[Nak, kau jadi berkunjung ke mari ‘kan?] Ibu Mertua.
Aku hanya bisa mendesah, mendapati pesan tersebut. Tak semangat dan malas rasanya untuk menanggapi, meski sekedar membalas singkat. Mungkin karena semalaman menangisi ulah Emir, yang seenaknya saja memanfaatkan situasi dengan membuat kesepakatan perceraian. Apa sebenarnya yang dia inginkan? Apa mungkin karena materi? Tapi sepanjang pengetahuanku, dia bukan tipe pria yang maruk. Bukan pula pria yang gila jabatan.
Apa mungkin karena... cinta? Ah, bullshit! Mana mungkin mencintai, tapi di belakang menghianati.
Seandainya saja Emir menyadari, bahwa aku bahkan berusaha menyembunyikan masalah ini dari papa. Seandainya saja dia mengetahui, bahwa aku bahkan berusaha menutupi aibnya itu dari semua orang. Termasuk ibunya sendiri. Itu semua kulakukan demi kebaikannya, sebab tahu akan seperti apa jadinya jika rahasia ini bocor.
Tak bisa kubayangkan bagaimana amarah papa, jika tahu Emir menyakitiku. Bukan bermaksud melebih-lebihkan atau bangga akan kekuatan yang dimiliki papa, terlebih kasih sayangnya yang tak perlu diragukan padaku. Hanya saja, aku memikirkan hal lain, yaitu keluarga Emir. Ibu dan adik-adiknya.
Ibu adalah seorang janda paruh baya. Dia wanita yang baik, memperhatikanku lebih dari anaknya sendiri. Sedangkan adik iparku, Angga dan Anggi, keduanya masih mengenyam bangku kuliah. Mereka tinggal di rumah pemberian papa, dan hidup dari uluran tangan Emir yang menjadi tulang punggung setelah kepergian bapak.
Jadi bisa dibayangkan bagaimana bila kabar buruk ini sampai ke telinga papa? Aku bisa menjamin habislah Emir. Sementara aku... tidak memiliki keinginan untuk melihat itu. Apalagi jika keluarganya yang tidak tahu apa-apa ikut terseret. Cukup bagiku berpisah dengan cara baik-baik. Setelah itu, barulah mencari alasan untuk menyampaikan perpisahan kami pada papa. Hanya itu.
Kupaksakan diri beranjak menuju meja rias, merapikan rambut untuk melengkapi penampilan diri. Kutatap pantulan wajah dengan lekat. Lihatlah! Bahkan rasanya aku masih sama seperti sebelum menikah, tetapi mengapa Emir menduakanku? Apa kelebihan wanita itu dibandingkan diri ini? Apa dia begitu menarik? Apa karena dia lebih sederhana?
Lagi, aku hanya mampu mendesah. Lelah rasanya terus memikirkan masalah yang membuatku menderita ini. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Araz waktu itu, kalau aku terlalu baik. Bahkan terkesan bodoh. Membiarkan Emir, meski sebenarnya mampu membalas penghianatannya berkali-kali lipat.
Ah... kenapa pula aku jadi mengingat barista slengek’an itu. Lebih baik segera bersiap untuk pergi.
**
Jam menunjukkan angka sembilan lebih saat aku mengendarai mobil hendak menuju rumah ibu. Sebelum ini, terlebih dulu aku singgah ke Green cafe. Mengecek keadaan di sana, barang sejenak. Memastikan segala sesuatu tersedia dengan sempurna. Termasuk menyiapkan tanaman hias anthurium pesanan pelanggan setia.
Sekedar informasi mengenai tanaman hias tersebut. Mungkin belum banyak yang tahu jika tanaman cantik itu mempunyai manfaat bagi kesehatan tubuh. Seperti untuk relaksasi dan penghilang stres. Tanaman yang memiliki bentuk, aroma dan warna daun yang indah itu memberikan kepuasan tersendiri bagi yang merawatnya. Termasuk aku yang memang hoby merawat tanaman hias.
Dan iya, usai berkutat dengan menyiapkan tanaman hias tadi, mood-ku berangsur lebih baik sekarang. Kulaju mobil ini dengan kecepatan sedang menerobos antrean padat merayap. Hingga beberapa saat kemudian, laju mobilku bisa sedikit dipercepat karena jalanan yang dilalui kini lumayan lengang.
Di tengah kefokusan menyetir, sekilas mataku tertuju pada ponsel yang menyala di jok samping. Terlihat nama ibu yang menghubungi. Lantas segera tanganku bergerak hendak meraihnya. Saat aku berusaha meraih benda pipih itu, spontan kakiku menginjak rem begitu kuat bersamaan dengan degup jantung yang seketika berpacu.
