(03) John : Obrolan Kampret

1702 Words
Puas banget rasanya gue mengerjai Pamela. Bisa-bisanya dia percaya sama omongan gue. Jelas saja nggak membawa HP atau dompet itu kelalaian terbesar dalam hidup. Gue sama sekali nggak akan pernah melakukannya. Tapi seenggaknya gue jadi merasa terhibur sama kepolosan, atau mungkin lebih tepatnya, kebodohan dia. Dasar, ngatain gue t***l tapi dia sendiri gitu. Sewaktu asik duduk di balkon menikmati makan siang yang gue beli spontan sama Pamela tadi, ada panggilan masuk dari Daddy. Gue ragu untuk menjawab karena pasti yang diobrolkan itu-itu saja. Bosan rasanya gue mendengarkan permintaan Daddy untuk meneruskan perusahaan dia yang sama sekali nggak nyambung sama passion gue di industri hiburan. Tapi kalau gue nggak jawab, yang ada Daddy mengirim sekretarisnya yang rese itu untuk mengganggu gue di sini. "Ya, Dad. Udah malem di sana kok belum tidur sih? Nggak baik buat kesehatan loh. John di sini lagi sibuk kerja juga, jadi nggak bisa ngobrol panjang-panjang," kata gue berusaha untuk menghindari obrolan sama Daddy. Tapi yang namanya Russell Adams, Daddy gue yang suka banget bicara dalam bahasa Indonesia ketimbang Inggris, nggak bisa dibantah kalau sudah punya kemauan. Sembari makan gue lagi-lagi mendengarkan dengan sabar ceramah yang sama; tentang gue harus jadi penerus perusahaan. "Dad, Dad. Coba dengerin John ya. Sekali ini aja tolong percaya. Kasih John enam bulan untuk buktiin kalau John bisa sukses di dunia yang John minati. Lagian John nggak mau perusahaan Daddy yang udah gede dan stabil itu jadi berantakan gara-gara John." Belum cukup. Itu kata Daddy. Gue harus punya istri di usia gue yang masih dua puluh sembilan tahun ini untuk membuktikan keseriusan gue sama kehidupan. Faktanya Daddy itu dari Amerika, yang mana konsep kebebasan itu berasal. Tapi herannya, sifatnya dia justru sekolot orang tua di Indonesia kebanyakan. "Nggak bisa gitu dong, Dad. John itu anak masa kini, bukan masa lampau," gue membantah keinginan Daddy seketika itu juga. "Nggak mau lah masih semuda ini nikah." Sayangnya tingkat kengeyelan Daddy belum bisa gue saingi. Dia nggak memberi gue pilihan sama sekali. Anj*. Hampir gue mengatai Daddy gue sendiri. Walaupun hanya di pikiran, gue tetap bisa kualat. Karma does exist. "Ya, yang penting Daddy bener-bener jangan kekang John selama enam bulan ini. John bakalan menikah dan sukses di kerjaan John sebagai model. Tapi Daddy harus sportif ya. Kalau John berhasil, jangan paksa John jadi penerus perusahaan. Mending Trevor aja dididik mulai sekarang." Gue menjadikan adik gue yang tengil itu sebagai tameng sebagai gantinya. Dia selalu mengerjai gue setiap kali ada pertemuan keluarga. Ini saatnya melakukan pembalasan. "Daddy nggak tahu kan dia itu kepingin banget jadi penerus Daddy?" Gue menambah-nambahi. Dengan berat hati, akhirnya Daddy percaya sama gue. Memang sebagai anak pertama, gue diharapkan untuk meneruskan perusahaan. Tapi masalahnya, gue nggak terlahir untuk punya otak seencer Daddy atau Trevor yang tengil tapi nomor satu dalam urusan akademis. Gue lebih seperti Mommy yang stylish. Sayangnya, Daddy nggak suka sama industri ini sampai Mommy harus merelakan karirnya dulu sebagai model profesional. Berakhirnya obrolan gue sama Daddy adalah mulainya badai di pikiran gue. Hidup di Amerika bersaing dengan model lain yang lebih profesional sendiri sudah menyulitkan, apalagi ditambah diminta menikah. Selama ini hampir semua cewek yang gue temui itu matre. Gue paham banget banyak dari mereka mendekati gue karena gue punya tampang dan duit. Walaupun gue dinilai serampangan sama orang-orang, tapi gue punya prinsip. Seenggaknya itu satu watak berharga yang Daddy turunkan ke gue. Untuk masalah pasangan hidup, gue nggak pernah mau main-main. Gue punya contoh hidup yang baik yaitu Daddy sama Mommy. Bahkan gue bercita-cita untuk lebih baik dari Daddy sebagai suami dengan nggak membatasi apa yang istri gue nanti mau tekuni. Baru aja gue menaruh HP di meja, udah ada suara notifikasi pesan masuk. Waktu gue melirik ke pengirimnya, nama sahabat gue tercetak tebal di layar. | Daniel Geblek | Gue di luar pintu. Buka. Cowok yang satu ini memang sudah mirip tunawisma. Kerjaannya setiap hari adalah mampir ke apartemen gue. Padahal rumahnya ada di daerah Pittsburgh atas yang hanya dua puluh menit jaraknya dari pusat kota. Waktu gue membukakan pintu untuk dia, yang gue lihat pertama kali adalah Daniel sedang bergandengan dengan Chania. "Ngapain dateng sama dia? Gue kan bilang cewek nggak boleh masuk ke apartemen gue." Gue memprotes karena cowok ini jarang bisa mendengarkan setiap perkataan gue. Chania berpaling ke pacarnya. "Babe, John lagi PMS kali ya?" sindirnya. "Iya kayanya. Padahal kita datang dalam damai ya kan?" Daniel mengerjap-ngerjapkan matanya aneh. "Kampret lo pada. Pokoknya sekali nggak boleh tetep nggak boleh," sahut gue bersikeras. Mungkin gue boleh kalah di depan Daddy, tapi gue nggak pernah akan kalah di depan orang lain. "Kita ngobrol aja di lounge." Tangan gue sigap mengambil kartu kunci dari tempatnya dan gue menutup pintu apartemen. Mereka sama sekali nggak bisa membantah gue, sekali gue menunjukkan ketegasan. Akhirnya, mereka mengekor dari belakang dengan gue yang lebih dulu berjalan memimpin mereka ke lounge terdekat. Gue duduk di sofa sebelah sini dan mereka berdua di sebelah kanan. Seperti biasa mereka selalu menunjukkan kemesraan tanpa malu-malu di depan gue. Sikap Daniel yang liberal khas anak masa kini Amerika nggak membuat gue heran, tapi Chania yang dulu sopan banget di awal sudah berubah liar semenjak pacaran dengan Daniel. Pengaruh sahabat gue ini memang besar banget. Untung saja mereka nggak lari ke narkoba atau rokok. "Ya udah, bilang aja mau apa lo kesini berdua?" tanya gue nggak sabaran. "Come on, man. Didatengin sama sahabat kok nggak ramah gitu sih lo?" Daniel berkomentar. Gue langsung berdecak. "Masalahnya lo dateng tiap hari. Dan kali ini lo langgar dengan bawa cewek. Belum lagi lo ganggu jam makan siang gue," jelas gue tanpa menutupi apapun. Daniel menurunkan tangannya yang dari tadi melingkar di bahu pacarnya. Posisinya berubah jadi perhatian sama gue. "John, kita nggak temenan setahun dua tahun doang. Kita udah lima belas tahun temenan. Lo bahkan tinggal sekamar sama gue lima tahun di awal lo dateng ke sini." Dia udah mulai khotbah. "Lo ada masalah apa? Apa lo barusan telponan sama bokap lagi?" Dalam hal ini gue memang nggak bisa memungkiri kalau Daniel memang memahami gue luar dalam. Kami sudah berteman sejak dia masih jadi tetangga gue. Waktu orang tua dia pindah ke Amerika, gue ditawari untuk lanjut sekolah di Amerika dan disetujui sama Daddy. Awalnya karena gue diharapkan sekolah bisnis dan terusin perusahaan itu. Tapi akhirnya gue menemukan passion gue dan sempat melewati beberapa waktu bentrok sama Daddy. Daniel yang berjasa besar sampai gue bisa ambil kuliah sesuai minat dan meneruskan ke karir di bidang yang gue geluti ini. "Omongan lo jadi kenyataan, Cha." Gue ingat candaan dia di malam ulang tahunnya. "Gue beneran disuruh nikah sebagai bukti gue serius sama kerjaan." Daniel sama Chania langsung menertawai gue. Dang it[1] Gue diketawain. "Katanya kalo gue nggak nikah, gue dianggap main-main di kerjaan dan harus balik Indonesia untuk jadi penerus bokap. Padahal dia nggak tahu kalo gue serius sama kerjaan dan nggak urus cewek malah," lanjut gue sambil menggaruk-garuk kepala tanda gusar. "Yah lo juga salah sih, John. Foto lo sama cewek-cewek di bar itu kan ada di i********:," Chania berpendapat. "Mereka yang foto dan tag gue. Bukannya gue yang foto dan post di i********:. Sebagai selebriti yang dilihat orang banyak, nggak mungkin gue tunjukin kalo gue marah-marah dong. Bisa turun reputasi yang udah gue bangun lumayan tinggi. Buktinya lo berdua jadi bisa ikutan manjat kan?" Gue melempar balik tuduhan ke dua orang yang duduk santai di dekat gue ini. Mereka langsung ketawa ketiwi, nggak menyangkal kalau mereka memang panjat sosial lewat ketenaran gue. Chania sama Daniel sering membagikan foto waktu kami lagi jalan bareng. Itulah kenapa banyak pengikut i********: gue jadi pengikut mereka juga. "Sekarang gue bingung. Mau gimana coba urus masalah nikah ini?" Gue meremas rambut dan bersandar di kepala sofa. Pandangan mata gue tertuju ke langit-langit. "Udah pasti banyak cewek yang mau terima kalau gue minta mereka nikah sama gue. Tapi masalahnya gue yang nggak mau. Pernikahan buat gue tuh sakral. Belum lagi kalo ternyata cewek itu posesif, terus suka shopping dan akhirnya buang-buang duit yang gue udah kumpulin susah-susah. Kiamat tingkat akhir itu." Daniel memperdengarkan desahan sambil bersandar ke sofa. "Gitu aja susah mikirnya, John." "Ya susah lah. Ini masalah masa depan gue yang berharga. Reputasi keluarga Adams." Gue memang bangga menyandang nama Adams sebagai nama belakang. Mau nggak mau perusahaan Daddy sudah membuat nama ini dikenal, nggak cuma di Indonesia tapi di Asia. Belum lagi sejarah Mommy yang dulu pernah jadi model juga pasti terlibat di sini. Tapi yang paling penting dari semuanya itu adalah keharmonisan keluarga gue yang terjaga sampai sekarang. "Maksud gue bukan gitu," sanggah Daniel. "Jangan bilang lo lupa sama cewek kemarin malem. Dia kan nggak tertarik sama lo." "Oh iya bener tuh," Chania ikut berkomentar. "Yang gue denger dari temen dia, yang kebetulan temen kuliah gue, Pamela itu orangnya gigih banget dalam kehidupan. Cuma kekurangan dia, katanya sih, cuek dan nyablak." Dahi gue langsung berkerut waktu denger kata terakhir itu. "Nyablak? Apa tuh?" "Lo udah di sini waktu kata itu keluar di Indonesia kali ya?" Chania terkekeh. "Nyablak itu artinya asal ngomong. Semprot sana, semprot sini." Begitu denger penjelasan dia, gue setuju banget. "Ngerti gue. Emang dia gitu," sahut gue sambil mengangguk-angguk. "Gaya lo, John. Ketemu baru juga semalem," Daniel berkomentar. "Siapa bilang?" Gue langsung menyahut. "Orang sebelum kalian dateng ke ini tuh gue justru baru pulang dianterin dia." Daniel sama Chania langsung bertukar pandang dan kelihatan terkejut. Mereka tertawa nggak percaya sama ucapan gue. "Ye, lo kira gue bercanda?" "Enggak," Chania buru-buru memotong. "Kita itu justru heran. Baru semalem ketemu, hari ini udah ketemu lagi. Padahal Pittsburgh nggak sempit. Jodoh tuh. Ya nggak, Babe?" Daniel mencondongkan badannya ke gue dan tepuk bahu gue. "Gue dukung lo sama Pamela, John. Take it, or leave it[2], brother." "Kampret lo," komentar gue yang langsung berdiri. "Bukannya dicariin jalan keluar malah kasih ide aneh. Udah lo sana pergi. Gue udah laper. Nggak mau lo gangguin, apapun alasan lo dateng temuin gue tadi." Daniel sama Chania nggak ada celah sama sekali untuk meneruskan maksud mereka ketemu gue. Gue jadi sudah terlalu kesal gue gara-gara mereka. Mungkin perut gue yang masih kosong ini menambahi emosi yang sudah ada. Lebih baik gue makan dulu sebelum memanggil Daniel lagi nanti sore. [MB] Keterangan: [1] Sialan [2] Ambil atau buang kesempatan ini
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD