Emir masih terduduk di dalam mobil dengan kondisi hati yang benar-benar kacau. Ia memijat pelipis begitu kuat dengan satu tangan. Matanya terpejam, seakan berusaha meredam sesak dalam hati, akibat melihat tangis Eyjaz.
Sebelum ini, Emir tak pernah merasa begitu jahat pada Eyjaz. Selama kebersamaan mereka, sebisa mungkin ia selalu berusaha menjaga perasaan wanita itu. Memperlakukannya dengan baik, dengan caranya sendiri.
Namun saat Eyjaz menangis seperti tadi. Sungguh, ia merasa lebih terluka. Perih, seakan disayat sembilu. Sehingga membuatnya merasa gagal dalam menepati janji pada sang mertua. Janji untuk selalu membahagiakan Eyjaz bagaimana pun keadaannya.
Kini, Emir menyadari, bahwa penyesalan yang menyelimuti dirinya takan mampu mengubah keadaan. Pun, dengan kata maaf yang ia ucapkan, takan mampu mengubah pandangan terlebih perasaan Eyjaz kembali seperti semula.
Sementara mengenai kesepakatan perceraian yang ia buat, semata-mata hanya untuk mencari celah kesempatan kedua. Ia kesampingkan ego dan harga diri demi melakukan itu. Meski rasa cintanya sendiri, kini telah layu dalam sekejap sebelum berkembang. Teronggok di sudut hati terdalam.
Beberapa saat kemudian, saat hendak menyalakan mesin mobil. Pandangan Emir tertuju pada layar ponsel yang menyala. Di sana, jelas terpampang nama Sandra yang menghubungi. Emir mendesah sesaat. Sungguh, wanita itu tidak tepat waktu menghubunginya saat ini. Entah apa yang diinginkannya sekarang. Emir benar-benar tak semangat mengangkat telepon.
Emir membiarkan panggilan tersebut, hingga layar ponselnya padam. Namun, hanya hitungan detik Sandra kembali menghubungi. Satu, dua, sampai yang ketiga kali, Emir terpaksa mengangkatnya. “Ada apa?” tanyanya datar, tanpa basa basi.
“Emir, bisakah kau datang kemari?” sahut Sandra, terdengar lirih.
Sejujurnya, Emir sangat ingin menolak. Tentu karena suasana hatinya yang masih kacau. Tetapi saat ia ingat, ini adalah kali pertama Sandra memintanya datang malam hari, tiba-tiba muncul rasa tak tega dalam hatinya. Apalagi saat mengingat wanita itu tengah mengandung, dan tinggal seorang diri, semakin mencuatlah rasa khawatir itu.
“Dari sore perutku kram, Emir!” Sandra menjeda. “Aku takut!” sambungnya mengiba.
Emir masih terdiam, memcoba menetralisir perasaannya. Setelah merasa yakin, barulah ia menyahut. “Baiklah, aku akan datang!” katanya.
Di ujung sana, seketika senyum di bibir Sandra mengembang. Entah, seakan bunga-bunga indah perlahan bermekaran memenuhi hatinya. Sebab akhirnya bisa menarik perhatian Emir. Ia tak benar-benar merasakan kram, hanya perasaan kurang nyaman yang biasa dirasakan wanita hamil pada umumnya. Namun sengaja ia lebih-lebihkan supaya Emir datang.
**
Setelah mengetahui Emir akan datang, Sandra segera menyiapkan diri. Ia beranjak dari tempat tidur menuju meja rias. Duduk di kursi, menghadap cermin. Diraihnya sisir yang tergeletak di meja tersebut, lalu ia sisirkan pada rambut yang tergerai.
Senyum itu kembali muncul, menghiasi bibir Sandra. Ia merasa tak sabar menunggu kedatangan Emir malam ini. Maklumlah, sebab sebelumnya ia selalu menahan diri untuk meminta perhatian. Namun, saat mengetahui kabar Eyjaz meminta cerai, dari Emir. Mulailah ia berani melangkah. Mencari celah untuk memiliki pria itu seutuhnya.
Usai menyisir, kini perhatian Sandra tertuju pada perut. Menggerakkan tangan, mengelusnya dengan lembut. Kehadiran jabang bayi itu benar-benar membawa keberuntungan, yang tentu saja akan ia jaga sebaik mungkin. Dengan harapan, setelah kelahiran nanti, bisa melengkapi kebahagiaan yang ia rasakan kini.
“Sabar, ya, Nak!” ucap Sandra sembari terus mengelus. “Sebentar lagi, ayahmu akan datang! Malam ini dia akan menemani kita.”
Tak disangka jabang bayi itu merespon. Sandra bisa merasakan gerakan halus dalam perutnya. Sontak ia menutup mulut dengan satu tangan, saking terharu. Hingga perlahan matanya berkaca-kaca. “Semoga kau tetap sehat, Nak!” gumamnya lirih.
**
Seiring dengan berputarnya jarum jam, rasa kantuk yang mendera tak dapat Sandra lawan. Ia yang masih setia menunggu kedatangan Emir sampai rela tidur di sofa. Sudah ada setengah jam lewat, tapi yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidung.
Entah sudah berapa kali Sandra menguap. Menahan diri agar tidak terlelap dengan perasaan resah. Sesekali matanya tertuju pada jam dinding, lalu menerawang dengan penuh harap. Ia kembali mengubah posisi tidur, demi mendapatkan kenyamanan. Menyamping ke kiri dan kanan, hingga tak lama terdengar samar suara mobil, yang kemudian semakin jelas tertangkap indra pendengaran.
Sebelum Emir mengetuk pintu, Sandra lebih dulu keluar dengan wajah semringah. Hilang kantuknya berkat kehadiran pria itu, yang ia sambut dengan senyum bahagia.
“Kau belum tidur?” sapa Emir sembari melangkah ke arah Sandra. “Bukankah kau sakit?” selidiknya.
Sandra tampak gugup, cepat ia mengubah mimik wajah. Lalu kembali manampakan sendu. “Iya, tadi perutku kram!” sahutnya dengan lemah.
“Harusnya kau tiduran saja!”
“Aku tidak bisa tidur!”
“Ya sudah, ayo masuk!” ajak Emir.
Menyadari raut Emir yang kurang bersahabat, Sandra tertegun. Ia kecewa sebab pria itu tak bersikap seperti apa yang diharapkannya, tapi kemudian sebuah ide muncul. Saat Emir hendak menuju pintu, ia sengaja mengaduh, seolah merasa sakit lagi.
“Ada apa?” tanya Emir terkesiap. Dilihatnya, Sandra memegangi perut dengan wajah meringis. Lantas ia kembali menghampiri. “Apa perutmu sakit lagi?”
Pelan, Sandra mengangguk.
“Ayo,aku bantu!” Emir hendak memapah, tapi Sandra malah menggeleng.
“Perutku sakit!” lirihnya menyiratkan agar Emir membantu lebih. Dan iya, ia berhasil. Tanpa diminta, pria itu langsung membopongnya masuk rumah. Namun, pandangan pria itu lurus ke depan, seolah menghindari tatapan mata Sandra yang lekat padanya. Sebab ia merasa tak nyaman, diperhatikan seperti itu.
Memasuki kamar, dengan hati-hati Emir langsung merebahkan Sandra di tempat tidur. Lalu ia tarik selimut agar menutupi setengah tubuh wanita itu. “Tidurlah! Besok kita ke rumah sakit!” suruhnya seraya hendak beranjak.
Refleks, Sandra meraih tangan kekar itu. Menahannya agar tidak pergi, dan tidur di luar. Untuk beberapa saat pandangan keduanya bersiborok. Hening, tak ada kata yang keluar dari masing-masing.
“Bisakah kau tidur di sini?” lirih Sandra lagi. “Temani aku dan... anak kita!”
Emir masih tertegun. Menatap Sandra lalu perlahan beralih pada perut buncitnya. Lagi, perasaan tak tega itu muncul. Mengalahkan peperangan batin sendiri. Ia tahu hubungan ini tidaklah benar, tapi keadaan tak memberinya jalan keluar. Bahkan untuk sekedar menepi, menenangkan diri. Yang terjadi justru semakin membawanya larut dalam kemelut.
Ada rasa canggung yang Emir rasakan saat ia berbaring di samping Sandra. Bahkan semakin tak nyaman saat wanita itu memeluk ya dengan erat. Meraih tangannya untuk kemudian diletakkan pada perut buncit itu, seolah memintanya mengelus-elus.
“Besok, aku ingin USG. Aku ingin tahu jenis kelamin anak ini!” Bisik Sandra. “Apa kau setuju?”
Emir tak menjawab, ia hanya mengangguk sekilas. Tak semangat untuk menyahut, apalagi berbincang lebih banyak tentang calon anaknya itu. Yang ada justru ia kembali memikirkan Eyjaz. Entah bagaimana keadaannya malam ini,setelah ia tinggalkan begitu saja.
Saat malam semakin larut, dan Sandra sudah terlelap. Emir perlahan bangkit dari tempat tidur. Begitu hati-hati pergerakannya agar tak membangunkan wanita itu. Baru setelah berhasil keluar kamar, ia berlalu menuju kamar mandi. Membasuh wajah sejenak, kemudian beranjak ke ruang tamu, mengistirahatkan diri di sofa.
**
“Nah, ini kelihatan!” seru Dokter kandungan mengarahkan pada monitor, di mana sang jabang bayi tampak di sana. Makhluk kecil itu begitu aktif, jelas terlihat. Membuat Sandra takjub memperhatikannya.
“Laki-laki!” ucap Dokter lagi. “Bayinya laki-laki!” sambungnya meyakinkan.
“Ya Tuhan... terima kasih!” lirih Sandra. Ia benar-benar terharu, hingga tak sadar meneteskan air mata. Begitu besar karunia Tuhan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sementara Emir masih tertegun. Entah, ia merasa bingung dengan perasaan sendiri. Harusnya bahagia melihat darah dagingnya kini dapat ia lihat. Harusnya ia bersyukur karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Namun kenapa justru sebagian hatinya merasa hampa. Seolah tak tersentuh dengan itu semua. Hingga selesai proses USG itu, ia tetap bungkam.
Usai diperiksa, Sandra masih mendengarkan pesan dokter untuk menjaga kehamilannya. Ia begitu antusias, menyahut dan bertanya ini itu. Tak terusik dengan sikap Emir yang berbanding terbalik dengan dirinya.
“Ini resep obatnya! Jangan lupa, ibu harus banyak istirahat! Jangan terlalu banyak pikiran!” pesan dokter mengakhiri obrolan.
“Terima kasih, ya, Dok!” sahut Sandra. Sekilas ia melirik pada Emir, lalu menunduk.
“Dijaga istrinya, ya, Pak!” celetuk dokter. Rupanya, diam-diam wanita berkacamata itu juga memerhatikan sikap Emir yang tak seperti suami pada umumnya. Di mana biasanya akan ikut antusias, dan aktif berbicara. “Jangan biarkan istrinya kelelahan!” sambungnya lagi.
Mendengar itu, Emir pun akhirnya bersuara. “Iya, terimakasih, Dok!” ucapnya datar. Kemudian tak lama, ia dan Sandra pun segera keluar dari ruang pemeriksaan.
**
Sepanjang perjalanan menuju kembali ke rumah, dilalui nyaris tanpa obrolan. Emir begitu fokus menyetir, sedangkan Sandra tak bersemangat untuk membuka pembicaraan.
Jika harus jujur, sebenarnya Sandra menyadari bahwa Emir tak memiliki perasaan yang sama seperti yang ia rasakan. Dari tatapan mata, sikap, serta perilakunya pun sudah terbaca dengan jelas. Namun, harapan untuk mengambil hati pria itu masih menyala. Begitu juga dengan kehadiran makhluk kecil yang ada di perutnya yang selalu menjadi motivasi, agar ia tetap bersabar untuk meluluhkan hati Emir. Seperti awal terjalinnya hubungan mereka.
“Aku akan tetap bersabar menghadapi sikapmu, Emir!” batin Sandra. “Aku yakin kau akan menerimaku seperti dulu!” bisiknya lagi. Dilihatnya sejenak, wajah tampan itu benar-benar tak terusik. Pandangan lurus ke depan, seolah tak menyadari akan kehadirannya.
“Aku turun di depan saja!” cetus Sandra mengalihkan perhatian. Emir langsung menoleh, bingung. “Di depan sana!” tegas Sandra sembari meraih tas, bersiap untuk turun.
“Kau mau ke mana?”
“Tidak ke mana-mana! Aku ingin naik taksi saja!”
“Kenapa? Aku bisa mengantarmu sampai rumah?”
Sandra tersenyum masam, padahal dalam hatinya bahagia karena berhasil membuat Emir bersuara. Terlebih saat melihat raut bingung, seperti tak enak hati itu. Semakin senanglah ia karenanya. Lantas ia kembali bersuara. “Aku tak nyaman dengan sikapmu, Emir!” ungkap Sandra. “Kalau kau seperti ini terus, lebih baik aku pulang sendiri. Perjalanan ini bahkan tak ada bedanya seperti menaiki taksi. Kau tau, aku tak suka diabaikan!”
Emir tersentil, lantas ia segera menepikan mobil. “Maafkan aku, San!”
Sandra menggeleng. “Ini bukan salahmu!” sahutnya. “Kau tidak bersalah, justru akulah yang bersalah!”
Tanpa diduga Sandra langsung turun dari mobil tersebut. Spontan, Emir pun mengikutinya dengan perasaan bersalah. Emir berusaha menghentikan langkah Sandra yang hendak menyerang terburu-buru. “Sandra, Awas!!!”
Lengkingan klakson mobil yang berada tepat di depan Sandra bergema, memekakkan telinga. Jantung Emir nyaris copot demi melihat situasi itu. Sementara Sandra berdiri terpaku, kedua tangannya menutupi telinga masing-masing. Gemetaran tubuhnya, sejurus dengan detak jantung yang berpacu. Beberapa detik kemudian Emir langsung menarik lengan Sandra, lalu setengah sadar membawanya dalam dekapan. Hingga deru napas bisa mereka dengar masing-masing, tanpa peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar yang mengarah pada keduanya. Termasuk pada sepasang mata berembun, yang menatap nanar penuh kebencian.
Bersambung.
Cerita ini memakai dua sudut Pandang. PoV 1 untuk Eyjaz. Dan PoV 3 untuk tokoh lain.
Silakan yang mau krisan
Jangan lupa like dan komen.