Pamit

1831 Words
Pagi ini, aku sudah berada di Green cafe. Merenung, memikirkan semua nasihat Tante Syarifah malam itu. Harusnya semua nasihatnya itu bisa langsung aku realisasikan, tapi kenyataannya tak semudah yang dibayangkan. Untuk hal memperbaiki ibadah, aku sudah mulai melakukannya. Dari sholat wajib yang biasanya jarang kulakukan. Kini selalu kupaksakan diri untuk mendirikan meski kadang rasa malas kembali menghampiri. Iya, aku tahu ini tidak benar. Aku tahu ini dosa besar. Namun semua butuh proses bukan? Dan aku sedang menapaki proses ini. Dan, tentang nasihatnya agar aku segera menutup aurat, jujur saja hal itulah yang masih terasa berat. Hatiku belum mantap untuk melakukannya. Sebab yang kutahu, saat seorang wanita sudah berhijab, maka akan berdosa jika di kemudian hari melepasnya lagi. Aku tidak ingin seperti itu. Lebih baik memikirkan masak-masak dulu. Lebih baik menghijabi hati dulu, sebelum fisik. Ketukan di pintu membuyarkan lamunan. Aku langsung mengarahkan pandangan ke sumber suara. Tampak Sukma berdiri di depan pintu kaca sembari membawa nampan. Gadis itu kemudian masuk, berjalan tenang dengan mengenakan seragam pelayan dilengkapi dengan hijab panjang yang menutupi bagian d**a. Ah, iya! Kenapa aku tidak minta pendapatnya, ya?! Dia pasti tahu banyak tentang perkara ini. Sukma meletakkan cangkir berisi teh hijau di meja kerjaku. Sejurus mata memandang, kulihat senyumnya merekah memunculkan lesung di kedua pipi. “Sukma!” Dia menoleh saat hendak keluar dari ruangan ini. “Iya,” sahutnya menyiratkan tanya. “Duduklah sebentar! Aku ingin menanyakan sesuatu!” Dia langsung menuruti perintahku. Duduk di kursi berhadapan dengan meja kerjaku. “Ada apa, Mbak?” Aku segera menegakkan posisi duduk, dari yang sebelumnya menyender di kursi putar. Berpikir sejenak untuk memulai pertanyaan. Aku tidak ingin terlihat bodoh jika asal bertanya. Sebab, bagaimana pun dia adalah bawahanku. Terlepas dari ilmu agama yang pasti lebih banyak ia tahu dari pada aku. “Hmm... apa kau tidak gerah, bekerja memakai hijab panjang seperti itu?” Sukma tertegun sejenak. Entah apa yang ia pikir, tapi rautnya yang cerah berubah seketika. “Apa mbak keberatan jika saya memakai hijab?” tanyanya. Sontak aku menggeleng. “Tidak, bukan begitu maksudku!” Ya ampun... sepertinya dia salah paham. “Begini, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya memakai hijab seharian. Itu maksudku!” “Oh...,” gumam Sukma. Senyum itu pun kembali muncul, menghiasi bibirnya. “Sejauh ini saya merasa nyaman-nyaman saja, Mbak. Meski pun sesekali terasa gerah, apalagi jika cuaca sedang panas, tapi alhamdulillah... tidak sampai mengganggu.” “Sejak kapan kau berhijab?” “Sejak kecil. Bahkan sebelum masuk taman kanak-kanak. Memangnya kenapa, Mbak?” Aku merespon pertanyaan itu dengan helaan napas. Kalau sudah begini, terpaksa harus kuhilangkan gengsi diri demi meminta pendapat. “Tidak apa-apa. Aku hanya... aku sedang bingung, hatiku belum begitu yakin untuk berhijab.” Lagi, gadis ini tersenyum simpul. Entah, barangkali menertawakan sikap jaimku yang akhirnya runtuh juga di hadapannya. “Berhijab itu memang tidak mudah, Mbak. Tapi percayalah, ketika kita sudah melakukannya, insyaAlloh kenyamanan itu akan mengiringi. Kadang, untuk beberapa hal tentang ibadah, kita harus memaksakan diri untuk memulai. Menahan diri untuk terus berada di jalan istiqomah. Hingga pada akhirnya tak rela jika harus kembali melepaskan, itu yang saya rasakan.” “Saat seorang wanita memutuskan untuk berhijab, adalah wajar jika banyak godaan yang menimpa. Itu menandakan Alloh sayang, maka DIA menguji agar tahu sekuat apa wanita itu mampu bertahan dalam menjalankan perintah-Nya.” “Hijab bukan sekedar anjuran, Mbak. Tapi lebih dari itu. Adalah sebuah kewajiban bagi semua muslimah untuk melaksanakannya sebagai bukti ketaatan. Dengan hijab, Alloh bermaksud melindungi diri wanita, memuliakan kedudukannya. Itu semua dapat dibuktikan dengan kita melihat sendiri, wanita berhijab pasti akan lebih disegani dari pada wanita yang berpakaian minim.” Iya, ya, ya. Aku setuju dengan uraiannya. Sebab aku pun sudah mengalami sendiri, saat dilecehkan tempo hari karena berpakaian terbuka. Ah, s**l! Mengingat kejadian itu hanya membuatku malu dan kesal. “Bagaimana menurutmu tentang ungkapan, menghijabi hati dulu, baru fisik?” “Apa saya boleh bertanya dulu?” Aku mengangguk. “Mbak tau di mana letaknya hati?” tanyanya. Belum sempat aku menjawab, dia lebih dulu melanjutkan ucapan. “Hati kita ada di sini!” tunjuknya pada bagian d**a. “Istilah yang mbak tanyakan itu tidak benar. Sebab sudah jelas mana yang nampak di depan mata. Rambut, bukan hati. Jadi, menurut saya yang benar itu adalah tutupi aurat, lalu perbaiki hati atau akhlak.” Iya, lagi-lagi aku harus mengakui penuturannya yang memang masuk akal. Dia benar, aku yang kurang berpikir jauh tentang hal ini. Lebih tepatnya malas mempelajari ilmu agama. Malah mencari pembenaran yang dibuat-buat. Ya Tuhan. “Mbak!” “Iya.” “Apa saya boleh beri saran.” “Saran apa?” Sukma terdiam sejenak. Aku terus memperhatikannya tak sabar. “Maaf jika saya lancang, tapi sebagai seorang muslim, wajib hukumnya untuk saling mengingatkan.” Dia menjeda. “Jika Mbak sudah tergerak untuk menutupi aurat, maka saran saya segerakan. Kita tidak pernah tau, kapan ajal menjemput. Dan saat itu tiba, tentu kita semua berharap sedang berada dalam ketaatan menjalankan perintah-Nya.” “Panas di dunia masih bisa kita tahan, tetapi panas neraka sedetik pun tak akan mampu kita rasakan.” Aku termangu. Hati ini terasa tertampar. Betapa halus bahasa yang ia sampaikan, tapi begitu mampu menggetarkan jiwa. Astagfirullah! Apa yang selama ini aku lakukan dalam hidupku? Aku hanya sibuk dengan urusan duniawi yang membutakan mata hati. Terjebak dalam fatamorgana yang melenakan jiwa. Ampuni aku, Ya Alloh! Terima kasih KAU telah menyadarkanku. Aku menyeka bulir bening yang sekejap jatuh saat mengerjap. Kuambil paper bag dari dalam laci meja. Kusodorkan itu padanya. “Bismillah, tolong bantu aku memakainya!” ucapku yakin. Lantas Sukma merogoh paper bag itu, lalu mengeluarkan isinya. Sebuah pashmina berwarna hitam, yang akan aku pakai saat ini juga. Aku membiarkan tangan Sukma bergerilya memasang kain penutup kepala ini. Entah model seperti apa yang akan ia pakai. Aku cukup percaya pada kelihaian tangannya. Hingga beberapa menit berlalu, aku langsung beranjak dituntunnya ke depan cermin persegi panjang yang berdiri di sudut ruangan. Aku menatap pantulan diri di cermin. Melihat penampilan baruku yang berbeda dari biasanya. Bismillah... semoga aku bisa istiqomah. “Terima kasih, ya!” Aku meraih tangan Sukma. Dia mengangguk. Kami sama-sama tersenyum, hingga kemudian suara ponsel mengalihkan perhatian. Tante Syarifah is calling... Lekas aku menyentuh layar, menerima panggilan. Tak lama, terdengar suara Tante Syarifah yang seakan tengah ketakutan. “Ada apa, Tan?!” “Eyjaz, cepatlah ke mari!” “Iya, tapi ada apa?” “Emir, Emir sedang dipukuli oleh anak buah papahmu. Tante tidak bisa mencegah—“ Ya Tuhan... apa yang terjadi? Apa Emir nekat memberitahukan masalah perceraian kami pada papah? “Eyjaz!” “Baik, Tante. Aku akan segera datang!” ** Napasku terengah saat langkah ini setengah berlari menuju rumah. Samar-samar bisa kudengar suara berisik saat aku memasuki ruang tamu. Dan tepat ketika mata ini tertuju ke arah sofa, tak jauh dari sana Emir tengah menjadi bulan-bulanan Haris dan Danang. Emir ditendang, tinjuan demi tinjuan membabi buta dilayangkan padanya. “Stop!!!” Aku langsung berlari menghampiri Emir yang terkapar di lantai. Dengan tangan yang gemetaran, kuhalangi kedua pria bertubuh tegap ini untuk kembali beraksi. “Eyjaz!” bentak papah. “Minggir! Jangan halangi mereka!” sambungnya lagi dengan sorot mata tajam tertuju padaku. Aku menggeleng, sekuat hati kutahan air mata ini agar tidak berjatuhan. Meski sejujurnya aku ingin menangis melihat kondisi Emir. “Pah, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Tidak seperti ini, Pah!” “Tidak! Papah tidak sudi lagi berbaik hati pada cecunguk itu! Biar dia mati sekalian!” Papah beranjak dari kursi kebesarannya. Lalu menghampiriku yang masih menjadi tameng bagi Emir. “Bangun!” Dengan paksa papah meraih lengan ini, menarikku hingga aku berdiri. “Papah tidak pernah mengajarimu menjadi wanita lemah. Kau ini kenapa? Kenapa masih sudi melindunginya. Hahh?!” “Papah, aku mohon!” Sekuat tenaga aku melepaskan cengkraman tangan papah. Dan berhasil. Kutatap wajahnya yang merah padam itu, lekat. “Papah memang tidak pernah mengajariku menjadi wanita lemah, tapi papah selalu mengajariku untuk berbuat adil. Dia memang bersalah karena sudah menyakitiku, tapi dia juga pernah memberikan kebahagiaan dalam episode hidupku. Aku mohon, lepaskan dia! Lagi pula kami sudah bercerai.” Baru kali ini aku melihat papah meneteskan air mata, setelah kepergian mama. Sorot mata setajam elangnya perlahan meredup. Napas yang memburu itu pun perlahan menjadi tenang kembali. Sementara aku masih harap-harap cemas menanti keputusannya. “Baik! Papah akan lepaskan dia untukmu, tapi pastikan dia tak kan lagi menampakkan diri di hadapan papa lagi.” Aku mengangguk cepat, lalu bergegas mengecek keadaan Emir. Syukurlah dia masih bernapas, meski matanya terpejam. Sekilas kulihat papa melirik kami, tapi tak lama berlalu dari ruangan ini. ** Emir kubaringkan di sofa, dibantu Pak Jaka, supir papa. Aku sendiri kemudian duduk di dekatnya, menempel di sisi sofa ini. Ketika Bik Darmi datang dengan mebawa kotak P3K, lekas tanganku bergerak mengobati sebagian luka di wajahnya. "Aku, kan, sudah bilang. Tetaplah bekerja seperti biasa sampai aku bisa mencari alasan untuk kusampaikan pada papa. Kenapa kau tidak dengar!" omelku sembari mengelap cairan merah di sudut bibirnya. Sengaja kutekan bagian itu, hingga wajahnya yang dipenuhi lebam itu meringis seketika. "Lihatlah dirimu sekarang! Babak belur begini! Bagaimana jika aku tidak datang tepat waktu? Kau bisa mati dihajar mereka.” Dia diam saja. Sementara aku benar-benar kesal, tapi juga iba. Dalam diam, dan kondisi tubuh yang tampak lemah, tak kusangka Emir malah tersenyum. Dia lalu menatapku, tapi tentu saja aku tak ingin membalas tatapannya. Apalagi senyumnya. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Barangkali tak biasa melihatku memakai hijab. "Jangan menatapku seperti itu!" ketusku. "Dan jangan berpikir lebih. Aku melakukan ini hanya atas dasar kasihan!" Emir mengangguk lemah. "Iya, aku tau. Terima kasih!" katanya pelan. Kemudian dia berusaha bangkit untuk duduk. Susah payah, akhirnya dia berhasil. “Sudah!” katanya lagi menepis tanganku. “Luka ini tidak berarti apa-apa bagiku. Aku malah merasa lega sekarang!” Aku tahu dia berusaha kuat menopang tubuhnya sendiri untuk bisa duduk seperti itu. Sebab bisa kulihat dia meringis saat berbicara, seperti menahan sakit. Kalau sudah begini aku benar-benar tak tega melihatnya. Ya Tuhan... kuatkan aku agar tidak menangis di hadapannya. Aku tidak boleh terlihat lemah. Emir menoleh ke arahku, lalu dia tersenyum lagi. “Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir!” katanya. Aku langsung memalingkan wajah dari pandangannya. s**l! Air mata ini tidak bisa lagi ditahan. “Jika bisa, tolong maafkan aku, Eyjaz! Dan lupakan saja tentang kesepakatan perceraian itu. Hari ini aku akan pergi bersama ibu, Angga dan Anggi, juga Sandra. Kami akan pindah ke luar kota. Semua fasilitas sudah aku kembalikan pada papa, termasuk ini.” Dari ekor mata, sekilas kulihat Emir melepas cincin yang melingkari jarinya. Cincin pernikahan kami yang dibuat khusus saat itu. Dia meletakkan benda kecil berbentuk bunda itu di atas meja. Ada hening yang sekejap hadir di antara kami. Hening yang menciptakan perih dalam hati. Aku pernah membayangkan sebuah perpisahan, tapi tidak seperti ini ceritanya. Perpisahan yang dulu kubayangkan adalah saat kami menua bersama, lalu ikhlas meninggalkan atau ditinggalkan lebih dulu. Bukan berpisah seperti ini. “Semoga kau akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari pada aku. Dan jika saat itu tiba, aku akan lebih bahagia.” “Aku pamit!” Setelah mengucapkan itu, Emir langsung berusaha berdiri. Tertatih-tatih langkahnya meninggalkanku yang masih duduk di sofa ini tanpa bisa berbuat apa-apa. Langkahnya semakin menjauh menuju pintu keluar. Sementara aku hanya terdiam dengan deraian air mata yang tak bisa lagi kutahan. Aku tak bisa menahan diri saat Emir keluar dari rumah ini. Lekas aku beranjak, mengintipnya di balik tirai jendela. Di ujung sana dia tampak menghubungi seseorang lewat ponselnya. Entah siapa. Bersambung. Maafkan slow banget ini update nya. Terima kasih buat kamu yang masih mau ngikutin cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD