Senyum Palsu

1900 Words
 “Malem, Mbak!” sapa Pak Satpam saat kami berpapasan. Aku hanya membalas dengan anggukan dan seulas senyum, tanpa menghentikan langkah menuju apartemen. Malam ini, tepatnya pukul delapan, aku sudah berada di depan pintu. Kutekan bel, menunggu Ralin membukakan jalan masuk. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Apa dia sudah makan? Jangan-jangan dia masih meratapi kesedihan. Menangis seharian. Tengtong! Tak lama pintu akhirnya terbuka, seketika pandanganku tertuju pada Ralin yang sudah tampak rapi berdiri di hadapan. Dia tersenyum, aku memindai pakaian yang ia kenakan. Sebuah dres berwarna merah bata bermotif abstrak selutut yang mengepas di tubuhnya. “Bajumu bagus!” ucapku sembari melangkah masuk. Ralin tersenyum sekilas, lantas mengiringi langkahku. “Ini aku beli lewat online!” sahutnya. Tunggu... aku diam-diam kembali menelisik raut wanita ini dengan saksama. Aneh! Kini dia tampak lebih segar. Nyaris tak ada sisa-sisa sendu dan pilu di wajahnya, seperti tadi pagi. “Apa kau sudah lebih baik?” tanyaku seraya menghempaskan diri, duduk di sofa, menyender. Ralin turut duduk di sofa sebelah, satu kakinya ia tumpu. “Tidak sepenuhnya! Aku hanya mencoba bangkit dari kesedihan ini” “Aku akan menemui orang tua dan calon mertuaku. Sudah kuatur waktu pertemuan, karena itulah aku tak ingin terlihat lemah di hadapan mereka.” “Kau yakin akan menemui mereka secepat ini?” Ralin mengangguk. “Lebih cepat, lebih baik, bukan?” katanya. “Iya, aku hanya bisa mendo’akan semoga masalahmu cepat selesai dengan baik. Mereka tentu bisa lebih bijak menyikapi permasalahanmu!” “Ya, semoga saja!” Aku beranjak dari sofa, hendak menuju dapur untuk mengambil air. Kerongkonganku rasanya kering, ingin segera dibasahi. “Apa kau sudah makan, Ralin?” tanyaku setengah berteriak sebab kulihat dia masuk kamar. Terdengar samar dia mengiyakan. Kemudian aku duduk dan segera meneguk air minum hingga tandas satu gelas. Hilang rasa dahaga, hingga aku sendawa. Tak lama, Ralin muncul, menghampiri. Dia sudah bersiap untuk pergi sembari menenteng dua paper bag dan tas. “Kau akan pergi sekarang?” Ralin mengangguk lagi. “Oh, iya, aku sampai lupa. Tadi Emir kemari, tapi tak lama dia langsung pergi lagi.” Emir? Untuk apa dia kemari? Apa dia ingin menemuiku? “Eyjaz!” “Ya!” “Apa hubunganmu dengan Emir baik-baik saja?” Aku berusaha tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Tidak, aku tidak berniat untuk membagi masalah ini kepadanya. Sebab, masalahnya sendiri pun sudah terlalu berat. Lagi, tak ada gunanya juga aku memberitahu keadaan yang terjadi padaku. “Hanya ada sedikit kesalah pahaman. Itu saja!” Ralin bernapas lega setelah mendengar jawabanku itu. Lalu manggut-manggut. “Pantas saja, dia tak banyak bicara saat aku menyapanya.” “Dia memang seperti itu!” “Ya sudah, aku pamit sekarang!” “Baiklah!” Aku lantas menggiring Ralin menuju pintu. Kami bercipika cipiki untuk sesaat. Lalu kulepas ia pergi. Melangkah, semakin menjauh, kemudian hilang di balik pintu lift. Ah... semoga saja masalahnya segera selesai! Dan semoga dia bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik. Sepeninggalnya, aku lekas kembali masuk, tak lupa mengunci pintu. Tak sabar rasanya ingin segera mandi, merefresh tubuh juga pikiran dengan berendam barang sejenak. Iya, biasanya hal itu mampu membuat diri ini rileks. Semoga saja! ** Usai membersihkan diri, kini aku sudah berada di kamar. Piyama sudah kupakai dengan rapi. Membalut tubuh yang terasa segar. Tak lupa aku mengoles lotion ke beberapa bagian tubuh, tangan dan juga kaki. Saat aku baru saja meletakkan botol lotion, tak sengaja netraku ini tertuju ke arah ponsel yang tergeletak di kasur. Layarnya menyala, terpampang jelas nama Emir yang menghubungi. Mau apa dia? Panggilan itu masih ada, tapi aku sengaja membiarkan. Hingga tak lama, layarnya padam. Dia memutus sambungnya. Bagus! Lagi pula untuk apa menghubungiku. Namun, hanya berselang menit, kulihat layar ponsel itu kembali menyala sesaat. Oh, sepertinya dia mengirim pesan. Aku berusaha abai, tapi rasa penasaran malah semakin memaksa untuk memeriksa. [Aku sudah menunggu di luar! Bisa keluar dari kamar?] Emir. Apa? Dia ada di sini? Lagi, rasa penasaran memaksaku untuk menuruti perintahnya. Aku lekas keluar kamar, melangkah dengan setenang mungkin, meski sebenarnya jantungku berdegup tak beraturan. Ayolah, Eyjaz! Tenangkan dirimu! Tidak seharusnya kau merasa seperti ini! Dia sudah bukan suamimu! Memasuki ruang tamu, pandanganku langsung tertuju pada Emir. Dia duduk di sofa, lalu mendongak menatapku. Entah, rasanya ada semilir angin yang menyejukkan diri saat mata ini memandangnya. Aku benar-benar tak bisa memungkiri itu. Wajah teduhnya yang kemarin masih bisa kutelisik saat ia terpejam, kini hanya bisa kulihat dengan jarak. Ya Tuhan... tolong kuatkan aku! Jangan biarkan aku larut dalam bayangannya! “Apa Ralin masih ada di sini?” tanyanya memecah kebisuan. Aku masih berdiri di dekat sofa, lalu perlahan duduk. “Sudah!” Aku menjeda. “Ada perlu apa kau ke mari?” tanyaku berpura-pura terganggu dengan kehadirannya. Dia mendengkus pelan. “Papahmu meminta kita datang ke rumah, ada acara makan malam.” “Oh,ya? Kenapa papah tidak menghubungiku?” “Kalau kau tidak percaya, hubungi saja! Aku hanya berusaha menyampaikan pesan!” Mendengar itu, aku pun mengikuti anjurannya menelepon papah. Meski sebenarnya sudah cukup percaya dengan apa yang ia sampaikan. Lagi, Ini hanya bentuk kepura-puraan saja. Aku tidak ingin terlihat penurut seperti dulu di hadapannya. “Hallo, Pah!” sapa ku saat panggilan terhubung. “Hallo, Nak! Apa kau dan Emir sudah berangkat? Semua sudah berkumpul di sini!” Aku melirik ke arah Emir, sekilas. Lalu kembali menyahut. “Iya, aku sedang bersiap!” “Baiklah, papah tunggu! Hati-hati di jalan!” “Iya.” Panggilan terputus. Kalau sudah seperti ini, mau tak mau aku harus tetap datang. Tak ingin membuang waktu, lekas aku beranjak menuju kamar. Membiarkannya menunggu, agar aku bisa mempersiapkan diri untuk pergi. ** What would I do without your smart mouth Drawing me in, and you kicking me out Got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down What’s going on in that beautiful mind I’m on your magical mystery ride And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright My head’s under water But I’m breathing fine You’re crazy and I’m out of my mind ‘Cause all of me Loves all of you Love your curves and all your edges All your perfect imperfections Give your all to me I’ll give my all to you You’re my end and my