MENOLAK

1283 Words
Pulang sekolah,hujan turun dengan derasnya.Semua siswa masih didalam sekolah dan enggan menerpa hujan deras ini,termasuk Bian, yang masih bersama kerumunan murid lainnya menunggu hujan reda. Deza lalu menyusup disampingnya."Yuk." Bian menoleh dan masih tidak mengerti maksud dari ajakan Deza. Deza lalu mengibarkan jaketnya ke atas ia dan Bian.Sekarang Bian tahu maksud Deza. Bian dan Deza lalu menerpa hujan bersama sama.Semua mata tertuju pada keduanya tapi mereka tidak mengira ada apapun di antara mereka karena tahu Bian dan Deza hanya sepupu. Bian memandang Deza yanga memayunginya dengan jaket itu.'Jaketnya dia condongin ke aku.Dia jelas kebasahan.'Hati Bian semakin meleleh drastis karena kebaikan Deza. "Udah,jangan liatin aku,liat jalan aja."Deza pura pura tidak peka padahal ia tahu Bian memandangnya. Dibawah hujan ini,Bian tahu jika perasaannya juga sudah jatuh dan menyerap pada Deza seperti air hujan yang jatuh dan meresap basah ke baju Deza. Bian dan Deza pada akhirnya berhujan hujanan sambil menaiki motor.Walau kebasahan banyak karena Deza lebih meminta Bian yang memakai jaket,tapi Bian dan Deza tetap tertawa bersama di bawah hujan itu. Sesampainya di rumah,keduanya masuk kekamar masing masing untuk berganti pakaian karena kedinginan dan basah kuyup. Bian yang sudah selesai berganti pakaian mengingat hal manis yang terjadi tadi.Bian terus tersenyum membayangkan Deza.'Kok aku pengen banget ya ketemu Deza.'Bian mulai merindu berat. 'Dia aja nggak gengsi nyamperin aku,boleh dong aku nyamperin dia.'Bian lalu memberanikan diri mendatangi Deza lebih dulu. "Tok…Tok..Tok."Bian mengetuk pintu kamar Deza pelan."Deza,masak mie yok."Akal Bian bulus saking ingin bertemu Deza. "Krek."Deza membuka pintu. Rambut Deza masih basah karena belum disisir,Deza memakai kaos dan celana bola."Bentar lagi aku mau main futsal ya." Harapan Bian pupus yang ingin berduaan dan bahkan mengharap lebih pada Deza."Oh,iya iya.Kita masak mie yuk." "Kamu aja masakin aku,aku tunggu di ruang tengah ya." "Kampret,memangnya aku babu kamu.Masak sendiri lah."Umpat Bian. "Ya udah,aku nggak usah aja."Deza pasang wajah cuek lagi. "Iya deh!Aku masakin."Bian akhirnya kalah lagi. Bian dengan wajah sekusam kaos kaki yang tidak di cuci sebulan mulai memasak mie di dapur. Niatnya untuk bermesraan dengan Deza sekejab pudar karena kekesalan tadi.'Apaan tuh,di luar romantis,di rumah nyebelin.Kayak selebriti settingan,didepan orang mesra,nggak ada orang nggak ada rasa.' Bian memasak mie dengan terus merungut yang ntah apa dan bagaimana. Mie selesai di masak dan sudah di hidangkan.Ia membawa 2 mangkok mie ke ruang tv. Deza sudah duduk santai dengan seragam futsalnya. "Nih."Biar menyodorkan mie pada Deza. "Taroh di meja aja."Sahut Deza yang kelihatan sibuk dengan hp. "Rrrr."Bian menggeram dengan gigi yang bergesekan. "Tak!"Bunyi piring yang Bian taroh di meja dengan keras. Bian lalu duduk agak jauh dari Deza dengan semangkuk mie goreng di tangannya.'Ok fix,bakat babu aku udah nampak!'Rutuk Bian yang kesal karena ulah Deza tadi. Bian mulai melahap mienya dengan sendokan besar karena sebal. Deza melihat mie Bian yang menggantung dan akan masuk mulut Bian. "SLAP."Deza lalu mendekat pada Bian dan menyerumput mie itu dari bawah. Bian kaget karena ia dan Deza berbagi mie dengan cara seperti ini.Saat Bian juga menyedot mienya dan Deza juga menyedot mie yang satu baris dengan milik Bian. Keduanya berpandangan dan menantikan mie itu akan mempersatukan bibir mereka saat mie itu makin pendek. Bian yang tidak sabaran sekarang.'Ini kesempatan!Putusin mienya atau gercep seruput semua.' "Slrup."Bian menyedot lebih dulu.Hingga akhirnya bibirnya dan bibir Deza yang berminyak bertemu. "Deg!"Bian tidak tahu bagaimana kelanjutannya karena Deza juga tidak bereaksi. 'Ini gimana!Kok nggak ada pergerakan!Masa iya aku yang mulai duluan!Nerima aja aku belum!'Bian lalu panik sendiri. Deza malah senang dalam hati walau ekspresinya datar.'Dia pasti udah kepincut sama aku dan mancing aku buat lebih.'Benak Bian berkata demikian. Deza lalu bangun,tempelan bibir itu terlepas. Bian sangat malu dan kecewa berat. Deza meraih mangkuk mie ditangan Bian dan menaruhnya ke meja. Sekarang Bian mulai merasakan sinyal aneh. Deza mendekat pada wajah Bian kira kira dengan jarak sejengkal."Kamu mau ngajakin ciuman?" Bian malah merasa seperti dilempar batu dengan pertanyaan seperti itu.'Deza oon!!!Ngapa malah nanya!Lakuin aja kayak biasanya kenapa!' Bian lalu menggeleng."Nggak,aku cuma balas goda kamu aja!"Bian berdusta demi membela diri. Deza menatap mata Bian yang tidak pernah bisa berbohong padanya itu."Padahal aku mau,mau banget.Cuma aku mau nunggu sampai kamu yang minta dan mohon ke aku." Jawaban Deza membuat Bian panas."Kamu jangan aneh aneh ya!Oke,aku nolak kamu!Aku nolak perasaan kamu!" Deza malah mendengar jawaban yang tidak enak dari Bian.Deza menahan emosinya agar tidak kentara."Oke,nggak apa apa.Asal kamu nggak nyesal aja."Jawab Deza datar. Deza lalu bangun dan pergi.Bian malah sedih dan menyesal dengan perkataan kasarnya yang menolak Deza. 'Kenapa aku malah jawab gitu sih?Deza pasti sakit hati sama aku.'Bian menyesali yang tidak bisa terulang lagi. Deza yang emosi menumpahkan amarahnya dengan bermain futsal kasar dan terus menerus hingga lelah.Ia marah pada jawaban penolakan Bian tadi. Deza duduk di tepian lapangan dengan nafas terengah dan wajah bercucuran keringat.'Lihat aja Bian!Aku akan buat kamu nyesal karena udah nyakikitin aku!Kamu harus menderita dari aku!'Deza menatap benci saat ia mengingat Bian dengan perkataannya tadi. *** Bian resah menunggu Deza yang belum pulang.Ia ingin minta maaf pada Deza terkait omongannya tadi. "Brum..Brum."Suara motor Deza sudah terdengar. Bian lalu keluar kamar dan hendak menyapa Deza.Tapi Bian harus merasakan cambukan atas omomgannya tadi. Deza pulang dengan membawa seorang gadis cantik,Bian tidak asing dengan gadis cantik yang satu sekolah namun berbeda kelas dengannya ini. 'Itu kan Melzha."Bian menatap aneh pada keduanya. Deza membawa masuk Melza,gadis tercantik di sekolah yang memang suka padanya.Deza sengaja merangkul bahu Melzha dan bahkan mengecup pipi Melzha. Melzha tentu saja kesenangan.'Hoki banget nggak?Dari kelas 1 aku nembak dia,udah kelas 3 baru di terima.Akhir yang manis banget!' "Hai,kamu Bian sepupunya Deza kan?"?Melzha menyapa Bian yang mematung datar. "Iya,aku sepupunya Deza."Bian tidak tahu jika lidahnya bisa menjawab saat ia bahkan tidak sanggup berdiri sekarang karena Deza yang mematahkan perasaannya. "Aku pacarnya Deza,salam kenal ya."Melzha memperkenalkan status dirinya pada Bian. "KRAK."Hancur berkeping hati dan perasaan Bian. Terlebih Deza juga menatap Bian dengan sorot mata benci dan marah.'Rasain kamu!'Rutuk Deza dalam hati. "Udah,kita kekamar aku aja.Sebelum orang tua aku pulang.Di sini nggak leluasa."Deza sengaja berkata demikian untuk semakin menyakiti Bian. "Iya,ayo."Melzha juga kesenangan dengan ajakan Deza. Deza dan Melzha naik ke atas menuju kamar Deza dan hanya Berlalu meninggalkan Bian. Bian yang hatinya melempam kembali berbalik dan masuk ke kamarnya.Tanpa terasa langkahnya yang menuju ranjang diiringi air mata yang tanpa perintah keluar begitu saja. 'Kenapa aku malah sedih karena ulah aku sendiri!Bukannya ini memang mau aku nolak dia!Cuma lebih awal aja dari perkiraan,tapi kenapa malah aku yang sakit sendiri!'Bian jelas menyesali semuanya dan sakit hati melihat Deza bersama yang lain. *** Di kamarnya,Deza hanya mendiamkan Melzha.Ia tidak menyentuh atau mengajak Melzha bermesraan seperti dugaan. Deza malah sibuk bermain game dengan hp di tangannya. Melzha mendekat dan menyandar nyaman di bahu Deza sambil melihat Deza bermain game. "Deza,kita mau ngapain?"Melzha mencoba menggoda Deza. "Nggak ngapa ngapain,kalau kamu bosan,pulang aja."Sahut Deza yang hanya memperalat Melzha. "Nggak,aku disini aja nemanin kamu."Melzha tidak mau pergi dan memilih betah di samping Deza walau di cueki.'Nggak apa apa deh kayak gini dulu,yang penting Deza udah jadi pacar aku.Aku nggak akan lepasin dia.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD