2. Terjebak Di Ruang Pak Dosen

1512 Words
Langkah kaki Ina begitu terasa ringan melangkah menuju ruangan Pak Bryan. Ina tiba-tiba jadi semangat memulai perkuliahan hari ini. Cuci mata nggak usah jauh-jauh, ternyata akan ada di depan matanya sendiri nanti. Sudah ganteng, tinggi, pintar dan status dudanya benar tertutupi dengan kegantengannya itu. Ina tersenyum mengingat wajah Pak Bryan yang membuat dia terpesona. Saat berjalan menuju ke ruangan Pak Bryan sesekali dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling para mahasiswa, mahasiswi sudah mulai berdatangan mungkin mereka sama dengan dirinya ini dapat jadwal kuliah pagi juga atau hanya sekedar menunggu dosen untuk mereka lakukan bimbingan skripsinya. Sudah biasa pemandangan pagi seperti ini mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ina mengirim pesan terlebih dulu kepada Pak Bryan untuk menanyakan keberadaannya. Sebelum Ina masuk keruang kerja Pak Bryan. Biar terlihat sopan, Dia menekankan keyboard pada ponselnya mengirim pesan w******p. "Assalamualaikum, Pak apakah bapak ada di ruangan sekarang..?" "Waalaikumsalam. Ada, silahkan masuk aja" "Iya Pak. " Balas Ina lagi. Bagi Ina, pesan singkat itu bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah etika. Dia sangat senang menuju keruangan Pak Bryan pagi-pagi sudah mendapatkan suplemen energi dapat pemandangan bagus. Sesampainya di depan ruangan Pak Bryan, Ina berhenti sejenak, ada gelenyar halus yang merayap di dadanya sebuah rasa grogi yang datang tiba-tiba. Ia memejamkan mata, lalu menarik napas panjang. Ia berusaha menghirup dan mengembuskannya perlahan, mencoba menetralkan detak jantungnya yang mulai berpacu tidak beraturan. Tok... Tok... Suara ketukannya terdengar ragu di telinga Ina sendiri. "Masuk aja nggak di kunci." Sahut Bryan dalam ruangannya terdengar tenang namun tegas. Ina menekankan handel pintu dan melangkah masuk dengan gerakan perlahan. Baru saja satu langkah ia berpijak di atas karpet tebal, suara Pak Bryan kembali terdengar walaupun Ina belum melihat wajah Pak Bryan. "Tutup pintunya." "Iya." Jawab Ina, dia segera menutup pintu. Itu berarti dia harus masuk dan tidak boleh keluar dari ruangan ini mungkin banyak barang yang akan Ina bawa biasanya dia akan langsung di perintahkan untuk membawa barang di dekat pintu. Ini sekarang tidak ada barang satupun di dekat pintu. "Sabrina, Aku di ruang tamu ke sini aja." Nahkan benar apa kata ku barusan barangnya mungkin ada di dalam. Batin Ina lagi. "Iya aku akan kesana ." Ina melangkah perlahan, mengikuti arah suara yang menggema di ruangan luas itu. Kantor Pak Bryan memang megah dari ruangan dosen lainnya. Sebuah sudut ruang tamu yang ditata rapi. Namun, saat kakinya melewati batas sekat ruangan tersebut, langkah Ina mendadak lumpuh. Di sana, ia mendapati sepasang suami istri paruh baya yang tampak elegan tengah duduk bersandar. Tatapan mereka yang serempak beralih ke arah dirinya membuat udara di sekitarnya seolah mendadak menipis. Rasa grogi yang tadi sempat ia kendalikan kini kembali menyerang dengan kekuatan penuh. Jantungnya berdentum hebat, lebih kencang dari sebelumnya. "Sayang, kenapa berdiri di sana?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Pak Bryan. Duarr..! Dunia Ina tiba-tiba seolah runtuh di bawah kaki Ina sendiri. Ia ternganga, matanya membelalak menatap ke dosennya yang kini menunjukkan ekspresi yang sama sekali belum pernah ia lihat. Panggilan "sayang" itu terasa seperti sengatan listrik yang membuat lidahnya kelu. "Hah, Ma—maksudnya Ba—?" Ina terbata, mencoba mencari kejelasan di tengah badai kebingungan sendiri. "Ayo ke sini," Bryan memotong dengan cepat, tak membiarkan Ina menyelesaikan kalimatnya, dia takut ketahuan. Bryan melambaikan tangannya kepada Ina dengan gestur yang sok akrab bahkan terlalu akrab untuk ukuran dosen dan mahasiswi. Dia tahu sekali dengan sifat Pak Bryan yang sulit di taklukkan hari ini Pak Bryan aneh di mata Ina. "Hei, ayo ke sini. Malah bengong," lanjut Bryan dengan nada bicara yang manis, namun ada sorot mata yang seolah memberi kode tersembunyi. "Katanya mau kenalan sama Mama dan Papa ku, kan sayang ? Ayo duduk di sini. Kenalin, ini Mama dan Papa ku, Sayang. Kebetulan mereka sudah datang pagi-pagi sekali ke sini." ucapan terakhir seolah sindiran kepada orang tuanya. Ina merasa seperti ditarik masuk ke dalam sebuah panggung sandiwara yang di ciptakan Pak Bryan sendiri, dengan naskahnya tidak pernah Ina baca. Di bawah tatapan penuh selidik namun hangat dari kedua orang tua di hadapannya, Ina hanya bisa terpaku, mencoba mencerna ucapan demi ucapan Pak Bryan barusan. Ina kembali menanatap Pak Bryan menuntut penjelasan." Apa-apaan Pak Bryan ini, pakai panggil aku dengan sebutan sayang segala." Batin Ina dengan dongkol. "Ayo kesini sayang. Kenapa diam disana apa perlu Mas gendong nih ?" "Hah, nggak-nggak," desis Ina kaget. Suara yang nyaris tak terdengar, namun menggema keras di benaknya sendiri. Reaksi terkejut itu begitu tiba-tiba dan membuat dia seperti habis kena disiram air es di pagi buta. Rasanya pada detik itu juga, ia ingin sekali melakukan tindakan barbar yang biasa dia lakukan di kelas saat temannya iseng, kali ini dia ingin sekali membenturkan kepala Pak Bryan yang menyebalkan itu ke tembok kokoh di belakangnya. Ada apa gerangan dengan Dosen yang dia kenal seperti kulkas dua pintu pagi ini ? Rasanya dia seperti sedang bermimpi buruk ? Apa yang baru saja Pak Bryan katakan kepada kedua orang tuanya tentang ku ? Sekelebat pertanyaan bagai rentetan kilat yang berkelebat cepat di otak Ina. Rasa penasaran bercampur horor itu sungguh menyiksanya sekarang. Namun, sebagai seorang yang menjunjung tata krama, Ina terpaksa dengan langkah yang seperti kakinya sedang diikat dengan tali untuk menghampiri kedua orang tua Pak Bryan. Ia menyalami mereka satu per satu, senyum yang ia paksakan terasa kaku di wajahnya. Mengapa? batinnya menjerit tanpa suara. Kenapa dengan Pak Bryan? Ia menatap pria itu dengan pandangan menyelidik. Mungkinkah kepalanya terbentur sesuatu sebelum datang kemari ? Atau, apakah ia hanya sedang iseng ingin melihat aku menderita untuk balas dendam kepada ku yang suka mancing-mancing cari perhatian kepada nya ? ya ampun apakah benar aku ketahuan stalking Pak Bryan ? Mati aku. Duh kenapa Pagi-pagi sudah di bikin sport jantung begini. Ina kembali membatin. Seluruh akal sehat Ina mendadak hilang, digantikan oleh campuran panik, amarah, dan misteri yang menyesakkan dadanya sendiri. Pagi yang seharusnya damai kini terasa seperti medan perang yang tak terhindarkan oleh Ina. Ina benar dibuat ling lung, wajahnya memancarkan kebahagiaan menuju ke ruangan ini seketika hilang dan menjadi tegang. Sementara itu Bryan tersenyum melihat wajah bingung dan tegang Sabrina pagi ini. Biasanya dia kegirangan, sekarang dia