beginning Even when I lose I’m winning ‘Cause I give you all, all of me And you give me all, all of you How many times do I have to tell you Even when you’re crying you’re beautiful too The world is beating you down, I’m around through every mood You’re my… Alunan lagu itu terus mengiringi perjalanan kami menuju rumah papah. Ya, hanya itu saja, sebab tak ada obrolan di antara kami. Sepanjang jalan, aku terus mengarahkan pandangan ke jendela. Sementara dia... entahlah! Mobil yang kami tumpangi terus melaju menerobos antrean yang padat merayap. Bukan hal yang aneh memang, sebab ini malam minggu, jalanan otomatis akan dipenuhi kendaraan. Orang-orang tentunya ingin menikmati hiburan setelah penat bekerja satu pekan. Pun, aku. Biasanya, aku akan meminta Emir menemaniku nonton. Dia tak pernah menolak, meski tak jarang kulihat rautnya selalu menyiratkan kurang semangat. Ya, barangkali sesekali dia memang terpaksa memenuhi permintaanku. Lain waktu, aku juga sering mengajaknya untuk dinner. Dan tentu saja dia pun selalu menuruti keinginanku. Meski sesampainya di kafe atau restoran yang dituju, hanya segelas cofe yang ia pesan. Ah, ya, aku juga masih ingat saat kuajak dia pergi ke restoran Jepang. Saat itu sengaja aku mengerjainya dengan cara meminta dia mencicipi sashimi. “Kau tau, aku tidak suka makanan mentah!” tolaknya sembari menepis suapanku. “Coba dulu! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, sedangkan kau belum pernah mencobanya!” rayuku tak putus asa. “Aaa!” Akhirnya, dia membuka mulut, lalu mencicipi potongan daging mentah yang kusuapkan. Kulihat wajahnya meringis saat mengunyah, sementara aku mengulum senyum melihat dia menelan dengan paksa makanan itu. Ya Tuhan... wajahnya sungguh lucu! “Sudah, aku tidak ingin memakannya lagi!” ucapnya setelah meneguk air. “Ini bahkan lebih buruk dari yang kubayangkan!” “Ck! Baiklah, baiklah!” Aku tertawa kecil. “Kalau begitu makan yang ini saja!” Sengaja aku jejalkan sepotong sushi pada mulutnya, sebagai ungkapan maaf. “Nah, kalau yang ini tidak terlalu buruk!” ungkapnya. Dia mengambil alih sumpit, lalu gantian, dengan cepat tangannya menyuapkan sushi ke mulutku. Pandangan kami bertemu, lalu saling melempar senyum. Bahagia. “Apa kau masih ingin melamun?” Aku tersentak mendengar pertanyaan itu. Sekejap tersadar dari lamunan. s**l! Kenapa aku harus mengenang moment-moment seperti itu bersamanya. Lekas aku membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu untuk segera keluar. Ck! Kenapa pula dengan pintu ini? Susah sekali dibuka! Tanpa kuduga, dia langsung bergerak, membantu membuka pintu ini. Wajah kami hanya berjarak beberapa centi. Aku tertegun, jantungku bertalu-talu. Hingga kemudian tersadar saat pintu itu sudah terbuka, membiarkan hawa dingin masuk, menerpa wajah. Selepas turun dari mobil, aku lebih dulu berjalan menuju rumah, sembari terus berusaha  meredam detak jantung yang masih tak beraturan. Sementara Emir mengekori di belakangku. Entah, rasanya situasi ini mengingatkanku pada saat belum menikah dengannya. Di mana dia selalu berada di belakangku. Menemani, mengawasi, dan tentu saja menjagaku sebagai seorang bodyguard. Saat langkahku terus maju menapaki lantai, sejurus mata memandang tampak lah semua orang di hadapan. Papah, Tante Syarifah, Kak Faaz dan istrinya, juga Kak Maryam bersama anak dan suaminya. Mereka menyambut dengan raut bahagia. Kemudian menyapa, berbasa basi. Aku langsung menghampiri papah, mencium punggung tangannya. Kemudian berganti menyalami yang lain. Suasana terasa hangat menyelimuti ruangan keluarga ini, terlebih saat Bintang berceloteh. “Apa kabar kalian?” tanya Kak Faaz, saat aku sudah duduk bersebelahan dengan Emir di sofa dua dudukan. “Seperti yang Mas lihat, Alhamdulillah kami baik!” sahut Emir. Aku hanya melempar senyum. Sejujurnya saat berkumpul seperti ini, aku masih merasa canggung dengan kehadiran mereka. Harus kuakui bahwa hati ini belum benar-benar menerima kenyataan, bahwa aku mempunyai saudara seayah. Terlebih saat melihat senyum bahagia terpancar dari wajah mereka. Hatiku mencelos, mengingat sosok mama yang sudah tiada. Mama yang posisinya kini telah tergantikan oleh Tante Syarifah. “Bagaimana program kehamilanmu, Eyjaz?” tanya Kak Delia. “Apakah sudah kau lakukan?” sambungnya polos. Aku termangu, lidahku terasa enggan untuk menjawab. Tidak, bukan salahnya bertanya seperti itu. Sebab dia belum tahu masalahku. Akulah yang harus menguatkan diri, mencari jawaban yang masuk akal. “Belum berhasil!” Akhirnya hanya dua kata itu yang keluar. Raut Kak Delia seketika berubah, mungkin karena tak enak hati atas pertanyaannya sendiri. Sementara yang lain, hanya menyimak. Hingga kemudian Kak Faaz kembali bersuara. “Tidak apa-apa, masih banyak waktu untuk kalian berdua!” ujarnya mencairkan suasana. “Aku dan Delia juga sama, butuh waktu untuk menanti buah hati. Butuh kesabaran untuk terus berusaha. Kalian bisa lihat sekarang ‘kan, Delia baru bisa hamil.” Aku hanya mengangguk, begitu juga Emir. Entah, rasanya aku seperti orang bodoh saat ini. Menyimak nasihat mereka, padahal statusku sendiri sudah bukan lagi seorang istri yang tidak mungkin menjalani kehamilan. Miris! Saat suasana hening sesaat, kini papa yang bersuara. “Iya, kalian harus tetap bersabar! Papa yakin secepatnya kalian akan diamanahi buah hati! Kalau perlu, nanti papa carikan dokter terbaik untuk konsultasi kalian!” Ya Tuhan ... seandai papa tahu! Aku tidak tega menghancurkan harapannya. Sesak sekali hatiku, bahkan untuk sekedar membayangkan jika hal itu terjadi. Aku tak sanggup! “Iya, kalian harus tetap optimis! Tetap iringi usaha dengan do’a, insyaAlloh pasti dikabulkan!” timpal Tante Syarifah. Serempak semua mengaminkan. Kecuali aku. Iya hanya aku yang merasa ambigu. “Kakek, aku mau fotoin semuanya!” celetuk Bintang mengalihkan perhatian. Dia mendekati papa sembari membawa kamera. “Ayo!” serunya. “Oh, boleh! Ayo!” Papa bersemangat. “Ayo, semuanya mendekat!” katanya mengarahkan. Detik ini, rasanya aku ingin segera pulang. Namun jika kulakukan pasti akan menimbulkan pertanyaan. Kupaksakan diri untuk ikut larut dalam suasana kebersamaan ini. Berpose dengan menebar senyum di hadapan kamera yang diarahkan Bintang. Aku berada di dekat papa, sementara Emir di sampingku. Tante Syarifah, Kak Faaz, Kak Delia, Kak Maryam dan Kak Hadi berjejer di sisi sana. Bintang terus mengarahkan agar kami bergaya mengikuti intruksinya yang polos. Dia tampak senang memotret kami. “Oke, sekali lagi ya! Ciss!” Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD