Kenangan

1726 Words
  Wiryawan termenung di ruang pribadi rumah megahnya. Pria dengan garis wajah tegas itu duduk di kursi yang serupa singgasana raja dengan menyenderkan punggung. Pandangannya menerawang, hatinya masih diliputi amarah atas pengakuan Emir yang mengejutkan. Bagaimana tidak, sekonyong-konyong pria yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu datang dengan menyerahkan semua kunci fasilitas hidup yang selama ini ia beri. Seperti mobil, rumah yang ditempati oleh keluarganya, juga beberapa surat berharga yang sempat dipercayakan padanya. Lalu dengan tenang, menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi di antara dirinya dan Eyjaz. “Maafkan saya, Pak!” ujar Emir sembari menunduk, mengakhiri pengakuannya saat itu. Tanpa diduga Wiryawan langsung menggebrak meja. Napasnya memburu, amarahnya siap meledak. Tidak ada lagi sikap hormat dan bangga yang selama ini ia tujukan untuk Emir. Semua lenyap dalam sekejap, berganti dengan rasa benci yang begitu besar menyelimuti diri. Tentu saja, sebab ini adalah tentang Eyjaz. Putri kesayangannya yang dilukai, dikhianati. “Apa menurutmu maaf saja cukup untuk membayar tingkah kurang ajarmu itu, hahh?!!” sentak Wiryawan dengan sorot mata tajam. Belum sempat Emir menjawab, pria paruh baya itu bangkit dari kursi, lalu menarik kerah kemeja Emir secara kasar. BUGH! BUGH!! BUGH!!! Dua tinjuan tepat mengarah pada ulu hati dan wajah. Emir terhuyung tak melawan, tubuhnya ambruk seketika. Wiryawan lalu menandang kakinya dengan kuat, membuat Emir semakin meringis. Siapa sangka di usia yang tak lagi muda, amarah tetap menjadi bensin yang berhasil membakar hati hingga sanggup menggerakkan diri pria itu untuk meluapkan emosi. “Dasar b******n! Tidak tau terima kasih!!!” maki Wiryawan. “Berani sekali kau menyakiti putriku! Membuatnya menderita seperti ini!” sambungnya lagi, sengit. Emir berusaha bangkit. Sembari memegangi bagian perut ia akhirnya berhasil duduk. “Saya tidak pernah berniat untuk menyakiti dia, Pak! Demi Tuhan!” “Jangan membawa-bawa nama Tuhan!” serobot Wiryawan, tak suka. Merasa frustrasi, tangannya kemudian menyapu semua benda di atas meja hingga berjatuhan ke lantai. Lalu ia kembali menatap tajam pada Emir. Emir menunduk. “Saya memang salah. Sekarang, apapun yang akan bapak lakukan, saya siap menerimanya.” Wiryatama tersenyum kecut. Entah, ia justru merasa ditantang oleh Emir akan kekuatannya. Apa yang akan dia lakukan? Tanpa membuang waktu, ia menoleh ke arah dua bodyguard yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan. Seolah tak terusik dengan apa yang terjadi barusan. Adalah Haris dan Danang. Dua pria berbadan tegap yang masih bersahabat dengan Emir itu tampak canggung. Mereka tentu merasa tak enak hati, sebab tak punya alasan kuat untuk menghajar Emir. Tapi sebagai bawahan yang harus bersikap profesional, terpaksa perintah sang tuan harus tetap dilakukan. “Hajar dia!” seru Wiryawan. “Bila perlu habisi saja nyawanya!” sambungnya lagi sembari melangkah menuju kursi. Lantas ia duduk kembali, seakan ingin menyaksikan pertunjukan yang tak imbang. Setelah itu, terjadilah apa yang diperintahkan olehnya. Emir menjadi bulan-bulanan Haris dan Danang, tanpa berniat untuk membela diri. Tendangan dan pukulan bertubi-tubi menghantam tubuhnya hingga ia merasa sakit. Perih di bagian bibir pun ia tahan. Entah, Emir justru menganggap memang inilah balasan setimpal akan dosanya terhadap Eyjaz. Saat kesadaran Emir mulai menurun, tak disangka Eyjaz justru muncul bak pahlawan. Menghentikan aksi kedua bodyguard itu meski harus lebih dulu membujuk ayahnya. Saat itulah, pria paruh baya tersebut sadar, bahwa k*******n tidak akan mampu membayar goresan luka dalam hati putrinya. ** Wiryawan mengusap wajah seraya mengembuskan napas berat. Tak lama seseorang muncul dari ambang pintu. Berjalan tenang menuju padanya dengan membawa nampan berisi gelas. Dialah Ibu Syarifah. Wanita anggun itu kemudian menyodorkan gelas berisi air tersebut. “Minumlah! Tenangkan hatimu!” ucap Ibu Syarifah. Ia kemudian mengusap-usap punggung sang suami. Berusaha mengalirkan ketenangan. Usai meneguk teh hangat itu, Wiryawan kembali menghela napas panjang. Lamat-lamat ia memikirkan sesuatu yang mengusik hati. Ditatapnya wanita yang masih berdiri di sampingnya dengan sorot sendu, nyaris berembun. “Apa mungkin ini adalah karma masa laluku?” tanyanya ambigu. Ibu Syarifah menggeleng. “Tidak ada karma dalam agama kita, Mas. Yang ada hanya ujian.” Begitu bijak sikap yang diperlihatkan wanita itu hingga kembali membuat Wiryawan malu. Dia tidak lagi mengungkit masa lalu, tapi justru melihat ke depan. “Barangkali, dengan cara ini Alloh hendak menyadarkan kita bahwa Emir memang tak pantas untuk Eyjaz. Atau barangkali, dengan ujian ini Alloh hendak memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk Eyjaz. Kita harus yakin, pasti ada hikmah yang bisa diambil atas masalah ini.” “Sudah, jangan terlalu dipikirkan! Lagi pula mereka sudah bercerai. Tugas kita sekarang adalah mendukung apapun keputusan Eyjaz. Menemaninya agar dia bisa kembali bangkit dari keterpurukan.” Wiryawan akhirnya mengangguk setuju. Hatinya pun perlahan tenang, meski amarah terhadap Emir masih ada. Kemudian, dalam diamnya tak diduga ia membatin. Memohon ampunan atas dosa yang pernah ia buat. Dan berjanji akan terus berusaha membahagiakan kedua wanita istimewa dalam hidupnya. Ibu Syarifah dan Eyjaz. Juga kedua anaknya yang lain, Faaz dan Maryam. ** Dua hari setelah kejadian pemukulan, Emir kini telah berada di kota kembang. Tepatnya di rumah milik Sandra, bersama ibu dan kedua adiknya. Mereka yang baru tiba lantas beristirahat sejenak dari lelah yang mendera akibat perjalanan panjang. Tak seperti Emir dan keluarganya, Sandra justru tampak ceria menjamu mereka. Ia yang lebih dulu sampai di rumah itu semakin merasa bahagia, karena bisa memiliki keluarga baru. Meski sejujurnya keluarga Emir sendiri terpaksa tinggal di rumah itu. Tentu semua karena keputusan Emir yang tak bisa diganggu gugat. Pria itu membujuk keluarganya untuk ikut pergi, hingga kedua adiknya terpaksa harus cuti kuliah untuk sementara waktu. “Mari, aku antar ke kamar. Kalian bisa istirahat di sana!” ujar Sandra pada Ibu dan kedua adik Emir, setelah cukup lama membiarkan mereka istirahat di sofa. Ia lalu berjalan lebih dulu menuju lantai dua rumah peninggalan kedua orang tuanya itu. Begitu hati-hati langkah Sandra menapaki anak tangga, sembari mengusap-usap bagian perut yang semakin menonjol. Sehingga di belakangnya, ibu Emir merasa terenyuh menyaksikan itu. Meski dalam hatinya masih berpihak pada Eyjaz, tapi sebagai seorang wanita ia tentu bisa merasakan bagaimana rasanya berada dalam kondisi seperti itu. Yang mana pasti membutuhkan perhatian lebih dan juga kasih sayang yang tulus. Sementara di mata Anggi yang berada di belakangnya, Sandra tetaplah wanita pembawa s**l. Ia bahkan menjadi tak begitu hormat pada Emir gara-gara masalah ini. Jika saja dirinya sudah mampu membiayai kehidupan sendiri, tentu takan sudi hidup berdampingan dengan wanita berbadan dua tersebut. “Kau itu benar-benar bodoh!” sungut Anggi pada Emir kala itu. “Kau lebih memilih melepaskan berlian hanya untuk permata imitasi. Atau jangan-jangan wanita itu memang mengguna-gunaimu, sehingga kau jadi bodoh.” “Diam!” sela Emir emosi. “Asal kau tau, aku memilihnya hanya karena anak yang sedang dia kandung. Darah dagingku!” Mendapati tanggapan spontan tak mengenakan itu, seketika wajah Anggi berubah masam. Tak ayal membuatnya semakin sebal pada kakak tertuanya itu. “Iya, ya, ya. Terserah kau sajalah!” ujarnya mengakhiri omelan. ** Sampai di depan sebuah kamar, langkah ke empat orang itu pun terhenti. Sandra berbalik badan, senyum simpul muncul menghiasi bibirnya meski tak ada balasan. Tetapi ia tak ambil pusing dengan sikap keluarga Emir itu, tidak untuk saat ini. “Ibu dan Anggi bisa istirahat di kamar ini!” ujarnya sembari mengarahkan pandangan pada kamar di hadapan. “Sementara kau bisa tempati kamar itu!” sambungnya lagi pada Angga seraya mengarahkan pada kamar lain yang tak jauh dari sana. “Jika kalian butuh sesuatu, bilang saja.  Anggap saja rumah sendiri.” Setelah mengucapkan itu, tanpa berlama-lama Sandra berlalu. Meninggalkan ibu dan kedua adik Emir yang kemudian masuk ke kamar. Memindai setiap sudut ruangan. Cukup nyaman, meski tak sama seperti rumah yang sebelumnya mereka tempati. ** Saat Sandra masih berada di lantai dua, Emir yang terduduk di sofa ruang keluarga, terdiam dalam kehampaan. Pandangannya mengarah pada layar televisi yang tengah menampilkan pemandangan indah sebuah pantai, dalam program jalan-jalan. Namun angannya terbang, seakan melayang pada masa di mana ia juga pernah menginjakkan kaki di tempat indah tersebut. Adalah Gili Trawangan. Tempat yang pernah ia singgahi bersama Eyjaz kala itu. Tepatnya saat masa honeymoon. Dua pasang mata mereka dibuat takjub dengan pemandangan lepas ke laut luas. Sejauh mata memandang laut biru nan jernih begitu memesona indra penglihatan. Hamparan pasir putih yang mereka pijak menambah rasa kagum. Indah, cantik, sempurna, seperti kebersamaan mereka. Masih terbayang jelas dalam benak Emir, saat Eyjaz tengah berjalan menyusuri bibir pantai. Sosoknya serupa sang dewi yang menampakkan keindahan sempurna, meski dengan balutan pakaian sederhana. Rambut panjang hitam kecoklatannya yang dibiarkan tergerai sesekali tertiup angin, menampakkan lekuk wajah dari sisi samping saat ia menatap lurus ke arah laut. Diam-diam Emir memperhatikan dari jarak yang tak terlalu jauh. Ia pun kemudian terus melangkah, menghampiri Eyjaz. Berdiri di sampingnya, menghirup napas bersamaan lalu kompak saling memandang dan melempar  senyum. “Kau tau, dulu aku juga sering menghabiskan waktu di pantai seperti ini bersama orang tuaku,” ujar Eyjaz. Emir hanya menanggapi dengan menatapnya. “Aku akan berlarian ke sana ke mari, dan mereka akan mengejarku,” sambungnya lagi menerawang. “Saat aku merasa lelah, mereka akan mengajakku untuk beristirahat sejenak, lalu membangun istana pasir bersama.” Eyjaz tersenyum sembari membayangkan kenangan masa lalunya yang indah itu. Kemudian tak lama kembali menatap pada Emir. “Aku ingin mengukir kenangan seperti itu untuk anak-anak kita, kelak!” lanjutnya dengan pipi merona yang terpapar sinar matahari. Disambut senyuman oleh Emir. Lalu perlahan tangan kekar itu terulur, meraih tangan Eyjaz. Digenggamnya erat, menyalurkan gelenyar dalam hati sang dewi. Mereka lalu kembali melanjutkan langkah bersama sembari bergandengan tangan. Menyusuri bibir pantai, di bawah mentari yang bersinar cerah kala itu. Tapi tak lama ketenangan itu sirna, saat Eyjaz mengaduh tiba-tiba. Wajahnya meringis. Emir terkesiap. Sigap ia mengecek, berjongkok demi melihat apa yang terjadi pada telapak kaki Eyjaz. Tak diduga, terdapat cairan merah segar yang muncul di bagian telapak kaki mulus itu. Seperti tertusuk sesuatu kulitnya. “Aww.” Eyjaz mengaduh lagi. Hampir-hampir tubuhnya terhuyung karena satu kakinya ia jinjit akibat luka itu. Beruntung, Emir langsung menahannya. Kemudian ia pun bangkit kembali. Tanpa bertanya, Emir langsung mengangkat tubuh Eyjaz. Dibopongnya wanita itu yang seketika terbengong. Lalu ia segera bawa ke penginapan untuk diobati. Langkah demi langkah menuju penginapan terasa melambat. Semilir angin yang bertiup seakan mengiringi kesyahduan yang tercipta. Iya, hari itu begitu sempurna. Luka kecil itu pada akhirnya menjadi perekat dua insan yang kemudian mengarungi surga dunia bersama. “Emir!” Suara Sandra membuyarkan lamunan Emir. Langsung menoleh pria itu padanya. Sandra tersenyum, ia kemudian duduk di sebelah Emir. Begitu dekat, hingga bisa menyenderkan kepala di pundak kokoh itu. Emir diam saja. Ia berusaha menghilang bayang Eyjaz yang masih menari di benaknya. Bersamaan dengan itu, Sandra meraih tangan Emir, menggerakkannya mengelus perut buncit. “Emir, kapan kita akan menikah?” tanya Sandra. “Aku ingin segera menjadi istri sah mu!” sambungnya lagi. Emir mengembuskan napas. Fokusnya kini telah terkumpul untuk memikirkan hal itu. Ia lalu menyahut. “Iya, aku akan segera mengurusnya!” katanya pelan. Bersambung.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD