New Day

2265 Words
Sebagian orang mengatakan, untuk membahagiakan orang lain, maka kitalah yang harus lebih dulu bahagia. Sebab, percuma bila menebar bahagia tapi diri sendiri malah merasa sebaliknya. Sepintas, kalimat tersebut memang terkesan benar. Namun aku kurang setuju dengan hal itu. Aku lebih memilih membahagiakan orang lain, meski diri masih merasakan luka karena pengkhianatan cinta. Saat semua hal bisa dengan mudah kulakukan demi membalas rasa sakit ini, pada kenyataannya hal itu justru begitu sulit untuk direaliasasikan. Ada banyak hati yang ingin kujaga, hingga aku harus merasakan hatiku sendirilah yang paling terluka. Tapi tak apa, karena kini kusadari satu hal atas pilihan yang kuambil itu. Bahwa ternyata, melihat orang lain bahagia mampu membuatku ikut bahagia. Seperti yang kulihat dua hari yang lalu, saat papa dan Tante Syarifah begitu semringah melihat kedatanganku ke rumah. Mereka menyambutku dengan tulus, ketika aku memutuskan untuk tinggal bersama keduanya. Di sini, di rumah ini. Memang, pada awalnya aku merasa ini bukan pilihan yang tepat untuk memulai hidup baru. Meninggalkan apartemen dan semua kenangan yang pernah terukir di sana, nyatanya begitu berat. Tapi aku tak ingin terus larut dalam kenangan. Maka kuputuskan menerima permintaan papa, untuk tinggal kembali bersamanya. Terbukti. Kini, di rumah ini aku kembali bisa merasakan kehangatan keluarga. Tante Syarifah begitu tulus menerima keberadaanku. Dia membantuku untuk menjalani hijrah, menemaniku untuk memperdalam ilmu agama. Darinya, aku juga belajar akan arti memaafkan. Memaafkan dengan ikhlas, meski harus berproses untuk melupakan atas apa yang telah terjadi. Aku merasakan ketenangan berangsur memenuhi hati ini. Terlebih saat semua keluarga baruku tengah berkumpul bersama. Dapat kurasakan hangatnya cinta yang tak pernah kusangka sebelumnya. Jika dulu definisi cinta adalah tentang dia. Maka saat ini, cinta bagiku adalah keluarga. ** Dua bulan berlalu, setelah kedatanganku ke rumah ini. Aku sudah terbiasa dengan aktivitas memulai hari. Sarapan pagi menjadi waktu yang sangat ditunggu, di mana kami berkumpul bersama sembari mengobrol ringan. Seperti pagi ini, Tante Syarifah tengah menuangkan nasi goreng buatannya ke piring papa, ke piringku, lalu ke ke piringnya. Tak lupa lauk pauk juga ia ambilkan. Ah, aku merasa seperti anak kecil diperlakukan seperti ini. Tapi aku suka. “Hari ini karyawanmu ada yang menikah, bukan?” tanya papa. Aku mengangguk tanpa menghentikan suapan. “Kafe diliburkan?” sambungnya. Lagi, aku mengangguk. “Dia salah satu karyawan terbaik, jadi aku ingin semua karyawan bisa ikut hadir dan turut bahagia di hari pernikahannya.” “Lalu kau akan datang bersama siapa?” tanya papa lagi. “Sendiri?” “Kalau papa mau ikut, aku senang bisa pergi bersama!” Entah mengapa papa seperti mengulum senyum. Lalu, ia malah menggeleng pelan. “Tidak, hari ini papa sudah punya janji dengan seseorang.” “Siapa?” “Dengan seorang wanita.” Aku mendongak. Kulihat papa dan Tante Syarifah saling menatap sembari melempar senyum. “Oh... oke. Aku tidak akan mengganggu jadwal kalian!” kataku. “Pergilah, nikmati kebersamaan kalian!” “Kau sendiri bagaimana?” Pertanyaan itu terdengar lebih serius. Papa menatapku. Aku tersenyum sesaat. Lalu menyahut. “Aku baik-baik saja, Pah! Kesendirian ini masih bisa kunikmati dengan tenang. Lagipula masa idahku belum habis, bukan?!” “Iya, maksud papa, barangkali sudah ada seseorang baru—“ “Belum ada!” potongku. “Aku belum ingin memikirkan itu.” Obrolan pun terpotong saat terdengar bunyi bel dari pintu utama. Sesaat kami menunggu, pintu dibuka oleh asisten rumah tangga. Hingga tak lama muncullah siapa yang datang berkunjung. Kak Faaz bersama Kak Delia, mereka berjalan beriringan menuju ke arah kami. Keduanya lantas menyalami papa dan tante, bergantian. Aku hanya menyapa sekilas, lalu melanjutkan makan. “Kalian sudah sarapan?” tanya Tante Syarifah. “Sudah!” sahut keduanya. “Seseorang meminta Delia untuk mendandaninya!” celetuk Kak Faaz. Aku langsung menoleh. “Iya. Aku yang memintanya. Apa kau keberatan?” “Tidak, selama bayarannya memuaskan!” “Oh, jangan khawatir, Tuan. Aku tidak akan menyia-nyiakan tenaga istrimu!” Sontak semua tertawa kecil karena candaan kami. Memang terdengar kurang bersahabat, tapi seperti itulah aku dan pria itu berkomunikasi. Entah, dia kadang begitu jaim di hadapanku. Tapi jika kuperhatikan, sikapnya sungguh lembut pada Kak Delia. Penuh perhatian, menjurus lebay. ** Usai sarapan, kini aku sudah berada di depan meja rias dalam kamar. Sementara Kak Delia berdiri di samping kursi yang kududuki. Kubiarkan dia memoles wajah ini dengan makeup  ringan sederhana. Agar tak kelihatan biasa saja sebenarnya. Setelah selesai memoles wajah, Kak Delia kembali bergerilya. Ia begitu terampil memasangkan kerudung berbahan satin ini di kepala. Aku diam saja, memperhatikannya dari kaca. Sesekali ia menyuruhku mendongak saat hendak memasangkan jarum pentul. Lalu dia menyuruhku menunduk sedikit demi merapikan bagian belakang. Tak lama, kulihat Kak Faaz muncul dengan wajah masam. Dia langsung mendekati Kak Delia yang masih merapikan kerudung ini di kepalaku. “Jangan terlalu lelah!” katanya. Dia mengelus perut istrinya, lembut. Lalu... mengecup perut yang mulai terlihat menonjol itu. “Sudah diam, aku geli!” protes Kak Delia, seperti risih. Eh, pria itu malah mengecup pipinya. Hello ... Bung! Apa kau tidak melihatku? Senang sekali rupanya ia memamerkan kemesraan di hadapanku. Dan sekarang, aku sudah seperti nyamuk, saat ia memeluk istrinya dari belakang. Haruskah aku berdengung? “Lepaskan, Faaz!” ujar Kak Delia lagi. “Lakukanlah hal yang lebih bermanfaat daripada menggangguku!” sambungnya seperti kesal. “Siapa bilang aku mengganggu?! Apa kau tidak tau, memeluk istri justru suatu tindakan yang bermanfaat. Atau kau mau aku memeluk wanita lain?” Kak Delia mendelik seketika. Masih dari kaca rias kulihat dia lantas cemberut. Tetapi Kak Faaz malah membalas dengan cengengesan. Tangan kekarnya masih melingkari pinggang istrinya. “Ehmm....” Aku terpaksa bersuara. Bukan apa-apa, hanya takut terlambat datang ke pernikahan Sukma jika terus membiarkan situasi ini berkembang. Dan, keduanya pun langsung bereaksi. Kak Delia dengan cepat membereskan tugasnya. Sementara Kak Faaz diam, memerhatikan. “Dengan siapa kau akan pergi?” tanya Kak Faaz. Dia menatapku dari kaca. “Sendiri.” “Pergilah dengan Araz! Dia pasti mau menemanimu!” Nah, ini yang aku tidak suka. Setelah mengetahui bahwa Araz bekerja di Green kafe, Kak Faaz seakan terus berusaha mendekatkanku dengan pria itu. Awalnya aku tidak menyangka mereka bersahabat, dan tak terpikir juga. Tapi ternyata keduanya begitu dekat, diam-diam aku pun tahu bahwa dulu Kak Delia justru pernah menyukai si barista itu. Haha... selucu itu memang yang namanya jodoh. “Aku bisa pergi sendiri!” kataku tak acuh. “Lagi pula Memangnya aku anak kecil, harus ditemani!”. “Iya, ya, ya. Kau memang bukan anak kecil, tapi anak manja!” Kak Faaz mengucapkan itu sembari melengos, dan aku hanya mengernyit. Terserah apa katanya! “Jangan dimasukkan hati, ya!” ucap Kak Delia. “Dia memang seperti itu, tapi kalau kalian sudah dekat, pasti sikapnya akan lebih manis.” Aku tersenyum sesaat. “Iya, aku tau!” ** Suasana di sekitar masjid yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara ijab qabul berangsur ramai. Aku sendiri masih menunggu untuk kemudian masuk ke sana. Hingga beberapa menit berlalu, mulailah semua orang beriringan masuk, dan duduk melingkari meja akad yang sudah disediakan. Hanya berselang menit, kedua mempelai bersama keluarga mereka pun datang. Sejurus mata memandang, kulihat Sukma begitu cantik memesona, anggun berjalan perlahan. Kemudian duduk bersebelahan dengan calon suaminya yang tak kalah rupawan. Hmm... lagi-lagi aku menemukan fakta tentang jodoh, yang tak terduga. Siapa sangka, Sukma yang diam-diam menyukai Araz justru malah menikah dengan pria lain. Saat acara dimulai, entah mengapa rasa haru muncul, menyeruak dalam hati sebab aku bisa menjadi saksi dari pernikahannya. Dia yang duduk bersebelahan dengan sang mempelai pria, tampak tegang rautnya. Dari tempat duduk bisa kutebak bahwa wanita itu pasti tak kalah gugup. Ah, ya. Itu pasti, karena aku pun pernah ada di posisinya. Aku kemudian menyapu pandangan ke sekeliling. Tak kuduga pandanganku bertemu dengan Araz yang duduk bersila di ujung sana. Dia melempar senyum, aku membalas senyumnya sekilas. Lalu kembali fokus memerhatikan sepasang mempelai di hadapan. Drrrtt... Drrrtt... Drrrt Fokusku langsung teralih pada ponsel yang bergetar. Segera tangan ini mengeceknya, takut bila ada yang penting. Saat layarnya telah kusapu, bisa kulihat sebuah pesan dari... Araz. [Wanita yang pernah kuceritakan padamu ada di sini.] Entah apa maksud pria ini mengirim pesan tersebut. Tapi kemudian aku langsung membalasnya. [Wanita yang kau sukai?] [Ya. Dia terlihat cantik, hari ini.] [Oh, ya.] [Apa kau ingin melihatnya?] [Boleh, coba tunjukkan yang mana orangnya!] Aku berusaha bersikap tak acuh, padahal dalam hati tak sabar ingin segera mengetahui siapa wanita yang dimaksud oleh Araz. Sembari menunggunya membalas lagi, kembali aku memindai semua orang di sini. Terlebih deretan wanita yang hadir. Siapa kira-kira wanita itu? Satu pesan kembali muncul. Eh, bukan, ini adalah gambar. Segera aku cek, dan... apa? Kenapa fotoku.... [Dia wanita yang kutunggu selama ini. Menurutmu, apa mungkin dia mau menerima ajakanku untuk kembali duduk seperti mereka yang ada di depan meja akad itu?] ** Di belahan bumi lain, di waktu yang sama. Sandra yang ditemani oleh ibunya Emir tengah sibuk memilih perlengkapan baju untuk bayinya. Usia kehamilan wanita itu sudah menginjak angka delapan lebih. Secara fisik, dia pun sudah agak susah untuk beraktivitas sebab pergerakannya sedikit terganggu. Selama dua purnama itu, Ibu Emir akhirnya mulai terbiasa berada di dekat Sandra. Tentu saja, karena ia tinggal membersamainya di sana. Setelah keputusan untuk menikah antara Emir dan Sandra ditunda hingga wanita itu melahirkan. Emir memilih untuk tinggal di kontrakan tak jauh dari rumah Sandra. Ia juga telah menemukan pekerjaan baru di sebuah yayasan bidang pengamanan. Berbekal pengetahuan dan pengalaman saat menjadi bodyguard, beruntung ia bisa diterima di tempat kerja itu. Yang kemudian menempatkannya di posisi yang lumayan bagus. Bukan sekedar security biasa, tapi menjadi kepala di satu wilayahnya. Sementara, kedua adik Emir memutuskan untuk kembali ke ibu kota. Keduanya juga melanjutkan kuliah yang sempat terhenti karena cuti. Emir sendiri sudah lebih percaya diri bisa membiayai mereka lagi. Berikut dengan tempat tinggal keduanya di sana. “Ibu, aku ke kamar sebentar, ya!” ujar Sandra. Dibalas anggukan oleh wanita itu. “Hati-hati!” Sandra kemudian melangkah hati-hati, menuju kamar hendak mengambil sebuah tas untuk perlengkapan bersalin. Ia bermaksud menyiapkan semua barang-barang itu dari sekarang, sebab berjaga-jaga saja. Saat telah berada di kamar, segera ia ambil tas yang dimaksud dari dalam lemari. Belum sempat ia keluar, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah tas kecil yang terhalang. Tas berwarna hitam itu milik Emir. Entah apa yang ada di dalamnya. Sandra yang merasa penasaran akhirnya tergerak untuk mengecek lebih dulu. Diraihnya tas tersebut, lalu ia duduk di sisi ranjang demi melihat ada apa di dalamnya. Perlahan ia buka retsleting itu, lalu ia rogoh. Sebuah buku catatan berukuran kecil ia ambil, lalu ia buka. Tak butuh waktu lama untuk melihat apa yang tertuang di lembaran putihnya. Seketika kedua netra yang menatap itu terasa panas, hatinya pun bergemuruh hebat. Bagaimana tidak, setiap lembaran di buku itu terdapat sketsa wajah seorang wanita. Sandra mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Dari berbagai fose bisa ditebak bahwa yang menggambar, menggambarnya secara diam-diam. Eyjaz yang tengah tersenyum ke arah lain. Eyjaz yang tengah setengah tertunduk saat menatap sesuatu. Ada pula sketsa wajah Eyjaz yang tengah terpejam. Sungguh, semua sketsa wajah Eyjaz yang memenuhi buku kecil itu membuat hati Sandra terluka. Sepintar itu Emir menyembunyikan keahliannya. Dan sebodoh itu Sandra merasa dirinya kini tak berarti apa-apa. Sebab tak pernah Emir memperlakukan dirinya dengan spesial. Terlebih membuatkan sketsa wajah. Tanpa diduga, perlahan air mata Sandra pun berjatuhan. Ia tak lagi bisa menahannya barang sejanak. Sebab kenyataan di depan mata membuatnya kembali berpikir bahwa, sepertinya cinta Emir memang begitu besar bagi Eyjaz. Sakit, sungguh sakit sekedar menerka hal itu. Hingga, ia hanya mampu mengelus perut buncit itu. Seolah ingin menguatkan diri bahwa ada sesosok lain yang lebih berarti dalam hidupnya kini. Kemudian, Sandra kembali menguatkan diri untuk merogoh benda apalagi yang ada di tas itu. Sebuah kertas yang terlipat ia ambil. Lalu ia buka. Kesepakatan Perceraian. Deg! Mata Sandra kembali terasa panas saat menyapu setiap kata yang tertuang di kertas itu. Gemetaran tangannya demi menahan amarah yang sekejap menyelinap. Air mata pu tak ayal kembali berjatuhan, merinai membasahi pipi kemerahan. “Kau jahat Emir!” batin Sandra tak terima. “Ternyata kau bersekongkol dengan wanita itu untuk mencurangiku. Kalian akan kembali bersatu setelah anak ini lahir. Kau benar-benar jahat! Uhuhuuu.” Sandra semakin terisak. Semakin perih hatinya mengetahui fakta ini. Bagaimana bisa ia begitu bodoh, menganggap Emir setulus itu mau menikahinya. Bodoh! Kau memang bodoh, San! Rutuknya sendiri. ** Esok harinya. Di bawah langit biru yang serupa, dan cerah mentari yang menghangatkan jiwa. Semesta seakan tengah memperlihatkan dua takdir yang berbeda. Keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Di antara kedua insan yang pernah terikat pernikahan. Emir tertunduk lesu di teras rumah. Letih raganya setelah mencari keberadaan Sandra yang pergi dari rumah. Entah ke mana wanita itu pergi, tak ada yang tahu termasuk ibu. Hanya sebuah surat yang ia tinggalkan untuk Emir. Yang kemudian membuat pria itu merasa berdosa. Untukmu. Terima kasih untuk hari-hari yang telah kau luangkan untukku. Aku bahagia dengan semua perlakuan istimewa itu, tetapi nyatanya semua itu palsu. Tega sekali kau memperdaya diriku. Bersikap seolah kau tulus menyayangiku. Tapi diam-diam kau hendak kembali bersamanya setelah bayi ini lahir. Aku sangat terluka mengetahui hal ini. Aku pikir, kau sudah melupakannya. Aku pikir kau sudah mulai bisa menerima posisiku. Sekali lagi, ternyata aku salah. Kau benar-benar tak berhati Emir. Aku membencimu! Hari ini, sudah kuputuskan untuk pergi. Tidak usah kau mencariku. Aku bisa menjaga diri juga bayi ini. Kau tidak usah khawatir, aku akan mengurusnya dengan baik. Sebab bagaimana pun dia juga darah dagingku. Kau tidak usah khawatir, aku akan tetap menyayanginya setulus hati. Sebab bagaimana pun dia adalah belahan jiwaku. Lanjutkanlah hidupmu! Atau, jika kau ingin kembali bersama wanita itu. Lakukanlah! Aku tak peduli. Sandra. Emir semakin merasa berdosa. Tertunduk ia menyembunyikan wajah di balik kedua tangan. Sandra salah paham. Yang terjadi justru Emir sudah mulai bisa menerimanya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Hanya penyesalan tersisa. Hanya kesedihan yang kembali melanda jiwa. Sementara di ujung sana, senyum tengah merekah menghiasi sang empunya wajah. Bersinar, cantik rupawan. Eyjaz berhenti sejenak dari aktivitas olahraga pagi. Ia kemudian duduk, lalu meneguk air mineral dari gelas. Semua keluarganya juga tengah berkumpul di sana. Di taman depan rumah. Seorang instruktur senam membersamai keluarga itu. Yang didatangkan khusus untuk mengajari senam oleh mereka. Atmosfer kehangatan tak ayal menyelimuti keluarga Wiryawan. Penuh cinta, penuh sukacita bahagia. Dalam diam, Eyjaz kemudian menatap pemandangan indah di hadapan. Sungguh, melihat keluarganya kini membuat dirinya bersyukur. Sebab bisa menjadi bagian dari mereka yang selalu ada, tulus menyayangi dirinya. Bersambung 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD