8. Perkara Kontak Fisik

1618 Words
"Ma aku sebentar lagi mau kekampus." saat Sabrina dan Mamanya selesai sarapan pagi. "Lho bukannya hari ini tidak ada jadwalnya ke kampusnya ?" "Iya sih Ma, tapi Ina ada urusan Ma di kampus hari ini, Ina mau ke perpustakaan untuk cari bahan tugas Ina dari pada beli buku mending manfaatin perpustakaan kampus untuk cari referensinya." Bagian ini Mina tidak bohong setelah dia bertemu dengan Pak Bryan, dia akan ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku referensi untuk bikin tugas kuliahnya. "Ya udah, kalau mau pamit sama Mama di depan aja ya. Mama lebih awal ke Toko kuenya. Biar pesanan kue keringnya bisa selesai Mama kerjakan dan Mama juga mau bikin roti untuk teman mu pokoknya Mama akan angsur-ansur kerjakan hari ini. " "Duh maaf Ma pagi Ina nggak bisa bantuin Mama nih." "Nggak papa Mama bisa ngerjain sendiri." Ina jadi merasa bersalah tapi Ina harus bertemu dengan Pak Bryan untuk tanda tangan kontrak hari ini. Dia harus menyelesaikan ini terlebih dahulu, apes banget hidupnya harus berurusan sama dosen bukan Masalah kuliahan malah urusan pribadi. "Ma sepertinya Ina akan bikin Ig baru dan Ina akan postingan di Ig Ina khusus Toko kue kita Ma." "Ina, itu ide bagus tapi Mama pasti kewalahan lho kalau banyak banget yang pesan sedangkan Mama mengerjakan sendiri." "Iya juga ya Ma takutnya pelanggan akan kecewa. Syukur-syukur mereka mau nunggu kalau dapat pelanggan bar-bar pasti kue Mama akan di caci." "Hmm itu dia." "Tapi Ma kita bisa batasi dan bikin di postingan yang ready kue ini mereka akan pesan sesuai dengan yang ready aja sih Ma ? Mau ya, nanti Ina akan bantuin Mama jualan." "Konsep kue dan roti Mama keren banget kita juga dapat label halalnya, BPOM juga. Komposisi pun Mama bikin di kemasannya serta takaran Gizinya juga jadi Mama seperti kue dan roti di perusahaan gitu Ma. Ina aja terkesima dengan konsep kue yang Mama buat." "Mama tercetus aja ide seperti itu dengan berbekal ijazah yang Mama miliki dan sertifikat yang pernah Mama dapatkan Mama pengen aja mereka bisa menikmati hasil kue ini dengan aman. Dengan adanya komposisi ini mereka tetap waspada siapa tahu ada yang lagi diet atau alergi ini itu jadi mereka tidak sembarang mengkomunikasinya, ada lho kasus seperti ini dia cuma mengkonsumsinya sedikit tapi bikin alerginya kambuh karena nggak tahu bahan yang digunakannya. Selain itu memungkinkan konsumen memantau asupan kalori, gula, atau lemak mereka. Mama pengen kepercayaan yang diberikan kepada toko kue Sabrina ini mencerminkan profesionalisme Mama dan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan itu sendiri. Insyaallah kue dan roti Mama aman dan sesuai dengan takaran yang ada. Untuk jualan di Ig, Ina atur aja sendiri mudah-mudahan kita bisa mengatasinya." Mina mengangguk. "Mama tahu nggak anak-anak panti suka banget sama kue Mama makanya Naswa langganan banget sama kue buatan Mama." "Benarkah ?" "Hmm, kata Naswa kemarin Mama mu kok berlebih ya Na kasih kue nya, dia baru kali ini dia menghitung nggak tahunya berlebih kata Naswa. Jangan-jangan selama ini beli juga nggak Na , aku jadi hutang sama toko kue kalian Na?" "Dia berasa hutang gitu Ma, tapi Ina jelasin sama dia kalau Mama sengaja kasih lebih, itu bonus. Ada sesuatu yang tidak bisa duga terjadi dan Mama takut sampai di tempat kue atau roti nya rusak saat dalam perjalanan Mama tidak mau yang menerimanya jadi kecewa kuenya ada yang rusak. Intinya antisipasi toko kue kita mengantisipasi hal tersebut terjadi yang menerima akan kecewa makanya kita lebihkan sedikit dari pesanan yang ada. Pokoknya Ina jelasin sama Naswa dan dia tidak menyangka kita akan kepikiran sana Ma. Dia bilang akan menjadikan toko Sabrina itu menjadi toko kue favoritnya. Minggu depan lagi dia akan pesan Keu kering dan Roti juga Ma." "Wah Alhamdulillah, Mama dapat pelanggan setia. Iya Mama tidak pengen mereka yang menerimanya kecewa makanya kalau ada yang pesan menempuh perjalanan seperti itu Mama selalu melebihi dari pesanan. Kalau mereka makan disini Mama selalu kasih bonus." "Alhamdulillah ya Ma, walaupun toko kue kita kecil tapi mereka puas dengan apa yang kita berikan. Tapi Mama nggak mengalami kerugian kan Ma dengan apa yang dilakukan ini ?" "Nggak, malahan ada aja hal yang tak terduga terjadi. Seperti banyak yang pesan kue kita. Soal rugi dan utung itu sudah biasa dalam jual beli. Mudah-mudahan aja Toko kue Sabrina laris manis dan Mama namain Toko tersebut bukan tanpa alasan ini nama anak kesayangan Mama yang manis dan cantik sama juga seperti kue-kuenya. "Haha.. ada-ada aja Mama ini. Tapi mudah-mudahan laris manis." "Amiin, terima kasih ya Na sudah mau menerima semua ini dan mau menerima keadaan Mama seperti ini." " Ina Mama minta Maaf, karena Mama bukan orang kaya, Na," ucapnya lirih, seolah meminta maaf atas dunia yang tak mampu ia berikan kepada Ina yang layak ia dapatkan seperti orang-orang yang lain. "Mama hanya pernah berkecimpung sebagai ahli Gizi dengan gaji yang tidak besar malah uang bulanan dari Papa jauh dari besar dari gaji Mama. Saat itu Papa mempertimbangkan semuanya saat Ina dalam kandungan Mama. Papa tidak pengen Mama melanjutkan pekerjaan Mama yang perhatiannya jadi terbagi-bagi makanya Mama disuruh menjadi IRT saja, mama terpaksa melepaskan pekerjaan Mama. Tapi nyatanya Mama di khianati oleh Papa. Ina segera merengkuhnya. Dalam pelukannyq itu, Ina tidak sedang memeluk seorang wanita yang gagal, melainkan seorang pahlawan yang telah memberikan segalanya. Bagi Ina, kekayaan bukan tentang angka di atas kertas atau jabatan yang mentereng. Kekayaan itu ada pada doa-doa yang mengalir dari rahim Mama, pada ketabahan yang tak pernah luntur meski badai menerjang, dan pada kasih sayang yang tetap utuh meski hati Mama sendiri sedang patah. Ada getar dalam suaranya saat ia bercerita tentang mimpi-mimpi yang pernah ia lepaskan demi fokus kepada suaminya, tentang gelar ahli gizi yang ia tanggalkan demi sebuah janji setia yang nyatanya berujung pada pengkhianatan. "Jangan pernah merasa bersalah, Ma," bisik Ina hangat. "Ina adalah orang paling beruntung di dunia Ina karena lahir dari rahim Mama. Mama adalah yang terbaik, selamanya." Di ruangan itu, waktu seakan berhenti. Luka lama memang tidak hilang seketika, namun dalam pelukan sang anak, Miranda akhirnya menemukan rumah yang sebenarnya tempat di mana ia dihargai bukan karena apa yang ia miliki, melainkan karena cinta tulus yang telah ia tanam. *** "Hah ini benar poin ke dua bunyinya seperti ini pak, aku keberatan deh pak ? Kalau poin ke tiga untuk disembunyikan di kampus status kita aku setuju aku juga tidak pengen orang tahu kalau kita ada hubungan Pak." Ujar Ina protes dia sudah berada di ruangan Pak Bryan. Bryan menyodorkan dan memperlihatkan coretan-coretan surat perjanjian tersebut sebelum dikitik ulang. "Sabrina dengarin aku, kamu kira orang tua ku mudah tertipu begitu saja dengan ucapan, tidak sama sekali Mama ku pantang menyerahnya, dia lebih jeli makanya aku bikin pengecualian disana tentang kontrak ini" "Tapi Pak ini berlebihan lho. Aku tidak bisa dengan point nomor dua ini." "Bukan tidak bisa tapi belum pernah kan ?" "Ya belum lah, bapak kira aku selama ini cewek gampangan kalau bukan karena bapak menyeret nama ku di hadapan keluarga Bapak aku tidak akan menyetujuinya kontrak ini dan ada satu hal lagi sih." "Tapi kan setimpal Ina kita sama-sama di Untungkan." "Karena terpaksa." Ucap Ina sarkas. "Jadi kamu keberatan ? ya udah aku tetap tidak akan mengubah bagian point no dua ini." "Pak, bukan begitu Pak cuma aku keberatan bapak cantumkan kontak fisik jika ada hal yang mengharuskan kita melakukannya." "Kan ada kata jikanya Ina !" "Hmm, tetap saja aku tidak suka Pak. Aku bukan yang pro seperti ini. Aku cuma wanita biasa aja. Ucap Ina. Dia sih gampang ngomong karena udah pengalaman bersama dengan istrinya dulu, kalau aku masih tabu soal begitu. Batin Sabrina. "Ina, ini kita akting di luar aja kok di depan keluarga ku. Kamu tenang aja." Ina menghela napasnya, Tenang gimana Pak Bryan pegang pinggang dan tangan aku kemarin masih terngiang-ngiang di otak ku bagaimana dengan pelukan dan ciuman yang benar aja aku belum pernah melakukannya. Batin Ina lagi. "Atau mau coba sekarang, boleh kita praktekkan?" "Pak..!" Bryan terkekeh. "Bercanda Ina tapi kamu harus siap-siap dengan situasi seperti itu nanti." Kenapa dosennya jadi aneh begini, Ina menemukan sisi lain dari Pak Bryan. "Kamu mau uang berapa di cantumkan disini sebut aja jangan sampai milyaran. Ucap Bryan tidak memperdulikan protes Ina dia fokus kembali dengan laptop di depan matanya. "Ina mau berapa?" Ucap Bryan lagi kepada ini. "Pak aku bukan mata duitan yang bapak kira seperti cewek-cewek yang lain tapi aku kali ini benar terpaksa mengiyakan. Saat Bapak bilang akan berikan uang aku kepikiran sama Mama ku." "Kenapa emangnya, aku boleh tahu nggak alasannya. ?" "Uhmm, Mama ku punya utang. Eh maksudnya Papa ku yang punya utang tapi Mama terpaksa membayar utang yang tidak kami buat. Saat meninggal Papa pinjam uang sama Budhe yang tidak Mama ketahui. Papa ku selingkuh di belakang Mama saat dia meninggal semuanya berantakan. Papa bikin aku dan Mama hancur, perusahaan bangkrut, rumah kami di Jakarta di sita oleh Bank dan Papa memiliki hutang sama Budhe ku yang terpaksa kami harus mengansur-ansurnya. Maaf pak aku jadi curhat sama bapak. Aku cuma ingin membantu Mama ku aja agar Mama tidak merasa terbebani lagi dengan hutang itu. Aku tidak butuh banyak pak cuma 40 juta saja agar Mama bisa tanpa beban lagi menjalankan toko kue sederhananya itu." Bryan tidak menyangka ucapan Ina barusan membuat dia tersentuh di balik senyum cerianya dan di balik sikap barbarnya yang dia tampilkan pada semua orang tanpa menunjukkan sisi kelemahannya hebat sekali Ina. "Aku ikut prihatin yang kamu alami Ina kamu tenang saja aku akan memberikan uang itu untuk mu tapi setelah kontrak kita berakhir." "Oke Pak." "Hmm, ini surat kontrak sudah aku print masing-masing kita berdua memilikinya." Dia menyodorkan surat tersebut sama Ina untuk di tanda tangani setelah dia menandatangani sendiri. Bismillah.. Semoga semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Menjadi kekasih pura-pura Pak Bryan. ucap Ina dalam hatinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD