Tubuhku menegang, tanganku mengepal, dan mulutku terkunci. Aku bahkan nggak sadar kalau guncangan sudah berhenti kalau bukan John yang memberi tahu. Memori di mana aku ada di dalam pesawat yang hampir jatuh dua belas tahun lalu muncul kembali ke permukaan.
Sebenarnya trauma itu sudah mulai sembuh beberapa tahun belakangan. Itulah alasannya aku berani untuk naik pesawat ke Pittsburgh sendirian. Tetapi setelah sekian lama merasa aman, inilah pertama kalinya pesawat yang kunaiki berguncang begitu keras.
Namun secara mengejutkan dekapan John lah yang membuatku merasa aman. Segala rasa kesal, gengsi, malu dan yang lainnya sirna. Semuanya dikalahkan oleh ketakutan ini.
Meskipun begitu, tanganku masih bergetar sebagai akibat dari kejadian tadi. Kedua sisi telapak tanganku basah karena keringat dingin. Aku nggak yakin bisa menyelesaikan makananku karena sepertinya nafsu makanku hilang.
John pun menarik meja portabel di depanku. Dia merapikan makananku yang berantakan meskipun miliknya lebih terlihat nggak karuan. Air minumnya saja sampai tumpah di nampannya. "Ini ya, kalo lo mau makan lagi," katanya. Nggak ada nada menjengkelkan di suaranya sama sekali seperti sebelumnya. Dia benar-benar seperti orang yang berbeda sekarang.
"Kamu beneran berkepribadian ganda ya?" tanyaku lalu pelan-pelan menoleh ke dia.
Kedua alis John bergerak menyatu di tengah. "Lo udah balik lagi jadi Pammie si cewek sadis?" Dia mengeluarkan pertanyaan retoris.
Kurang ajar. Dia punya julukan itu untuk aku. Sontak aku melemparkan lirikan ke John tapi tanpa mengucapkan sepatah kata. Aku meraih sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulut. Karena kesal, nafsu makanku menjadi normal kembali.
"Oh ternyata bener. Lo udah balik. Ya kalau gitu, gue balik juga ke omongan gue yang tadi. Gue nggak akan berurusan sama lo lagi." Dia berniat kembali seperti semula. Dingin, cuek dan marah karena sikapku yang tadi.
Sejujurnya kemarahanku memang nggak beralasan, aku mengakuinya. Itu adalah sebuah sikap kekanak-kanakan yang bahkan orang tuaku nggak pernah ajarkan. Sebesar apapun masalahku, aku nggak boleh melampiaskannya ke orang lain. Sebagai cewek terhormat, aku harus berani meminta maaf atas kesalahanku.
"John, aku--"
Tangan John terangkat setengah tiang, mencegahku untuk bicara lebih lanjut. Dia menyumpal kedua telinganya dengan earphones supaya nggak mendengarku. Kemudian dia memakan apa yang masih tersisa di atas meja portabelnya lagi.
Yah, dia ngambek dong. Tapi aku nggak akan menyerah begitu saja. Kadang-kadang mengorbankan sedikit martabat untuk mengakui kesalahan akan berguna. Secara teori begitu.
Kutarik salah satu earphone dari telinga kirinya hingga lepas. "John, tolong dengerin aku," pintaku dengan nada tegas.
Dia kembali mengembalikan sumpalan telinganya, nggak mempedulikan aku.
"John, come on. Don't be such a kid[1]," kataku. Kusentuh lengannya ragu tapi justru berhasil membuatnya menoleh padaku.
"Kamu tadi bilang aku berkepribadian ganda. Ngerti nggak? Yah sekarang aku lagi ada di mode kepribadian dingin dan nggak mau ngomong," sahutnya. Tidak diragukan lagi, ekspresi wajahnya memang menjengkelkan.
Aku menggeleng pelan. "Maaf, John. Nggak seharusnya aku bilang kaya gitu ke kamu. Aku kebawa emosi dan pikiran yang lagi kalut. Ya, aku tahu ini kedengaran kaya excuse[2] doang, tapi memang itulah kenyataannya." Aku berusaha menjelaskan, membuang segala gengsiku.
Senyuman John tiba-tiba mengembang, tapi terlihat terpaksa. "Permintaan maaf diterima," katanya sembari menyumpal telinganya kembali dan melanjutkan makannya.
Sepertinya usahaku nggak berhasil dengan cara itu. Dia terlihat kesal sekali karena perkataan dan sikapku tadi. Tentu saja aku nggak bisa memaksanya benar-benar memaafkanku. Kalau ada di posisinya sekarang, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Dia memang berhak marah.
"Selama ini aku emang sering impulsif. Nggak tahu kenapa, tapi aku nggak bisa nahan aja gitu. Semua hal yang mengecewakan di kehidupanku, keluargaku dan sekelilingku bikin kesel banget. Mungkin aku harus belajar dari kamu. Walaupun kamu marah sama aku, kamu tetep kasih bantuan ke aku di masa kritis. Aku makasih banget, John." Semua itu aku ungkapkan panjang lebar tanpa mempedulikan apakah dia mendengar perkataanku atau nggak. Yang penting sekarang adalah aku sudah mengungkapkan semuanya.
Sisa perjalanan berakhir sunyi di antara kami berdua. Bahkan sampai pesawat mendarat dan kami turun masih nggak ada kata terucap. Setelah mengambil bagasi, dia juga langsung pergi begitu saja. Kumaklumi dan terima sikapnya terhadapku itu.
Melupakan apa yang terjadi, aku mengirimkan pesan di w******p pada mama. Kuberitahu dia bahwa aku sudah di Jakarta dan dalam perjalanan dari terminal tiga ke terminal dua. Tapi mama nggak langsung membalas. Mungkin dia sedang sibuk mengurus papa.
Di tengah jalan aku merasa haus dan memutuskan untuk mampir sebentar ke minimarket. Kubeli sebotol air minum untuk melegakan dahagaku. Setelah itu aku pergi untuk check-in dan menunggu di area boarding. Aku nggak banyak melakukan apapun selain berdoa dalam hati.
Penerbangan ke Semarang masih satu jam lagi. Di satu sisi aku nggak sabar untuk segera pulang. Tapi di sisi lain ada rasa aneh di hatiku. Semakin aku dekat dengan rumah, semakin jantungku berdebar. Aku nggak tahu alasannya, tapi yang pasti kekhawatiranku meningkat. "Ya Tuhan, semua baik-baik aja kan?" gumamku pelan.
"Yang terhormat penumpang penerbangan pesawat AirAsia QZ700 menuju ke Semarang, jadwal penerbangan mundur satu jam dikarenakan kendala teknis. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."
Pengumuman di pengeras suara membuatku tambah tertekan. Aku nggak habis pikir kenapa di saat genting seperti ini harus ada delay. Pikiranku menjadi kalut dan berandai-andai kalau saja aku menggunakan penerbangan lainnya yang nggak pernah mengalami penundaan seperti ini. Belum lagi pikiran negatif, seperti sesuatu yang buruk terjadi pada papa, memasuki kepalaku.
Aku meremas rambutku dengan perasaan yang kesal sekali. Nggak ada jalan tercepat selain terbang. Yang bisa kulakukan hanya pasrah. "Kenapa harus gini sih? Ngeselin banget. Asli," omelku tanpa mempedulikan kanan dan kiriku bisa mendengar.
Ponselku berbunyi singkat. Ada pesan masuk di w******p, tetapi bukan dari mama. Nama Chania tertera di sana. Aku nggak merasa lagi bersemangat untuk sekadar membaca pesannya. Cukup lama aku membiarkan pesan itu begitu saja.
Getaran datang lagi dan aku menghiraukannya. Kemudian lagi dan lagi dan lagi sampai aku merasa kesal sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk membukanya.
|Chania|
Pamela, lo dicari sama John. Lo dimana? Terminal 2 kan?
Pamela... Di terminal 2 sebelah mana?
Pam...
Pam, jawab.
Pam, kata John ini penting.
Sungguh mengherankan sekali. Aku yang sudah gusar seperti nggak diberi kesempatan untuk tenang. Seolah-olah pertemuan dengan John adalah takdir untuk selalu merasa jengkel. Daripada membalas dengan teks berisi kemarahan, aku langsung memberitahukan lokasiku tanpa berbasa-basi.
Tanganku terulur ke bawah dengan HP yang hampir jatuh dari genggamanku. Kepalaku menunduk dan aku hampir menangis sangking kesalnya. "Tuhan, aku nggak tenang," bisikku.
Satu botol air mineral yang kubeli tadi langsung kuteguk sampai habis tanpa jeda. Harapannya, aku bisa menjadi sedikit lebih tenang. Tapi hasilnya justru nihil. Air ini sama sekali nggak meredakan kecemasanku.
Beberapa waktu kemudian satu sosok familiar bersepatu putih Adidas duduk di sampingku. Aku nggak mau menoleh pada John dan tetap dalam posisi menunduk.
"Pammie, lo ninggalin ini." John menyodorkan beanie berhargaku ke bawah kepalaku hingga aku bisa melihatnya. "Lo bilang ini penting, tapi kenapa sampai ketinggalan?"
Aku benar-benar nggak bisa menahannya lagi. Kubiarkan air mataku menetes menjatuhi beanie yang masih ada di atas tangan John.
"Eh? Lo nangis, Pam? Lo kenapa?"
Suara isakan tangis akhirnya tercipta. "Aku takut," ucapku mengakui.
John menyentuh lenganku. "Papa lo?"
Aku mengangguk. "Mamaku nggak balas WA dan penerbanganku ditunda sejam. Ini kaya ada pertanda buruk gitu." Aku berusaha menyampaikan semua itu di tengah-tengah isakanku.
Decakan singkat terdengar lalu wajahku diangkat oleh tangan John yang besar tetapi lembut. "Lihat gue, Pam." Instruksinya membuat pandangan mataku secara otomatis terarah ke matanya. "Papa lo baik-baik aja, oke? Jangan berpikiran negatif."
"Tapi kenapa hal-hal yang negatif ini terjadi? Bahkan beanie aku yang penting banget aja sampai ketinggalan. Aku nggak pernah ngalamin ini sebelumnya." Fakta ini membuatku bertambah kalut.
Kurasakan tanganku digenggam oleh John. Aku terkejut tapi nggak berniat untuk mengibaskan tangannya sama sekali.
"Gue diajarin satu hal ini. Kalau gue beriman bahwa segala sesuatu baik, itu yang juga bakalan kejadian. Dari dulu sampai sekarang, itu memang nyata dalam hidup gue," katanya tegas. "Sekarang gue mau supaya lo juga gitu. Percaya kalo papa lo itu dalam kondisi baik. Mama lo sekarang cuma sibuk suapin makan atau lagi urus administrasi karena papa lo udah sembuh. Beanie lo ketinggalan supaya gue dateng ke lo untuk kasih motivasi. Lihat semua situasi dari sisi positifnya. Ngerti lo?"
Perkataannya itu memang menguatkan. Aku langsung mengangguk-angguk, berharap agar itulah yang memang sedang terjadi.
"Sekarang lo tarik nafas dan hembuskan," instruksinya dan langsung kulakukan. "Lakuin lagi beberapa kali."
Ketika udara mengisi paru-paruku secara maksimal dan pelan-pelan, aku merasakan ada sedikit perubahan. Aku menjadi lebih tenang. Seolah terhipnotis, mataku pun sedari tadi terpaku pada matanya. Tetapi pada akhirnya, aku tersadar dan memalingkan wajah. Begitu juga kutarik tanganku dari tangannya.
"M-makasih, John." Entah berapa kali aku sudah mengucapkan frasa ini padanya atas kebaikan-kebaikannya.
John memberikan remasan singkat di bahu kananku dan sebelum menurunkannya kembali. "Penerbangan gue ke Bandung kurang dari sejam lagi, jadi gue cuma bisa nemenin lo di sini setengah waktu doang ya, betewe," beritahunya tiba-tiba tanpa ditanya.
Tuntas menghapus air mataku, aku menoleh padanya. "Di terminal dua juga?" tanyaku.
Dia mengangguk. "Lo bisa lihat kan, kalau 'kebetulan' ini," ucapnya dengan membentuk tanda petik di udara lalu lanjut bicara, "memang diijinkan terjadi."
Aku mengulum senyum dan menyetujui perkataannya. "Sekali lagi, maaf ya, John." Dengan tulus kuungkapkan perasaan bersalahku. Kalau saja aku nggak jawab Chania, mungkin John nggak ada di sini dan aku masih kalut.
"Udah lah. Sekarang kita damai aja. Gue capek marah sama lo, soalnya ujung-ujungnya kita bakalan ketemu lagi deh. Jadi awkward kan gimana gitu. Aneh." John mengulurkan tangannya padaku.
Melihatnya aku nggak langsung menyambut. Aku tertawa akan kenyataan yang menggelikan ini. "Iya juga. Oke deh, kita damai ya," kataku lalu menjabat tangannya. "Jangan lupa kamu masih hutang matcha latte Starbuck satu truk ke aku."
John tertawa kecil. "Kayanya lo emang paling suka inget utang orang lain ke lo. Next time gue harus hati-hati," katanya.
Aku menjulurkan lidah padanya tapi kemudian tersenyum. John secara mengejutkan membantuku melupakan kekhawatiranku.
[MB]
Keterangan:
[1] Ayolah, John. Jangan seperti anak-anak.
[2] Alasan