Tampang John sama sekali berbeda dengan perilakunya yang sebenarnya. Seperti radio yang dinyalakan nonstop, dia mengajakku mengobrol dari awal pesawat lepas landas sampai mendarat di Korea sebagai transit pertama. Yah, memang ada waktu dimana dia diam, seperti saat kami tidur. Tapi begitu membuka mata kembali, mulutnya langsung berbunyi lagi. Awalnya aku agak senang, tapi semakin lama aku semakin kesal. Jujur saja aku tipe orang yang lebih suka bicara sesuai porsi.
Setelah mengantri untuk keluar dari pesawat, akhirnya aku menghirup udara dingin Korea. Cuaca di Incheon cukup rendah, tapi nggak jauh berbeda dari Pittsburgh. Sekarang ini sekitar sembilan derajat, dinginnya terasa saat menyentuh dinding kaca yang kulewati sewaktu turun dari pesawat. Sebenarnya aku berharap suatu kali nanti bisa berjalan-jalan di Korea. Bukan karena aku gila dengan hal-hal yang berbau Korea, tapi karena aku suka sekali dengan budaya dan bahasanya.
"Pammie, lo kan pakai beanie[1] tadi. Kok nggak lo pake? Nggak ketinggalan kan?" John tiba-tiba memaksaku berhenti berjalan di ujung lorong penghubung gedung dan pesawat.
Aku mengerutkan dahi dengan mata melirik padanya. "Kamu nih udah kaya mak-mak tahu nggak? Udah ngomong terus kaya beo, sekarang ingetin aku hal yang nggak perlu," ucapku sedikit kesal. Tanpa menunggunya, aku lanjut berjalan.
"Ye, nggak ada terima kasihnya lo. Gue kan cuma ngingetin," balas John dengan agak ketus juga. "Ada nama lo di beanie itu, jadi gue pikir itu penting buat lo. Kalo ketinggalan bukannya berabe?"
"Justru karena penting, aku nggak akan pernah ninggalin barang ini sembarangan," sahutku sambil membetulkan syal di leherku yang agak kendor. "Tahu nggak sih, aku sampai tanya sama Chania loh."
"Tanya apa?"
"Apa kamu emang secerewet ini kalo sama mereka dan gimana caranya ngatasin kecerewetanmu ini."
"Terus dia jawab apa?"
"Nggak. Katanya kamu banyakan cuek dan diem," jawabku dengan gelengan kepala. Aku pun berhenti berjalan. "Jadi heran deh aku. Kenapa sih kamu cerewet gini sama aku? Mau bikin aku repot karena udah bikin kamu pulang ke Indonesia bareng aku?"
Sebenarnya di sepanjang perjalanan aku banyak berpikir apakah John merasa terpaksa untuk pulang ke Indonesia denganku. Buktinya dia menggangguku terus. Kupikir nggak ada lagi alasan yang lebih tepat kenapa dia melakukan semua ini.
"Aku tuh udah capek mikirin keadaan papaku, John. Kenapa kamu ngeselin?" Tanpa sadar volume suaraku naik.
John terlihat terkejut, matanya membulat dan kedua alisnya naik. Dadanya mengembang waktu menarik nafas sebelum dia berkata, "Oke. Maaf kalo gue berisik. Tapi gue nggak bermaksud bikin lo repot atau apalah itu. Gue cuma berusaha alihin perhatian lo supaya nggak sedih." Raut wajah kecewa nampak di wajahnya. "Tapi ternyata apa yang gue lakuin salah di mata lo. So, mungkin sekarang lo lebih suka sendirian kan? Jadi, gue nggak akan gangguin lo lagi."
Nggak pernah kusangka John akan marah seperti ini. Dia melangkah pergi begitu saja meninggalkanku. Ada rasa bersalah di hati tapi aku nggak berniat untuk mengejar dia. Aku memang membutuhkan waktu jeda untuk sendiri.
Aku lanjut berjalan dengan perasaan mendongkol dan sedih bercampur jadi satu. Sempat aku mampir ke toilet untuk memenuhi panggilan alam. Karena wajahku terlihat berantakan dan berkeringat, aku juga menyegarkan penampilanku dengan mencuci wajah. Setelah kembali merasa baik, aku keluar dan lanjut berjalan menuju area boarding.
Duduk di salah satu bangku, aku menyempatkan untuk melihat ke kanan dan kiri. John nggak terlihat dimanapun. Mungkin dia memang marah karena ucapanku tadi. Tapi aku nggak mau ambil pusing karena aku sudah pusing. Sebagai gantinya, aku mengambil HP lalu mematikan mode pesawat dan menghubungkannya dengan WiFi bandara.
Nggak ada pesan baru dari siapapun. Cuma ada pesan terakhir dari mama tujuh jam lalu yang mengatakan kalau kondisi papa lebih stabil dari sebelumnya. Berita itu melegakan untuk aku.
Di situasi genting seperti ini, aku yakin Tante Cindy sebagai keluarga papa satu-satunya sudah datang untuk menjenguk. Tapi yang kudengar, akhir-akhir ini karirnya sebagai pengacara agak menurun. Jadi sudah pasti suaminya yang pelit itu nggak akan biarin tante untuk kasih dukungan secara materi. Bukannya aku mau mengeluh, tapi selama ini papa selalu memberi mereka bantuan saat mereka memerlukannya. Kali ini saat papa butuh bantuan, justru nggak ada bantuan. Miris sekali rasanya.
Di dunia ini memang selalu ada dua jenis orang dalam keluarga. Satu, orang yang peduli dengan keluarga dan mengusahakan yang terbaik apapun yang terjadi. Dua, orang yang hanya mau mendapat bantuan tapi giliran membantu nggak mau. Sayang sekali papa terjebak dalam posisi dimana saudarinya menikah dengan orang jenis nomor dua. Belum lagi keluarga mama yang cuek setengah hidup, persis seperti orang asing. Pantas saja mama ogah-ogahan datang di acara keluarga tahunan.
Kadang aku ingin menyalahkan nasib, tapi kata orang nasib bisa diubah. Karena itulah aku nggak boleh menyerah sebelum benar-benar nggak punya daya. Orang tuaku harus merasakan apa yang namanya kebahagiaan sejati. Mereka sudah 'kehilangan' keluarga mereka dan kali ini aku mau jadi seseorang yang memperjuangkan mereka.
Kuambil botol minum yang ada di dalam ransel kecilku. Kuteguk sampai habis karena begitu hausnya. Tapi sampai tetes terakhir pun aku masih merasa haus. Maka aku berniat untuk mengisi ulang di keran isi ulang terdekat yang bisa kulihat dari tempatku duduk.
Sayangnya, entah ini hari sialku atau apa, tasku menyangkut pada bangku ketika aku berdiri. Alhasil bangku itu goyah karena kekuatanku yang besar. Naasnya, cewek muda belia yang cantik rupawan yang juga duduk di bangku itu ikut bergoyang. Minumannya yang berwarna coklat itu tumpah membasahi rok putihnya.
"Oh! I'm so*"
"Ya! Neo michyeoss-eo? I deuleseuneun bissayo![2]" Cewek itu berteriak kencang sekali hingga orang-orang di sekeliling berpaling ke arah kami.
Aku kurang mengerti apa yang dibicarakannya tapi dia benar-benar marah. "I can't speak Korean, but I'm so sorry. I didn't mean it.[3]" Kusampaikan permintaan maafku yang terdalam.
Cewek itu berdiri mendekatiku. Tubuhnya nggak lebih tinggi dariku hingga dia mendongak. Matanya melotot padaku dan tangannya mulai berayun untuk melakukan sesuatu yang nggak kuinginkan.
"Joesong haeyo, joesong haeyo.[4]" Entah dari mana John muncul di dekatku. Tangannya yang kiri melingkar di pinggulku dan yang lain bergerak bebas membatasi pergerakan cewek kasar itu. "Je yeoja chinguneun imsinhaeseo hangsang eojileobseubnida. Naneun dangsin-ui sonsil-eul jibul hal geos-ibnida. Joesonghaeyo.[5]"
Seorang pria yang lebih dewasa datang dan berdiri di sebelah cewek itu. "I'm sorry. She can be so temperamental. Don't mind her. And don't worry about her dress[6]," katanya menunduk-nunduk. Ia terkesan malu dengan perbuatan cewek itu. "I hope for the best 'till the baby's due.[7]"
Mendengar kata itu langsung membuat mataku terbelalak. Aku menoleh pada John saat itu juga. Tetapi John nggak mempedulikanku dan justru membawaku pergi dari mereka.
Meskipun kami belum jauh dari mereka, aku berusaha melepaskan tangan cowok ini dari pinggulku. Berani-beraninya dia menyentuh bagian yang nggak seharusnya. "Ngapain sih? Lepas dong."
"Lo kalo mau selamat dari amukan cewek gila itu ya nurut gue bentar napa?" John terdengar kasar saat berbicara.
Aku memang nggak mau dapat masalah tambahan di situasi ini. Karena itu aku coba mengikuti apa yang John bilang lebih dulu. Kemana dia membawa aku pergi, aku berjalan saja menurut.
"Gue baru selamatin lo. Lo bisa terima kasih sama gue." Itu yang John ucapkan pertama kali sewaktu kami akhirnya berhenti berjalan.
Kuperdengarkan decakan kesal. "Gini ya, John. Aku makasih banget kamu udah bantuin aku. Tapi kenapa alasannya nggak banget? Bapak-bapak tadi berharap semua baik-baik aja sampai bayinya lahir? Ngomong apa kamu tadi?" tukasku marah. "Jangan kamu pikir aku nggak ngerti sama sekali ya. Aku pernah belajar Korea dikit dulu, jadi aku ngerti waktu kamu bilang 'yeoja chingu'. Kamu ngaku jadi pacar aku? Kenapa nggak pakai alasan yang bener aja sih? Ini kan namanya nggak jujur."
John melipat kedua lengannya di depan d**a. Pandangan mata malasnya serta rahangnya yang mengeras membuatnya nggak langsung menyahut. Kepalanya menggeleng ke kanan lalu ke kiri dan kakinya mengetuk-ngetuk di lantai.
"Kenapa nggak ngomong?" omelku. Emosiku tersulut mudah sekali.
John menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Pammie, lo dengerin gue baik-baik," ucapnya dengan jari telunjuk menuding padaku. "Gue sama sekali nggak ada niatan buruk ke elo. Yang gue lakuin tadi murni untuk bantu lo. Masalah alasan yang gue kasih tadi itu spontan dan asal gue ucapin. Ya, gue salah. Sekali lagi gue ngaku salah. Tapi lo nggak berhak bersikap ke gue kaya gini. Itu melewati batas."
Aku nggak membantah ucapannya. Mau dilihat dari sudut pandangku, dia memang mengatakan yang benar.
"Lo ada di kondisi yang mungkin saat ini bikin lo drop sampai sikap lo dingin dan kasar kaya gini. Tapi lo inget ini baik-baik," lanjutnya dengan nada seperti mengancam. "Ada orang yang tulus bantuin lo dan sedikit apresiasi dengan ucapan terima kasih tuh cukup. Itu cara manusia bertahan hidup. Mulai sekarang gue nggak peduli lo mau apa. Jungkir balik kaya gimana terserah lo. Dan bahkan kalo emang perlu, gue bisa ganti tempat duduk gue di pesawat supaya nggak sebelahan sama lo."
Seumur hidup belum pernah ada yang berkata sekeras ini padaku sampai rasanya menembus jantungku. Perkataannya benar-benar seperti pedang bermata dua. Sakit sekali, tapi aku nggak bisa membantah kebenaran ini. Dia juga masih dalam kategori orang asing dan aku nggak mungkin bercerita kalau aku tumbuh di lingkungan yang membentukku untuk nggak percaya pada orang lain. Lagi pula bisa jadi dia justru akan berpikir kalau aku hanya mencari-cari alasan saja untuk menutupi sikap kasarku.
John akhirnya pergi. Kemarahannya yang sudah memuncak itu wajar. Tapi sekali lagi nggak ada dorongan kuat dalam diriku untuk mencegah dia pergi dan minta maaf. Alhasil, aku ditinggalkan sendirian lagi.
[MB]
Keterangan:
[1] Topi kupluk (biasanya untuk musim dingin)
[2] Hei! Kamu gila ya? Dress ini mahal!
[3] Aku tidak bisa berbahasa Korea, tapi aku minta maaf sekali. Aku tidak bermaksud.
[4] Mohon maaf.
[5] Pacarku sedang hamil jadi dia pusing. Saya akan ganti kerugiannya. Maaf.
[6] Maaf. Dia memang temperamental. Jangan masukkan dalam hati. Dan jangan cemas tentang dress-nya.
[7] Semoga lancar sampai lahiran.