(09) John : Jadi Curhat

1835 Words
Cewek galak kalau diam dan cenderung penurut itu mengerikan. Sepanjang boarding Pamela jarang sekali bicara. Kalau bukan gue yang mencari topik, dia sudah mirip seperti malin kundang yang dikutuk jadi batu. Bahkan dongeng masa SD ini yang sengaja gue ingat-ingat untuk dijadikan humor saja nggak mempan membuatnya tertawa, atau seenggaknya senyum. Alhasil, gue menyerah untuk coba menghibur dia. Mungkin dia memang lagi perlu diam. Gue nggak mengenal Pamela. Tapi selama tiga hari terakhir terus bertemu dan sekarang justru pulang ke Indonesia bersama-sama, ada rasa kasihan melihat dia seperti ini. Dalam hati gue berharap supaya bokapnya nggak ada masalah apapun. Bandara di jam enam sore ini cukup ramai. Langit juga masih agak cerah, matahari belum benar-benar tenggelam. Ada pemandangan langit yang bagus dari tempat gue duduk. Otomatis gue mengambil HP untuk menangkap beberapa foto sesuai dengan selera fotografi gue. Setelah itu gue memeriksa mana yang paling bagus untuk gue unggah ke i********:. Dengan caption minimalis, dalam waktu kurang dari semenit sudah ada tiga ratusan likes dan puluhan komentar yang menanyakan gue mau kemana. Salah satu pemilik bisnis jam tangan yang endorse gue ikut nulis komentar, jadi secara nggak langsung gue diingatkan kalau ada tanggungan endorsement. Permintaan dia adalah gue bikin video singkat tentang jam yang gue pakai ini. Berbekal kelihaian promosi yang sudah gue jalankan beberapa tahun terakhir, gue memakai ide yang muncul dengan cepatnya. Masalah gaya dan tampang, gue sudah selalu siap dimanapun dan kapanpun. "Simple yet fancy. Go grab yours now.[1]" Gue mengakhiri video berdurasi tiga puluh detik itu. Meskipun baru saja gue mengunggah foto, tambahan postingan tetap saja diramaikan oleh fans gue. Lewat postingan gue, memang banyak pebisnis merasa diuntungkan. Penjualan mereka laku setelah gue mempromosikan begini. "Jadi selebritis harus selalu siap sedia ya?" Akhirnya Pamela membuka mulut setelah sekian lama. Gue menaruh HP di atas kursi dan berpaling ke batu yang sudah hidup kembali ini. "Ya gitu," kekeh gue. "Orang pikir, jadi seleb enak, padahal tuntutannya banyak." "Tapi kan kamu jadi punya banyak duit. Mau apa aja jadi gampang," sambung dia. "Orang tua kamu pasti bangga sama kamu." Gue tersenyum menyetujui. "Bangga sih, tapi Daddy gue lebih berharap kalau gue nerusin perusahaan. Tapi itu bukan hidup gue." Entah gimana gue jadi menceritakan ini kepada Pamela. "Kenapa?" "Ya karena passion gue di bidang entertainment. Urusan manajemen bisnis dekaka gue nggak paham," lanjut gue. "Kalo lo, emang passion lo apa? Yang lo jalanin sekarang udah sesuai yang lo suka?" Pamela nggak langsung menjawabnya. Dadanya mengembang sewaktu mengambil napas dan mengembuskannya perlahan. "Aku dulu pernah bercita-cita untuk terusin bisnis papa. Tapi karena papa kena tipu, bisnis hancur. Mau bangun dari awal lagi kepalang sama biayain kuliah S1-ku. Baru aku kuliah S2 ini bisnis pelan-pelan dibangun lagi," ceritanya terbuka sekali tanpa gue sangka-sangka. "Apa lo nggak puas kuliah di sini, di bidang lo?" Gue jadi tambah penasaran. Cewek ini memang kelihatan pintar dan pekerja keras. Gue merasa bahwa dia nggak mungkin asal mengambil jurusan kuliah, apa lagi dia sedang menjalani pendidikan S2. Pamela memandang ke kejauhan. Kedua tangannya melekat satu sama lain. "Puas kok. Kan aku termasuk salah satu dari jutaan pelamar beasiswa yang berhasil lolos. Jadi aku pakai kesempatan ini sebaik-baiknya," katanya dengan nada sedikit menggantung. "Tapi?" Gue menebak kalau ada kelanjutannya. "Nggak ada tapi." "Ada tuh. Nada lo aja tadi agak ngegantung gitu di akhirannya." Gue nggak percaya, merasa bahwa ada yang memang dia sedang sembunyikan. "Yang lagi ngomong siapa coba? Kan aku. Ya aku yang ngerti." Mode galak Pamela kembali aktif. Gue menjadi sangat geli sekarang. Ini baru Pamela yang gue kenal dari awal. Karena nggak bisa tahan, akhirnya gue pun tertawa. Alhasil, Pamela melirik dengan tajamnya ke gue. "Ngapain ketawa? Nggak ada yang lucu juga. Bikin