3. Rencana Bryan

1344 Words
Ayuni terlihat kesal saat keluar dari ruangan Bryan. Dia tidak menyangka bisa-bisanya anaknya pacaran sama Sabrina seorang mahasiswinya sendiri. Ini benar diluar ekspektasinya sama sekali. Rencananya hari ini gagal total untuk mengajak Bryan bertemu dengan Yuke untuk menjodohkan Bryan dengan anak temannya, tapi dia masih bisa mencobanya lagi di lain waktu. Pantasan aja di susah sekali di ajak bertemu ada aja alasannya di suruh kerumah ternyata dia sudah memiliki kekasih. "Ma, apa yang dibilang Bryan tadi ada benarnya juga, biarkan dia menentukan pilihannya. Sekarang Bryan sudah punya kekasih itu mahasiswinya sendiri. Tolong kali ini Mama jangan ikut campur ya Ma, sudah cukup dia menyendiri kehilangan Intan selama ini." Rezky memasang saltybet bersiap meninggalkan kampus Bryan. Ayuni menoleh ke arah suaminya, ucapan suaminya tidak sejalan dengan isi pikirannya sendiri. "Tapi Pa, Mama kurang setuju Bryan dengan Sabrina tadi." "Ma tolong jangan ikut campur dulu Ma, ini hidupnya Bryan, kita tidak akan ikut campur urusan Bryan dalam hubungan asmaranya lagi Ma, sudah waktunya dia membukakan hatinya untuk siapa pun jika itu pilihannya. walaupun itu mahasiswinya sendiri Ma." Ucap Rizky kepada istrinya. "Papa tidak lihat tadi dia muda sekali Pa. Sabrina itu Mama akui dia cantik tapi dia terlalu muda untuk Bryan Pa tidak cocok." "Nggak terlihat kok sepertinya setara aja Papa lihat Bryan bisa mengimbangi kok anak kita masih muda Ma. Coba Mama pikirkan apakah ada yang mau dengan status duda anak kita Ma ? Mereka paling suka sama Bryan cuma popularitas anak kita aja, bahkan ingin uang Bryan saja Ma. Sepertinya Sabrina anak yang baik Ma, tapi ini baru pertemuan pertama kita nanti kita akan lihat lagi bagaimana sifat Sabrina sebenarnya. Maaf ya Ma, Papa kali ini beda pendapat sama Mama." "Iiish Papa, kita bisa menjodohkan Bryan dengan anak teman ku Pa nggak harus sama Sabrina, itu anak nggak jelas asal usulnya." “Awalnya aku setuju dengan ide Mama dan setelah Papa lihat tadi betapa bahagianya Bryan memperkenalkan Sabrina sama kita, Papa jadi mendukung Bryan sama Sabrina.” Ia menoleh pada istrinya, Ayuni. Ayuni menghela napasnya, dia masih tidak setuju dengan pendapat suaminya ini. “Ma, Kamu lihat kan tadi ? Bisa-bisanya dia memeluk pinggang gadis itu di depan kita. Kesambet apa dia sampai-sampai dia romantis di depan kita?” Ayuni, yang sedari tadi memperhatikan suaminya, menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. Ia tahu betul dari mana asal usul tingkah putranya itu. “Tuh, turunan dari mu, Pa. Kadang nggak lihat tempat dan situasi,” balas Ayuni, nada suaranya lembut namun mengandung tuduhan yang benar. Rizky segera membela diri, mengangkat dagunya dengan bangga. “Harus itu, Ma. Romantis itu perlu. Itu menandai aku dan Mama saling menyayangi satu sama lain.” Ia mengedipkan mata, mengingatkan istrinya pada kebiasaan romantisnya yang memang tidak kenal waktu. Ayuni mendengus pelan, pura-pura tak terpengaruh. "Iya, Pokoknya Mama akan ngomong lagi sama Bryan untuk memikirkan hubungannya ini.” Ia merasa masih ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa ini bukan sekadar luapan emosi sesaat Bryan dan Sabrina. Rizky memajukan bibir, sedikit merajuk. "Iya, terserah Mama. Pokoknya kali ini kita berbeda pendapat.” Ayuni memincingkan mata kepada suaminya dengan senyum menyeringai. Ia tahu betul bagaimana cara menaklukkan suaminya yang tiba-tiba keras kepala ini. "Oke kalau Papa tetap dengan penderiannya Papa tapi ingat, malam ini Papa nggak dapat jatah,” putusnya, nadanya datar namun mematikan. Seketika, ekspresi bangga Rizky tadi luntur digantikan oleh kepanikan murni. "Iiish, Mama jangan begitu dong! Ini nggak ada hubungannya, Ma!” rengeknya, seolah dunia ini mau runtuh. Ayuni terkekeh, tawa kemenangan. “Kamu bisa menang, Mas? Digertak begini aja kamu udah keok.” Ia puas. Perdebatan tentang Bryan dan Sabrina bisa menunggu, karena malam nanti, ia telah memenangkan pertempuran kecil yang jauh lebih penting. *** Sementara di ruangan Bryan ini terasa tegang, udara dipenuhi desakan yang tak terucapkan. Bagi Ina, status sebagai mahasiswi Dosen Bryan mendadak tak berarti lagi, yang ia butuhkan hanyalah kejelasan. Ia berdiri tegak di hadapan meja kerja Bryan, kedua tangannya terlipat di d**a, sorot matanya menuntut jawaban. "Pak, tadi maksudnya apa?" tuntutnya, suaranya mengandung kebingungan dan kekecewaan. Ia tidak akan pergi sebelum mendapatkan penjelasan yang layak. Bryan menghela napas panjang, beban situasi terasa menekan pundaknya. Ia mendongak, menatap Ina dengan penyesalan yang mendalam. "Maaf, kamu jadi terseret ke dalam pembicaraan aku dengan keluargaku tadi," ucap Bryan pelan, kata-katanya terdengar seperti bisikan penyesalan. Namun, permintaan maaf itu tak cukup meredakan gejolak di hati Ina. "Tapi kenapa harus aku, Pak?" tanyanya lagi, kali ini lebih tajam seolah mencari celah di balik pertahanan Bryan. Bryan memejamkan mata sesaat, mencari kata-kata yang tepat untuk sebuah kebenaran yang memalukan. "Cuma namamu yang ada di dalam otakku, Ina." Jawabnya jujur, sebuah pengakuan yang ambigu sekaligus membebani pikirannya sendiri. " Please, jangan terpengaruh sama ucapannya Ina, walaupun kamu ngefans dengan Pak Bryan tapi ini salah. " Batin Ina. Ina hanya terdiam, mencerna setiap kata pak Bryan barusan. Penjelasan itu bukannya menyelesaikan masalah, malah menciptakan teka-teki baru tentang mengapa namanya dan hanya namanya yang muncul di saat Bryan terdesak..? Ketegangan itu kini berubah menjadi keheningan yang penuh dengan pertanyaan yang menggantung. "Pak kenapa harus aku ? apa karena aku w******p kepada Pak Bryan tadi makanya Pak Bryan menyeret aku dalam pembicaraan keluarga Pak Bryan.? Duh, pakai bilang aku kekasih bapak lagi. Ini salah Pak kenapa harus berbohong." "Ceritanya panjang tapi aku butuh bantuan dari mu Sabrina ?" "Maaf aku tidak bisa Pak, lebih baik Pak Bryan jelaskan itu sama keluarga Bapak tadi, jangan bawa nama ku dalam pembicaraan itu lagi karena aku tidak suka apalagi aku diseret dalam hubungan keluarga Bapak." "Sabrina semuanya sudah terjadi kamu lihat kan tadi Mama dan Papa ku tidak membantah dan menerima omongan aku tadi saat aku bilang kepada mereka bahwa kamu kekasih ku ." "Itu karena tangan Bapak bisa-bisanya lancang berada di pinggang ku dan tangan ku juga Bapak dengan tidak sopannya menggenggamnya dengan erat." "Hahaha... Sory aku benar tidak sadar dengan ide gila itu, aku hanya ingin Mama ku percaya kalau kita pacaran. Dia selalu memaksa ku untuk berkencan dengan anak dari temannya udah beberapa aku tolak, tapi Mama tidak jera juga, hari ini aku kaget dengan kehadirannya di ruangan ku karena beberapa kali dia menyuruh ku untuk datang ke rumah, tapi aku menolak berbagai alasan. Makanya dia mendadak datang ke kampus pagi ini dan kebetulan sekali aku punya ide seperti itu tadi, ya ini jadi mengalir begitu saja alur ceritanya dengan membawa nama mu Ina." "Tapi aku tidak suka dengan ide Bapak ini." "Tapi kamu sudah terseret kedalam masalah ini Ina, kamu tidak bisa lari begitu saja." "Pak itu urusan bapak dan bukan urusan ku. Bapak sudah berbohong sama orang tua Bapak lho." "Aku punya alasannya makanya aku terpaksa melakukannya." "Ya sudah Bapak selesaikan urusan itu bersama keluarga Bapak jangan bawa-bawa aku." Ucap Ina masih menolak. Bryan berdiri di hadapan Sabrina, dia menghela napasnya ternyata wanita cantik di depannya ini benar keras kepala, ketegangan melingkari udara di antara mereka. Bryan akan pikirkan cara lain Ia tidak ingin ada pihak yang menanggung kerugian, terutama dirinya yang terancam oleh sang Mama yang akan memaksa dia kembali dengan perjodohan yang di atur. Bryan sudah tidak mau di jodohkan dengan wanita yang tidak dia sukai. "Nanti kita akan ngobrol masalah ini lagi, tapi tidak di kampus ini kita akan bicara ini di luar kampus nanti. Sepertinya kita sudah terlambat ke kelas, ayo kita ke kelas dulu." "Tapi Pak—, "Sabrina apakah kita berdua akan disini terus membahas ini ? Kalau kamu maunya begitu oke, aku tidak masalah kalau kamu berada di ruangan ku sampai nanti pun aku tidak masalah, ayo kita bahas ini aku tidak masalah aku dan kamu akan jadi pertanyaan untuk orang lain atau kamu mau hubungan kita berdua mau di publikasikan saja hari ini ?." "Nggak.. nggak.. aku nggak mau jangan aneh pak, itu sama saja bapak bikin skandal di kampus ini." "Makanya nurut." "Hmm," Mina mengangguk saja, dia takut harus kena skandal dengan dosennya ini bisa-bisa beasiswanya terancam. Senyum manis terbit di wajah Bryan. Tanpa Sabrina lihat, Bryan berhasil menggertak Sabrina. Dia akan lihat nanti apakah Sabrina akan hadir atau tidak. Dia masih punya rencana yang lain untuk menarik Sabrina ke arahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD