(05) Pamela : Bertemu Lagi!

1497 Words
Sesuai namanya Pittsburgh's Grand Hall besar sekali. Ini pertama kalinya aku ke sini dan dibuat terkagum-kagum. Konon katanya orang-orang berduit saja yang bisa menyewa tempat ini sebagai gedung pernikahan. Aku nggak heran karena tempat ini sesuai dengan harganya. Untung saja dresscode yang diberikan adalah baju batik. Jadi aku nggak perlu merasa kesulitan untuk menyesuaikan. Bersama Brandon dan Janice, aku mencari tempat untuk duduk. Kami datang setengah jam lebih awal dan belum banyak orang yang datang. Kedua temanku ini semangat sekali untuk melihat pertunjukan yang sudah dipersiapkan anggota inti organisasi ini. Karena itulah kami duduk di barisan kedua terdepan. "Dari sini kita bisa lihat jelas banget penampilan seniman-seniman itu," ucap Janice bersemangat. Matanya berbinar memandang ke arah panggung walaupun belum ada siapa-siapa. Brandon berdecak. "Bilang aja seneng lihat gebetan dari jarak deket," sindirnya dengan senggolan di lengan. "Eh, Pam. Nanti di sini ada orang-orang Indonesia yang sukses di Amerika ikutan diundang loh. Mantap nggak tuh?" "Oh ya? Siapa aja?" Aku memikirkan beberapa nama di kepalaku. "Tania Gunadi, Agnes Mo, salah satu pemerannya Power Rangers, Yoshi siapa tuh--" "Yoshi Sudarso," sahutku. Aku memang suka serial anak-anak itu, sampai aku nggak pernah melewatkannya bahkan yang ada di era sebelum aku lahir. "Ah ya." Brandon menuding-nuding dengan jari telunjuknya. "Dan masih banyak deh kayanya. Duduk di barisan kedua ini aku justru berharap di depan kita ada Tania Gunadi atau Agnes Mo gitu." "Ya kali, Agnes Mo nggak sibuk. Dia itu makin lama makin terkenal di sini," Janice menimbrung meskipun matanya tadi nggak lepas dari area samping kanan panggung. Di sana ada sekumpulan orang dengan kostum adat Indonesia. Aku memberikan isyarat mata pada Brandon tentang Janice. Cowok itu menyandar ke belakang waktu aku memimikkan pertanyaan padanya, "Gebetan dia yang mana?" "Yang kacamataan, rambutnya hitam gaya jabrik jambulnya, dan paling tinggi," Janice menyahut menjawab pertanyaanku. Geli aku jadinya karena cewek ini bisa tahu apa yang aku tanyakan tanpa melihat ke arahku. "Kamu punya telinga tajam atau mata batin atau apa sih? Tadi aku nggak ada suaranya loh." Aku terkekeh heran. "Iya bisa dibilang gitu. Aku indigo juga." Begitu Janice memberikan jawaban itu, aku menelan ludah. Sebelumnya aku cuma tahu orang indigo di TV atau Youtube. Tapi sekarang dia ada di sebelahku. Dari sebelah Janice, wajah Brandon berubah menjadi lebih merah. Aku menjadi heran melihatnya hingga aku memiringkan badanku untuk melihat cowok itu lebih jelas. Waktu dia sadar kuperhatikan, kedua tangannya langsung menutup wajahnya. "Brandon? Kamu ketawa ya?" Aku menebak. Ada yang nggak beres di sini dan aku nggak tahu apa itu. Janice memajukan badannya hingga kedua sikunya bertumpu pada kepala kursi yang ada di depannya. "Pe’a[1] banget," ucapnya sambil memukul Brandon di bagian paha dekat lutut. "Nggak bisa akting memang." Brandon mengerang sebentar tapi kemudian benar-benar tertawa. "Tanggung jawab kamu," ucapnya di sela-sela tawa. "Apaan sih? Aku nggak ngerti. Asli." Jemari tangan kiriku menggaruk-garuk kepala karena bingung. "Indigo apaan? Waktu lampu mati aja takut." Akhirnya Brandon mengungkapkan yang sebenarnya. Jemariku turun ke pelipis dan menggaruknya sekali sambil menyeringai. "Ya ampun. Kalian ngerjain aku. Asli, aku percaya loh. Sampai agak merinding." Kutunjukkan lenganku yang kelihatan kasar karena titik-titik syaraf yang naik ke permukaan. "Kamu juga, kenapa percayaan? Orang tadi aku sempat ngelirik kamu, tapi kamunya sibuk ngomong sambil ngelihatin Brandon intens. Jadinya nggak tahu kan apa yang aku lakuin," Janice melemparkan sindiran padaku dalam canda. Seperti maling celana dalam tetangga yang barusan ketahuan, aku membantah, "Ah, kamu ada-ada aja." Badanku yang tadinya agak miring ke arah Brandon dan Janice kini menghadap ke arah lainnya. Ternyata orang-orang mulai berdatangan. Barisan demi barisan terisi dengan audiens berwajah oriental dan juga bule. Rasanya kagum melihat banyak orang asing yang suka dengan budaya Indonesia. Dulu aku pernah bercita-cita untuk tampil sebagai perwakilan dari Indonesia, memperkenalkan budaya negaraku di depan orang asing. Ada sebuah klub khusus di SMA yang mengakomodir siswa berbakat di bidang seni untuk menyalurkan bakatnya. Tapi keadaan waktu itu tepat di masa perusahaan papa bangkrut. Aku nggak mungkin meninggalkan orang tuaku dalam situasi begitu. Selama sepuluh menit ke depan musik tradisional Indonesia diperdengarkan di pengeras suara. Proyektor juga memancarkan foto-foto anggota organisasi memakai pakaian adat dalam berbagai acara. Kelihatannya asik dan aku berharap bisa lebih aktif ke depannya. Sambil menanti acara mulai, aku bisa menikmati pemandangan menarik ini. Tiba-tiba beberapa orang di barisan belakangku mulai histeris. Ternyata beberapa aktor yang Brandon sebutkan tadi muncul dan berjalan ke kursi depan. Mereka mengambil tempat duduk khusus tamu undangan tapi agak di sebelah barat. Ini juga salah satu hal yang menjadikanku lebih senang lagi. Hanya saja kesenangan itu nggak berlangsung lama waktu aku melihat sosok cowok menyebalkan yang minta tolong aku untuk mengantar ke apartemennya kemarin. Dalam hati aku mengusirnya seperti ayam agar nggak duduk di kursi sebelah timur di mana aku duduk. Namun sialnya dia berbelok ke arah tempatku duduk. Sontak topi di kepalaku langsung kulepas untuk menutupi wajahku. Aku sama sekali nggak mau kalau dia mendapati aku di sini. Parah! Parah! Ngapain jalan ke sini? Ada banyak tempat duduk di barat sana! Hei, pergi sana. Pergi. Aku mengomel dalam hati ketika cowok itu semakin mendekat ke tempatku. Niatku adalah mencuri pandang untuk melihat sudah sampai di mana cowok itu, tapi aku justru langsung terkejut sewaktu dia menjatuhkan pilihan pada kursi di depanku. Dengan gerak reflek aku membungkukkan badanku dan berpura-pura membetulkan tali sepatuku. Dari ratusan atau ribuan kursi di aula ini, kenapa kamu milih kursi ini? Apes, apes. Rencananya aku baru akan menegakkan badan lagi setelah dia duduk. Tapi masalahnya dia justru berdiri mengobrol dengan seseorang sampai aku capek ada di posisi ini. Tapi itu bukan masalah besar sampai Janice berkata, "Eh, Pamela. Kenapa kamu bungkuk selama itu? Ngapain?" Naasnya, suara dia cukup keras untuk didengar dari jarak satu meter. "Aku lagi stretching. Yah olahraga dikit biar nggak ngantuk nanti," balasku sambil berbisik padanya. "Pammie?" Suara cowok yang nggak mau aku dengar membuatku terkejut sampai tenggorokanku tercekat. Aku menggeleng-gelengkan kepala tapi tanpa menegakkan badan. "Maaf, salah orang." Kubuat suaraku agak cempreng ala AKB48 supaya dia nggak mengenali suaraku. Janice menyenggol lenganku. "Pam, kamu kenal sama John Adams?" tanyanya memperburuk keadaan. Aku tetap menggelengkan kepala. "Nggak, nggak kenal," aku membentak dalam bisikan. Kurasakan dua kali sentuhan di kepalaku yang nggak sengaja justru membuatku mengangkat kepala. Sialnya, posisi wajah John sekarang cuma dua puluh sentimeter di depan wajahku. Dalam sekejap syarafku memerintahkan untuk menegakkan badan. Tapi masalahnya justru kepalaku yang akhirnya sedikit menghantam sandaran kursi di depanku itu. Melihatku kesakitan John justru terkekeh-kekeh. Dia memang menyebalkan dan nggak ada pedulinya sama cewek. Kalau saja ini bukan tempat umum, aku sudah menjejalinya dengan kaos kakiku yang belum kucuci selama seminggu sekarang. "Pam, kamu nggak papa?" Brandon ternyata ada di sampingku. Dia bertukar tempat dengan Janice. Tangannya meraih bagian kepalaku yang nyeri. "Eh, agak benjol loh." "Hah?" Aku mendesah terkejut. Jemariku yang menebal akibat bermain gitar memang nggak merasakan benjolan apapun. "Kayanya tadi kena kursi keras banget." Brandon menatapku dengan intens dan entah kenapa rasa nyeri itu justru menjadi agak memudar. "Iya kayanya." "Ya udah, keluar bentar yuk. Mumpung belum mulai juga acaranya. Kita cari es untuk kompres." Tanpa persetujuanku Brandon bangkit dan menggandeng tanganku. "Janice, jagain tempat duduknya ya. Nanti kami balik lagi." Janice mengangguk. Melewati orang-orang yang sudah duduk di barisan yang sama, kami pergi keluar aula. Kepalaku memang agak pusing, jadi aku cukup terbantu untuk tetap seimbang dengan berjalan sambil digandeng Brandon. Kami pergi ke restoran yang ada di gedung ini. Brandon menyuruhku duduk menunggu sementara dia meminta es batu. Semakin lama memang semakin terasa benjolan di ubun-ubunku. Pandanganku juga sedikit buram karena pusing. Alhasil aku merutuki John karena kehadirannya justru membawa kesialan di malam yang seharusnya menyenangkan. Brandon kembali dengan membawa seplastik es batu dan kain. Dia mendekatkan salah satu kursi di dekatku. "Coba pindahin tanganmu dulu," instruksinya yang langsung kuikuti. Selama beberapa waktu dia mengusap-usapkan kantong es itu di bagian yang benjol. Rasanya nggak nyaman. Satu, karena aku justru kelihatan dungu di restoran yang elit. Kedua, karena acara seharusnya sudah mulai dan sekarang kami berdua ada di luar. "Brandon, kamu kan harusnya di dalam untuk lihat penampilan anggota organisasi. Kamu balik aja*" "Udah nggak papa." Brandon memotong perkataanku. "Mana mungkin juga aku tinggalin kamu di sini sendirian?" "Tapi ini salahku. Kalau aja aku bersikap biasa dan tenang karena cowok itu, aku nggak akan bikin masalah." Aku merasa menyesal. Seharusnya aku nggak perlu terlalu memikirkan kehadiran John dan bersikap cuek saja seperti biasanya. Bibir Brandon membentuk garis lurus di wajahnya sebelum dia bertanya, "Emangnya ada apa di antara kamu sama dia, sampai kamu kaya gitu tadi?" Aku menghela napas singkat. "Panjang ceritanya," jawabku asal meskipun ceritanya nggak sepanjang itu. Aku cuma malas untuk bercerita di kondisiku yang seperti ini. "Coba aja cerita. Aku bakalan sabar dengerin," katanya. "Man. Lo beneran nggak ngerti apa gimana sih? Maksud dia tuh, dia lagi nggak mau cerita." Pemilik suara penyebab benjolan di kepalaku muncul. Mataku melirik tajam pada John yang berdiri di antara aku dan Brandon. Aku mengembuskan napas cukup keras, menandakan ketidakinginanku untuk menanti apa yang akan terjadi setelah ini. [MB] Keterangan: [1] Bodoh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD