(14) Pamela : Perlu Jalan Keluar

1667 Words
"Apa ini?" gumamku heran bercampur kesal melihat beberapa postingan dan banyak komentar yang menge-tag akun Instagramku. Sejak mengetahui tentang video taruhan yang jadi viral itu dari Poppy, kepalaku semakin bertambah pusing. Namaku yang diseret-seret ke dalam kasus yang seharusnya nggak melibatkanku sudah seperti bau kentut yang dicampur dengan bau sampah. Saat ini masalah dengan kesehatan papa belum tuntas. Dokter menyarankan untuk segera memasang ring setelah divonis memiliki penyakit jantung koroner. Awalnya kupikir bisa mengandalkan asuransi negara, tapi ternyata papa dan mama sudah mengalami kesulitan keuangan selama aku di Amerika, sampai-sampai iuran BPJS saja nggak dibayar. Itu artinya aku harus mengurusnya lagi, yang mana akan memakan waktu. Sementara itu, uang tabunganku untuk masa tua papa dan mama nggak cukup untuk mencakup semua biayanya. Sudah terlalu banyak yang dipakai untuk perawatan papa tiga minggu terakhir ini. Level keputusasaanku hampir mendekati titik maksimal di saat ini. Papa nggak mengetahui tentang kondisinya secara rinci karena mama nggak membiarkan dokter memberitahunya. Kekhawatiran apapun akan membuat kondisi papa semakin memburuk. Kata dokter penyakit jantung inipun dipicu dengan tekanan mental yang tinggi. Sekarang aku benar-benar ingin menyalahkan keluarga papa dan mama. Jelas merekalah sumber masalahnya. Tetapi tentu saja itu akan menghabiskan tenaga yang bisa kupakai untuk hal lainnya; mendapatkan uang pinjaman misalnya. Kalau saja aku bisa meminjam uang dari orang tua sahabatku, aku akan bekerja keras untuk mengembalikannya. Bekerja paruh waktu di Amerika cukup bisa membantu mengumpulkan uang. Sayangnya Poppy tidak berasal dari kalangan menengah ke atas. "Sayang," panggil Mama. Dia berdiri di pintu ruangan dimana papa dirawat. Aku tersenyum lemah menatap mama. "Papa udah habis makannya?" tanyaku. Mama mengangguk lalu duduk menyebelahiku. "Pam, beban ini jangan kamu tanggung sendiri ya," katanya. Sedih rasanya hatiku karena mama terpaksa melihatku putus asa. "Nggak kok, Ma. Jangan khawatir. Aku tuh selama di Amerika suka nabung. Jadinya simpanan masih cukup," ujarku meyakinkannya. Namun tentu saja itu bukanlah berita yang sebenarnya. Tabunganku sudah menipis sampai lima puluh persen. Aku cuma menyisakan biaya tiket ke Amerika karena uang saku akan dikirim lagi saat aku kembali sampai menyelesaikan studiku. "Mending kita urus BPJS aja yuk. Mama yang nanti ngantri dan semuanya deh, biar kamu nggak kerepotan*" "Ih, Mama. Aku tuh nggak masalah kerepotan," potongku. "Cuma prosesnya nggak akan segampang itu. Butuh waktu, Ma. Padahal saat ini kita harus bergerak cepet." "Terus kamu mau apa?" "Ya ... kerja." "Kuliah sambil kerja? Nggak kecapekan? Papa kan paling nggak suka kalau kamu nggak fokus sama belajar kamu. Apa lagi ini beasiswa penuh loh." Mama mengingatkan tentang wejangan papa yang selama ini menghalangiku untuk bekerja. Aku mengembuskan napas singkat. "Kita lagi ada di posisi yang nggak bisa milih, Ma. Segala kesempatan aku bakalan sabet selama itu bisa menghasilkan duit," kataku. "Yang halal ya." "Iya lah, Ma. Kan juga untuk kesehatan Papa," sahutku yakin. "Ya kali pakai uang curian. Nanti justru Papa jadi kenapa-kenapa kan berabe." Mama tertawa kecil. Dia menepuk lenganku pelan. "Kamu memang persis kaya Papamu." "Masa iya persis Mbah Kojan, tukang jual es lilin keliling itu, Ma?" celetukku dengan candaan yang terbiasa keluar begitu saja ketika bersama orang tuaku. Mama tertawa lagi. Kali ini air mata keluar dari pelupuk matanya. Bisa kulihat bahwa selama ini mama berusaha untuk menegarkan dirinya di depanku. Padahal aku benar-benar tahu kalau mama nggak bisa kehilangan papa. Mereka berdua itu sama sekali nggak terpisahkan. Karena itulah keluarga besar mereka nggak mampu memaksa mereka bercerai. Tekadku pun akhirnya membulat. Nggak akan kubiarkan orang tuaku berlama-lama bersedih. Aku sudah berjanji akan membawa mereka tinggal di Amerika dan hidup bahagia di sana tanpa campur tangan keluarga besar mereka. Sekarang janjiku bertambah. Aku akan segera mengumpulkan uang secepat mungkin untuk kesembuhan papa. Deringan HP mengejutkanku di situasi hening ini. Kulihat sebuah nomor Indonesia terpampang di layarnya. Aku nggak langsung menjawab dan bertanya-tanya dalam hati tentang nomor siapa ini. "Siapa, Pam?" tanya Mama. "Kok nggak dijawab?" Aku menggeleng. "Nggak tahu, Ma. Salah sambung paling." Akhirnya kubiarkan saja panggilan itu berakhir tanpa jawaban dariku. Namun dua detik setelah panggilan tak terjawab pertama, nomor yang sama memanggil lagi. "Mendingan dijawab dulu, Pam. Siapa tahu penting." Mama menyarankan. Mungkin perkataan mama ada benarnya. Aku menyentuh layarnya dan menarik tombol hijau ke atas. "Halo?" "Pammie!" Aku langsung tahu identitas si pemanggil. "John?" "Lo ... gimana kabarnya? Baik-baik aja? Uh, gue tahu lo pasti udah lihat i********: lo kan?" Aku nggak langsung menimpali ucapan dia dan membiarkannya bicara sampai selesai. "Gue bener-bener nggak tahu siapa di balik video ini. Tapi gue udah minta bantuan Daniel sama Chania untuk cari tahu. Jadi ... " Omongan John panjang sekali sampai aku nggak fokus mendengarnya. Suara notifikasi singkat tanda pesan masuk membuatku menarik HP dan melihatnya. Isi pesan itu hampir-hampir membuatku nggak percaya. "John, John! Diem dulu," perintahku ketika mulut beonya itu menciap-ciap terus. "Lo marah? Gue minta maaf. Sebisa mungkin gue bakalan bantu beresin." "Dibilangin suruh diem dulu juga." Aku yang tadinya masih di level jengkel sekarang naik ke level marah. Mama menyenggol lenganku, mengingatkan supaya aku nggak marah-marah. Gara-gara John aku sampai lupa ada mama di sampingku. "Kamu boleh ngobrol sama temen, tapi jangan sampai teriak-teriak ya, Pam," peringatnya. Aku memasang senyuman dengan deretan gigi terpampang lalu mengangguk. Setelah itu mama beranjak dari sisiku dan kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Melihat situasiku yang lebih bebas tanpa mama di sisiku, aku berpaling lagi ke layar HP. Kupasang mode pengeras suara tapi volumenya kukecilkan sedikit. Setelah itu, aku membaca pesan dalam bahasa Inggris dari akun bersimbol centang biru. "John, denger deh. Ini barusan ada yang kirim DM di IG aku. Nama akunnya Steven Morrison dan ini official account. Ada centang birunya soalnya," ucapku mulai bercerita. "Isi pesannya itu gini: Dear Ms. Pamela N, we'd like to offer you a chance to join our program after seeing the 'Marriage Bet' video going viral. We can see that you possess a natural acting talent and beauty. Please kindly reply to this message simply by writing your phone number or email address. Regards, Steven Morrison[1]. Ini bercanda atau gimana sih?" Bukannya memberi jawab, John nggak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi aku tahu dia masih di sana karena suara napasnya masih terdengar. "Lo nggak tahu siapa itu Steven Morrison?" "Enggak. Nggak penting juga," sahutku santai. "Ya Tuhan, Pammie. Lo kudet banget sih? Seharusnya sekarang lo udah loncat-loncat girang dapet pesan itu." "Kenapa?" "Itu sutradara salah satu reality show yang digandrungi sama orang Amerika dan bahkan seluruh dunia. Lo habis ini harus cek di Youtube ya, biar lo ngerti. Sekarang mendingan lo bales deh DM-nya. Ambil kesempatan ini. Nggak banyak orang bisa dapet loh. Yang pasti, lo dibayar untuk ini." Di dalam pikiranku ada dilema yang bergejolak. Aku memang sedang dalam posisi nggak punya pilihan. Kalau aku menerima tawaran ini, itu artinya aku akan mendapatkan banyak uang. Memang benar aku nggak tahu jumlahnya berapa nanti. Tapi kalau saja aku bisa mendapat lima ribu dolar Amerika, papa bisa dioperasi langsung. "Papa nggak setuju, Pam." Aku terkejut melihat papa muncul di ambang pintu kamarnya, duduk di atas kursi roda. "Um, Pa, ini*" "Kamu belum selesain kuliah S2 kamu. Jangan berani-beraninya ambil keputusan untuk lakuin hal-hal lain." Papa menentang rencana ini. Itulah tipikal papa yang aku kurang setujui. Faktanya, tujuan kuliah tinggi adalah untuk mendapat pekerjaan yang bagus. Pekerjaan bagus bisa mendatangkan banyak uang. Sementara tawaran ini bisa disebut dengan pekerjaan yang bagus karena mendatangkan banyak uang. Itu adalah logika paling mudah yang ternyata papa nggak bisa terima. "Tapi, Pa, saat ini kita butuh uang untuk kesehatan papa." Aku mengutarakan pendapatku kali ini. "Sekarang kita ada dalam kondisi terdesak. Papa nggak ijinin aku kerja, sementara papa dan mama juga nggak bisa kerja. Asuransi nggak bisa diandalin. Dari mana kita dapat uang untuk kesehatan papa?" "Nggak usah khawatir sama papa. Setelah kamu bisa selesain S2, baru kamu bebas mau ngapain. Dan kamu juga nggak perlu hidup hemat di Amerika demi nabung untuk kami. Jangan pikir papa nggak tahu. Badanmu itu udah kurus banget." Keputusan papa nggak bisa diganggu gugat dari nada bicara dan ketegasan ekspresinya. "Ayo, Ma. Kita jalan." Melihat papa didorong di atas kursi roda oleh mama, hatiku jadi terasa pedih sekali. Papa selalu jadi sosok terkuat di mataku dan bisa tahan menghadapi apapun. Tapi sekarang ini justru semuanya terbalik. Aku nggak mau lihat papa semakin melemah. "Pammie?" "Astaga," gumamku teringat akan panggilan yang belum berakhir. "John, maaf kita ngobrol lain kali lagi ya." "Tunggu, tunggu, Pam. Gue punya akal untuk bantuin lo." "Kamu mau pinjemin aku uang, John? Nggak deh. Makasih anyways. Aku nggak akan bisa balikin karena nggak boleh kerja. Dari mana aku dapet duit nanti?" kataku menolak. "Bukan. Kita perlu ketemu. Urusan ini nggak bisa diomongin lewat telepon doang. Lo kirim alamat lo, gue nanti samperin lo." Aku mendengus diiringi tawa miris mendengar perkataannya. Dia berkata seolah Bandung dan Semarang cuma lima belas menit jaraknya. "John, kamu inget kan aku bilang aku tinggal di Semarang?" "Inget kok. Tinggal pesen tiket ke Semarang dan dalam satu jam sampe." Sejenak aku terdiam. Pastinya itu hal yang mudah untuk seorang John Adams. Hampir saja aku lupa bahwa ia adalah seorang selebritis. Membuang jutaan rupiah bukan masalah. "Gue tahu lo kepingin banget papa lo sembuh. Jadi, lo harus percaya gue, oke?" Seenggaknya aku memang harus memberi John kesempatan untuk membantu aku. Kalau aku merasa idenya bisa diterima dan masih dalam jalur halal, aku akan melakukannya. "Oke, John. Nomor ini ada WA-nya?" "Enggak, enggak. Ini nomor baru beli untuk telepon lo doang. Gue buang habis ini. Gue pake nomor yang US. Gue kirim WA aja ya ke nomor lo ini." Aku baru tersadar setelah mendengar ucapannya. Dia memang menelepon aku menggunakan jalur biasa, bukan internet seperti w******p. Sudah pasti dia menghabiskan banyak pulsa selama lima belas menit terakhir ini. Hah, selebritis. [MB] Keterangan: [1] Yang terhormat, Nona Pamela N. Kami ingin menawarkan kepada Anda kesempatan untuk bergabung dalam acara kami setelah melihat video Taruhan Pernikahan itu menjadi viral. Kami dapat melihat bakat akting dan kecantikan natural Anda. Mohon balas pesan ini hanya dengan menuliskan nomor telepon atau alamat email. Salam, Steven Morrison.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD