(02) John : Kesempatan Dalam Kesempitan

1599 Words
Sialan! Gue mengumpat dalam hati waktu masker yang gue pakai jatuh ke jalan dan diterpa angin. Padahal niat hati cuma mau membetulkan posisi kacamata. Parahnya lagi, identitas gue langsung ketahuan sama tiga orang cewek yang ternyata fans gue. Kenapa mereka harus muncul di waktu yang nggak tepat? Mereka meneriakkan nama gue dan sudah pasti karena mau minta foto. Masalahnya sekarang ini gue lagi nggak mau difoto. Jerawat gue muncul besar pagi ini dan nggak mungkin gue biarin wajah rupawan ini tertangkap kamera dalam keadaan begini. Sesaat gue menyesal makan banyak kacang gara-gara dibuat kesal sama taruhan semalam. Rasanya apes banget dikejar-kejar fans sebegininya. Dari pojokan jalan Fifth Avenue sampai sejauh ini mereka masih mengikuti gue. Dari jalan cepat sampai agak berlari gue coba untuk menghindari mereka. Sayangnya mereka gigih banget dan sampai sekarang nggak berhenti mengejar gue. Mungkin harusnya mereka dikasih penghargaan 'Fans Tergigih'. Gue sudah lumayan capek sekarang. Pokoknya gue perlu cari cara supaya bisa terluput dari pandangan mereka. Dalam hati gue berharap supaya Tuhan kasih gue jalan keluar. Seperti jawaban doa kilat, gue lihat sosok cewek lawan taruhan gue keluar dari Starbucks. Dengan ide spontan yang muncul di kepala, gue langsung berlari untuk menghampiri dia. Buset, tuh cewek jalan cepet amat sih? Gue mempercepat langkah supaya bisa mendekati dia. Tapi cewek pendek itu ternyata memang jalan secepat rusa. Alhasil, gue berlari dan langsung mengikat pinggang dia dengan lengan gue. "What are you*" "Please bantuin gue. Jalan terus aja dan gue nanti jelasin pas kita berhenti." Gue memotong ucapan dia supaya nggak sampai berteriak. Yang bikin gue heran, ternyata dia mau mengikuti permintaan gue. Dengan jalan beriringan begini, kami berdua sudah mirip dua orang kekasih yang lagi dikejar sama rentenir. Langkah kaki kami cepat banget melewati kerumunan yang ada. Gue sama sekali nggak menoleh ke belakang supaya wajah gue nggak ketahuan. Tapi sehabis jalan cukup jauh, kami belok ke area salah satu gedung di sebelah kanan untuk bersembunyi. Gue mengajak cewek ini berhenti di sana, sambil menengok kanan dan kiri. Setelah memastikan bahwa mereka sudah melewati posisi gue. akhirnya gue bernapas lega. "Woi, bisa lepasin aku sekarang?" Cewek itu membentak gue dengan suaranya yang tipis. Tanpa ragu gue langsung menurunkan tangan dari pinggang dia. "Gue ada di sebelah lo. Nggak perlu teriak kali," balas gue sedikit membentak juga. "Ya nggak usah balas nyolot juga sih," dia membalas kembali. Matanya melotot dan alisnya menyatu. "Sekarang kamu harus jelasin apa yang kamu barusan lakuin. Sejelas-jelasnya. Apalagi sampai bikin Green Tea Latte-ku tumpah-tumpah di jalan." Dia menunjukkan gelas Starbucks-nya yang tinggal setengah isinya. "Gue nanti beliin lo satu truk isinya Green Tea Latte semua. Tenang aja," kata gue kesal. Bisa-bisanya dia marah cuma gara-gara minuman tumpah. Tangan cewek itu terlipat di depan d**a. "Oke. Aku tunggu kamu lakuin itu." Dia seolah nggak peduli kalau perkataan gue barusan itu klise. "Sekarang cepetan kamu bilang sama aku alasannya." Gue berdehem sebelum angkat bicara. "Gue dikejar-kejar fans." "Dikejar-kejar karena kamu lari. Kenapa nggak diladenin aja? Palingan minta foto doang kan?" "Karena ini." Jari telunjuk gue mengarah ke bintik merah yang lumayan besar di pipi kanan gue. "Nggak bisa noda gini dilihat sama fans gue. Selama ini mereka kenal John Adams, brand ambassador produk krim wajah pria, yang wajahnya oke. Ya kali gue biarin mereka lihat ini." Cewek itu berdecak sambil menggeleng-geleng kepala. "Kamu tuh masih manusia, John. Jerawat itu tanda kehidupan. Normal kalau kamu masih muncul jerawatnya," ucapnya santai. "Eh, itu kan lo. Rakyat jelata. Beda dari gue yang memang seleb." Gue nggak terima begitu saja karena dia menganggap remeh noda yang untuk gue sebuah pencemaran nama baik ini. Suara desisan seperti mengusir ayam keluar dari mulutnya. "Pertama, namaku Pamela, bukan 'eh'. Kedua, rakyat jelata ini punya otak encer dan karena itu dapet beasiswa penuh dari Fulbright, ngalahin sekian banyak orang di seluruh dunia. Jangan asal anggap enteng orang lain bisa nggak sih?" Nggak disangka mulutnya itu mengeluarkan banyak kata. Gue memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana sambil mendengus diiringi tawa. "Songong juga lo, Pammie," komentar gue. "Biasanya tuh orang pinter nggak ngaku pinter. Rendah hati aja gitu." "Biasanya orang ganteng mah ganteng aja. Nggak peduli ada jerawatnya," dia kembali membalas gue tanpa membiarkan adanya celah. "Ngajak perang nih anak." Pandangan mata gue menyorot ke dia, diiringi sudut bibir kiri naik ke atas. "Inget ya. Waktu lo itu satu bulan untuk nemuin cowok dengan kriteria yang lo bilang kemarin malem. Kalo nggak, lo kalah dan harus nikah sama gue. Ngerti nggak lo?" Pamela melemparkan lirikan tajam dan singkat ke gue sebelum dia jalan pergi begitu saja. Sebagai selebriti yang dihormati dan dielu-elukan sama banyak fans, gue merasa cukup terhina. Gue kejar dia dengan langkah yang cepat dan lebar. Lalu dengan satu tangan, gue menahan badannya sampai dia berhenti berjalan. "Ngapain lagi sih? Kan aku udah bantu. Jadi nggak ada urusan lagi kan kita?" Pamela menatap gue kesal. Bibirnya yang tebal di bagian bawah agak maju mengindikasikan emosi. Kalau gue bilang bahwa gue merasa terhina ditinggal pergi begitu aja, nantinya dia akan kasih balasan tajam yang menjatuhkan martabat gue. Jelas banget dari awal bagaimana karakter dia yang sebenarnya. "Gue masih butuh bantuan lo," ucap gue asal. "Bantuan apa lagi sih? Bukannya fans kamu udah pada pergi ya?" "Nggak. Mereka bisa balik kapan aja karena gue nggak pakai masker. Jadi gue butuh lo sebagai tameng kalau-kalau mereka muncul." Alibi yang sempurna muncul di otak gue. Memang gue hebat dari lahir sih. Pamela memalingkan wajah gue ke arah jalanan dimana orang-orang berlalu lalang. "Tuh banyak orang yang bisa kamu mintain tolong. Sana pilih salah satu," katanya. Cepat-cepat gue berpaling ke arah cewek yang tingginya sebahu gue ini. "Lo gila ya? Nanti kalau fans gue yang lain lewat, terus kejar gue juga gimana?" Gue langsung membetulkan kerudung hoodie gue supaya bisa lebih menutupi wajah gue dari samping. "Bodo amat." Pamela lanjut berjalan tapi gue sekali lagi menahan dia. "Gue nanti kirim lo balik pakai taksi ke apartemen lo." Pamela bergeming. "Gue juga beneran bakalan kirim Green Tea Latte sebanyak yang lo mau sebagai gantinya." Begitu gue menyebutkan tawaran ini, Pamela kelihatan goyah. Kelihatan banget cewek ini suka minuman nggak enak itu. Aneh, tapi ternyata menguntungkan juga. Setelah beberapa detik situasi hening, Pamela akhirnya angkat suara. "Terus aku harus gimana? Nolongin kamu gimana?" tanyanya. "Temenin gue jalan ke apartemen The Bridge on Forbes," pinta gue tanpa berpikir. "HAH?! Itu kan berlawanan sama posisi kita sekarang dan tambah jauh dari apartemen aku," sergahnya. "Nggak mau. Capek tahu jalan. Kenapa nggak pesen taksi aja sih?" Gue nggak berpikir sejauh itu gara-gara panik. Jelas sekali gue bisa memesan taksi untuk kembali ke apartemen. Tapi kenapa rasanya mengerjai Pamela lebih asik daripada naik taksi dan sampai begitu aja? Kesempatan begini nggak datang dua kali dan gue harus pakai sebaik-baiknya. "Gue nggak bawa HP." Dengan asal gue mengeluarkan alibi. "Ya udah aku yang pesenin." Pamela langsung mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Harus cari alasan lain nih. "Gue nggak bawa dompet juga. Dan gue perlu berhenti ke restoran Korea di jalan Semple dulu untuk ambil pesenan gue. Jadi lo yang bayarin ya taksinya ya," sahut gue dengan serentetan alibi terbaik yang bisa gue pakai. "Wong edan[1]," ucapnya pakai bahasa Jawa yang gue nggak paham maksudnya. "Ngomong apa lo barusan?" Alis Pamela naik sebelah, nggak peduli sama pertanyaan gue. "Jalan sekarang, atau aku tinggal." Dia nggak menunggu gue, dan langsung ngacir begitu aja. Secepat kilat gue peluk dia lagi seperti yang sebelumnya tapi naasnya langsung disambut sama tamparan keras di punggung tangan gue. "Aw! Kasar banget sih lo?!" komentar gue kesal sambil mengelus-elus tangan gue yang sudah lepas dari pinggang dia. "Ngapain peluk-peluk segala? Jalan biasa aja kenapa? Kan fans tadi udah nggak ada," katanya. Tangan Pamela mendorong gue menjauh dari dia. "Lo cewek apa badak sih? Badan kecil tapi kekuatan gede." Gue berjalan menyusul di sebelah dia karena dia sama sekali nggak berhenti untuk bicara dulu. Sejenak ada keheningan. Pamela nggak bicara apa-apa. Entah kenapa gue jadi merasa gelisah kalau perkataan gue tadi menyinggung dia. Waktu gue hampir bicara lagi, cewek itu tiba-tiba mengeluarkan suara tawa kecil tapi ditahan. "Eh? Kok lo ketawa sih?" Gue menjadi heran karena itu. Pamela masih diam tapi tangannya menahan mulutnya dari tertawa. "Woi, nakutin amat lo tiba-tiba ketawa sendiri. Kesurupan?" Gue penasaran sampai melangkah lebih cepat dan lihat wajah dia yang sudah memerah. "Ngomong nggak ke gue lo lagi ketawa karena apa? Jangan-jangan lo lagi ledek gue dalam hati ya?" Cewek itu justru menggeleng-geleng. "Kamu tuh tamat nggak sih sekolahnya? Apa cuma sampai SD doang?" "Maksud lo? Ya tamat lah. Gue itu punya gelar Bachelor of Arts," sahut gue nggak terima dikatai begitu. "Habisnya kamu agak t***l gitu. Mana ada analogi badak, dicampur sama kecil tapi kekuatan gede? Yang ada badak itu badannya gendut. Kamu kan bisa pilih tongkat bisbol kek," dia memberitahu alasan di balik tawanya. Memang Pamela ada benarnya, tapi gue jelas nggak mau dianggap t***l seperti yang dia bilang. "M-maksud gue itu pakai badak yang kekuatannya doang. Nggak ngarah ke ukurannya," gue cepat-cepat membela diri. "Hm, ya ya." Pamela menyahut nggak percaya. "Pammie, gue ngomong beneran. Lo nggak bisa sebut gue t***l gitu. Nggak berdasar omongan lo tadi." Gue masih mencoba membela diri karena cewek ini meremehkan gue. "Iya, iya. Kamu nggak t***l. Percaya, percaya." Gue jadi kesel karena dia nggak percaya sama gue. Tapi kalau gue ngambek sama dia, dia bakalan balik ngambek dan nggak mau temenin gue sampai apartemen. Alhasil, gue diem aja dan jalan terus sambil menikmati udara sejuk ini. [MB] Keterangan: [1] Orang gila [2] Sarjana seni yang melingkupi banyak bidang tidak hanya seni tetapi juga Komunikasi, Pemasaran, Psikologi, Hubungan Internasional dan lain sebagainya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD