7. Kilasan Masa Lalu

1550 Words
Deringan ponsel berulang-ulang membangunkan Mina dari tidurnya. Ini sudah dini hari. Dia menggosok matanya melihat ponselnya. Nama Papa muncul di layar ponselnya Ina. "Hallo Pa..! Papa dimana kok belum pulang juga Pa ?" "Maaf Nona kami menganggu Nona tengah malam begini, apakah nona anak dari pemilik ponsel ini?" "Iya bener saya sendiri, Bapak siapa ya ? kenapa ponsel Papa ku ada sama bapak ? " Ucap Ina curiga. "Kami dari pihak kepolisian, apakah Mama nya ada dirumah atau Mama mu ada di dekat anda sekarang." "Iya Mama ku ada di rumah." "Sepertinya saya harus menyampaikan sesuatu kepada Mamanya tolong kasih ponselnya sama Mamanya, Nona? kami akan menunggu." "Sebentar Pak, aku akan berikan ponsel ku sama Mama ku dulu." Tangan Ina terus bergetar, namun bukan suara berat Papa yang menyapa di ujung telepon. Sebuah suara asing, dingin, dan penuh wibawa mengaku sebagai petugas kepolisian. Ada getaran aneh yang merayap di tengkuknya. Ina berlari menuju kamar Mamanya. Tok.. Tok.. ! "Ma ada telpon dari pihak kepolisian nih" Deg..! Mendengarkan kata polisi saja membuat Miranda kaget . "Kenapa sayang apa terjadi sesuatu, kenapa ponsel Papa sama polisi?" "Ina tidak tahu Ma, coba Mama ngobrol sama Pak polisinya." Miranda mengambil telpon sama Ina. Miranda menerima ponsel itu dengan tangan yang mulai dingin. "Hallo kenapa ya pak, saya istri pemilik ponsel yang Bapak pegang ini ?" "Maaf Bu kami harus mengatakan berita ini bahwa suami anda sudah tidak bernyawa lagi di dalam mobil yang terparkir di jalan dan dia bersama dengan wanita juga dan aku harus memberitahu ibu juga kondisi mereka berdua sedang tidak memakai pakaian sama sekali di dalam mobil. Kita akan bawa jenazah ini ke rumah sakit terlebih dahulu. Saat suara di seberang sana menyebutkan lokasi penemuan suaminya, dunia seolah berhenti berputar. Namun, bukan hanya kabar kematian yang menghantam ulu hatinya, melainkan rincian pernyataan dari pihak polisi yang menyakitkan Miranda. Indra ditemukan tak bernyawa di dalam mobil yang terparkir sunyi, berdampingan dengan seorang wanita, dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang menutupi aib mereka. "Ya Tuhan apa-apain ini Pak, tolong katakan ini tidak benar." "Ini benar Bu, kami harap ibu bisa menerimanya dan memastikan kembali identitas tersebut. Sekali lagi kami minta maaf Bu, kami terpaksa menyampaikan kabar kepada ibu kabar yang tidak enak ini." "Iya Pak tidak papa, terima kasih infonya kami akan kerumah sakit sekarang." Panggilan itu berakhir begitu saja. Air mata Miranda meluncur tanpa suara, membasahi pipi yang mendadak pucat. Ada rasa sakit yang berlapis yang ia rasakan kehilangan yang mendalam bercampur dengan pengkhianatan yang menyayat kalbu. Suaminya pergi untuk selamanya, namun ia pergi meninggalkan luka yang tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh waktu. Ina menghampiri Mamanya yang sedang menangis. "Kenapa Ma ?" "Ina.." "Ma kenapa.. ?" Tanya Ina panik dan penasaran. "Papa sudah meninggal Na.. !" "Tidak.. tidak.. Jangan bercanda Ma. Tidak mungkin, Papa tidak boleh ninggalin Ina." Miranda memeluk anaknya dan mengusap lembut punggung anaknya. Mereka menangis bersama. Di tengah badai emosi yang berkecamuk. Saat kalimat "Papa sudah meninggal" terucap, pertahanan Ina tiba-tiba runtuh. Jerit tangisnya pecah memenuhi sudut ruangan, menolak kenyataan bahwa pelindung yang ia banggakan telah tiada. Ia belum tahu tentang pahitnya pengkhianatan yang dipendam ibunya, ia hanya tahu bahwa dunianya baru saja runtuh. Malam itu, mereka harus berangkat ke rumah sakit bukan hanya untuk menjemput raga yang kaku saja, melainkan untuk menghadapi kenyataan bahwa kenangan indah tentang sosok Papa dan suami yang telah meninggalkan kehancuran di hati keluargannya yang telah meninggalkan rahasia yang di sembunyikan selama ini. Langkah kaki Miranda terasa berat, seolah lantai rumah sakit ini mengikat kakinya sehingga langkahnya terseret-seret seperti perlahan menariknya ke dalam bumi. Di sampingnya, Ina masih sesenggukan, menggenggam erat tangan Miranda seperti dia mulai takut satu-satunya pegangan hidupnya itu juga akan menghilang juga. Kini Bau ruangan jenazah ini yang tajam menusuk hidung, membawa aroma kematian yang begitu nyata untuk mereka berdua. Saat mereka tiba di depan ruang jenazah, seorang petugas kepolisian menghampiri dengan raut wajah simpati yang justru terasa seperti sembilu bagi Miranda. Di balik pintu besi itu, suaminya terbujur kaku disana. Miranda meminta Ina untuk menunggu di luar sebentar. Ia butuh waktu untuk melihat "kebenaran" itu sendirian. Di dalam ruangan yang dingin, Miranda berdiri mematung. Di hadapannya, sosok Indra, suami yang ia cintai puluhan tahun kini tampak begitu asing di matanya. Pikirannya terus berputar pada laporan polisi tadi bersama wanita lain, tanpa busana. Dan itu benar sekali disamping jenazah Mas Indra ada wanita cantik, terlihat lebih muda yang terbujur kaku juga Ingin rasanya Miranda berteriak, memaki raga yang tak lagi bernapas itu karena telah pergi dengan cara yang begitu memalukan. Namun, di saat yang sama, ada bagian dari hatinya yang remuk melihat wajah pucat sang suami. Ia terperangkap dalam labirin perasaan yang menyesakkan antara rindu yang tersisa dan luka pengkhianatan yang baru saja ditancapkan sedalam-dalamnya. Ia keluar dengan langkah pelan, saat di dalam petugas menjelaskan kepada Miranda. Ina langsung menghambur memeluknya, menanyakan apakah Papa akan bangun lagi. Miranda hanya bisa terdiam, membelai rambut anaknya dengan tangan yang masih bergetar. "Papa sudah tenang, sayang," Ucap Miranda. Kalimat itu lebih merupakan upaya untuk menenangkan dirinya sendiri daripada sebuah kebenaran. "Ina ingin lihat Papa Ma ?" "Iya silahkan lihat Papa dulu petugas akan menjelaskan sama Ina didalam." Saat Ina melangkah masuk ke ruangan jenazah menemukan tidak cuma jenazah Papa nya disana dia sangat terkejut, tapi Papa nya bersama dengan wanita lain. Petugas Jenazah menjelaskan semuanya sama Ina. Ia langsung speechless seolah dunianya runtuh kembali tadi saja dia mendengarkan berita yang mengejutkan kini dia harus menerima kembali kenyataan di depan matanya, mendengarkan informasi tersebut awalnya dia sangat sedih dan terpukul kini menjadi murka. Ina langsung kepikiran Mamanya kenapa Papa tega sekali sama dia dan Mamanya. Papa benar sangat jahat. Saat meninggal saja dia tega meninggalkan luka dan aib untuk dia dan Mamanya. "Kami ikut prihatin." Mina tidak peduli dengan petugas lagi, dia menghampiri Mamanya keluar dari ruangan tersebut dan langsung memeluk Mamanya. "Ma.. !" Miranda menghela napasnya. "Ina ini lah kenyataan yang harus kita terima." Di koridor rumah sakit yang panjang ini, Miranda menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan seorang suami, tetapi juga kehilangan memori tentang pernikahan yang ia kira sempurna. Kini, ia harus berdiri tegak sendirian. *** Langit nampak muram, seolah turut berduka atau mungkin merasa malu atas rahasia yang terkubur bersama raga di dalam peti itu. Kerumunan pelayat datang silih berganti, memberikan ucapan belasungkawa yang terdengar seperti dengungan lebah di telinga Miranda. Mereka memuji kebaikan Indra, memuji betapa setianya lelaki itu pada keluarga sebuah ironi yang membuat ulu hati Miranda terasa seperti diperas. Setiap kali seseorang menjabat tangannya, Miranda hanya bisa mengangguk kaku. Ia berdiri di sana, mengenakan pakaian hitam yang senada dengan kegelapan di hatinya. Ia harus menjaga martabat suaminya dalam keadaan meninggal dia masih sah sebagai istri jadi Miranda terpaksa bersandiwara demi nama baik yang selama ini mereka bangun. Walaupun dia harus menikam hatinya berkali-kali. Suara tanah yang menghantam papan kayu terdengar seperti dentuman yang memutus nasibnya. Tidak hanya Miranda merasakannya Ina pun sama. Saat liang lahat itu tertutup rapat. Ina harus bersandiwara juga, Gadis kecil itu mengusap nisan yang masih baru di depannya. "Ma, kenapa Papa pergi secepat ini? Ina belum membalas—," "Ina," potong Miranda cepat agar Ina tidak berkata kasar di hadapan banyak orang dia sedang sensitif ini tidak mudah begitu juga dengan aku. "Please kita akan bicara ini nanti ya sayang. " Ina mengangguk. Ingin dia mengumpat Papanya di hadapan orang banyak agar orang tahu Papanya sudah berkhianat sama Mamanya. Miranda berlutut, merangkul bahu kecil putrinya. Ia menelan semua pahit, semua amarah, dan semua bayangan tentang mobil gelap di pinggir jalan itu. Bisa-bisanya mereka melakukannya di jalanan sepi melakukan aktivitas mereka dan keracunan karbon monoksida dan meninggal emang b******k kamu Indra. Umpat Miranda. "Ina..." suara Miranda bergetar, namun ia berusaha tegar. "Papa sudah menyelesaikan tugasnya. Sekarang, hanya ada Mama dan Ina." Ina menatap mata mamanya yang sembab. "Papa tidak sayang sama kita kan Ma ?" Miranda terdiam sejenak. Pertanyaan itu seperti duri yang menusuk jantungnya. Apakah Indra tahu? Jika dia tahu, mengapa dia memilih pergi dengan cara seperti itu?" "Papa tahu, Sayang. Sangat tahu. Sekarang, biarkan Papa istirahat. Kita harus belajar berjalan lagi tanpa Papa, meski tanpa tangan Papa yang menggandeng kita lagi walaupun gandengannya selama ini adalah palsu." Bisik Miranda sama Ina. Saat mereka melangkah meninggalkan pemakaman, Miranda menoleh sekali lagi ke arah gundukan tanah itu. "Selamat tinggal Mas, kamu sudah pergi meninggalkan kehancuran di hati ku dan hati Ina. " "Ma.. Mama.. !" "Hah kenapa Ina." Miranda tersadar dari lamunan panjangnya entah kenapa masa lalu itu muncul lagi. "Lagi melamun apa panjang amat lamunannya Ma, sampai suara Ina aja Mama nggak dengar saat Ina panggil beberapa kali. Mama tiba-tiba ingat masa lalu saja entah kenapa kilasan masa lalu muncul begitu saja di otak Mama. "Ingat jangan pernah mendoakan nya Ma, Ina belum bisa memaafkannya. Ina harap Papa mendapatkan balasan setimpal dari perbuatannya kepada kita Ma." "Iya sayang.." "Ingat tidak ada doa lagi untuk Papa." "Hmm, Mama akan mendoakan anak kesayangan Mama lagi dong." Ina memeluk Mamanya, ini tidak mudah untuk mereka jalani berdua selama ini mereka harus menanggung malu dulu saat cerita tentang papa mulai terendus dari telinga ke telinga yang lain. Kami terpaksa pindah ke Bandung saat semuanya benar-benar hancur kami harus menanggung hutang Papa yang tidak kami buat. Hati yang paling sakit sepenuhnya adalah Mama. Ma, aku akan bayar semua hutang itu walaupun dengan cara Ina sendiri. Batin Ina. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD