Amarah

1510 Words
“Jika kau mau, sampaikan saja apa yang sebenarnya terjadi di antara kita pada papamu, Eyjaz! Sungguh, aku akan menerima apapun konsekuensinya,” ucap Emir sebelum Eyjaz turun dari mobil. Keduanya baru saja tiba di parkiran gedung apartemen, setelah pulang dari makan malam. Hening. Eyjaz tak lantas menjawab, ia malah termenung, pikirannya menerawang. Baru setelah beberapa saat kemudian ia bersuara. “Seandainya aku bisa setega itu, tentu sudah kulakukan saat pertama kali melihatmu bersamanya,” katanya datar. Mendengar jawaban itu, semakin merasa bersalahlah Emir pada Eyjaz. Bibir bagian dalamnya menjadi korban atas pelampiasan emosi diri yang tertahan. Amarah terhadap dirinya sendiri, yang telah melukai hati wanita terbaik yang duduk di sebelahnya. “Kalau begitu, aku yang akan memberitahukannya!” Emir mengucapkan itu dengan kesungguhan hati. Tulus. Dengan pandangan lekat pada Eyjaz. “Ck! Apa kau sudah bosan hidup? Apa kau tak memikirkan ibu dan adik-adikmu?” “Barangkali itu lebih baik, dari pada aku harus menjadi seorang pengecut yang hidup dengan beban pikiran seperti ini.” Lagi, Eyjaz berdecak. Kemudian tersenyum kecut. “Kau tau? Barangkali itulah hukuman setimpal atas luka yang sudah kau buat. Dan bagiku itu sudah cukup.” “Tetaplah bersikap seperti biasa, sampai aku menemukan alasan lain sebagai penyebab perceraian kita untuk kusampaikan pada papa. Aku tidak akan menyusahkanmu.” Setelah mengucapkan itu, lekas Eyjaz turun dari mobil. Tak ia pedulikan lagi reaksi Emir yang semakin merasa hancur. Bak jatuh tertimpa tangga, mungkin itulah pribahasa yang tepat untuk menggambarkan keadaannya. Hancur harga diri Emir, kandas pulalah cintanya sebab terpaksa harus bertanggung jawab atas Sandra dan calon anaknya. Saat sebagian orang akan merasa beruntung jika seseorang yang disakiti tak melawan atau membalas, Emir justru merasa sebaliknya. Ia merasa lebih menyedihkan manakala Eyjaz justru masih berusaha menutupi aibnya dari semua orang. Sehingga membuatnya sadar, bahwa dia telah menyia-nyiakan wanita istimewa seperti Eyjaz. ** “Seandainya aku bisa setega itu, tentu sudah kulakukan saat pertama kali melihatmu bersamanya.” Kata-kata itu terus berdengung di indra pendengaran Emir yang tengah menyetir. Semakin menyiksa, hingga kemudian kendaraan roda empat yang dikemudikan perlahan menepi. Kacau. Lagi suasana hati Emir semakin tak keruan. Ia mengusap kasar wajah, lalu tertunduk. Pukulan demi pukulan kepalan tangannya mendarat pada stir mobil. “Arrrrgggh!!!” teriaknya frustrasi. Namun hal itu tetap tak membuatnya lega. Barangkali benar apa yang dikatakan Eyjaz, bahwa itulah hukuman setimpal atas luka yang ia buat. Penyesalan yang teramat sangat, hingga menjadikannya menderita seperti sekarang, pikir Emir mengakui. Tak berselang lama, perhatian Emir seketika teralih pada ponsel yang berbunyi. Sandra menghubunginya, lagi di saat yang tak tepat. Iya, wanita itu memang selalu muncul dalam situasi yang rumit. Bahkan kehadirannya perlahan diakui Emir sebagai sebuah kesalahan. Emir berusaha mengatur napas sejenak, demi mengangkat panggilan tersebut. Setelah itu barulah ia menyapanya. “Ada apa?” tanyanya seperti biasa. Datar dan tak semangat. “Apa kau bisa datang sekarang juga?” bisik Sandra seolah menyembunyikan sambungan telepon yang sudah terhubung. “Ibu dan kedua adikmu mendatangiku! Sepertinya mereka marah.” “Ya Tuhan...” batin Emir resah. “Baiklah, aku akan segera datang! Tolong, apapun yang akan mereka lakukan, jangan sampai kau terpancing emosi! Mengerti?!” “Iya.” ** “Apa kau tidak punya perasaan? Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita? Bukankah kau wanita berpendidikan? Kau tentu bisa mendapatkan pria lain yang lebih baik dari pada kak Emir!” cecar Anggi berapi-api. Gadis berambut pirang  itu tak bisa menahan diri untuk tidak terus memojokan Sandra. Setelah dipersilakan masuk dan duduk, tanpa basa basi ia langsung meluapkan emosi. Di sisi lain, ibunya Emir hanya terdiam. Begitu juga dengan anak laki-lakinya yang bernama Angga. Keduanya tampak lebih bisa menjaga sikap. Meski dalam hati sama emosinya seperti Anggi. “Pasti kau yang menggoda Kak Emir lebih dulu, kan?” tuding Anggi. Rautnya sudah merah padam, begitu juga dengan napas yang memburu. “Dasar w************n!” “Cukup! Jaga ucapanmu!” kata Sandra menyela. Sungguh, ia tak bisa lagi menahan diri. Jika tadi ia berusaha memalingkan pandangan ke arah lain, kini tatapan tajamnya tertuju lurus pada Anggi. “Apa kau pikir, aku bisa mengendalikan tubuh Emir hingga dia bisa membuatku mengandung seperti ini? Hahh?” ucapnya tak kalah sengit. Sekejap Anggi tertegun mendengar pertanyaan itu. Kemudian, perlahan emosinya pun mereda saat menyadari kebenaran ucapan Sandra. Sebab tidak mungkin terjadi perselingkuhan jika kedua belah pihak tidak saling menanggapi, fakta itulah yang kini disadari oleh Anggi. Hening. Kedua netra Sandra yang awalnya berkaca-kaca perlahan mengerjap, meneteskan air mata. Sementara ibu, Angga dan Anggi kini pun termangu, diam seribu bahasa. Hanya detak jarum jam dinding yang terdengar jelas di ruang tamu itu, mengiringi setiap detik kebisuan mereka. “Aku mencintai Emir, bahkan lebih dulu sebelum dia menikahi Eyjaz,” lirih Sandra. “Aku bahkan lebih dulu menantikannya, tapi kemudian wanita itu muncul, dan dengan mudah memilih Emir menjadi suaminya. Apa itu adil?” “Dia yang lebih dulu merebut Emir dariku! Lalu kenapa kalian malah menyalahkanku saja atas masalah ini. Apa karena Emir adalah anggota keluarga kalian? Apa karena Eyjaz adalah wanita kaya sehingga kalian berpihak padanya?” tanya Sandra beruntutan. Ditatapnya satu persatu keluarga Emir itu, hingga kemudian pandangan tertuju pada pintu yang terbuka. Emir muncul, terkesiap melihat semua orang dalam ruang tamu rumah itu. Lantas ia berjalan, menghampiri dengan ekspresi bingung. “Ada apa ini?” tanyanya memecah sunyi. “Menurutmu apa?” Anggi balik bertanya dengan nada tak suka. “Apa kau pikir kami datang ke sini, untuk berbagi kebahagiaan atas kehamilannya?” sambungnya menyindir. Tak lagi ada panggilan kakak seperti biasanya, sebab kadung emosi. “Anggi!” sela ibu. “Diamlah, jaga sopan santunmu!” Anggi mendengkus kasar. Entah, ia merasa muak dengan permasalahan ini, kemudian bangkit dari sofa. “Ya sudah, terserah kalian saja! Toh, aku hanya anak kecil yang bahkan mungkin sebentar lagi akan hidup menjadi gelandangan. Mungkin juga beasiswa kuliahku akan dicabut, atau lebih buruk dari itu aku akan dikeluarkan tanpa hormat. Itu kan yang kalian mau!” ungkapnya emosi. Dengan gusar, Anggi kemudian berlalu. Dibantingnya pintu hingga tertutup, membuat semua orang tersentak. Iya, di antara yang lain, gadis itulah yang lebih merasa resah akan permasalahan ini. Ia begitu takut dan tak rela jika Eyjaz mengadukan perbuatan Emir pada papanya. Sebab ia tahu, seperti apa seorang Wiryawan Adiguna. Seorang pengusaha kaya raya yang dikenal mudah melakukan apa pun yang dikehendakinya. Apalagi jika menyangkut dengan kebahagiaan sang putri. Selepas Anggi keluar, akhirnya ibu dan Angga pun ikut bangkit. Wanita itu dibantu untuk