(06) John : Cewek Sadis Bin Bawel

1757 Words
Gue nggak tahan untuk tertawa sewaktu melihat kepala Pamela menghantam kursi. Pemandangan itu memang lucu kelihatannya di mata gue. Itu sudah seperti acara TV yang menayangkan kejadian lucu orang-orang apes yang ketangkap kamera CCTV. Tapi saat melihat cewek itu benar-benar kesakitan, gue jadi merasa bersalah pada akhirnya. Itulah sebabnya gue keluar dari aula untuk mencari cewek itu meskipun acara udah hampir mulai. Untung saja dia dan cowok itu nggak berjalan terlalu cepat, jadi gue bisa mengekor di belakang mereka. Nggak mau langsung nimbrung begitu aja, gue memutuskan untuk duduk di salah satu meja yang ada di dekat pintu masuk restoran. Dari sini wajah Pamela terlihat menyengir menahan sakit. Gue jadi merasa nggak tega melihat dia begitu. Eh, tapi kan itu salah dia sendiri. Gue juga nggak ngapa-ngapain. Gue menggelengkan kepala untuk menghilangkan kekhawatiran yang nggak perlu ini. Lagi pula gue diundang ke sini untuk menjadi tamu. Bisa jadi panitia akan mencari keberadaan gue di dalam sana. Di sini nggak ada yang bisa gue lakukan selain mendengarkan dua orang itu mengobrol, seperti menonton film romantis yang sama sekali bukan favorit gue. Sewaktu kaki gue hampir melangkah pergi, ada hal yang bikin gue terusik. Kedengarannya cowok seperti menginterogasi Pamela. Padahal sudah jelas bahwa cewek ini memberi balasan sopan tanda menolak bercerita. "Coba aja cerita. Aku bakalan sabar dengerin," kata cowok itu. Asli, cowok ini nggak peka banget. Gue merasa harus mengintervensi situasi ini. Tanpa pikir panjang, gue berjalan mendekat dan berhenti di antara mereka berdua. "Man. Lo beneran nggak ngerti apa gimana sih? Maksud dia tuh, dia lagi nggak mau cerita." Begitu gue bilang begitu, Pamela justru melirik tajam ke gue dan mengembuskan napas cukup keras. "Kok kamu di sini sih?" "Restoran ini punya bokap lo?" sahut gue asal. Raut wajah Pamela menjadi lebih garang. "Menurut kamu?" Tangannya yang menopang kepala diturunkan dan badannya berubah tegak seolah mau memukul gue. "Ya emang ini tempat umum, tapi kamu nggak harus ada di deket aku juga kan?" Sumpah ya, jadi cewek galak amat. Gue memandang Pamela lebih intens dari sebelumnya. "Sebenernya gue ngerasa bersalah dan nggak tega lihat keadaan lo. Tapi kayanya lo lebih mau gue pergi sekarang untuk ceritain apa yang terjadi di antara kita sama dia ya." Reaksi yang Pamela berikan setelah mendengar perkataan gue kelihatan lucu sekali. Seolah nggak mikir, dia langsung menyahut, "Ya udah. Kamu temenin aku di sini." Dari gue dia berpaling ke cowok itu. "Brandon, rencanamu dateng ke sini untuk nonton pertujukan di dalam kan? Jadi nggak papa kamu nyusulin Janice. Kasihan juga kalau dia sendirian. Ada yang perlu aku selesain juga sama John." Cowok yang disebut Brandon itu melirik ke arah gue sebelum menatap balik Pamela. "Kamu yakin? Dan apa dia bisa dipercaya?" Shit. Segitu nggak percayanya dia sama gue. Pamela menganggukan kepala. "Ada orang-orang lain juga kok di sini. Dia nggak mungkin bisa macam-macam sama aku," katanya. Macam-macam? Dia pikir gue mau ngapain dia? Kurang ajar. Gue jadi agak tersinggung mendengar omongan Pamela. Meskipun tampang gue dingin sejak lahir, tapi bukan berarti gue jahat. "Kalau kamu perlu apa-apa jangan sungkan kontak aku ya, Pam." Begitu Brandon beranjak dari kursi, gue langsung menggantikan dia di kursinya tanpa menunggu lama. Karena itulah dia menatap gue sengit. Pamela tersenyum. "Iya. Kalau aku udah baikan, aku nyusul lagi ke dalam." Dia melambai ke cowok itu sebelum dia akhirnya berjalan keluar dari restoran ini. Sekarang hanya ada dia dan gue. Tapi dia bersikap seolah gue nggak ada di dekatnya. Dia mengambil lagi plastik es yang ada di atas meja dan kemudian disentuhkan di kepalanya. "Separah apa emangnya?" Gue jadi penasaran, mengingat hantaman tadi memang keras. "Nggak parah," sahut Pamela nggak peduli dengan mata tertutup. Tipe cewek seperti ini nggak bisa diperlakukan sama seperti cewek-cewek lain pada umumnya. Ide brilian seorang John Adams pun muncul tepat pada waktunya. "Maaf kalo gue ngelakuin hal yang sampai bikin lo ngehindarin gue," ucap gue. Sekali dia mendengar permintaan maaf gue, matanya langsung terbuka. Sekarang dia memandang gue. Tuhan memang tepat memberi gue otak secemerlang ini. "Aku males aja lihat kamu." Sehabis mengatakan itu, Pamela langsung menutup matanya lagi. Asli. Cewek ini sadisnya memang parah tingkat dewa. "Karena taruhan bikinan Chania? Atau karena kemarin gue minta tolong lo anterin gue ke apartemen sampai lo capek?" Gue nggak menyerah untuk menggali informasi lebih. Pasti ada alasan kenapa cewek ini mau menghindari gue di saat cewek-cewek lain menguber-uber gue. Pamela nggak memberi jawaban apapun. Dia bergeming seperti patung Liberty tanpa ekspresi. "Kalo emang lo nggak bisa selesain taruhan itu, gue nggak papa kok. Lo tinggal akuin aja kekalahan lo di taruhan ini ke―" "Enak aja." Mata Pamela langsung terbuka dan membulat seperti bakso. "Di kamus aku, nggak ada yang namanya kekalahan. Seumur hidup." Ketegasan terpancar dari suara lembutnya. "Yakin lo?" "Yakin lah!" Sudah mirip petir menyambar cara Pamela menjawab gue. "Justru kamu tuh yang siap-siap kalah." Dahi gue langsung berkerut sewaktu mendengar ucapan itu. "Nggak salah? Gue kan udah nemuin cewek yang nggak suka sama gue. Dan itu lo." Gue ketawa geli. "Nggak bisa gitu lah. Harusnya kamu cari cewek lain, biar fair[1]." Plastik es di tangannya diletakkan di atas meja dan tangannya yang lain memijat-pijat bagian kepalanya yang basah. "Denger ya. Aku masih muda, dan aku nggak mau menikah dulu. Apa lagi sama kamu, orang yang aku nggak kenal. Habis lulus S2, aku mau dapet kerjaan mantap dan biayain orang tuaku untuk tinggal di sini." Dengan kepala bertumpu di atas kepalan tangan kanan, gue menyandarkan bagian samping tubuh gue ke meja. "Nggak gampang untuk bawa orang tua lo tinggal di sini, Pammie. Lo harus punya green card[2] dulu untuk bisa jadi sponsor buat orang tua lo. Sementara untuk dapet green card itu nggak gampang. Lo harus lewatin prosedur yang banyak dan sulit, dan butuh beberapa tahun juga tinggal di sini sebagai syaratnya. Kecuali kalo lo punya suami yang kewarganegaraannya Amerika atau seenggaknya udah punya green card, baru prosesnya jadi lebih cepet," gue menjelaskan panjang lebar ke dia. Pamela nggak memberi tanggapan apapun dan diam untuk beberapa waktu. Pandangan matanya kelihatan sayu, seolah memancarkan bahwa dia capek akibat masalah. "Lama amat diemnya? Jangan-jangan lo lagi mikir untuk cari jalan ilegal kaya nikah kontrak sama om-om lagi." Sel-sel iseng gue muncul tiba-tiba dan gue nggak tahan untuk mengerjai dia. "Oi! Aku nggak se-desperate[3] itu kali," sahutnya cepat dengan tangan mengepal seolah mau meninju gue. Mendengar perkataannya itu, perut gue jadi tergelitik dan nggak tahan untuk tertawa. "Baguslah kalo gitu. Artinya lo hargain hidup lo," komentar gue. "Ya iya lah. Buat apa orang tua aku susah-susah sekolahin aku tinggi-tinggi dan aku jauh-jauh ke Amerika untuk dapet gelar S2 tapi akhirnya menikah kontrak sama om-om? Walaupun kontrak kan juga artinya nanti aku jadi janda." Gara-gara terlalu semangat membela diri sendiri, volume suaranya jadi terlalu keras, sampai orang-orang yang ada di restoran itu berpaling ke kami. Gue bertambah geli jadinya. "Makanya, biasa aja ngomongnya. Gue juga paham." "Lagian, menikah itu sesuatu yang sakral buat aku. Nggak ada yang namanya main-mainin hubungan kaya selebritis yang gampang banget nikah cerai berkali-kali," Pamela melanjutkan lagi. Cara bicaranya benar-benar menunjukkan keseriusannya. "Kamu tuh yang harus hati-hati supaya nggak gonta-ganti pasangan. Secara, selebritis kan gampang banget dapet gandengan." "Don't judge the book by its cover[4]. Lo mestinya udah pernah denger itu." Gue nggak terima disamakan dengan selebritis lainnya. "Gue juga sama kali, kaya lo. Menikah tuh sekali untuk selamanya. Suka atau duka ya dijalanin bareng-bareng." Ekspresi wajah Pamela jelas sekali menunjukkan kalo dia nggak percaya sama gue. Ditambah lagi sekarang dia tertawa. "Gaya selengekan dan tampang playboy cap ayam jago kaya kamu juga mikir gitu? Nggak salah nih? Ah, palingan kamu sekarang lagi ngibul supaya nggak kalah standar dari aku. Iya kan?" Jari telunjuknya mengarah ke gue. Gue menurunkan jarinya itu dan berdecak. "Nggak percayaan lo," sahut gue. "Yah tapi nggak papa sih lo nggak percaya. Suatu hari lo bakalan nelen ludah doang waktu lihat gue menikah sama cewek yang tepat dan bakalan gue bikin bahagia. Seumur hidup cuma dia dan gue akan setia sampai mati." "Dalem banget omongannya," komentarnya sambil tertawa. "Ya buktiin aja, jadi nggak omdo[5]. Soalnya selama ini dari postingan orang-orang yang tag kamu di i********: justru nunjukin yang sebaliknya. Banyak tuh cewek-cewek yang nempel sama kamu." Gue sontak terkejut mendengar ucapan Pamela. "Lo stalk i********: gue ya?" Tawa gue pecah seketika itu juga. Pamela salah tingkah. Gue merasa yakin bahwa dia sedang mencari-cari alibi sekarang. "Salah!" bantahnya. "Sahabat aku di Indonesia yang kirim DM tentang kamu. Bukan aku yang cari-cari kamu." "Tapi habis itu buktinya lo lihat postingan orang-orang yang tag gue. Padahal ada sekian banyak postingan fans gue. Artinya lo niat cek gue dong?" Gue menjebak dia dalam kesimpulan ini. "Itu nggak sengaja! Dan itu cuma sekali." "Masa?" Pamela mengeluarkan suara desisan pertanda kesal. "Nggak usah dilanjut. Lagian kepalaku udah nggak terlalu pusing. Aku mau balik lagi ke dalem." Dia bergerak turun dari kursi tapi justru menjadi oleng seperti helikopter yang kena tembak. Tangan gue spontan terulur untuk menjaga dia supaya nggak sampai terjatuh. "Lo beneran pusing ya?" tanya gue memastikan. "Nggak. Aku baik-baik aja." Bantahannya menjadi bukti nyata dari ucapan orang-orang tentang kebanyakan cewek. Pada kenyataannya adalah A, tapi yang diungkapkan adalah B. "Sok kuat lo." Gue masih memegangi tangannya meskipun dia berusaha melepaskan gue. "Beneran nggak papa tahu." Kali ini dorongan tangan Pamela lebih kuat. Mau nggak mau gue melepas genggaman gue dari kedua tangannya. Dia berusaha untuk berdiri tegak dan mulai berjalan. Gue nggak tahu si Brandon tadi sudah memberi uang ke restoran ini atau belum untuk plastik esnya. Tapi gue tetap berinisiatif untuk meletakkan lima dolar di atas meja akibat terbiasa memberi tips untuk setiap bantuan yang gue terima. Setelah itu, gue mengikuti Pamela yang sudah berjalan keluar dari restoran. Jelas sekali kalau ritme jalan Pamela pelan dan nggak seimbang. Tapi dia memaksakan diri sendiri untuk menunjukkan kalau semua baik-baik saja. Gue paling sebal sama orang yang nggak bisa jujur mengakui apa yang sebenarnya terjadi. Alhasil gue menarik pergelangan tangan Pamela sampai dia berhenti jalan. "Ngapain kamu? Aku mau balik ke dalem. Bukannya kamu juga tamu undangan. Harusnya kamu di sana juga kan?" Sewaktu mengatakan hal itu ke gue, kerutan terkumpul di bagian tengah dahi Pamela. Dia benar-benar terlihat sedang menahan sakit. "Bawel lo." Gue nggak mau tahu apa pendapat dia. Tanpa mendapatkan izin darinya, gue menarik cewek ini untuk pergi dari sini. Seenggaknya kalau dia nggak mau dicek ke dokter, dia harus istirahat. [MB] Keterangan: [1] Adil [2] Kartu izin tinggal untuk hidup dan bekerja secara permanen atau selamanya di Amerika Serikat. [3] Putus asa [4] Jangan nilai orang lain dari penampilan luarnya saja [5] Omong doang
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD