Ina pulang dengan mood yang tidak bagus, sampai di toko kue Mamanya, dia banyak melamun dari pada membantu Mamanya membuat kue. Itu semua tidak terlepas dari tatapan Miranda memperhatikannya sejak dari masuk toko kue hingga Ina mengenakkan Apronnya. Badannya disini tapi hati dan pikirannya tidak berada disini.
"Ina, apakah terjadi sesuatu di kampus ?" Sapa Miranda kepada anaknya.
Ina menghela napasnya dan menggeleng. Untuk berbicara saja sama Mamanya dia jadi nggak semangat.
"Ina, wajah mu nggak bisa berbohong lho sama Mama. Walaupun bibir Ina bilang tidak. Tapi Mama tahu Ina lagi ada masalah kan ?"
"Ma, Ina nggak sengaja bikin masalah sama Dosen ini, sekarang Ina jadi pusing dan bingung sendiri."
"Lho masalah apa ?" Ucap Miranda kaget dia langsung berhenti mencetak kue di depannya dan memberikan perhatian penuh kepada Ina.
"Pokoknya ada masalah Ma Ina belum bisa cerita detailnya sama Mama."
"Ya udah di selesaikan secara baik-baik dan minta maaf sama dosennya."
"Dia yang harus minta maaf bukan Ina Ma."
"Ina.. !"
"Hmm, Iya Ina akan minta maaf sama dia Ma. Tapi dia ngajak Ina untuk bertemu di luar nanti Malam Ma. Jadi Ina harus gimana ya Ma ini dia tidak mau masalah jadi merembet kemana-mana makanya kami akan bahas di luar ini juga Ina takut beasiswa Ina jadi ikut terseret kalau nggak di bereskan Ma." Ujar Ina menjelaskan kepada Mamanya.
"Ya udah datang aja dan temuin dia secara baik-baik. Mama izinin Ina menemui dosen Ina itu di Restoran asal jangan di hotel aja itu udah lain lagi ceritanya Mama benar akan ambil tindakan dan bukan marah sama Ina aja tapi sama dosen itu juga."
"Iya Ma, Ina ketemunya di restoran dekat sini aja Ma nggak jauh kok. Terima kasih ya Ma. "
"Iya sayang. Mama percaya sama Ina dan Ina bisa memutuskan semua itu tanpa harus Mama ikut campur karena Mama percaya apapun keputusan Ina Mama tetap mendukung Ina tapi di dalam koridor kita ya dan bisa Mama mengerti jangan sampai melenceng.
"Iya Ma. Mama tenang saja.
Oya Ma ada temen Ina seperti biasa hari Minggu ini dia mau ke panti, seperti biasa dia akan pesan roti dan kue Mama nanti dia akan menghubungi Mama."
"Ini ada juga Ma dari seseorang udah DP juga mau pesan roti Mama juga nih."
"Iya Ma."
"Alhamdulillah ya Na. Banyak orderan kita."
"Iya Ma tetap aja kita akan bayar hutang lagi."
"Udah nggak papa kita akan menikmatinya sayang. Mama ikhlas biar Tuhan aja liat proses Mama selama ini.n
Ina yang nggak ikhlas Ma. Batin Sabrina.
***
Ina berdiri mematung di depan lemari pakaiannya tiba-tiba dia kebingungan sendiri menatap deretan gantungan baju di hadapannya dengan keraguan. Jemarinya berpindah dari satu baju ke baju lainnya.
Pikiran Ina melayang pada pesan singkat yang masuk yang di kirimkan Pak Bryan ke ponselnya tadi sore. Sebuah nama restoran mewah di pusat Kota Bandung disebutkan di sana. Nama tempat yang biasanya hanya ia dengar dalam obrolan kalangan kelas atas, ibuk-ibuk sosialita sedang berbincang.
"Kenapa harus di restoran mewah itu sih Pak Bryan?" keluhnya pelan, sebuah helaan napas panjang lolos dari bibirnya Ina.
Ia mengambil sepotong gaun berwarna navy, lalu menempelkannya di depan cermin. Ia menggeleng kepalanya. Terlalu kasual. Ia beralih ke setelan blazer yang lebih formal, namun segera mengembalikannya ke gantungan lagi. Terlalu kaku, seperti hendak melakukan presentasi aja di depan kelas kalau aku memakainya aneh sekali dengan baju ini.
Ina tahu benar ini bukanlah sebuah kencan romantis yang di idamkan oleh cewek-cewek bersama dengan kekasihnya. Ini hanyalah pertemuan biasa mungkin membahas masalah tadi pagi yang belum kelar yang di bicarakan Pak Bryan sama dia. Tapi yang jadi masalahnya dan beban untuk Ina kenapa harus ke Restoran di sana sih kenapa nggak di cafe aja atau tempat yang bisa mengimbangi aku juga. Batin Sabrina.
Namun, ada beban yang tiba-tiba menghantam dirinya. Ia tidak ingin terlihat "kurang" saat duduk berhadapan dengan Pak Bryan. Sosok pria itu selalu tampil dengan sempurna, dari bajunya, tatanan rambut hingga kilap sepatunya sangat di perhatikan oleh Pak Bryan gimana aku tidak minder di dekatnya ibarat bumi dan langit yang membuat aku nyungsep sendiri. Seperti dalam kartun masa kecil ku yang aku pernah tonton dulu si itik buruk rupa jangan pernah Ina kamu berpikir ada pangeran tampan yang kaya raya yang akan mengenggam tangan mu itu tidak akan mungkin terjadi di kehidupan nyata mu.
"Huh, baiklah aku hanya perlu menyesuaikan diri," gumamnya pada pantulan dirinya di cermin. "Hanya perlu mengimbangi langkahnya, agar aku tidak terlihat seperti orang asing yang tersesat di meja makan yang sama."
Lampu kamar yang temaram menjadi saksi kegelisahan Ina. Di antara tumpukan baju yang kini mulai berserakan di tempat tidurnya ,ia masih mencari satu helai kain yang mampu menyembunyikan rasa gugupnya dan menggantinya dengan kepercayaan diri yang setara dengan kemewahan restoran itu.
"Lho belum juga siap-siap ?"
"Ina bingung Ma mau pakai baju apa ? takut ini malu-maluin dengan pakaian ini Ma."
"Apapun yang anak Mama pakai cantik semua kok dan terlihat pas malah .Tapi kali ini sesuaikan saja jangan pula pakai baju hari-hari ke kampus di kira orang yang melihatnya berprasangka negatif pula sama Ina."
"Iya Ma ini Ina lagi mencocokkan bajunya sama Ina."
"Iya juga sih tapi jangan isi lemari Ina keluarkan semua."
Ina terkekeh merasa kena sindiran oleh Mama nya. Ia melihat tumpukan bajunya yang sudah banyak di kasur.
"Buruan nanti taksinya jemput tapi Ina belum siap. Kasian Mas taksinya nunggu Ina."
"Iya Ma ini tinggal pasang baju aja lagi Ma , habis itu langsung otw."
"Hmm, Mama tunggu diluar "
"Oke Ma."
Setelah pertimbangan panjang, pilihan Ina akhirnya jatuh pada sebuah gaun midi berwarna white blue dengan potongan minimalis namun elegan. Kainnya jatuh dengan sempurna, membungkus tubuhnya tanpa memberikan kesan berlebihan. Ia memadukannya dengan sepatu hak tinggi berwarna senada dan sebuah tas tangan kecil yang simpel. Tidak sia-sia baju yang dia bawa dari Jakarta bisa di pakai di sini walaupun bajunya model lama bukan terbaru, tapi masih tetap cocok di tubuh Ina.
Ina berpamitan sama Mamanya dan baju yang Ina pakaikan pada malam ini mendapatkan pujian dari Mamanya, ini membuat Ina jadi percaya diri untuk melangkah menemui Pak Bryan.
Malam ini, Kota Bandung sedang cantik-cantiknya. Udara dingin mulai merayap, namun Ina nyaris tidak merasakannya karena detak jantungnya yang berpacu lebih cepat saat taksi yang ia tumpangi berhenti di depan lobi restoran.
Petugas berseragam rapi menyambutnya dengan ramah, membukakan pintu besar yang menuju ke ruang utama. Aroma parfum ruangan yang mewah dan denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen langsung menyapa indranya. Di sana, di sebuah meja di sudut ruangan yang menghadap ke arah gemerlap lampu kota, Pak Bryan sudah duduk menunggu.
Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan yang digulung sedikit hingga siku tampilan yang tampak santai bagi orang lain, namun tetap memancarkan aura otoritas yang kuat. Saat Ina mendekat, Pak Bryan berdiri, memberikan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Selamat malam, Ina. Senang kamu bisa datang dengan ajakan aku tadi." sapa Pak Bryan, suaranya rendah dan tenang, membelah suasana riuh rendah restoran tersebut.
Ina menarik napas dalam, berusaha mengatur suaranya agar tidak bergetar. "Selamat malam, Pak. Maaf jika saya membuat Pak Bryan menunggu."
"Sama sekali tidak. Aku juga baru sampai," balasnya sambil mempersilakan Ina duduk.
Duduk di hadapan Pak Bryan dengan latar belakang kemewahan ini membuat Ina merasa seolah-olah ia sedang memerankan sebuah adegan dalam film. Ia melirik menu di hadapannya ini restoran yang menyajikan makanan orang luar dia ingin memakan spaghetti saja itu yang terlihat enak dan terlihat murah dari menu yang lain bukan tidak pernah dia mencicipi menu-menu yang lain dia sudah pernah memakan menu yang tertera di buku menu tersebut di Jakarta dulu tapi di garis bawahi sekali lagi hanya dulu. Lalu dia kembali menatap Pak Bryan yang tampak sangat tenang, seolah restoran ini hanyalah ruang tamu keduanya.
"Jadi, apakah kamu suka tempat nya ini Ina..?" Pak Bryan memulai pembicaraan, matanya menatap Ina dengan intensitas yang membuat Ina harus kembali mengingatkan dirinya sendiri please Ina, Ini bukan kencan. Tenanglah jangan kemakan rayuan apa pun.
***