Pamela hanya terlihat kuat di luarnya. Ternyata dia sangat rapuh di dalamnya. Kesempatan untuk berdamai sama dia sebelum berpisah ke jalan masing-masing cukup melegakan untuk gue. Semoga papanya bisa sembuh dan dia nggak perlu mengalami kesedihan di tengah kuliah S2-nya.
Sekarang giliran gue yang harus sabar menghadapi Daddy. Padahal gue sudah minta enam bulan untuk membuktikan kalau pilihan gue di dunia fashion ini bukan sekedar main-main. Masih saja Daddy memberiku ceramah setiap hari. Mommy yang nggak bisa membela gue sangking cintanya sama Daddy akhirnya nggak bisa gue andalkan juga. Apalagi Trevor yang selalu cengar-cengir saja menikmati pemandangan dimana gue dikuliahi Daddy. Alhasil gue seperti berjuang sendiri untuk passion gue. Telinga gue menjadi panas sekali.
"Ya udah John, lo ambil opsi terakhir aja. Nikah. Dengan gitu Daddy bakalan percaya kan?" Trevor menjatuhkan diri di atas ranjang gue dengan posisi kaki terbuka, seolah mengekspos selangkangannya.
Gue melirik ke dia yang begitu santainya berkata seperti itu. "Kampret lo. Pernikahan itu sakral. Lo pikir main nikah-nikahan kaya waktu lo kecil sama siapa tuh? Anak tetangga sebelah yang udah pindah itu? Oh Juminem?"
"Anj...lok lo! Julia namanya!" Trevor seringkali ditegur karena suka berbicara kasar. Karena melihat Mommy melewati kamar gue, dia cepat-cepat mengubah umpatannya ke gue.
Mommy berdiri di ambang pintu kamar gue yang terbuka gara-gara Trevor nggak menutupnya lagi. "John nggak bosen di kamar aja?" tanyanya.
Masih dalam posisi duduk di dekat meja belajar, gue menggeleng. "Nggak, Mom. Lagian di Bandung nggak ada yang begitu menarik kaya waktu kita masih di Jakarta," jawab gue.
"Lo-nya aja yang sok ngartis. Bilangnya nggak ada yang menarik padahal sekalinya keluar penampilan selalu totalitas dan dimana-mana pasang pose photogenic. Senyum terus dan baik-baikin gue. Di rumah aja aslinya lo keluar." Trevor menerocos tanpa henti seperti tikus terjepit pintu.
"Trevor, kamu tuh kalau sayang sama kakak kamu ya bilang aja yang sebenarnya. Nggak usah ngeledekin gitu," ujar Mommy yang entah bagaimana bisa mengeluarkan humor seperti ini.
Gue pun tertawa terbahak-bahak puas. "Mom, belajar dari siapa tuh bisa begitu? Perasaan tahun lalu waktu John kesini, Mommy masih kaya anggun dan elegan gitu," celetuk gue terheran.
Mommy memainkan alis dan matanya, menunjuk pada Trevor. "Tuh, anak itu."
"Nah loh. Senjata makan tuan, Trev!" Gue menepuk-nepuk paha sangking gelinya.
Sebuah bantal pun dilemparkan ke gue dengan cukup keras sampai kepala gue miring. "Woy! Jahat lo," omel gue.
Mommy datang mendekat dan duduk di atas ranjang gue. Trevor bergerak mengubah posisinya duduknya lebih sopan.
"Mom, setiap kali cowok ini balik, kenapa rumah jadi berisik sih?" Trevor mengomel balik.
Mommy tertawa geli melihat tingkah kami berdua. "Justru itu yang bikin Mommy seneng. Kalau kalian berdua ketemu tuh selalu rame. Rumah ini jadi lebih hidup," sahutnya. "John juga pasti kangen main sama Trevor kan? Buktinya aja selama tiga minggu ini kalian nggak pernah pisah. Kalau Trevor nggak di kamar John, ya John di kamar Trevor. Ya ampun, anak-anak Mommy gemesin. Malu-malu tapi mau." Tangannya meremas lengan gue dan Trevor secara bergantian.
"Mom, itu jijay banget. Beneran deh. Kita berdua cowok. Kakak adik lagi." Trevor bergidik ngeri, begitu juga gue.
Mommy nggak peduli dan justru terkekeh-kekeh. "Ah iya, John. Soal Daddy, Mommy minta maaf ya. Permintaan Daddy emang agak kejam ke John, tapi Mommy percaya kalau Daddy cuma mau yang terbaik untuk John." Mommy mengubah topik pembicaraan.
Gue menghela napas. "Ya tapi kan kalau John nggak enjoy jalaninnya, nanti justru bakal ngecewain, Mom," sahut gue dengan alibi yang masuk akal dan benar adanya. "John nggak habis pikir sih. Mommy tuh dulu juga bisa sukses di fashion, kenapa karena Daddy Mommy jadi harus berhenti?"
Mommy mengulum senyum menatap gue. "Karena Mommy memilih untuk jadi istri dan ibu buat John dan Trevor," jawabnya. "Bisa bayangin nggak kalau John sama Trevor dibiarin sama pengasuh aja karena Daddy dan Mommy sama-sama sibuk?"
Trevor menggeleng, sementara gue hanya terdiam.
"Mommy udah banyak lihat gimana jadinya anak-anak yang orang tuanya sibuk sendiri karena kerjaan. Mereka jadi anak-anak yang tertekan dan akhirnya lari ke hal-hal negatif. Entah merugikan orang lain atau dirinya sendiri. Mommy nggak mau itu terjadi ke kalian," jelasnya panjang lebar.
Perkataannya memang masuk akal dan lebih membuat pikiran gue terbuka. Gue nggak pernah berpikir seperti ini sebelumnya. Mungkin ini bukti kedewasaan seseorang yang teruji lewat waktu.
"John, hidup itu pilihan. Mommy pilih untuk rawat kalian sejak Mommy menikah sama Daddy. Jadi, saat ini Mommy juga nggak akan maksain John untuk ikut permintaan Daddy, karena John berhak memilih. Yah, meskipun Daddy emang agak ngeyel minta John untuk nurut sih. Maklumin dan sabar aja ya." Mommy menepuk-nepuk lutut gue.
Gue mengangguk-angguk.
"Kecuali John nikah, Mom. Mommy belum tahu, 'kan?" Trevor menyambung dan langsung merusak situasi positif yang Mommy ciptakan.
Mommy menaikkan alisnya. "Maksudnya?"
Gue langsung berpindah ke ranjang dan menutup mulut Trevor. "Nggak usah didengerin, Mom. Ngaco emang bocah ini."
Air liur Trevor sengaja dikeluarkan sampai membuat gue jijik dan melepaskan tangan gue dari mulut dia. "Sumprit ya. Lo mau bikin gue nggak bisa nafas apa gimana sih?"
"Lah lo ngapain juga ngiler-ngiler kaya anjing gitu? Kerasukan roh anjing Bulldog lo?" sergah gue jengkel.
Mommy mendesis keras, memaksa gue sama Trevor diam. "Kalian ini. Berhenti dulu berantemnya. Mommy mau denger Trevor jelasin apa itu tentang John nikah," pintanya. "John emang udah punya pacar juga?"
"Duh, Mom. Bukan, bukan git*"
"Udah. Trevor aja yang jelasin, biar nggak subyektif. Pihak ketiga selalu bisa netral," Trevor menyela dan bertindak sok tahu.
Gue mengacungkan jari telunjuk ke dia. "Lo awas ya cerita sembarangan," ancam gue.
Trevor berdecak. "Diem lo. Gue jelasin yang bener sama Mommy dulu. Kalo gue ngasal, lo bisa stop gue," katanya.
Gue akhirnya membiarkan adik gue yang somplak itu untuk mengambil bagian dalam bercerita.
Dari awal sampai akhir cerita, Trevor hanya menceritakan sesuai apa yang gue ceritain ke dia. Tentang alasan kenapa Daddy akan membiarkan gue menjalani passion gue dengan bebas kalau gue nikah, dan hal-hal lainnya. Alhasil gue nggak perlu mengomel sama sekali.
"Nah, Mommy bisa adain sayembara untuk temuin cewek terbaik untuk John."
Begitu denger perkataan terakhir Trevor, gue nggak berpikir panjang untuk mendorong dia agak keras dengan senggolan lengan. Akibatnya dia jatuh berbaring di ranjang. Tapi yang menjengkelkan adalah dia justru bertambah puas tertawa.
"Sayembara bapak lo!" Gue terkejut dengan ucapan gue sendiri sampai gue menutup mulut sejenak. "Maksud gue, ngapain juga ada sayembara? Kagak perlu!"
"Oh, jadi lo udah punya kandidat sendiri?"
"Diem nggak lo?" Gue berlaku seperti sedang mencekik leher dan menggoncang-goncangkan badannya.
Tepukan keras pun tiba-tiba mendarat di pantatku. "John, jangan main-main gitu ah," tegur Mommy.
Gue berhenti dan mengelus-elus p****t gue yang sekarang rasanya agak pedas. Sudah lama sekali Mommy nggak memukul p****t gue. Terakhir kena pukul adalah sewaktu gue membuat tenda dari baju-baju Mommy yang mahal di taman samping rumah sampai semuanya kotor sekali.
"Jadi Daddy ijinin John untuk tetep jadi seleb kalau John nikah?" Telunjuk Mommy mengetuk-ngetuk di dagunya. "Aneh sih, tapi mungkin ini karena Mommy. Kan Mommy berubah semenjak menikah dan punya kalian, jadi Daddy pikir John bakalan berubah juga habis menikah. Wah! Daddy emang jenius!"
Kalau ini adegan di film kartun, mungkin dagu gue sudah jatuh sampai ke lantai. Gue merasa heran kenapa Mommy justru menganggap ini sebagai sesuatu yang bisa diterima.
"Jadi, John udah ada kandidat?" Mommy mengulang pertanyaan Trevor. Mereka berdua pun menatap gue intens.
Gue nggak bisa berpikir tentang apa-apa pada awalnya, sampai wajah Pamela muncul secara otomatis di kepala gue.
"Kayanya emang ada nih, Mom." Trevor membuyarkan pikiran gue. "Ceritain lah, John. Siapa cewek beruntung ini?"
Hawa panas pun muncul dari dalam d**a gue dan menyebar ke seluruh permukaan kulit. Kenapa gue aneh banget? Kok kepanasan ya rasanya?
"Ciye, ciye. Mom, John akhirnya punya pacar! Daddy, John mau menikah!" Trevor berteriak keras-keras.
Sontak gue langsung memukul cowok ember ini dengan bantal. "Parah lo!" bentak gue kesal. "Nanti kalo Daddy denger gimana?"
"Lah? Bukannya lebih baik? Lo kan jadi bisa nerusin passion lo juga." Trevor berkomentar seolah nggak memikirkan efek sampingnya nanti.
Sempat gue berpikir untuk meminta tolong pada Pamela supaya berpura-pura menjadi pacar di depan Daddy. Tapi gue ingat betul bahwa dia adalah tipe cewek yang nggak akan mau gue ajak kompromi dalam hal begini. Belum lagi dia masih perlu fokus dalam kesehatan papanya. Padahal dia adalah satu-satunya cewek yang nggak meleleh melihat ketampanan gue yang bak dewa Yunani ini.
"John!" Itu suara Daddy.
Gue langsung melirik ke arah Trevor dan menyalahkan dia karena sudah berteriak tadi. Giliran melihat Mommy, ternyata yang gue dapati justru wajahnya yang cengar-cengir nggak jelas, seolah-olah senang dalam situasi ini.
"John, kabar ini bener?" Daddy muncul ke kamar gue sambil membawa HP. Kacamatanya melorot sampai ke ujung hidung.
"Uh, Dad, itu tadi cuma Trev*"
Daddy menunjukkan layar HP-nya ke arah gue. Di situ terlihat satu video yang mempertontonkan sebuah situasi familiar. Gue langsung menyabet HP Daddy dan gue menontonnya dengan mata melotot. Trevor dan Mommy pun ikut melihatnya.
"Kenapa ini bisa ada di IG?" gumam gue.
Adegan dimana gue sama Pamela bertaruh ada di postingan salah satu akun @congor_turah dan menjadi viral.
"Kenapa Daddy punya IG? Kan Daddy harusnya fokus kerja aja. IG itu nggak bagus buat Daddy." Gue mencoba mengalihkan topik dengan sembarang cara akibat panik.
"Daddy kan mau cek John bener-bener serius kerjanya apa nggak."
"Sejak kapan Daddy punya IG?"
"Setahunan lah. Sekretarisnya Daddy yang bikinin dan ajarin. Jadi Daddy tahu John pasang apa aja di IG. Entah itu di feed atau story," katanya lincah seolah mengerti betul semua hal tentang i********:.
Untung saja gue nggak pernah aneh-aneh di i********:. Yang gue unggah hanya dua hal, pekerjaan dan hobi fotografi gue. Bahkan sejujurnya semua selfie gue yang ada di sana adalah pekerjaan.
"Udah, kamu nggak perlu alihin topik ya, John," Daddy menyahut, mengetahui maksud gue.
Karena gugup, gue pun menggaruk-garuk kepala dan merasa bingung harus menjawab apa. "Sebenernya itu bukan apa-apa, Dad. Nggak serius. John juga nggak tahu kenapa ada yang rekam ini dan diunggah ke IG sampai seviral ini."
"Terus, ini bakalan pengaruh sama karier John? Kalo sampai dipecat, John bisa dong terusin perusahaan." Daddy seakan justru mendoakan hal buruk ini terjadi pada gue. Di satu sisi dia baik, di sisi lain parahnya keterlaluan. Gue jadi mengerti dari mana Trevor mendapatkan turunan sifat ini.
Gue menggeleng-geleng. "Nggak boleh. Karier John lagi naik daun, jadi John harus segera beresin masalah ini. John mau telepon agensi dulu ya, Dad." HP yang ada di atas meja belajar langsung gue sabet sebelum meninggalkan kamar.
Sampai di balkon bagian utara rumah, gue duduk di salah satu sofa di sana. Awalnya gue mau menelepon agensi gue, tapi gue baru menyadari ada pesan di email yang masuk tadi pagi.
Di email itu agensi gue memberitahu kalau video itu justru membuat gue dilirik oleh produser film. Mereka akan membuat video ini seolah-olah sebuah teaser untuk film baru. Agensi gue mengatakan bahwa kesempatan ini nggak boleh dibiarkan begitu saja.
Secara pribadi gue merasa sangat senang karena dilirik sama produser film. Selain permodelan, gue memang suka sekali dengan akting. Lagi pula kalau gue bisa menjadi aktor, kesempatan bertahan seumur hidup di dunia hiburan akan jauh lebih besar. Dengan begini Daddy bisa tambah percaya dan bahkan nggak bisa memaksakan kehendaknya ke gue lagi.
Blup.
| Chania-nya Daniel |
John, lo pasti udah tahu video itu kan? Ada yang nge-tag Pamela di IG dan sekarang dia jadi sasaran fans lo. Lo liat ke bagian tagged photo-nya akun Pamela sekarang! Ini IGnya : @Pam_N
Dengan terburu-buru gue membuka i********:. Gue mengetik nama akun Pamela dan secepat kilat pergi ke bagian tagged photos-nya. Sekali lagi dagu gue seolah jatuh ke lantai.
'John Adams VS Pamela Notonegoro'
Dari sekian banyak postingan yang tag Pamela, postingan ini yang paling banyak komentarnya. Entah itu fans atau anti fans gue, yang pasti ada yang mendukung gue menang dan kalah dalam taruhan ini. Beberapa di antaranya bahkan menyebut Pamela dengan tuduhan buruk nggak berdasar.
Gawat. Gue harus cek Pamela sekarang.
[MB]