Napasku memburu saat melihat ke arah depan, di mana seorang wanita kini berdiri dengan ekspresi ketakutan. Dia muncul tiba-tiba, hampir saja tertabrak mobil yang kukemudikan ini. Ya Tuhan... apa dia gila? Di sini bahkan tidak ada rambu khusus penyeberangan. Atau mungkin dia ingin bunuh diri? s**l! Hampir saja aku kena masalah.
Belum hilang rasa keterkejutan, lagi, aku terperangah saat hendak turun menegur wanita itu. Demi melihat pandangan di depan mata, napasku semakin memburu. Mataku terasa panas, bersamaan dengan tubuh yang seakan terpaku, terduduk lesu.
Emir memeluk wanita itu di samping mobilku. Tangannya mengelus punggung wanita itu, seakan berusaha menenangkan. Sementara aku tertegun dan menatap nanar keduanya.
Entah, rasanya sesak sekali d**a ini. Tak bisa kutahan, hingga air mata berjatuhan. s**l! Kenapa aku harus terjebak di situasi seperti ini? Lebih baik segera pergi sebelum mereka menyadari keberadaanku.
**
“Nah, Nak! Ini buah kurma muda dan air zam-zam yang ibu bilang kemarin!” ucap Ibu sembari menyodorkan bingkisan tersebut. “Mudah-mudahan, dengan mengkonsumsi buah kurma muda ini kamu bisa segera hamil.”
“Nah, kalau yang ini madu untuk Emir. Berikan padanya, ya!”
Aku mengangguk sembari berusaha menyunggingkan senyum. Duduk di samping ibu yang tampak semringah rautnya. Saat aku datang, dia langsung menyambutku dengan penuh kasih sayang. Menggiringku masuk rumah ini yang hanya ada dia seorang, karena Anggi dan Angga sedang kuliah.
Ya Tuhan... aku ingin menangis! Hatiku benar-benar sesak!
“Eyjaz!” panggil ibu menghentikan lamunan. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.
Lagi, aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Ya, tentu!” jawabku sewajar mungkin. “Aku permisi ke kamar mandi dulu, ya, Bu!”
Tanpa menunggu sahutannya, segera aku beranjak dari sofa. Melangkah cepat menuju kamar mandi. Hingga setelah memasuki ruangan lembap ini, seketika aku duduk di kloset yang tertutup. Tangisku berderai, tapi kutahan agar tak mengeluarkan suara.
Emir benar-benar berhasil membuatku hancur. Bukan hanya cinta, tapi juga harga diriku sebagai seorang wanita. Ya Tuhan... andai aku tak menikah dengannya! Mungkin hidupku takan semenderita ini.
Tok! Tok! Tok!
“Eyjaz!” panggil ibu. “Apa kau baik-baik saja, Nak?!”
Bagaimana ini? Aku belum bisa meredakan tangis yang malah semakin deras membasahi pipi.
“Eyjaz!” panggilnya lagi.
“Iya, Bu!” sahutku parau. Segera kutarik tissu untuk mengelap air mata, lantas memaksakan diri untuk bangkit. Entah, mataku mungkin tampak sembap sekarang.
Saat aku membuka pintu, ibu sudah berdiri tepat di hadapanku dengan tatapan bingung. Untuk beberapa detik pandangan kami bersiborok, hingga kemudian aku tak bisa menahan diri untuk tidak menghambur ke pelukannya.
Aku terisak sembari memeluk ibu. Sementara beliau mencoba menenangkanku tanpa bertanya.
“Ayo, kita duduk dulu!” Diajaknya aku ke ruang tamu, lalu kembali duduk di sofa. “Ada apa ini? Kenapa kau menangis seperti ini?”
Aku masih termangu. Perlahan mengatur napas demi menenangkan diri. Apa kuceritakan saja kelakuan Emir padanya, sekarang?
“Eyjaz, bicaralah! Barangkali ibu bisa membantumu? Atau setidaknya meringankan beban pikiranmu?”
Baiklah. Mungkin ini memang waktu yang tepat untuk memberitahukan perlakuan anaknya.
“Bu, ibu akan segera memiliki cucu!” kataku dengan suara bergetar. Sontak mata ibu menjadi berbinar, ia menutup mulut dengan satu tangan. Dia terharu, aku bisa menebaknya.
“Alhamdulillah, Nak! Lalu apa yang membuatmu sedih?”
“A-ku... aku sedih karena cucu yang akan ibu miliki bukan dari rahimku! Tapi dari wanita lain!”
Ibu tertegun. Kemudian mulailah aku menceritakan semuanya tanpa melebihkan atau pun mengurangi cerita. Hingga usai pengakuanku, raut berbinar itu hilang dalam sekejap. Berganti dengan sendu, penuh penyesalan.
Tangan ibu perlahan menggenggam tanganku. Rinai pun mulai membasahi pipinya, hingga melarutkan kami dalam situasi ini. “Maafkan ibu!” lirihnya. Aku menggeleng.
“Maafkan ibu yang tidak bisa mendidik Emir dengan baik!”
“Tidak, Bu! Ibu tidak bersalah.”
“Kau tau, Nak! Ibu sungguh malu padamu!”
Ibu semakin terisak. Sedangkan aku kini berusaha menenangkannya.
“Tolong jangan menyalahkan diri, Bu!” pintaku. “Ini bukan salah ibu!”
Aku bisa melihat ketulusan air mata ibu, yang jelas berpihak dan mengasihani diri ini. Terbukti, dia lantas berjanji untuk menegur Emir dan menyadarkannya. Namun, tentu hanya sebatas itu. Sebab semua sudah terjadi. Tak bisa diperbaiki.
“Ibu akan memaksa Emir untuk meninggalkan wanita itu!” cetus ibu. Lagi, aku menggeleng. Kukatakan padanya bahwa akulah yang akan pergi dari hidup Emir.
“Tidak, Nak! Ibu tidak akan membiarkanmu mengalah—“
“Ibu!” potongku. “Biar aku yang mengalah, karena wanita itu lebih membutuhkan kehadiran Emir! Ibu tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja. Meski tanpa Emir di sisiku.”
Ibu kembali memelukku, erat. Hingga untuk beberapa saat aku bisa merasakan kehangatan sentuhan seorang ibu yang telah lama kurindukan. Mama... iya, aku meridukannya. Seandainya dia masih ada dan bisa menemaniku saat ini. Mungkin aku bisa lebih kuat menghadapi ujian ini.
**
Malam hari setelah kembali ke apartemen. Aku sudah berbaring di tempat tidur. Mengistirahatkan tubuh dan juga pikiran. Aktivitas yang kujalani hari ini begitu menyita energi, hingga rasa lelah dan kantuk tak bisa kutahan lagi.
Mataku mengatup dalam temaram kamar ini. Sunyi, hanya bertemankan sepi, seorang diri.
**
Entah pukul berapa ini, saat tiba-tiba kurasakan sentuhan, pelukan... Emir! Repleks aku berusaha melepaskan tangan kekar yang memeluk dengan erat. Sementara dia malah semakin mengeratkannya. Seolah ingin mengunci pergerakanku dari belakang.
Aku tak lantas menurut, tanganku tetap berusaha melepaskan pelukannya di punggung ini. “Lepaskan aku, Emir! Lepaskan!” teriakku disertai tangis yang seketika kembali berderai.
Dia tak menggubris, samar-samar malah terdengar tangis tertahan di telinga. Kurasakan getaran tubuhnya yang menempel di punggung ini. Apa dia memang menangis?
Tangisku mereda, demi memperjelas pendengaran akan suara Emir. Hingga tak lama, kurasakan kepalanya semakin mendekat ke kepalaku.
“Maafkan aku, Eyjaz!” lirihnya. “Aku menyesal!”
Aku termangu. Diam terpaku. Bisa kurasakan embusan napasnya di sekitar tengkukku, dan juga kehangatan yang menyelimuti diri ini. Ya Tuhan... tolong teguhkan hatiku! Jangan biarkan aku menjadi lemah!
“Demi Tuhan aku tidak mencintainya!” lirihnya lagi. “Aku hanya... mencintaimu!”
Tuhan... tolong aku! Kenapa aku terhanyut seperti ini?! Tolong sadarkan aku!
“Tolong beri aku kesempatan ke dua! Aku tidak akan menikahinya! Aku hanya akan menemaninya selama dia mengandung anakku!”
Tepat saat aku mendengar kata ‘anakku’ yang dia ucapkan. Seolah ada tangan kasat mata yang meremas hati ini. Sakit, sesak! Hingga menyadarkan diri untuk kembali lepas dari pelukannya.
Dan iya, kali ini ia melepaskanku. Aku lantas beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah menuju lemari. Kuambil surat kesepakatan perceraian yang ia berikan waktu itu, sementara dia, kulihat terus mengawasi.
Tanpa berpikir lama, segera kuambil ballpoint. Kemudian kububuhkan tanda tangan di tempat yang tersedia. “Ini, sesuai keinginanmu! Ambillah!” kataku setenang mungkin. “Nikahi wanita itu, jangan menjadi pria b******k! Aku yakin, setelah kehadiran anak kalian, kau takan membutuhkanku, lagi!”
Setelah mengucapkan itu, aku segera berlalu. Pergi ke kamar tamu, kemudian mengunci diri, meredam sesak yang kembali menyeruak.
Bersambung.