bete tahu," omelnya. Daripada cewek ini berubah jadi macan, lebih baik gue menahan tawa. Meskipun yang namanya geli kalau ditahan itu nggak enak, pilihan ini harus gue ambil. Toh kami akan duduk bersebelahan selama seharian di sepanjang perjalanan menuju Jakarta. "Lo nggak laper? Udah jam makan malam nih. Makan yuk." Gue mengganti topik demi nggak menghadapi omelan si macan betina ini. Pamela menggeleng-geleng. "Ini ada roti kok," katanya sambil mengangkat seplastik roti lapis di tangan. "Cukup emang? Itu cuma snack loh," sahut gue heran. "Pantesan aja badan lo kecil. Makannya dikit banget. Eh, nggak juga. Gue liat di ultahnya Chania lo makan pizza banyak banget, kaya udah seabad nggak makan." Perut gue kaya kemasukan semut sampai tertawa lepas. Awalnya itu lucu terasa lucu. Tapi melihat reaksi dia yang hanya terdiam, gue merasa bahwa tertawa bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Karena itulah gue menghentikan tawa dan berkata, "Maaf. Lo lagi nggak ada duit ya?" Parah. Kenapa gue jadi jahat banget kalo dalam posisi gini? Bokapnya udah sakit, dia nggak bisa makan. Gue jadi bersalah banget sekarang. Hanya saja sewaktu gue lagi benar-benar ikut merasa sedih, Pamela tiba-tiba tertawa lepas sampai gue terkejut. "Kena deh! Aku kan emang lagi diet. Sebagai cewek, aku harus jaga tubuh. Kan aku juga mau menang taruhan dari kamu. Jadi aku bisa ngegaet cowok lebih cepet dan buktiin ada cowok kaya kriteria aku," katanya tanpa jeda, mirip Google Translate kalau disuruh membaca teks panjang. "Padahal gue udah kasihan sama lo, tahu nggak? Eh lo ternyata ... Dasar cewek aneh," omel gue. Gue nggak habis pikir bisa masuk jebakan cewek ini dengan mudahnya. "Ayo makan." Pamela bangkit dari kursi. "Katanya laper? Ayo aku temenin." Entah kenapa gue merasa ada sesuatu waktu lihat matanya Pamela. Mungkin dia sedang mencoba untuk mengalihkan rasa sedih memikirkan bokapnya. Karena itu, gue memutuskan untuk mendukung niatnya saja. Kami berjalan mengelilingi seluruh area sebelum akhirnya berhenti di satu restoran. Itu semua gara-gara Pamela memberi syarat kalau dia yang akan memilih restorannya. Padahal dia berkata kalau dia hanya mau menemani gue. Emang bener-bener niat ngerjain gue nih cewek. "I'd like to have this and this. Make them two, please. Thank you[2]." Gue menyebutkan pesanan gue ke pramusaji yang langsung datang melayani. Setelah pramusaji itu pergi, Pamela berkomentar, "Kamu makannya banyak banget ya?" Kekehannya kedengeran renyah sekali. "Enggak juga. Satunya buat lo." "HAH?" Volume suara Pamela terlalu kencang sampai orang-orang di sekeliling menengok ke arah kami. Sadar akan suaranya sendiri, dia tertawa seperti nggak berdosa. "Eh, ngapain pesenin aku? Kan aku cuma mau nemenin. Aku kan udah bilang lagi diet." "Bawel amat sih lo? Biasanya kalo orang ditraktir tuh seneng dan bilang makasih," sahut gue sambil mengambil tisu untuk menghapus noda yang ada di meja. "Ini pelayannya nggak bersihin meja apa gimana sih?" Lagi-lagi Pamela tertawa. "Cowok kok ngomel kaya mak-mak? Wajah bule lagi. Nggak banget." Sindirannya maut, seolah nggak takut menyinggung gue sama sekali. "Daripada lo? Cantik-cantik sadis mulutnya." Gue nggak mau kalah dan membalas sindirannya seketika. "Don't judge the book by its cover[2]." Badan Pamela mencondong ke belakang, bersandar ke kursi. "Cover lo kan cantik, dalem lo yang sadis. Berarti gue bener dong." Gue puas banget bisa dapet ide brilian ini untuk serang dia lagi. "Dua - kosong. Lo kalah." "Siapa yang bisa nentuin kalah menang? Ini kan bukan pertandingan. Lagian kamu tuh yang harusnya siap-siap kalah karena nggak bisa nemuin cewek lain yang nggak suka sama kamu kaya aku gini. Kalo aku justru sebentar lagi menang, soalnya aku udah nemuin orangnya." Terlihat jelas bahwa cewek ini adalah tipe yang nggak mau kalah. Perfeksionis. Persis seperti Daddy yang sangat gue hapal. Melihatnya seperti itu, gue memutuskan untuk nggak meneruskan. "Lo punya saudara?" Apapun yang muncul di kepala gue, langsung gue pakai sebagai pengalih topik. "Kenapa? Kepo?" Gue berdecak heran. "Eh, ini tuh namanya beating around the bush[3] atau killing time[4]. Lo pernah denger kan? Gue tanya-tanya bukan kepoin lo tapi supaya kita tuh nggak awkward[5] tahu? Nanti perjalanan ke Indonesia tuh lama, jadi gue mau bikin supaya situasi oke." Panjang lebar gue menjelaskan alasan kenapa gue seperti ini. "Aku tahu kok. Kan aku cuma mau ngerjain kamu. Asik juga ternyata. Gampang banget dikerjain." Pamela tertawa puas. Eh, iya. Kenapa di sini jadi gue yang di-bully? Baru nyadar gue. Sialan. Pamela berdehem. "Aku bakalan jawab pertanyaanmu kalo kamu jawab pertanyaanmu dulu sendiri." Gue jadi merasa sangat yakin sekarang bahwa nggak ada cewek lain seperti Pamela yang bisa gue temui. Sejujurnya gue perlu siap-siap kalah taruhan kalau begini. "Punya satu adik cowok. Namanya Trevor. Tapi dibanding dia, gue lebih ganteng dan modis." Begitulah jawaban singkat gue atas pertanyaan yang gue berikan pada Pamela. Ekspresi wajah Pamela berubah jadi nggak enak seketika. "Ganteng tuh biasanya nggak ngomong-ngomong loh. Justru rendah hati. Kalo gini, aku sih lebih percaya adik kamu yang lebih lebih ganteng, lebih pinter, lebih membanggakan," ejeknya nggak main-main. Karena responsnya yang seperti itu, rasanya gue menjadi sangat geregetan. Ingin sekali gue mengerjainya balik. Tapi posisi dia sedang nggak memungkinkan untuk sampai gue kasih balasan. Maju nggak bisa, mundur juga nggak bisa. "Sekarang lo jawab pertanyaan gue tadi." Gue mencegah dia supaya nggak lama-lama mempermainkan gue. Bukannya menjawab, Pamela justru menerawang ke atas. Ekspresinya yang tadi terlihat senang berubah menjadi sedih. Tapi gara-gara kejadian sebelumnya, gue nggak mau langsung percaya. Bisa jadi dia sedang mencoba untuk mengerjai gue untuk yang kedua kalinya. "Dulu aku punya adik. Perempuan." Ternyata Pamela serius. Belum-belum dia sudah bisa membuat gue ikut merasa terenyuh. "Kami deket banget. Tapi waktu dia umur sepuluh tahun, dia gagal jantung. Terakhir kali kami ngobrol, dia bilang supaya aku jagain papa sama mama. Karena itu, sekarang ini aku lagi berusaha yang terbaik untuk mereka." Ternyata cewek galak ini bisa mengeluarkan sisi lembutnya kalau sudah menyangkut keluarga. Benar apa kata Mommy. Sesadis-sadisnya penjahat kalau sudah menyangkut keluarga yang disayangi, hatinya menjadi lembut. "Hei, Pammie, lo percaya kalau semua yang terjadi itu nggak pernah nggak seijin Tuhan?" tanya gue. Dia berpikir untuk beberapa waktu, dan hanya menunjukkan bahu mengedik sebagai tanggapan. "Kalo gue percaya." Gue nggak ambil pusing kalaupun dia nggak percaya sama keyakinan gue. Saat ini gue hanya mau coba menghibur dia. "Gue tahu rasanya hampir mati. Tiga kali kecelakaan antar mobil, tapi selamat juga tanpa dirawat di rumah sakit. Gue rasa, kalo bukan karena Tuhan masih punya urusan sama gue di dunia ini, ya gue udah lewat dari dulu-dulu." Pamela mengangguk-anggukan kepala. "Artinya kamu harus lakuin yang terbaik selama kamu hidup," tanggapnya. Gue menganggukkan kepala setuju juga. "Yah, sayangnya bokap belum percaya gue bener-bener lakuin yang terbaik di bidang yang gue geluti sekarang. Entah gimana caranya bikin dia ngerti." Gue menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya cepat. "He loves you. Itu yang penting. Lambat laun dia akan tahu yang sebenernya." Ucapan bijaksana keluar dari mulutnya. Sontak gue jadi tersenyum-senyum sendiri mendengarnya. "Napa tuh? Curiga deh aku." "Nggak papa. Makan aja yuk. Makanannya udah dateng," kata gue nggak mempedulikan perkataan dia. Jari tangan Pamela menunjukkan angka tiga. "Udah tiga kali tahu. Tiga kali kamu alihin topik. Dasar," omelnya. Tanpa gue sangka dia begitu memperhatikan sampai menghitungnya. Gue menanggapinya hanya dengan tawa tanpa membalas ucapannya sama sekali. Perut gue yang kosong nggak bisa diajak berkompromi kecuali dengan diisi. [MB] Keterangan: [1] Sederhana tapi mewah. Ayo dapatkan milikmu sekarang. [2] Aku mau ini dan ini. Tolong dua porsi ya. Terima kasih. [3] Basa-basi [4] Membunuh waktu [5] Canggung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD