan bahagia atas kebahagian dia yang kau cinta bersama orang lain itu adalah bullshit. Jika diingat lagi, kurang apa aku selama ini. Yang selalu berusaha sabar memahaminya. Sebab sedikit banyak dari awal sudah mengetahui sifat dan karakternya yang dingin. Tak pernah sekali pun mempersoalkan status sosialnya, karena itu tak penting. Hanya satu hal yang selalu kuharapkan, yaitu ungkapan cinta dan kehangatan sikapnya. Namun barangkali, kedua hal tersebut justru terlalu berharga untuk diberikan padaku. Aku hanya bisa tersenyum miris dengan kenyataan ini. Sangat menyedihkan! Aku menyapu pandangan ke sekeliling saat lampu ruang tamu ini menyala. Wangi pengharum ruangan langsung menguar, bisa kubaui. Namun tak lantas menenangkan seperti sebelumnya. Yang ada malah semakin menyesakan hati. Apalagi saat perlahan, slide demi slide kebersamaanku dengan Emir terpampang dalam ingatan. Di sofa itu aku selalu menunggu Emir pulang dari kantor. Kuhabiskan waktu dengan menonton, sesekali membaca novel, majalah, atau hanya berselancar di dunia maya melalui ponsel. Lalu, ketika ia datang, aku akan pura-pura terlelap. Membiarkannya melepas penat sejenak di sampingku. Setelah itu, dia akan membopong tubuh ini, memindahkannya ke tempat tidur. Di dapur itu, saat aku sedang memasak. Sesekali dia menghampiri, meski tanpa banyak bicara. Hanya berbasa basi menawarkan bantuan. Saat aku kerepotan, kubiarkan dia membantu. Tetapi jika tidak, selalu kusuruh dia menunggu saja di meja makan. Baru setelahnya kami akan makan bersama, tanpa diiringi obrolan hangat seperti pasangan pada umumnya. Dan bodohnya, aku tetap menyukai moment seperti itu. Dan di kamar ini, di mana aku berada sekarang. Semua moment indah bersama Emir adalah hal yang paling sulit untuk dilupakan. Aku bahkan masih ingat bagaimana konyolnya diri ini demi menggodanya. Saat itu aku berpura-pura terpeleset di kamar mandi, dengan tujuan mengetes sejauh mana dia akan tahan membiarkanku yang sudah bersolek sebelum tidur. Aku mengaduh, berakting kesakitan. Dan sesuai harapan, tak menunggu lama dia muncul dengan raut khawatir. Lantas membopongku dengan segera menuju kasur. Dipijitnya area kakiku sembari bertanya bagian mana yang sakit. Aku mengarahkan, padahal dalam hati sedang tertawa bahagia. Setelah berpura-pura merasa lebih baik, suasana pun berubah syahdu. Kami hanyut dalam lautan asmara indah yang mengalir dengan sendirinya. Iya, aku berhasil menggodanya. Namun tak serta merta mampu meluluhkan sikapnya. Oh Tuhan... kalau sudah begini, rasa-rasanya aku harus bekerja ekstra demi melupakan Emir. Bayangannya benar-benar menguasaiku. Tak mau pergi. Kuhirup napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Kemudian mempercepat gerak, mengemasi pakaian ke dalam koper. Saat hampir selesai, tiba-tiba pandangan tak sengaja tertuju pada layar ponsel yang menyala di atas nakas. Ibu Mertua calling.... Bagaimana ini? Aku malas harus mengangkatnya. Apalagi jika beliau menanyakan program kehamilan. Ya Tuhan! Panggilan terputus. Aku bernapas lega. Bergegas aku mengemas pakaian ke dalam koper ke dua, dengan perasaan was-was. Takut jika Emir datang lebih cepat, dan tentu saja dengan panggilan dari ibu lagi. Ibu Mertua calling.... Nah, kan! Beliau menelepon lagi. Kali ini, aku hanya bisa mendesah, pasrah dan terpaksa mengangkatnya. “Assalamualaikum, Bu!” salamku seperti biasa. “Waalaikumsalam, Eyjaz!” jawabnya, terdengar antusias seperti biasa. “Ibu tadi menelepon, tapi tidak diangkat. Kau sedang sibuk, Nak?” “Maaf, ya, Bu! Aku baru dari kamar mandi!” “Oh.” Ibu menjeda. Terdengar dia batuk-batuk di ujung sana. “Ibu!” panggilku. “Apa ibu sedang sakit?” sambungku memastikan. Dia masih terbatuk-batuk, terdengar seperti batuk kering. Membuatku khawatir. “Eheumm... iya, tenggorokan ibu rasanya gatal, Nak!” “Sudah minum obat?” “Tadi sudah,” katanya diselingi batuk lagi. “Tidak usah khawatir, ibu baik-baik saja. Ibu hanya ingin memintamu untuk datang ke mari. Ibu punya sesuatu untukmu!” Ya Tuhan... aku sangat ingin menolak, tapi tak sanggup bila harus melakukannya. Bagaimana ini? “Eyjaz?!” “Hahh... iya, Bu!” “Bagaimana, apa kau bisa datang kemari, besok? Ibu ingin memberikanmu kurma muda dan air zamzam pemberian tetangga yang baru pulang dari umroh. Ibu sudah menitipkan banyak do’a untuk kesuburanmu, Nak!” Aku termangu. Hatiku mencelos. Entah apa yang akan terjadi padanya jika kuberitahukan bahwa ia justru akan segera menjadi seorang nenek. Mendapatkan cucu yang selama ini begitu ia dambakan. Namun bukan dariku, melainkan dari wanita lain. Apa ia akan menerimanya? “Eyjaz?!” Aku mengusap wajah, sejenak. Lantas menjawab, “InsyaAlloh, ya, Bu! Aku usahakan datang!” “Alhamdulillah. Ya sudah, kalau begitu ibu tunggu ya, Nak!” “Iya.” “Nanti ibu telepon lagi. Assalamualaikum!” “Waalaikumsalam.” ** Saat jam dinding menunjuk angka sembilan lebih empat puluh menit, aku sudah selesai berkemas. Kugeret satu persatu koper menuju dekat pintu. Hingga ketiga koper itu kini berjajar rapi. Namun, tepat saat aku menghubungi post security untuk meminta bantuan. Tak kusangka pintu itu lebih dulu terbuka. Aku terkesiap melihat Emir muncul di sana, hingga mengurungkan niat untuk menelepon security. Dia memindai deretan koper di dekatnya, lalu berjalan menuju ke arahku. “Kau mau ke mana?” tanyanya tanpa basa basi. Aku berusaha bersikap tak acuh, menghindar menuju sofa. Kemudian duduk. “Sementara waktu, aku akan tinggal di cafe!” sahutku sedatar mungkin. “Apa kau sudah menandatangani surat itu?” Emir menatap lekat padaku. Wajahnya tampak tegang. Kemudian ia pun turut duduk di sofa hadapan ku. “Jangan pergi dari sini!” cetusnya. “Biar aku yang pergi!” Deg! Pergi? Apa dia akan tinggal bersama wanita itu? “Dan mengenai surat itu.” Emir mengambil sesuatu dari tasnya. Map. Lalu tangannya bergerak mengeluarkan kertas dari dalam map tersebut. Kemudian menyodorkannya padaku. “Aku akan menandatanganinya, tapi dengan syarat!” Tanpa menunggu, aku segera meraih kertas itu. Mataku langsung tertuju pada deretan kalimat yang tertulis rapi. ‘Kesepakatan Perceraian.’ Napasku memburu demi membaca keseluruhan surat perjanjian ini. Sementara dia tampak tenang memperhatikanku. Dia menginginkanku kembali menikah dengannya, setelah kami berpisah selama satu tahun. “Aku akan menandatangani surat perceraian kita, asal kau menandatangani surat perjanjian itu!” katanya, seolah mempertegas tujuan dari surat ini. “Kenapa aku harus menandatangani surat ini?” ketusku. “Kenapa aku harus menikah lagi denganmu, setelah satu tahun perpisahan kita nanti? Hahh? Apa kau ingin mempermainkanku?” “Aku... tanda tangani saja! Atau aku tidak akan pernah menceraikanmu!” Tanpa menunggu responku, dia langsung beranjak. Spontan aku pun mengikutinya, menuju kamar dengan melayangkan protes. Tapi dia tetap tak menggubris, tangannya sibuk mengambil beberapa helai pakaian, lalu ia masukan ke dalam ransel. Hatiku semakin sesak. Ingin sekali rasanya menghajarnya atas kesewenang-wenangan ini. Tapi tak mungkin bisa, yang ada hanya air mataku luruh membasahi pipi. Sementara dia tetap tak menghiraukanku. “Kau bahkan akan hidup bahagia dengan wanita itu. Dengan anak kalian! Apa itu tidak cukup untuk menyakitiku!” Air mataku semakin berderai, menyedihkan. Tapi ia tetap kekeh, tak mau peduli. Langkahnya cepat menuju pintu, sedangkan aku terus berusaha meminta kejelasan atas perjanjian ini. “Emir!!!”sentakku. Emir tetap pergi. Berlalu tanpa peduli. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD