1. Hutang 40 Juta ?
Miranda menumpuk perlahan-lahan beberapa uang kertas di depannya, dia menghitungnya dengan ujung jarinya. Suara gesekan uang itu menarik perhatian Sabrina yang baru saja mengenakan ranselnya. Sabrina sudah siap-siap untuk berangkat ke kampus ada kelas pagi ini, tapi dia harus datang lebih awal karena kemarin Pak Bryan menyuruh dia membawa alat praktikum dari ruangnya.
Ia kembali menghela napasnya menatap ke arah Mamanya, hampir tiap bulan dia melihat pemandangan seperti ini, Mamanya sedang menghitung uang hasil dari penjualan kue dan roti kemarin.
"Bayar hutang lagi, Ma?" Suara Sabrina terdengar berat, bukan pertanyaan melainkan penegasan penuh kekecewaan yang Ia rasakan.
Miranda mengangguk tanpa mendongak. Anggukan yang mengandung seluruh beban hidupnya.
"Harus gimana lagi, Ina? Kita terpaksa membayar hutang Papa mu sama Budhe yang tinggal sekitar 40 juta lagi, ini Mama sudah mengumpulkan tiga juta untuk bulan ini, sepertinya penjualan Mama turun bulan ini. Dua juta untuk di tabung, di sisipkan untuk beli bahan juga, satu juta lagi untuk di angsur sama Budhe."
Sabrina melangkah mendekati Mamanya, sorot matanya yang biasanya teduh kini menyala-nyala bagai bara api yang telah lama dipendam di relung hatinya.
"Ma kenapa sih Mama tidak cerai saja dari dulu sama Papa, kalau begini nyusahin hidup kita aja dia Ma ! Sudah mencari kenikmatan di luar sana, meniduri perempuan lain, pakai acara pinjam uang sama Budhe segala lagi dengan alasan ini itu, perusahaan Papa bangkrut di sita sama Bank serta rumah kita di Jakarta pun ikut disita juga, entah ini uang apa lagi Papa pinjam dari Budhe. Sudah meninggal saja masih nyusahin kita." Desis Ina, kata-kata itu terasa pahit di lidahnya. Ia menatap Mamanya, mencari jawaban atas pengorbanan yang sia-sia, atas kesabaran yang disalahgunakan oleh Papa kepada Mamanya.
"Dasar orang tua tak tahu diri dia Ma, tak pantas dia jadi Papa Sabrina.. !"
Teriakan itu pecah, menggema dalam rumah ini.
"Ina.. !"
"Pokoknya Ina tidak ikhlas kerja keras Mama selama ini, tapi harus ngelunasin hutang Papa yang tidak kita lakukan itu sama sekali. Ingat, Ma, itu bukan kita yang ngutang, tapi Papa !"
"Tapi, itu Papa mu, Ina..." Miranda mencoba melembutkan hati putrinya.
" Haha.." Ina tertawa sinis. " Tetap saja Ina tidak ridho, Ma! Papa sudah bikin keluarga kita malu, saat meninggal saja dia masi bersama dengan selingkuhannya itu, ditambah lagi kita harus bayar hutangnya ! Ya Tuhanku, kurang gimana lagi coba kesabaran kita selama ini Ma."
"Ina, dengerin Mama dulu sayang, Ina mungkin kecewa dengan apa yang terjadi, tiba-tiba aja cobaan demi cobaan itu menghantam keluarga kita, ini benar di luar kuasa kita Ina, tapi Mama tetap akan membayar hutang tersebut karena kita tidak bisa lari dari tanggung jawab itu. Saat meninggal Papa masih suami Mama."
"Papa jahat, Ina tidak habis pikir sama kelakuan Papa, tega sekali dia mengkhianati Mama, pokoknya Ina benci sama Papa." Ina membalikkan badan, rasa bencinya pada pengkhianatan Papa kepada keluarganya ini menyesakkan dadanya. Ina langsung pergi tanpa pamit kepada Mamanya.
Miranda menghela napas menatap punggung putrinya keluar dalam kondisi marah.
Ina benar tidak menyangka Papanya tega sekali kepadanya dan Mamanya juga. Kini dia melajukan sepeda motornya meninggalkan Mamanya sendirian bersama tumpukkan uang dan beban janji yang terikat pada selembar surat perjanjian utang. Sebuah surat yang diperlihatkan Budhe setelah kepergian Papa, bukti tak terbantahkan yang mengikat Miranda pada harga sebuah pengkhianatan.
Dalam perjalanan Ina menarik napas panjang. Udara pagi terasa menusuk dadanya seolah almpun ikut menolak ketidakadilan ini. Ia membayangkan wajah letih Mamanya setiap malam, tangan yang melepuh, punggung yang membungkuk. Dari pagi hingga sore, Mama tak pernah lelah berjuang di toko kue warisan Neneknya itu. Ina membantu sehabis kuliah, karena ia tahu dua pasang tangan ini harus bekerja gila-gilaan membayar hutang yang tidak kami lakukan itu.
Uang hasil penjualan kue, uang yang seharusnya bisa ditabung penuh untuk biaya kuliahnya, kini harus dibagi. Sebagian untuk membeli bahan, sebagian untuk menyambung hidup, dan sebagian besar satu juta lagi harus berpindah tangan, bulan demi bulan, untuk menutupi utang yang tak pernah mereka ciptakan.
Sisa utang 40 Juta, adalah angka yang mengikat mereka pada masa lalu yang pahit.
"Papa, membusuklah kamu di neraka bersama selingkuhanmu itu."
Doa dan sumpah serapah itu diucapkan Ina dalam hati, sebagai pelampiasan atas pahit yang Ina dan Mamanya terima selama ini dari Papa dan sebuah pengkhianatan.
***
Kampus terlihat masih sepi hanya beberapa orang yang datang, dia Kembali mengubah stelan wajahnya yang seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya ini. Ia menghela napas. Senyum tipis, tatapan yang datar, menampilkan sosok yang seolah tak terbebani. Ina akan tampilkan wajah seperti biasa dengan sifat barbarnya , tak tersentuh oleh beban yang diam-diam dipikulnya.
ini adalah saksi bisu, satu-satunya harta berharga yang tersisa. Sambil menunduk, matanya menangkap pantulan dirinya di spion motor sebuah cermin kecil. Jari-jari lentiknya bergerak cepat, menyisir helai demi helai rambut panjangnya yang hitam, merapikan kekusutan yang tersisa dari perjalanan tadi. Gerakan itu penuh makna, bukan hanya merapikan penampilan, tetapi juga menegaskan kembali ekspresi ketenangan yang harus ia bawa ke kelas hari ini.
Motor ini, pernah ia pertimbangkan untuk dilepas dengan menjualnya demi membantu sedikit lilitan utang Papa, namun ditentang keras oleh Mama. Karena ini, motor tetap tinggal bersama dengan Ina, menjadi kendaraan untuk aktivitas ke kampus. Mama tidak pengen aku menaiki Bus atau angkot.
Ponsel Sabrina tiba-tiba berdering dia mengambil ponsel itu di ransel nya. Tertera nama Mama di sana. Sabrina mengangkat telepon dari Mamanya tersebut.
"Ina " ( panggilan kesayangan dari Mama)
"Iya Ma,"
" Jangan lupa sarapan ya di kampus nanti."
"Hmm."
"Ina marah ya sama Mama." Miranda menangkap suara Sabrina yang berbeda menjawab balasannya.
"Nggak Ma, kenapa Ina harus marah sama Mama nggak lah, Ina hanya kesal sama Papa aja."
"Udah, nggak usah kita bahas lagi soal Papa karena itu tidak perlu, yang terpenting sekarang ini adalah hidup Ina dan hidup Mama."
"Iya Maa, maafkan Ina sempat meninggikan suara Ina tadi sama Mama. Ina kelepasan soalnya Ina kesel."
"Hmm tidak papa sayang, Mama bisa mengerti kok. Yang semangat kuliahnya hari ini ya sayangnya Mama."
"Iya Ma, Ina ke kelas dulu ya Ma. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Benar kata Mama Ina nggak harus mikirin Papa lagi karena itu tidak penting tapi soal hutang Papa itu tetap saja bikin pusing. Huh..! " Ina kembali menghela napasnya.
Dia merapikan pakaiannya, sebelum masuk ke ruangan Pak Bryan seperti biasa Ina selalu memperhatikan penampilannya, dia pandai sekali memadukan outfit yang dia pakai karena dia masih memiliki baju-baju cantik yang dia bawa dari Jakarta. Jadi dia terlihat mempesona dengan penampilannya ini. Sudah ada beberapa orang yang menyatakan perasaannya sama Ina, sayangnya Ina tidak tertarik malah dia terpesona sama ketampanan Dosen duda yang banyak di gila-gilakan oleh mahasiswi lainnya. Sepertinya otak dia mulai bergeser dari tempatnya bisa-bisanya dia jadi ikut notif suka sama dosen duda juga.
Gara-gara jurusan yang bikin kiler dan tidak di sukai banyak orang. Ina tertantang sendiri dengan jurusan yang dia ambil ini. Malah menjadi keberuntungan untuk Ina. Sejak dari SMA dia suka sama kimia dan sekarang ada mata kuliah yang bikin dia dan mahasiswi lainnya bikin dia semangat untuk datang ke kelas, dia harus bertemu dengan Pak Bryan. Kata temannya Naswa bisa cuci mata setiap melihat ketampanan Pak Bryan. Bagaimana tidak beberapa dosen jurusan ini pada ganteng semua yang paling ngena di hati cuma Pak Bryan. Awalnya Ina menganggap biasa aja tapi dengan kehadiran Pak Bryan ke kelas membuat Ina jadi tertarik dan stalking dengan ide gilanya ini, tapi dia masih di tingkat sewajarnya tidak menggangu kenyamanan dosen nya tersebut.
"Apakah Pak Bryan sudah datang ?" Gumam Ina sambil mengedarkan pandangannya pada parkiran mobil Dosen di seberang sana.
"Nah itu mobilnya. Pak Bryan, Ina datang Pak.. !"
***