Hanyalah Mimpi

2513 Words
    Pak Saipul sedang memeriksa kelas XII satu per satu. Ia memulai dari kelas IPS. Bukannya menuduh atau apa, ia beranggapan bahwa si Tersangka berasal dari kelas IPS, karena Chico, yang notabene membantu mereka juga merupakan anak IPS.     Pertama, Pak Saipul memeriksa kelas si Chico sendir--IPS-3. Karena kemungkinan besar, si Tersangka adalah teman sekelas anak itu. Namun rupanya tak ada siswa yang absen di kelas ini, kecuali siswa-siswa yang memang sudah menulis surat izin tidak masuk sejak pagi. Pak Saipul melanjutkan langkahnya ke kelas sebelah—IPS-4. Ia masuk ke sana, meminta izin guru yang bersangkutan untuk memeriksa daftar absen.     Senyuman Pak Saipul merekah. Ada satu siswa yang hilang, tanpa keterangan, padahal jam pertama dan kedua tadi ia masuk.     "Terima kasih, Pak Yusuf, saya sudah menemukan satu tersangkanya."     "Sama-sama, Pak Saipul. Semoga tersangka yang lain segera ketemu juga."     Murid-murid terlihat berdesas-desus. Sedikit banyak mereka sudah mendengar tentang berita heboh itu. Mulut manusia memang luar biasa panjangnya, bukan? Rel kereta api sampai kalah panjang.     Pak Saipul melanjutkan perjalanannya. Namun ia tak menemukan tersangka lain di sepanjang kelas IPS. Mungkinkah tersangka lainnya berasal dari kelas XI atau X? Tapi tidak mungkin, sih, kalau mereka berbeda tingkat. Jadi, tersangka lainnya ... anak IPA?     Wah, anak IPA sudah ada perkembangan rupanya. Oops, maksudnya kemunduran.     Pak Saipul berjalan tegas menuju deretan kelas IPA. Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti, teringat akan kata-kata si Chico saat mencegahnya mencari para tersangka, ketika mereka berdua masih berada di kantor guru tadi.     "Tapi mereka kabur bukan tanpa sebab, Pak."     Kata-kata itu ... Pak Saipul menghubungkannya dengan Theo, yang merupakan tersangka pertama yang ia temukan. Theo adalah adiknya Yas. Yas hari ini izin untuk melakukan sidang masalah keluarganya. Dan Yas mempunyai adik lain yang bersekolah di sini juga. Anak itu ada di kelas IPA. Jadi, tersangka kedua adalah ....     Woah, adik-adik yang manis! Kabur dari sekolah demi menghadiri sidang keluarganya. Jadi rupanya ini sebab yang disembunyikan sedemikian rapat oleh Chico. Benar-benar teman yang baik!     Pak Saipul menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan, terdengar bunyi gemerutuk tulangnya. Ia tersenyum penuh kemenangan.     "Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah, sudah menciptakan hamba dengan otak yang encer!"     Pak Saipul melangkah tegas menuju ke XII IPA-1—kelas Elang.   ***       "Dengan ini kami putuskan bahwa laporan penggugat terbukti tidak benar. Oleh karenanya, perjanjian akan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam dokumen perjanjian hutang piutang yang sebenarnya. Penggugat harus melunasi hutang tersebut dalam bulan ini, kalau tidak, rumah almarhum Riefan Athabarrack, yang sudah dijaminkan, akan disita."     "Yang Mulia!" seru sebuah suara yang terdengar cukup asing. Karena dalam dua sidang yang telah dilakukan, baru kali ini ia bebicara. Kecuali suaranya yang terdengar dari rekaman video yang ia tunjukkan sebagai bukti.     Hakim mempersilakan Zidan untuk melanjutkan bicaranya.     "Mungkin pihak penggugat terpaksa melakukan tuduhan palsu dikarenakan masalah ... mohon maaf sebelumnya, masalah keuangan. Oleh karenanya saya ingin sedikit meringankan beban mereka. Saya akan memperpanjang kurun waktu pencicilan menjadi satu tahun. Tapi ....     "Tapi saya juga tidak ingin dirugikan. Rumah itu sudah menjadi barang jaminan. Oleh karenanya, rumah itu tidak boleh mereka tempati selama mereka belum melunasi hutang tersebut. Kelak bila masalah hutang piutang ini sudah beres, maka mereka boleh kembali menempati rumahnya," jelas Zidan.     Majelis Hakim saling berdiskusi untuk beberapa saat. "Baiklah. Karena keputusan berasal langsung dari yang bersangkutan, kami tidak berhak ikut campur lagi, hanya menyarankan untuk segera mengurus perjanjian itu secara resmi, supaya tidak terjadi kesalah pahaman lainnya di masa depan." Hakim memukulkan palunya.     Suasana berubah menjadi chaos. Majelis hakim perlahan meninggalkan singgasananya. Tergugat dan pihak-pihaknya bersorak karena mereka berhasil memenangkan sidang. Tak sedikit dari mereka yang mulai menghakimi pihak lawannya.     "Kalian benar-benar keterlaluan, kalian harus bersyukur karena Tuan Zidan masih mau berbaik hati!"     "Kalian bahkan sudah menuduhnya macam-macam, tapi beliau memang orang berhati mulia, hingga rela meringankan beban orang-orang yang berbuat jahat padanya!"     "Bagaimana bisa laki-laki terhormat seperti Tuan Riefan melakukan bunuh diri?"     "Jika anda sekarang hidup susah, jangan salahkan Tuan Zidan, salahkan ayah anda yang nggak bertanggung jawab itu!" Orang itu berbicara langsung pada Yas.     Oom Junot tak bisa tinggal diam melihat Yas diperlakukan seperti itu, ia berusaha tak mendengar semuanya. Ia berjalan menuju ke podium penggugat, menghampiri Yas. Keponakannya itu belum beranjak seinci pun.     "Yas, ayo!" Oom Junot meraih pergelangan tangannya.     "Oom ...." Yas bahkan tak tahu harus bicara apa lagi.     "Kita bicara lagi nanti. Sekarang kita pergi. Jangan dengerin omongan orang-orang itu!"     "Tapi mereka bener, Oom. Bisa jadi ... bisa jadi Papa mengambil keputusan itu untuk lari dari tanggung jawab."     Oom Junot menelan ludahnya. Ia pun memiliki pikiran yang sama. Tapi di sisi lain, ia tahu kakaknya bukan orang seperti itu. Ia berusaha yakin bahwa Riefan memilih jalan terkutuk, yang notabene memang tidak bisa dibenarkan dari sisi manapun. Itu semua karena ia terpaksa.     Karena ia sudah terlalu muak dengan masalah-masalah di hidupnya. Namun apapun yang terjadi, Oom Junot yakin bahwa kakaknya tak akan tega lari dari tanggung jawab dan membiarkan anak-anaknya menanggung hutang sedemikian banyak, dengan perjanjian konyol semacam itu.     Entah tipu muslihat apa lagi yang sedang dilakukan oleh Zidan kali ini.     Bukti-bukti tadi pasti hanyalah rekayasa. Surat perjanjian itu pun pasti palsu. Video rekaman tadi pasti juga sudah dimanipulasi. Dan yang jelas, Zidan juga menyogok aparat. Hakim dengan mudahnya menyetujui keputusan konyolnya. Benar-benar aneh, memuakkan, laknat dan busuk!     Sungguh, mereka ingin mengungkap semua fakta itu. Fakta bahwa Zidan adalah adik dari Araya, bahwa Zidan adalah orang di balik kecelakaan yang menimpa orang tua Riefan dan Junot, juga kecelakaan yang menimpa Riefan sendiri dan Lestari di masa lalu, dan pastinya juga penyebab kebangkrutan perusahaan Riefan.     Mereka pikir, persidangan masih akan berlanjut sampai beberapa babak lagi. Sehingga mereka memiliki cukup waktu untuk mengumpulkan bukti dan saksi. Tapi Zidan sengaja menghentikan sidang sampai di sini. Ia juga sengaja menjatuhkan nama baik keluarga ini, sehingga semua orang akan menganggap mereka buruk. Dan sekarang Zidan akan dengan leluasa melanjutkan aksi balas dendamnya.     Zidan adalah iblis berwujud manusia dengan dendam yang luar biasa besar pada keluarga ini. Sebuah dendam kesumat yang bahkan belum jelas apa penyebabnya.     "Nggak, Yas. Ayo kita pergi! Papa kamu orang baik. Inget itu!" Oom Junot segera menarik tangan Yas, seakan menyeretnya pergi dari sana.     "Kebenaran selalu menang, Tuan!" seru Jodi.     Zidan sama sekali tak menoleh padanya, tapi Jodi tahu, Zidan sedang mendengarkan.     "Mungkin saat ini anda bisa mendapatkan apapun dengan uang. Tapi ingat, bangkai itu busuk dan bau. Sejeli apapun anda menyembunyikannya, lama-lama bau busuknya akan tercium. Ingat, Tuhan tidak tidur!" Jodi mengakhiri kata-katanya.     Sepanjang menjadi pengacara, belum pernah ia dikalahkan dalam sidang. Sekalinya kalah, malah dengan cara yang sama sekali tidak terhormat. Dikalahkan oleh orang gila!     Mereka bertiga adalah orang-orang yang baik. Kenapa Zidan terus menyerang mereka secara teramat keji? Malang sekali nasib Yas dan adik-adiknya. Jodi pun segera berbalik, menyusul Oom Junot dan Yas meninggalkan ruangan ini.     Sedangkan Theo dan Elang, sampai detik ini mereka belum sanggup beranjak dari tempat duduknya. Mereka melihat sendiri bagaimana liciknya Zidan dan orang-orangnya. Mereka melihat sendiri bagaimana terpukulnya Yas. Mereka melihat sendiri bagaimana uang mengendalikan dunia, menindas banyak orang yang tak bersalah, dan seakan membunuh mereka secara perlahan-lahan.   ***       Berbeda dengan biasanya, hari ini Oom Junot menemani Yas di jok belakang. Jodi baru saja datang, ia segera masuk dan duduk di kursi kemudinya. Tampak dengan jelas bahwa ketiganya masih kalut, belum ada yang ingin membicarakan apapun tentang sidang.     Suara telpon masuk di handphone Yas memecahkan suasana. Ingin rasanya tidak menjawab, tapi Yas harus menahan keinginannya, karena ini telpon dari sekolah.     "Pak Yas, bisakah kembali ke sekolah setelah sidang?"     "Kalau boleh tahu ada apa ya, Pak?"     Yas mendengarkan penjelasan lawan bicaranya. Oom Junot dan Jodi tidak bisa mendengar isi pembicaraanya. Mereka hanya melihat gurat-gurat kelelahan di wajah Yas yang semakin memarah.     "Iya, saya ke sana sekarang, Pak," ucapnya. Sambungan pun terputus.     "Kenapa, Yas?"     Yas rupanya tak menghiraukan pertanyaan Oom Junot. Ia justru kembali membuka pintu mobil, berlari keluar. Ia mencari-cari siapa tahu Theo dan Elang masih berada di sekitar sini. Yas mencari di sepanjang jalan dan lorong menuju ruang sidang. Ia bahkan kembali memasuki ruang sidang yang sudah diisi oleh peserta persidangan selanjutnya. Tapi mereka sudah tidak ada.     Saat Yas keluar dari sana, Oom Junot dan Jodi ternyata menyusulnya. Mereka kembali bertanya-tanya kenapa Yas bersikap aneh, dan kenapa Yas harus kembali ke sekolah, meskipun sudah izin.   ***       Oom Junot dan Jodi menawarkan diri untuk menemaninya menghadap pada Kepala Sekolah. Tapi Yas menolak.     Saat ini ia sudah berhadapan dengan pemimpin sekolah ini, mendengarkan penjelasan beliau mengenai laporan-laporan dari Pak Saipul, tentang insiden yang dilakukan oleh Theo, Elang dan Chico.     Tak hanya Yas yang dipanggil oleh Kepala Sekolah, tapi juga Bu Alila, sebagai wali dari Chico.     "Saya nggak keberatan apapun hukumannya, biar dia kapok!" ucap Bu Alila ketus.     "Bagaimana dengan Pak Yas?"     "Sebelumnya saya benar-benar mohon maaf, saya nggak nyangka kalau mereka akan melakukan ini semua. Sama seperti Bu Alila, silakan hukum mereka sesuai dengan peraturan yang berlaku."     "Baiklah kalau begitu. Setelah ini saya harap tidak ada insiden serupa. Sudah menjadi tugas kalian untuk mendidik mereka lebih baik lagi. Apalagi kalian juga merupakan seorang pendidik. Apa yang akan orang katakan, jika tahu guru di sini, gagal mendidik adik-adiknya sediri? Secara tidak langsung, hal itu juga mencoreng nama baik sekolah kita. Kalian mengerti maksud saya, kan?"     