bangun. Namun, sebelum melangkah keluar, ia terdiam sejenak. “Kalian harus ingat, sebahagia apa pun kalian saat ini, ada wanita lain yang tengah terluka. Ibu hanya bisa berdo’a, semoga ia tetap pada pendiriannya untuk merahasiakan masalah ini dari keluarganya.” “Dan kau Emir, ibu kecewa padamu!” Emir tak bersuara, ia tertunduk dengan posisi masih berdiri. Baru kali ini ia mendengar pengakuan kecewa dari mulut ibu. Yang sebelumnya bahkan tak pernah mengungkapkan hal itu. Kini, tinggallah hanya Sandra dan Emir yang berada di ruangan itu. Emir beranjak duduk di sofa sebelah Sandra. Ia kembali diam, tak tahu harus berbuat apa. Merasa tak tahan dengan sikap Emir, Sandra kemudian memilih untuk angkat kaki menuju kamar. Ditahannya deraian air mata, hingga setelah mengunci diri tumpahlah buliran bening itu bersamaan dengan luruh tubuhnya di lantai. Sandra terisak, perih hatinya menerima keadaan ini. Belum lagi memikirkan tentang kehamilannya yang nyaris tanpa ada sokongan semangat dari Emir,  yang seharusnya lebih memperhatikan kondisinya saat ini. “Jika ada yang lebih menderita saat ini, tentulah aku orangnya!” batinnya pilu. “Aku rela angkat kaki dari rumah keluargaku sendiri, demi mempertahankan kehamilan ini! Aku bahkan rela melepas karirku, demi menuruti permintaanmu, Emir! Kau yang memintaku mempertahankan bayi ini, tapi kenapa justru semua menyalahkanku saja!” sambungnya lagi meratapi diri. Di tengah isak tangis itu, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Sandra berusaha mengabaikan, ia lebih memilih bangkit, menyeret langkah mendekati lemari. Dengan hati-hati, diturunkannya koper dari atas, lalu ia letakkan di atas kasur. Sandra mengeluarkan pakaian-pakaiannya dari dalam lemari, lalu mengemasnya dengan asal ke koper. Ia berniat untuk pergi dari rumah, meski belum tahu pasti ke mana tujuan yang hendak didatangi. Ia ingin memastikan sejauh mana kepedulian Emir terhadapnya. “San! Buka pintunya, aku mohon!” Emir terus mengetuk pintu, sebab merasa khawatir jika Sandra melakukan sesuatu yang tak diinginkan. Dipanggilnya lagi dan lagi, tapi tetap tak ada sahutan. Hingga kemudian ia lelah sendiri, meluruh tubuhnya di lantai. Duduk menyenderkan punggung ke pintu. Kemudian, tak berselang lama, Sandra akhirnya membuka pintu. Dengan cepat ia berusaha menghindar dari Emir, sembari menggeret koper. “San, tunggu!” cegah Emir. Tangannya sibuk meraih lengan Sandra, demi menahannya. “San, aku mohon, jangan seperti ini! Kau mau pergi ke mana? Di luar hujan!” Sandra tak acuh, meski kesulitan geraknya karena dihalang-halangi Emir. Ia terus melangkah menuju pintu keluar. Sementara Emir, tak mau kalah ia pun terus berusaha menghentikan aksi Sandra hingga berhasil. Digenggamnya kedua tangan wanita itu, lalu ia tatap wajahnya yang sedikit pucat. “Kau mau pergi ke mana?” “Aku tidak tau!” Sandra menghindari tatapan Emir. “Aku hanya pergi sejauh mungkin. Bukankah itu lebih baik!” sambungnya lirih. Emir menggeleng pelan. Lagi, ia merasa lemah di hadapan Sandra. “Tidak baik pergi malam-malam seperti ini. Apalagi sekarang hujan.” “Maafkan keluargaku, jika mereka menyakitimu!” Sandra melepas tangannya dari genggaman Emir. “Kalau begitu, segera selesaikan urusanmu dengan Eyjaz! Lalu kita pergi dari kota ini. Aku akan menjual semua harta warisan peninggalan kedua orang tuaku, aku akan memberikannya untuk keluargamu agar mereka juga bisa mandiri.” “Apa kau bisa menuruti keinginanku?” Bersambung. Jangan lupa like dan komen juga yang di kbm ya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD