(11) John : Nggak Jadi Cuek

1690 Words
Gue seperti menelan ludah sendiri. Inginnya berpindah seat agar ancaman gue tadi jadi komplit. Sayangnya nggak ada seat yang bisa ditukar dengan milik gue, bahkan di kelas bisnis. Alhasil gue harus bersebelahan sama cewek tukang ngamuk ini. Wajah dia sudah masam sekali sewaktu lihat gue datang dan duduk di sebelah dia. Karena gue masih marah, akhirnya gue bertindak seperti orang saling nggak kenal. Kalau di awal gue banyak ajak dia bicara, sekarang gue membatu sedingin es di Antartika. Barang dia yang jatuh pun nggak gue ambilin, padahal biasanya gue reflek untuk turun tangan. "Geser," perintah Pamela saat tangannya nggak bisa meraih earphones dia di lantai. Karena gue merasa kesal, gue pura-pura nggak dengar ucapannya. Untungnya gue sedang memakai earphones, alibi gue pun menjadi cukup kuat. Tiba-tiba salah satu sumpalan di telinga kiriku lepas. "John, geser. Aku nggak bisa ambil earphones-nya," kata Pamela dengan emosi tertahan. Tanpa menoleh sedikitpun ke dia, gue membuka pegangan tangan di sebelah kanan gue supaya bisa leluasa bergeser ke kanan. Gue menyumpal lagi telinga kiri gue dan bertingkah nggak peduli. Dari ekor mata kiri, gue melihat dia sudah berhasil mendapatkan earphones-nya. Sedetik berikutnya gue kembali lagi ke posisi sebelumnya. Sejak pesawat lepas landas, gue terus berkutat sama musik yang gue dengarkan. Ini cukup efektif untuk mengalihkan perhatian gue dari cewek galak ini. Setelah bisa terhubung sama WiFi pesawat, gue mulai mengecek agenda gue ke depan di email. Agensi gue baru memberi kerjaan lagi di bulan Januari. Ada jadwal photoshoot untuk baju keluaran terbaru dari beberapa label fashion di minggu kedua. Beruntung gue nggak termasuk dalam agenda akhir tahun mereka, jadi gue bisa bebas. Apa lagi Daddy akan jadi marah kalau gue nggak menghabiskan waktu sama keluarga di hari Natal. Seenggaknya kali ini gue membawa amunisi sogokan untuk keluarga demi membuktikan kalau kerja keras gue memang ada. Kerja di industri fashion mungkin kurang bagus di mata Daddy. Tapi gue akan berusaha sekuat mungkin supaya Daddy paham kalau gue nggak main-main. Buktinya gue tetap bisa bertahan sampai sekarang tanpa asupan materi Daddy dan hanya memakai hasil kerja gue. Semakin lama semakin capek rasanya berlama-lama bersikap cuek ke orang orang yang gue kenal dengan pura-pura nggak kenal begini. Sudah sekitar satu setengah jam dan Pamela bisa setahan itu untuk bersikap dingin. Nggak disangka, kadar sikap dinginnya melebihi gue. Karena gue merasa sangat penasaran tentang apa yang cewek sadis sedang lakukan, gue mematikan layar monitor di depan gue. Dengan layar hitam dan bantuan cahaya matahari yang masuk dari jendela, gue bisa melihat pantulan si Pammie ini. Ternyata dia sudah tidur dengan posisi aneh. Dalam hati gue jadi geli sekali melihat ekspresi lucunya. Ide jahat langsung muncul di kepala gue. Ada bagusnya gue mengambil foto dia. Nantinya gue bisa pakai sebagai senjata kalau suatu kali dia membuat gue kesal. John Adams, lo emang brilian. Dengan tangan lihai gue, HP yang sudah ada di tangan gue arahin untuk mengambil foto wajah dia. Dalam satu jepretan, gue bisa mengabadikan wajah anehnya di galeri gue. Ini akan jadi senjata ampuh. Yang namanya cewek biasanya nggak akan suka kalau aibnya disebar. "What are you doing? Don't you know it's improper?