sepertinya Speechless tidak bisa berkata apa-apa. "Hei Sabrina sayang, mau sampai kapan mau berdiri disana seperti rentenir aja berdiri disana. Mama nggak marah kok sayang ayo kesini." Ina rasanya ingin berteriak di telinga dosennya ini untuk buat Pak Bryan sadar kembali dan agar ingatannya kembali seperti semula. Ina benar ikhlas dengan sifat yang diperlihatkan seperti biasanya bukan mendadak manis seperti ini, membuat bulu kuduknya Ina tiba-tiba merinding. Udara di ruangan itu terasa tebal, dipenuhi ketegangan yang hanya bisa diciptakan oleh tatapan menyelidik seorang ibu. Bagi Ina, setiap detik terasa seperti jebakan. "Jadi ini orang yang kamu maksud tadi , Bryan." Suara itu adalah pernyataan, bukan pertanyaan, menusuk langsung ke inti kecanggungan tersebut. "Iya, Ma," jawab Bryan dengan nadanya tegas, namun Ina tahu ada lapisan kepura-puraan yang menyelimuti pengakuan itu kepada Mama Pak Bryan. Ina masih menebak-nebak apa yang dibicarakan Pak Bryan kepada Mamanya tadi, hingga dia harus terseret kedalam keluarga ini. Kenapa belum apa-apa udah dikenalin langsung aja sama camer bukan seperti ini konsep yang Ina inginkan. Ina benar belum beranjak dari tempat dia berdiri tadi setelah dia menyelami orang tuanya Pak Bryan. "Sayang, ayo ke sini kita ngobrol sebentar." Perintah itu datang dari Bryan, diiringi tepukan memaksa di kursi sebelahnya. Terpaksa. Itu satu-satunya kata yang terlintas di benak Ina saat ia menyeret tubuhnya untuk duduk. AKU DUDUK DI SEBELAH PAK BRYAN. Batinnya menjerit, ingin dia benturkan kepalanya sendiri ke dinding bahwa ini bukan mimpi. Kenapa hari ini sepertinya dia terjebak di ruangan ini ? Sensasi ini bukan kebahagiaan yang ingin Ina inginkan, sebuah adrenalin yang bercampur horor. "Sejak kapan kalian jadian?" Pertanyaan Mama Bryan melayang, tajam dan menuntut jawaban yang tak mereka miliki. Saat itulah Bryan melakukan hal yang membuat jantung Ina serasa berhenti. Dia menarik pinggang Ina untuk mendekat kemudian Ia meraih tangan Ina, sebuah sentuhan yang begitu tiba-tiba dan asing. Ina tersentak, tetapi sebelum ia sempat menariknya, tangan itu sudah digiring, diletakkan dengan posesif di pangkuan Bryan. Sebuah sandiwara sempurna. Tangan yang hangat dan kokoh itu kini menjadi benteng palsu untuk meyakinkan Mama nya sendiri. Sebuah bukti nyata dari hubungan yang tidak ada. Bryan menarik napas, sorot matanya yang biasanya santai kini memancarkan ketegasan yang dingin. "Ma, soal tanya tentang Ina, tentang ini itunya di rumah saja, ya. Kita ada kelas hari ini, jadi tadi aku meminta Ina membantu aku membawakan alat praktikum di labor." Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Itu alatnya semuanya sudah jelas, kan, Ma? Aku tidak setuju Mama menyodorkan aku lagi sama orang yang tidak aku sukai dan tidak aku kenal. Aku punya pilihan aku sendiri, Ma. Tidak perlu Mama turun tangan lagi itu menganggu aktivitas Bryan." Kata-kata itu, diucapkan dengan lantang oleh Bryan dan tanpa keraguan, meruntuhkan tembok yang coba dibangun Mamanya. Ina merasakan genggaman Bryan menguat. Di bawah tatapan Mamanya yang masih menilai, Ina duduk diam, terperangkap di antara kebohongan yang baru lahir dan ketegasan dari seorang dosen yang baru ia kenal. Ia tahu, babak dari sandiwara ini baru saja dimulai dan dia ikut terjebak dalam sandiwara yang dilakukan oleh dosennya tersebut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD