Karena masih sore, gue langsung memsan tiket begitu menerima informasi tentang lokasi Pamela. Tapi gara-gara Trevor ‘si tukang kepo’ yang berteriak-teriak sembarangan, Daddy menyuruh dia untuk menemani gue ke Semarang. Sial sekali rasanya gue karena harus terbabni dengan keberadaan dia.
Sepanjang perjalanan dari Bandung ke Semarang, dia sama sekali nggak bisa berhenti menanyaiku banyak hal. Kalau saat ini kami sedang ada di rumah, gue sudah menyumpal mulutnya dengan jeruk utuh yang belum dikupas. Entah mirip siapa dia bisa jadi secerewet ini.
Matahari sudah hampir turun sewaktu kami sampai di Bandara Ahmad Yani. Dengan salah satu taksi yang sudah berjejer seperti jamur liar, kami pergi ke rumah sakit tujuan. Kata pak supir, tujuan gue ada di Semarang atas dan bisa memakan waktu sekitar hampir setengah jam.
"John, calon ipar gue ini umurnya berapa sih?" Trevor membuka mulut lagi sambil minum Coke dengan posisi santai. "Betewe, kenapa lo tegang gitu? Kaya udah mau lamaran aja."
"Eh, lo bisa diem nggak sih? Gue lagi mikir nih." Gue melempar lirikan padanya sambil berdecak kesal.
"Lah, mikir apa lo? Mikir gimana bilang ‘I love you’?" Trevor tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk.
"Nah! Karma tuh barusan. Siapa bilang lo bisa main-mainin gue?" Dalam hati gue merasa sangat puas melihat Trevor kena batunya. Tapi insting gue sebagai kakak nggak mengizinkan gue melihat dia tersiksa begitu saja. Tangan gue secara otomatis menyabet satu helai tisu yang gue lemparkan ke dia. "Awas tumpah bikin taksi ini banyak semutnya."
Dari jok setir, pak supir tertawa melihati kami berdua lewat kaca spion di atasnya. "Seru ya saudaraan kaya mas-mas ini?" komentarnya.
"Seru apaan pak? Saya di-bully terus sama dia," Trevor cepat-cepat menyahut.
"Yang ada kebalik kali." Gue membalas dia karena nggak mau kalah. "Udah ah, lo diem dulu. Gue beneran mau mikir nih."
Tadi saat masih di rumah, gue mendapat sebuah ide yang brilian dan akan bisa menjadi jalan keluar untuk Pamela. Tapi setelah memikirkannya matang-matang sewaktu di pesawat, gue jadi nggak yakin akan dampak yang bisa dia dapatkan nantinya. Masalahnya sekarang ini gue sudah di Semarang dan nggak bisa kembali lagi. Lagi pula gue sudah berjanji untuk datang dan mau nggak mau harus gue tepati. Kalau Jangan sampai gue merusak reputasi gue sendiri.
"Trev, gimana ya caranya kasih kesan pertama yang baik dan langsung dipercaya sama orang tua?" Otak gue sudah mentok sampai mulut gue asal bicara tanpa kendali.
Gue dalam posisi serius dan membutuhkan jawaban. Tapi Trevor justru nggak membuka mulut sama sekali dan hanya asyik dengan HP-nya.
"Woy. Diem aja lo?"
Sambil berdecak-decak, Trevor menggeleng-geleng kepala. "Dua menit yang lalu lo suruh gue diem. Sekarang pas gue diem, lo tanya kenapa gue diem. Yang waras siapa sih?" komentarnya.
Gue nggak bisa membantah. "Ah! Ya udah ngomong lagi lo sekarang. Gue butuh bantuan mikir," sahut gue nggak sabar.
Mendengus singkat, Trevor memulai akting sinisnya, menirukan pemeran jahat ala film Hollywood. Gue nggak merasa aneh lagi mengetahui betapa anehnya adik gue ini. "Lo mau menaklukkan hati camer ya? Lo dateng ke orang yang tepat," ucapnya menepuk d**a dua kali.
"Camer apaan sih? Ah, ya udah lah terserah lo mau gimana. Yang penting lo kasih tahu." Gue merasa malas untuk menjelaskan ke dia ada apa antara gue dan Pamela sebenarnya.
Trevor mengangkat telunjuk jari tangan kanannya. "Pertama, lo harus bersikap sopan dan perkenalin diri lo yang baik sama camer. Jangan lupa, kebiasaan lo nyebut lo-gue harus hilang. Pakai saya-om atau tante," katanya yakin. "Kedua, lo jelasin apa maksud kedatangan lo kesana. Nggak usah basa-basi, yang penting tulus. Kalo emang lo kesana untuk ngelamar dia, ya udah bilang aja."
Ngelantur aja nih anak. Gue mendelik sedikit karena itu. "Tapi tadi papanya udah denger suara gue dan kaya nggak setuju gitu waktu gue ngobrol sama Pamela," beritahu gue.
"Emangnya papa Pamela ini tahu wujud lo kaya gimana?"
Gue menggeleng.
"Ya udah beres. Kan suara di HP juga pastinya beda dari yang sebenernya. Lo yakin aja lah, John. Kalo jodoh nggak bakalan kemana dah." Tangan Trevor menepuk bahu gue, seakan-akan dia adalah orang tua yang sedang memberikan wejangan pada anaknya.
Gue nggak peduli tentang apa yang dia maksudkan dengan perkataan itu. Sekarang gue sudah cukup mengerti bagaimana harus bersikap di depan papa dan mama Pamela. Seharusnya kalau gue menghadap dengan maksud yang baik dan masuk akal, apa yang gue akan sampaikan ini bisa diterima. Seenggaknya ucapan Trevor yang asal itu membuat gue mendapatkan keyakinan tersendiri.
"Mas, ini mau dianter masuk ke dalam apa berhenti di sini aja?" Pak supir bertanya.
Sangking dalamnya berkonsentrasi memikirkan semua ini, gue baru tersadar kalau kami sudah sampai. Ternyata sudah cukup lama gue mengambil waktu terdiam. "Tolong masuk ke lobi aja. Saya nggak terlalu tahu lokasi ini soalnya," jawab gue.
"Wah? Udah latihan pake 'saya' lo, John? Terpuji banget emang niat lo, John. Bangga gue jadi adik lo," komentar Trevor tambah nggak jelas.
Taksi bergerak masuk ke lobi dan berhenti di sana. Gue memberikan uang sesuai dengan tarif yang tertera dan segera turun. Trevor yang berdiri setelah turun dari taksi membuat gue tersadar ada yang salah.
"Eh? Lo pake kaos oblong, celana pendek, sendal begitu ... nggak sopan tahu?" Gue pun jadi uring-uringan sekarang. "Gimana mau nunjukin kalo gue bisa dipercaya kalo lo tampilannya kaya begini?"
Trevor menarik kepala ke belakang sambil menaikkan alis. "Lah, gue kan bakalan cuma duduk di lobi. Lo aja yang ketemu sama orang tuanya. Laki harus gentle," katanya cuek.
"Papa kan nyuruh lo buat temenin gue!" Gue mengingatkan tujuan dia ikut ke Semarang yang kali ini gue akui diperlukan.
"Ogah. Urusan gue sampai di sini, mah bro. Cinta lo bukan urusan gue." Trevor mendorong lengan gue agak keras.
Gue berdecak dan menyahut, "Woy, bukan urusan cinta! Ini urusan lain. Dari tadi ngomong nggak jelas aja lo."
"Ya pokoknya, urusan apapun yang lo punya sama siapa tuh ... Pamela? Nah lo urusin sendiri." Trevor berjalan meninggalkan gue dan masuk ke dalam lobi seolah ini rumah sakit milik sendiri.
Gue mengekor di belakangnya dan berhenti di kumpulan kursi berjejer di ruang tunggu. Pamela belum menjawab pesan gue di w******p sejak gue turun dari pesawat. Gue perlu tahu dimana papanya dirawat.
Tiba-tiba di kepala gue muncul sebuah ide untuk memeriksa akun i********: Pamela. Gue menemukan nama terakhir. Notonegoro. Artinya gue bisa mencari pakai nama itu ke resepsionis.
Tanpa mempedulikan Trevor lagi, akhirnya gue pergi ke bagian resepsionis. "Permisi. Untuk tahu dimana pasien yang namanya Notonegoro dengan penyakit jantung dirawat gimana ya?" tanya gue.
Resepsionis cewek yang tergolong muda itu langsung membelalak begitu melihat gue. Itu ekspresi dan tatapan yang biasa gue lihat dari semua cewek yang gue temui. Tanpa bertanya lebih lanjut, dia langsung cari informasi itu. "Pak Samuel Notonegoro ya?" tanyanya.
"Iya, iya." Gue asal menyahut seolah yakin itu bener-bener namanya.
"Oh, sekarang beliau dipindahkan ke IGD." Jawabannya membuat gue langsung syok dan khawatir terhadap Pamela.
"Dimana arah IGD?"
"Masuk ke lorong itu saja." Dia mengarahkan dengan gestur tangannya.
"Oke, makasih." Tanpa menunggu lama, gue berlari pergi ke arah yang ditunjuk. Bahkan gue nggak memberitahu Trevor sama sekali sangking khawatirnya.
Secara pribadi gue juga merasa heran bagaimana gue bisa jadi sekhawatir ini. Tapi gue nggak bisa membayangkan apa yang Pamela sedang rasakan sekarang karena papanya bahkan sampai dipindah ke IGD. Sambil berlari gue berdoa supaya semuanya baik-baik saja.
Di ujung koridor gue melihat sosok cewek yang familiar berjongkok di lantai sambil menangis. Di sebelahnya ada seorang ibu, yang kemungkinan besar mamanya, juga menangis tapi duduk terkulai di atas kursi. Sontak hati gue ikut merasa hancur melihat pemandangan ini.
Ada keraguan di batin gue sekarang. Antara harus datang mendekat atau membiarkan mereka sendiri, gue nggak tahu. Tapi hati nurani gue nggak tega, karena itu gue pelan-pelan berjalan ke arahnya.
Baru saja melangkah, sosok laki-laki berjubah putih keluar dari pintu dan datang mendekati mereka. Dia hanya mengajak ajak mama Pamela untuk masuk dan nggak mengizinkan dia untuk ikut. Alhasil, Pamela bertambah tersedu-sedu menangis.
Gue cepat-cepat datang mendekati Pamela dan berhenti di sebelahnya. "Pammie?"
Waktu dia menoleh ke gue, wajahnya terlihat sudah sembab dan matanya dipenuhi air. Dia nggak mengatakan sepatah katapun selain menyandarkan kepalanya ke d**a gue. Isakan tangisnya benar-benar menoreh hati sampai ke titik yang terdalam, seolah dia adalah bagian hidup gue.
Secara spontan gue merengkuh dia lebih erat dan tangan gue menepuk-nepuk punggungnya. Nggak ada satupun hal yang terpikirkan di kepala gue untuk diucapkan kecuali, "Semua akan baik-baik aja, Pammie."
Dengan itu tangan Pamela menarik ujung kaos gue di samping kanan dan kiri sambil bilang, "John, aku nggak mau kehilangan papa. Aku nggak mau," isaknya
"Ssh. Nggak, Pammie. Lo nggak bakalan kehilangan papa lo." Tangan gue membelai rambutnya yang panjang dan lurus.
Dari mana keyakinan itu berasal, gue nggak tahu. Mungkin itulah yang dinamakan iman, atau setidaknya hanya harapan. Yang pasti ada sesuatu yang membuat gue yakin bahwa papa Pamela akan baik-baik saja.
"Apapun bakal aku lakuin, John. Asal papa aku bisa sembuh." Pamela membuka mulut lagi, mengungkapkan keputusasaannya yang mendalam.
Gue merenggangkan pelukan dan mendorong bahu Pamela sampai gue bisa melihat wajahnya. "Kalo gitu, ijinin gue bantuin lo."
[MB]