Mereka hanya diam mendengarkan. Tersinggung sudah pasti, tapi ini semua karena kesalahan yang dilakukan adik-adik mereka.     "Untuk Pak Yas, ini sudah kedua kalinya anda dipanggil. Pertama saat Elang memukul Luna dulu, dan sekarang dua adik anda malah bekerja sama dengan Chico untuk kabur dari sekolah. Bahkan sampai sekarang mereka belum kembali ...."     "Mereka sudah kembali, Pak!" seru Pak Saipul. "Saya tadi berinisiatif kembali ke gerbang belakang, tempat mereka kabur, dengan asumsi bahwa mereka akan kembali lewat sana juga. Ternyata benar. Saat saya sampai sana, mereka sedang mengganti baju penyamaran yang mereka pakai, dengan seragam sekolah."     Pak Saipul menarik paksa lengan Theo, Elang dan Chico untuk memasuki ruangan ini. Ketiga anak itu terlihat ketakutan. Terlebih Theo dan Elang. Tak hanya ketakutan, namun siratan kesedihan juga terpatri di wajah mereka. Mereka bahkan tak sanggup menatap Yas. Mereka merasa tak enak, karena lagi-lagi menyusahkan.     "Oh, kalian sudah kembali rupanya. Tapi tenang! Masalahnya sudah saya bicarakan dengan kakak-kakak kalian," ucap Kepala Sekolah. Ia kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Yas.        "Pak Yas, jika sampai sekali lagi terjadi masalah yang serupa, dengan sangat menyesal, terpaksa saya akan memberi sanksi pada anda."     "Saya mengerti, Pak." Yas tak berusaha membela diri. Toh mereka memang salah, dan mereka adalah tanggung jawabnya. Lagipula ia sudah terlalu lelah dengan semua kenyataan yang harus ia terima di pengadilan tadi. Ia tak ingin buang-buang tenaga dengan membela diri dalam urusan yang sudah jelas salahnya.   ***       "Ampun, Mbak, ampun! Aduh!" Chico meringis-ringis karena rambut kritingnya ditarik paksa oleh kakaknya.     "Enak aja ampun-ampun!" Bu Alila mencubit pinggang Chico.     "Mbak udah menoleransi hukuman Pak Saipul ke kamu, yang hampir tiap hari itu." Bu Alila menempeleng kepala adiknya. "Tapi kali ini kesalahan kamu fatal! Nggak peduli apapun sebabnya, mungkin ini memang untuk Pak Yas, pujaan hati Mbak." Bu Alila memberi penekanan khusus pada kalimat terakhirnya. "Tapi tetep aja!"     Chico mendapat tamparan di pipi kanan dan kiri secara berturut-turut. Sesungguhnya pukulan kakaknya ini tak terlalu sakit, sungguh. Chico lebih terbebani oleh rasa malu. Tentu saja, bagaimana tidak malu jika seorang remaja—dengan gengsi yang sedang besar-besarnya—dimarahi dan dipukuli oleh kakak perempuannya sendiri di depan banyak orang?     Seluruh penghuni kost--baik dari kost putra ini, ataupun kost putri di seberang--semuanya keluar kamar untuk melihat tragedi dua bersaudara yang mengiris hati. Bahkan Pak Kost dan Ibu Kost juga ikut meramaikan.     "Malu-maluin kamu, tuh! Mbak sampek dikata-katain ini itu sama Pak Kepsek!" Kali ini Bu Alila memukul b****g Chico.     "Mbak nggak mau tahu, malem ini nggak ada jatah makan buat kamu, titik!"     "AAAARRRGGHHHH!" teriak Chico.     Jangan dikira Chico lebay berteriak sekeras itu hanya karena tak dapat jatah makan malam. Chico tidak selemah itu. Tapi Bu Alila baru saja menendang kelemahan terbesarnya, sesuatu yang berada di antara kedua kakinya. Chico hanya bisa memegangi si Adik yang malang, ngilu sekali rasanya.     Bu Alila meraih kunci kamar di meja, ia menutup pintu, dan menguncinya dari luar. "Kamu pikirin kesalahan kamu hari ini!" serunya, sebelum benar-benar pergi ke kos putri, tempat tinggalnya, yang berada di seberang jalan, berhadapan dengan kost putra ini.     "Bu Kost, ini kunci kamar Chico, tolong jangan dikasih sebelum besok pagi!" pintanya pada Ibu Kost. Wanita paruh baya itu segera mengangguk. Takut murkanya Bu Guru semakin menjadi-jadi.     Sementara Chico di dalam, masih kesakitan luar biasa. "Ya Allah, kenapa punya Mbak satu aja gitu banget, Ya Allah?"     Kedua tangan Chico juga masih memegangi si Adik. Bahkan saat disunat dulu rasanya tidak seburuk ini.     "Lo nggak apa-apa kan, Masa Depan?" tanyanya miris.   ***       Yas menggendong Namira memasuki rumah. Namira menangis karena tidurnya terganggu saat Yas mengangkatnya dari baby seat di mobil. Seperti sidang pertama dulu, setelah sidang kedua tadi Oom Junot memberinya cuti satu hari, tapi Yas tidak mau. Meskipun sidang kali jauh lebih berat.     Alasannya, Yas hanya merasa tidak enak dengan karyawan lain. Takut mereka menyangka Yas diistimewakan, seperti dulu. Mereka baru saja menerima keberadaannya di pabrik, sama sekali belum lama. Ia tak ingin membuat mereka kembali membencinya.     Lampu rumah masih menyala, padahal sudah tengah malam begini. Rupanya Theo dan Elang belum tidur. Mereka duduk diam di ruang keluarga. Begitu melihat Yas, mereka segera berdiri. Seperti ingin bicara sesuatu, namun tidak bisa mengatakannya.     "Kenapa, kok, belum tidur? Besok harus bangun pagi buat beres-beres barang lagi, kan?" tanya Yas.     Theo dan Elang masih diam. Pada kenyataannya mereka memang ingin mengatakan banyak hal pada Yas, tentang kaburnya mereka dari sekolah tadi. Mereka ingin bilang bahwa mereka menyesal. Tapi mereka urung mengatakannya. Padahal mereka sudah menunggu kedatangan Yas sampai semalam ini.     Rasa tak enak itu begitu besar. Apalagi Yas sama sekali tak terlihat marah. Ia bersikap biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Itulah yang membuat Theo dan Elang merasa tidak nyaman.     Lebih baik jika Yas memarahi mereka secara terang-terangan. Kalau perlu memukul mereka, agar kapok. Tapi Yas tak melakukannya sama sekali.     "Yaudah, nanti jangan lupa lampunya dimatiin! Mas ke atas duluan."     Theo dan Elang hanya pasrah membiarkan Yas berlalu. Mereka tidak berhasil menjelaskan apapun pada Yas.     Namira sudah kembali tidur nyenyak di dalam box-nya. Yas tersenyum menatap wajah damai putrinya. Bersyukur karena bayi itu belum mengerti masalah macam apa yang sedang menimpa keluarganya sekarang. Jika Namira mengerti, ia pasti akan merasa sangat sedih.     Yas membuka laci nakas. Mulai mengeluarkan beberapa barang dan juga dokumen-dokumen penting yang harus dibawa. Sore tadi sebagian barang sudah dipindahkan dengan pick up milik tetangga. Sisanya besok pagi. Selembar kertas baru saja diterbangkan angin, terjatuh tepat di sisi kaki Yas. Ia mengambil kertas itu. Matanya lama menatap gambar yang terdapat di sana. Sebuah desain bangunan, LUAlounge.     Keputusan mendadak Zidan agar mereka melunasi semua hutang dalam satu bulan waktu itu, memang sudah direncanakan dengan apik oleh mereka. Sebuah kemustahilan, itulah yang membuat Yas akhirnya mengajukan gugatan. Namun ironisnya gugatan itu juga sudah menjadi bagian dari rencana mereka. Ditutup dengan sebuah keputusan baru yang nyaris sama mustahilnya. Mungkinkah mereka melunasi semuanya dalam satu tahun?     Nyatanya Zidan memang ingin membunuh mereka perlahan-lahan. Rumah ini tidak akan pernah kembali menjadi milik mereka. Oleh karenanya, LUAlounge pun tidak mungkin diteruskan pembangunannya. Impian Papa, impian mereka semua, tidak akan pernah terwujud.     Pada akhirnya, mimpi memang hanyalah sebuah mimpi.   *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD