Setelah makan malam Ina dan Bryan mulai ngobrol. Bryan sengaja tidak membicarakan hal berat saat mereka makan malam takutnya mereka tidak berselera lagi untuk makan.
Entah ini namanya keberuntungan atau kesialan Ina juga tidak mengerti sampai-sampai dia harus makan malam dengan dosen yang dia notif selama ini, sekarang begitu dekat di matanya hingga Tuhan mempertemukan mereka berdua untuk berinteraksi langsung. Awalnya rasa suka kini berubah menjadi rasa kesal sendiri karena masalah yang diciptakan oleh Pak Bryan tadi pagi. Dia pengen marah tapi tidak bisa.
"Ina baju yang kamu pakai sangat bagus sekali dan itu cocok sekali untuk mu. Ucap Bryan memulai obrolan.
"Terima kasih Pak."
Bryan mengangguk.
"Ina, aku akan melanjutkan obrolan yang terputus pagi tadi tapi sebelumnya aku sengaja mengajak mu ke restoran ini karena ini adalah restoran milik salah satu keluarga ku, jadi aku sengaja menunjukkan di hadapan karyawan restoran ini seandainya Mama kesini biar mereka bisa lapor kepada Mama ku kalau aku pernah bawa pacar ku ke sini."
Please Ina jangan terpengaruh sama ucapannya lagi apalagi salting saat dia menyebut aku ini pacarnya. Batin Ina lagi.
"Pak mungkin aku udah jelaskan pagi tadi aku tidak bisa melangkah lebih jauh. Bapak mending jujur aja sama Mama dan Papanya, bilang sama mereka ini hanya pura-pura saja. Udah amankan urusan biar pak Bryan juga nggak harus bohong lagi."
Penolakan itu tegas, namun Bryan tahu ia harus melangkah lebih jauh, bahkan jika itu berarti menanggalkan sedikit harga dirinya. Ia bisa membayangkan pergerakan Mama, mata elangnya akan mengawasi setiap interaksi antara dirinya dan Ina nanti. Tatapan mata Mama ke Sabrina tadi sudah jelas dia Curiga.
Ia mengambil napas panjang. "Sabrina, sebagai imbalannya, aku akan menjamin kelulusan mata kuliah bersamaku.
"Pak itu sama saja curang."
"Tapi kita berkerja sama Ina.
Dan... aku akan berikan tambahan uang yang akan kamu dapatkan kalau kerja sama kita terjalin selama tiga bulan ini. Kamu cukup menjadi kekasih pura-puraku, di luar kampus selama tiga bulan ini. Gimana Ina ?"
Kata "uang" itu seketika Ina ingat wajah lelah Mamanya dan diikuti bayangan tumpukan utang yang membebani. Ini adalah jalan keluar. Ia bisa membantu melunasi utang Papa nya kepada Budhe, dengan membebaskan Mama dari belitan utang terkutuk itu. Ini hanya sandiwara, pacar pura-pura apa ruginya mencoba? Benar kata Pak Bryan, tidak ada yang dirugikan, malah sama-sama untung."
"Ina ini benar hanya tiga bulan agar aku bisa membuat Mama mundur untuk menjodohkan aku dengan orang lain aku sudah capek, tolong berkerjasama Ina."
Ina masih membungkam mulutnya.
"Tolong, Ina, jangan cuma diam. Bantu aku, kita sama-sama mendapatkan keuntungan dari rencana dadakan ini," desak Bryan, nada suaranya kini terdengar memohon, sebuah kerentanan langka yang jarang ia tunjukkan.
Sabrina menimbang sejenak. Masa depan finansial keluarganya dipertaruhkan. Kalau dia berhasil dia bisa membayar hutang Papa, jadi Mama tidak perlu lagi banting tulang untuk bayar hutang, jadi Mama lebih santai lagi jualannya tanpa memikirkan hasil jualan ini lagi tiap bulannya.
"Baiklah, aku akan membantu Bapak."
Senyum lega, yang nyaris seperti luapan kemenangan, merekah di wajah Bryan.
"Syukurlah kamu setuju. Aku akan segera membuat kontrak perjanjian kita berdua dan temui aku di kampus untuk tanda tangan perjanjian kontrak ."
Ini benar diluar ekspektasi Bryan dia terpaksa melakukannya dengan desakan kebutuhan, sebuah ide gila ini terbentuk. Kontrak itu akan menjadi pembatas antara fiksi dan realita, sebuah topeng yang harus mereka kenakan selama sembilan puluh hari demi kepentingan dan keuntungan masing-masing.
Setelah berbincang Ina dan Bryan meninggalkan restoran ini. Ina kembali terpaksa masuk ke dalam mobil Pak Bryan dan mengantar Ina pulang. Perasaan justru merasa tidak nyaman, tidak enak Pak Bryan akan tahu rumahnya.
Mobil mewah itu membelah jalanan kota yang mulai temaram. Ada keresahan yang merayap di benaknya Ina sejak ia terpaksa melangkah masuk kembali ke mobil Pak Bryan. Ina menatap ke luar jendela, menghindari kontak mata.
"Rumah mu di Mana Ina ?" suara Bryan memecah kesunyian di antara mereka, namun menuntut jawaban dari Ina.
"Sedikit lagi nyampe pak, sekarang lurus aja." Ucap Sabrina menunjukan arah.
Ina menarik napas pendek, lalu menunjuk ke arah lampu-lampu jalan di depan. "Di depan toko kue Sabrina, ada gang. Lurus saja masuk ke dalam, Pak."
Mobil itu melambat saat mendekati sebuah bangunan yang disebut Sabrina tadi Bryan mengerutkan kening, matanya menangkap papan nama yang berpendar cantik di kegelapan Toko Kue Sabrina.
"Tunggu," Bryan menginjak rem perlahan, matanya beralih dari papan nama itu ke arah Ina yang duduk kaku di sampingnya. "Itu toko kue... kok namanya sama denganmu?"
Ina mengangguk kecil. "Iya, Pak. Itu milik Mama saya."
Jawaban itu singkat, namun seolah membuka satu lapisan rahasia tentang siapa Ina sebenarnya. Bryan hanya mengangguk pelan, sebuah gestur yang sulit diartikan. Ia tidak bertanya lebih lanjut, namun sorot matanya menyiratkan ada pemikiran baru yang sedang berputar di kepalanya.
Keheningan kembali jatuh menyelimuti mereka. Bukan lagi hening yang kosong, melainkan hening yang dengan hal-hal yang tidak terucapkan.
Mobil berputar ke arah tepat di mulut gang yang disebut Sabrina. Mobil itu melambat kembali lurus mengikuti arah jalan
"Pak berhenti di rumah cat berwarna putih."
Ina segera melepas sabuk pengaman dengan gerakan yang sedikit terburu-buru. Bunyi klik pengunci pintu yang terbuka terasa sangat keras di tengah keheningan kabin.
"Terima kasih atas tumpangannya, Pak," ujar Ina tanpa berani menatap langsung ke mata Bryan. Ia ingin segera keluar, ingin segera menghilang di balik keremangan gang agar rasa tidak enaknya lekas menguap.
"Ina," panggil Bryan pelan saat Ina baru saja membuka pintu.
Langkah Ina terhenti. Ia menoleh ragu.
"Iya, Pak?"
"Apakah Mama mu ada di rumah atau masih berada di toko kue di depan ?"
"Udah di rumah Pak, Mama biasanya nggak berkerja malam lagi. Toko Kuenya buka pagi sampai sore." Ucap Ina menjelaskannya.
Bryan mengangguk paham dengan ucapan Sabrina.
"Sampaikan salam saya untuk Mamamu. Kapan-kapan, saya ingin mencoba kue di sana."
Ina hanya mampu mengangguk kaku, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Akan saya sampaikan. Mari, Pak."
Ia melangkah keluar. Begitu pintu mobil tertutup dengan dentum berat. Ina merasa paru-parunya baru saja mendapatkan oksigen kembali. Ia berjalan cepat menuju ke pintu rumahnya. Ia sengaja tidak menoleh ke belakang, meski ia tahu ia sangat bisa merasakan bahwa mobil Pak Bryan tidak langsung melaju pergi. Masih terlihat ada
cahaya lampu mobil itu masih menyoroti kedepan, seolah-olah Bryan sedang memastikan Ina benar-benar sampai ke rumah dengan aman, atau mungkin, Bryan hanya sedang mencerna kenyataan baru yang baru saja ia temukan.
Sesampainya di rumah, Ina mengintip di gorden rumahnya. ia melihat mobil Bryan perlahan menjauh dan menghilang. Ina bersandar di dinding rumahnya dan menghela napas panjang sambil memejamkan mata.
Dunia profesional dan dunia pribadinya baru saja bersenggolan, dan Ina tahu, besok dia tidak akan pernah terasa sama lagi seperti biasa.
"Ina.. ?"
"Astaghfirullah.." Sabrina memegang dadanya. Mama ngagetin aja.
"Habisnya Ina ngendap-endap di gorden lihat keluar. Kenapa nggak di suruh masuk aja ?"
"Nggak, dia udah pulang Ma, ngapain juga dia harus mampir."
"Ina, judesnya tolong di kontrol lho."
"Hehe iya Ma kelepasan."
"Gimana tadi udah selesai ?"
"Udah Ma," Sabrina menceritakan kepada Mamanya, dia tidak menceritakan semuanya bisa-bisa Mamanya akan marah. Dia akan merahasiakan perjanjian kontrak yang ditawarkan Pak Bryan tadi.
Sementara di dalam mobil, ada senyum tipis yang tak sengaja terbit di sudut bibirnya Bryan. Ia teringat betapa paniknya Ina tadi saat ia bertanya tentang rumahnya. Bryan bukan orang bodoh ia menyadari kegelisahan gadis Sabrina tadi. Ina takut dihakimi, atau mungkin takut privasinya terganggu. Namun bagi Bryan, kenyataan bahwa Ina adalah anak dari pemilik toko kue kecil justru membuatnya merasa tertarik. Ada sisi manusiawi yang hangat di balik tembok profesionalisme yang selalu dibangun Ina di kampus.
"Ternyata kamu punya dunia yang manis di sini, Ina," pikirnya.
Pikirannya melayang pada rencana-rencana besok tentang perjanjian kerjasamanya. Namun malam ini, bayangan Ina yang berjalan cepat masuk ke rumah tadi mengubah sudut pandangnya. Ada rasa kagum yang muncul, Ina tetap memukau dia tidak menyembunyikan identitasnya kepada ku, sementara keluarganya memiliki usaha mandiri yang tampaknya dibangun dengan penuh cinta.
Bryan melanjutkan perjalanannya menekan pedal gas sedikit lebih dalam saat memasuki jalan protokol, namun fokusnya tetap terbagi. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat Ina sebagai mahasiswinya malam ini, melainkan sebagai seorang wanita dengan cerita hidup yang ingin ia ketahui lebih jauh.
***