[1]" Wanita yang ada di sebelah Pamela membuat gue terkejut dengan pertanyaannya. Dalam sekejap gue merasa seperti mati kutu. Gue nggak tahu harus menjawab apa. Nggak gue sangka ada orang yang peduli dan menegur tindakan gue ini. "Oh, listen.. You know, she's*" gue nggak melanjutkan. Pamela marah besar sewaktu gue menyebut dia sebagai pacar gue. Itu sudah cukup membuat gue nggak mau berurusan lagi dengan masalah yang sama. Tapi kalau gue bilang dia orang asing, jelas sekali tindakan gue ini terbukti salah. "She's my best friend. And we usually do the same thing. So don't worry[2]." Akhirnya gue mendapatkan alibi yang seenggaknya bisa dimaklumi antar sahabat. Wanita itu menggeleng-geleng. "I don't think I can believe you. I will ask her about this when she wakes up[3]," katanya. Sial. Rencana gue gagal. Wanita ini mungkin malaikatnya Pamela dan gue dihalangi supaya nggak melakukan sesuatu yang membuatnya dia kesal. "Please don't. She's truly my friend, but don't. She's having a bad time with her life already. I'm deleting this picture.[4]" Gue segera menghapus foto itu tanpa berpikir panjang. Lagi pula memang nggak tepat kalau gue mengerjai cewek ini di kondisi keluarganya yang sedang sedih. Kali ini wanita itu nggak berkomentar lagi. Mungkin dia percaya. Gue rasanya lega banget karena masalah ini nggak diperpanjang. Sebelum ini gue sudah mendeklarasikan kalau gue nggak akan ikut campur urusan dia. Jadi, lebih baik gue memang menjaga jarak saja. Baru saja gue memutuskan ini, kepala Pamela jatuh ke bahu gue. Dia tidur nyenyak sekali sampai nggak kuat menahan kepalanya sendiri untuk tetap tegak. Dalam posisi begini nggak mungkin gue memindahkan kepala dia. Bergerak pun sudah menyulitkan gue. Bisa jadi gue justru membangunkan dia dan keadaan di antara jadi canggung. Alhasil, gue memutuskan untuk menutup mata juga dan tidur. Saat dia bangun, gue masih tidur. ~~~ Sayangnya yang terjadi bukan seperti yang gue pikirkan. Sewaktu gue bangun, tangan Pamela sedang melingkar di lengan gue seolah memeluk guling. Mata gue memandang ke arah monitor utama di dinding pembatas kelas ekonomi dan bisnis. Disitu terlihat masih dua jam lagi pesawat sampai di Jakarta. Gue nggak menyangka sudah tidur cukup lama di posisi begini. Pelan-pelan gue bergerak karena badan rasanya pegel banget. Tapi ternyata gerakan gue membuat Pamela bangun. Cepat-cepat gue berpura-pura tidur lagi demi menghindari situasi yang canggung. Kerja di bidang fashion banyak mengajarkan gue untuk bisa berakting. Di saat seperti ini, kemampuan itu bermanfaat sekali. Pamela nggak tahu kenyataannya sewaktu dia pelan-pelan menyingkirkan tangan dia dari gue, membuktikan kalau dia nggak mau sampai membangunkan gue. Terus terang gue nggak bisa tahan untuk tertawa sekarang, tapi gue harus berusaha sebaik mungkin. "Oh, hey you dropped your jacket[5]." Suara wanita di sebelah Pamela terdengar. "Ah right. Thanks," balas Pamela. Gerakannya bisa gue rasakan. Jadi meskipun gue menutup mata, gue tahu dia langsung mengambil jaketnya yang jatuh. Keheningan tercipta sebentar tetapi wanita itu angkat suara lagi. "You know what? You guys are cute. You were fighting, but your heart couldn't deny your true feelings that you clung to each other while sleeping. What a young couple.[6]" Betapa mengejutkan mendengar wanita itu berpikir bahwa kami sebenarnya saling suka. Namun entah kenapa Pamela nggak membalas ucapan itu. Gue nggak tahu apa yang sekarang dia lakukan. Akhirnya gue memutuskan untuk bangun dari tidur palsu gue. Akting gue emang cakep. Melalui layar monitor yang hitam, pantulan wajah Pamela nampak. Dia berpura-pura sibuk dengan monitor di depannya, memilih-milih film yang bisa ditonton. Dari arah belakang, dua pramugari datang untuk membagikan makanan ke penumpang. Kebetulan sekali gue sudah merasa lapar. Begitu giliran barisan gue menerima makanan itu, gue nggak menunggu untuk menyantap menu Indonesia khas penerbangan Garuda Indonesia itu. Kemungkinan besar suasana hati Pamela lebih buruk dari sebelumnya. Dia menjatuhkan puding yang baru mau dia buka dan alhasil menggelinding ke arah depan. Tangan gue hampir saja reflek ingin mengambil puding gue dan menaruhnya di meja portabel dia. Tapi gue ingat akan perkataan gue sendiri tadi di Bandara Incheon. Alhasil gue nggak meneruskan niat gue dan terus makan seolah nggak peduli. "How could you? Your girlfriend just dropped her pudding and you're acting like you don't care?[7]" Tangan wanita berwajah oriental itu melewati tubuh Pamela dan menepuk tangan gue yang sedang memegang roti sampai jatuh di nampannya. Dia memarahi gue tiba-tiba. Suara tawa kecil keluar dari mulut Pamela. Sontak gue menoleh ke dia dan dia langsung terdiam. Tanpa bicara, gue akhirnya mengambil puding gue dan memberikannya untuk dia. Lah, gue kenapa ngikutin omongan tante-tante ini sih? Gue baru sadar sudah diperintah oleh orang asing. Tapi yang sudah gue berikan nggak mungkin gue ambil kembali. Pastinya itu akan membuat image gue jadi nggak keren. Karena itulah gue membiarkannya untuk sekali ini saja. Tiba-tiba suara pilot terdengar di pengeras suara. Pengumuman tentang cuaca buruk diberikan. Pesawat sebentar lagi masuk di area dengan sedikit badai. Tapi keadaan seperti ini nggak akan masalah karena pilot penerbangan ini pasti sudah teruji. Itulah sebabnya gue tetap makan dengan santainya. Namun pantulan gambar Pamela melalui monitor di depan gue menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ada ekspresi cemas di wajahnya. Dari ekor mata gue bahkan jelas melihat dia berhenti makan. Dia sudah mirip dengan orang yang sedang menghadapi malaikat maut. Begitu ada goncangan, Pamela menutup mata dan tangannya menggenggam erat pegangan tangan di kanan dan kirinya. "Pammie." Gue nggak berpikir dua kali untuk menggenggam tangan dia erat-erat karena merasa nggak tega. "Lo tenang aja. Semua bakalan baik-baik aja." Goncangan kedua datang lagi dan kali ini lebih kencang daripada yang sebelumnya. Tangan gue reflek mendorong meja portabel gue lalu menaikkan pegangan tangan yang membatasi kami berdua. Dengan lengan melingkar di bahunya, gue menarik Pamela lebih mendekat. Gue menepuk-nepuk lengan bagian atasnya, mencoba menenangkan cewek ini. Sampai keadaan dinyatakan stabil oleh pilot, Pamela masih terlihat ketakutan. Kemungkinan besar cewek ini pernah mengalami sesuatu yang buruk di masa lalu sampai dia trauma seperti ini. "Pammie, udah selesai. Lo nggak perlu takut." Gue memberi sedikit remasan di lengannya. Getaran di badan Pamela akhirnya sedikit mereda. Dia pelan-pelan menegakkan badan dan duduk dalam posisinya yang sebelumnya. "Makasih," katanya lirih. "Sama-sama," sahut gue. Karena kejadian ini, ada hal yang ingin lebih gue ketahui dari Pamela. Cewek sesadis dan segalak dia merasa takut terhadap goncangan pesawat. Gue merasa bahwa niat untuk benar-benar bersikap cuek padanya harus batal. Rasa penasaran bercampur iba menjadi lebih dominan sekarang. Tapi di atas semuanya itu, gue berharap Pamela mau mengizinkan gue untuk mengenal dia lebih dalam lagi. [MB] Keterangan: [1] Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tahu itu tidak sopan? [2] Dia sahabatku. Dan kami biasanya melakukan hal yang sama. Jadi jangan cemas. [3] Kupikir aku tidak percaya padamu. Aku akan bertanya padanya tentang ini ketika ia bangun. [4] Tolong jangan. Dia benar-benar temanku, tapi jangan. Dia sedang mengalami masa buruk dengan hidupnya. [5] Oh hei, kamu menjatuhkan jaketmu. [6] Kau tahu? Kalian berdua lucu sekali. Kalian bertengkar, tetapi hati kalian tidak bisa menyangkal perasaan kalian yang sebenarnya sehingga kalian melekat satu sama lain saat tidur. Dasar pasangan muda. [7] Bisa-bisanya kamu... Pacarmu baru saja menjatuhkan pudingnya dan kamu bertingkah seolah tidak peduli?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD