(08) Pamela : Berita Menyesakkan

1696 Words
Aku ketiduran. Saat mataku terbuka lagi, hari sudah pagi. Di sampingku Chania tertidur pulas sekali. Gadis cantik seperti dia ternyata bisa mendengkur keras juga. Untung saja aku bukan tipe orang yang bisa mudah terganggu dengan suara berisik hingga tidurku terasa nyenyak sekali. Kepalaku pun sudah terasa lebih baik. Ketika aku beranjak dari kasur, tinggal sisa sedikit rasa pusing di satu titik bekas benjolan semalam. Bersyukur Tuhan memberiku kekuatan ekstra untuk sel-sel pemulihan tubuhku bekerja dengan baik. Nongkrong di kamar mandi, cuci muka, sikat gigi, dan berendam di bathtub menghabiskan waktu tiga puluh menit. Sampai selama itupun Chania belum bangun. Mungkin semalam dia begadang dengan Daniel dan John. Di dalam lemari es kecil di sudut ruangan, aku masih punya satu bungkus roti tawar dan selai blueberry. s**u kotak pun masih ada setengah. Kuambil semuanya dan kubuat sarapan pagi untukku. Meskipun porsi ini nggak banyak, aku sudah terbiasa untuk makan secukupnya. Perutku nggak nakal meminta makan lebih sejak kulatih selama tiga bulan di awal kedatanganku di sini. Suatu kali nanti, saat papa dan mama bertemu aku lagi, mereka pasti akan terkejut karena aku benar-benar menjadi berbeda. Kalau dulu aku masih lumayan malas sekadar untuk membuat sarapan sendiri, sekarang segala sesuatu bisa kulakukan demi bertahan hidup. Inilah yang orang-orang sering sebut dengan The Power of 'Kepepet'. Sesuatu di atas meja membuat getaran beberapa kali. Melihat tasku, aku langsung tahu bahwa pasti ada panggilan masuk. Kuambil HP-ku dan nama mama tertera di layar. Aku tersenyum sangat lebar. "Mama!" sapaku riang. "Apa kabar?" Namun yang kudengar di ujung telepon bukanlah sapaan balik yang riang melainkan tangisan. Dengan terbata-bata mama menjelaskan masalah yang nggak pernah kusangka akan terjadi. Papa jatuh sakit dan sekarang dirawat intensif di rumah sakit. Seluruh saraf tubuhku langsung melemas hingga aku merosot terduduk di lantai. Aku terus mendengarkan penjelasan mama tentang kronologi kejadian dimana papa pingsan. Ternyata keluarga besar mamalah yang turut andil dalam insiden ini. Entah bagaimana lengkapnya, yang pasti mereka membawa-bawa kebangkrutan papa beberapa tahun lalu. Mama bukan tipe orang yang mau membiarkanku tahu masalah keluarga, sebesar apapun itu. Tetapi kalau mama sampai mengabariku tentang sebuah masalah, artinya keadaan sedang genting. Jelas sekali mama nggak tahan untuk menyimpan hal ini sendiri. Aku nggak bisa tenang. Selera makanku juga hilang seketika. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah pulang ke Indonesia. Aku ingin memastikan kalau papa baik-baik saja. Tapi mama yang sudah sedih dengan situasi ini nggak boleh jadi lebih terpuruk karena aku. Karena itu aku menjaga diri agar tetap tegar sampai panggilan berakhir. Rasa sakit di kepalaku yang tadinya sudah berangsur-angsur hilang kini kembali lagi. Belum lagi ditambah dengan sesak di d**a. Tanpa bisa dibendung air mataku mengalir begitu deras. Bahkan aku nggak peduli kalau aku nggak sendirian. "Pam, Pam, lo kenapa?" Ternyata Chania terbangun, mungkin tangisanku adalah penyebabnya. Dia turun dari ranjang dan tangannya menyentuh kedua bahuku. "Kepala lo masih sakit?" Aku mengangguk tanpa kata terucap. "Ya udah, gue telepon Daniel sekarang. Kita ke dokter ya," sahut Chania lalu bangkit berdiri. Ia meninggalkan aku untuk mengambil HP-nya. "Cha ...," ucapku karena berat untuk menyelesaikannya. "Iya, iya. Tunggu," sahut Chania. Dia menempelkan HP-nya di telinga sambil mondar-mandir ke sana ke sini. "Cha, yang butuh dokter bukan aku." Kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Isakan tangisku semakin menjadi. Chania ternganga lalu berjalan mendekatiku dan berjongkok di depanku. "Maksud lo apa? Kan lo yang sakit," katanya. Karena sudah nggak tahan lagi, kuluapkan emosiku dalam tangisan yang keras. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan. Bisa saja aku mengambil sebagian tabungan yang sengaja kusimpan untuk masa pensiun papa dan mama untuk pulang ke Indonesia. Kemudian sisa yang ada bisa dipakai tambahan uang pengobatan. Tapi masalahnya nggak akan semudah itu. Sebagai mahasiswa penerima beasiswa penuh dari Fulbright, aku nggak bisa semudah ini keluar masuk Amerika. Ada beberapa prosedur yang harus aku lewati karena pastinya aku nggak akan langsung kembali ke sini. Seenggaknya aku akan menghabiskan beberapa bulan untuk menemani mama dan merawat papa. Apa lagi ini masih dua bulan sebelum winter break[1] datang. "Dan, Dan cepet ke apartemennya Pamela. Lo sama John ya. Nggak usah tanya kenapa," Chania memerintah pacarnya lalu mengakhiri panggilan. "Pam, gimana? Lo sakit banget?" Chania bertanya lagi. "Bukan aku yang sakit, Cha," kataku lemas. Rasanya hampir nggak ada daya lagi bagiku untuk memproduksi air mata. "Tapi lo tadi ngangguk waktu gue tanyain." "Papa. Papa aku, Cha." Kutundukkan kepalaku setelah menyebutkan alasan yang sebenarnya. "Dia masuk rumah sakit. Dan… dan aku takut papa kenapa-kenapa." Sentuhan tangan Chania membawaku masuk ke dalam dekapannya. "Kita berdoa aja semua baik-baik aja sama papa lo ya," katanya berusaha menenangkanku. "Gue emang nggak tahu apa yang sebenernya terjadi, tapi kalau kita berdoa sungguh-sungguh, Tuhan bakalan tolong kok." Aku mengangguk-angguk, sangat mau mempercayai perkataan itu. Dalam hati aku menjerit pada Tuhan agar menjaga papaku dan menyembuhkannya. Papa adalah bagian hidupku yang terpenting, seperti mama. Aku masih ingin agar dia melihatku menyandang gelar magister internasional di bidang pendidikan bahasa Inggris. Cita-citaku untuk membawa mereka tinggal di sini juga belum kesampaian. Chania membawaku untuk duduk di ranjang. Aku pun berbaring lalu meringkuk sementara dia duduk di sisiku. Tangannya menepuk-nepuk lenganku seperti menghibur anak kecil yang menangis. "Pam, sarapan lo belum abis. Mau dimakan dulu?" tanyanya. "Jangan sampai lemes. Pasti papa mama lo juga nggak mau lo sakit kan?" Mereka jelas nggak mau aku sakit, tapi sekarang selera makanku benar-benar lenyap. Aku mau pulang ke Indonesia sekarang. Nggak punya kuasa untuk membuatku makan, akhirnya Chania hanya menemaniku. Entah beberapa lama kemudian ketukan di pintu terdengar. Chania beranjak dari ranjang dan membukakan pintu. Dua orang cowok familiar masuk, tapi aku enggan melihat ke arah mereka. Terlebih lagi karena wajahku sudah seperti Valak[2]. Mengerikan. "Pammie." Jelas pemilik suara itu adalah John. Nggak ada yang pernah menyebut namaku seperti itu. "Kepala lo sakit banget?" Dia berjongkok di depanku. Aku menggeleng sekali saja. "Ya udah. Lo bangun dulu," katanya. "Nggak mau." "Kalo lo nggak mau, gue nikahin lo sekarang." Ancaman John benar-benar nggak jelas dan nggak berprikemanusiaan. Justru karena itulah aku semakin nggak mau mengikuti kemauannya. "Parah lo, John." Chania yang memprotes karena tahu apa yang terjadi. "Papanya Pamela tuh masuk rumah sakit." Dia yang mewakiliku untuk memberitahu. John bangkit berdiri lalu duduk di pinggiran kasur dekat kakiku. Berat tubuhnya membuat kakiku miring ke arahnya. Helaan napasnya terdengar. "Lo … nggak bisa pulang ke Indonesia?" tanyanya. Mereka orang-orang asing bagiku, mana mungkin aku bisa menceritakan yang sesungguhnya? Di dalam kamusku nggak ada yang namanya merepotkan orang lain. Selain tengsin, orang tuaku juga sudah mendidikku untuk bertindak mandiri. "Kalo lo nggak ada duit, pakai duit gue aja." Perkataan John terdengar begitu enteng diucapkannya. Mungkin uang tiket ke Indonesia seperti uang jajannya saja. "John!" Chania menegur John dengan suara rendah. "Nggak ngerti situasi aja lo." Kedatangan John dan segala perkataannya membuatku kesal. Alhasil aku bangun dari posisiku berbaring dan terduduk sambil menatapnya sayu. "Aku ada uang untuk pulang ke Indonesia, tapi aku harus urus ini itu dulu. Aku penerima beasiswa penuh Fulbright," jelasku nggak sabaran disertai emosi. "Sesulit apa prosedurnya sampai lo lemes kaya gini, padahal belum coba ajuin ke penyelenggaranya?" Ucapan John menohok sekali. Memang benar aku belum menghubungi mereka. Berita mengejutkan dari mama seketika mengambil akal sehatku sampai aku nggak bisa berpikir jernih. "Lo mau gue yang teleponin mereka?" John menawarkan diri. Aku menghela napas panjang. "Nggak usah. Aku aja," aku menolak tawarannya sambil menggeleng. "Cha, boleh minta tolong?" Tanganku menunjuk mengisyaratkan Chania agar mengambilkan HP-ku. Dengan sigap Chania memberikan benda persegi milikku itu dari meja. Aku mengambilnya dan menekan nomor yang sudah tersimpan di kontakku. Kutelpon penanggungjawabku yang biasanya mengurus segala sesuatunya dari awal untukku. "Hi, Emily. Ada waktu?" aku menyapa wanita yang lahir di Indonesia tapi sudah berkewarganegaraan Amerika Serikat. "Iya. Aku mau beritahu kalau papaku masuk rumah sakit dan aku perlu pulang ke Indonesia. Gimana ya prosedurnya? Ini keadaan genting banget soalnya." Emily menanggapiku dengan baik dan bersedia membantuku. Katanya karena aku bukan mahasiswa S1, aku bebas mengambil waktu kapanpun untuk meninggalkan Amerika asalkan aku menjamin bahwa studiku bisa selesai tepat waktu. Begitu lega rasanya hatiku mendengar penjelasan ini. "Makasih banyak, Em. Bantuanmu berarti banget untuk aku. I'll keep you updated[3]." Dengan itu panggilan kuakhiri. Aku juga tersadar akan ucapan John sebelumnya dan merasa malu. Sementara Chania duduk di kasur sebelah kanan, Daniel duduk di kursi yang ada di dekat meja belajarku. Mereka memandangku sambil tersenyum. "Lo mau pesen tiket pesawat sekarang? Gue bisa bantu." Chania menawarkan bantuan. "Sementara itu lo bisa beres-beres." "Boleh, Cha. Makasih banget," sahutku. Ini adalah salah satu hal yang membuatku kembali nggak akan pernah bisa berhenti bersyukur. Tuhan mempertemukan aku dengan mereka di waktu yang benar-benar tepat. Siapa yang sangka masa ini akan datang? "Eh, John. Kan semalem Mommy lu telpon gua. Dia suruh lu tengok keluarga. Kenapa nggak lu barengan aja pulangnya sama Pamela?" Daniel memberikan usulan yang kemudian disetujui oleh Chania. John nggak langsung menjawab. Dia justru menggaruk pelipisnya dan memimikkan sesuatu pada Daniel yang aku nggak tahu apa. "Kenapa lu nggak ngomong langsung aja sih? Pam, lu keberatan kalo lu barengan sama John?" Daniel menyampaikan apa yang John komunikasikan padanya. Sekarang ketiganya menatapku seolah menantikan jawabanku. Sebenarnya aku nggak peduli tentang ini dan biasanya aku akan menjawab cuek. Tapi mengingat dukungan mereka padaku, kurasa nggak tepat kalau aku bersikap dingin. "Nggak masalah," jawabku. "Nah. Udah tuh. Pesenin dua sekalian aja kalo gitu, babe, tiketnya," pinta Daniel pada pacarnya. Chania mengangguk. Di tangannya ada HP dan matanya beralih dari layar kepadaku. "Lo mau berangkat sore atau malam ini ya, Pam?" Ia bertanya mengonfirmasi dan aku mengangguk. "Oke. Kalo gitu gue minta identitas kalian dong." Aku beranjak dari kasur perlahan dan meraih tasku. Kuambil pasporku dari dalamnya dan memberikannya pada Chania. "Makasih ya, Cha. Aku beres-beres dulu." "Nih gue kirimin foto paspor gue, Cha. Tolongin ya," kata John. "Sekarang gue balik dulu untuk beres-beres apa yang perlu." "Gaya lu, John. Biasanya juga lu orang-orangan doang tiap kali balik ke Indonesia." Daniel berdiri dan menyusul John yang berjalan ke arah pintu. "Kasih tahu ya, babe." Ia memberikan ciuman pada pacarnya lalu melambai padaku sebelum menghilang ke luar pintu bersama sahabatnya. [MB] Keterangan: [1] Liburan selama musim dingin [2] Nama hantu yang dikenal dari film horor The Conjuring 2. [3] Aku akan tetap memberi kabar terbaru
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD