Sarapan pagi ini,Deza tetap cuek tapi Bian malah selalu menahan tangis.Bian sesekali menatap Deza.
'Dia nggak mandang aku dengan cinta dan kasih sayang lagi.Udah nggak ada yang usilin aku dengan tingkah konyol dia yang kadang buat aku spaning sampai deg deg an.Kenapa aku jadi rindu sih!Nyesek banget!'Bian tidak ada semangat untuk kesekolah hari ini.
Saking kesalnya,Deza bahkan tidak mau memberinya tumpangan motor ke sekolah.
'Rasain!Ini baru permulaan Bian!Kamu akan lebih sakit dari ini karena udah nolak aku!'Deza yang pergi lebih dulu menatap Bian dari kaca spionnya.Bian tertinggal jauh di belakangnya.
Bian harus berjalan cukup jauh akhirnya karena mengejar angkot pun ia tidak dapat.
***
Sesampainya di sekolah,tampilan Bian nampak lecek dan kusut.
'Ilang deh sedihnya aku!Kalaupun marah kasi tumpangan kek!Ini malah buat aku jalan kaki sampai kesekolah!Naik deh betis aku!Dasar Deza laki laki kardus!'Bian menggerutu dengan wajah dan tubuh yang keringatan,rambut yang agak acak acakan dan kakinya yang sengal karena berjalan.
Saat hendak masuk kekelas,ia harus menahan hati lagi melihat Melzha sedang duduk di kursinya dan berbincang bincang mesara dengan Deza.
Deza melihat kedatangan Bian dan sengaja memanasi Bian.
Deza menyelipkan rambut Melzha ke telinga.Melzha tentu ketar ketir kesenangan.
Tapi Bian semakin murka seakan petir,kilat dan awan hitam berada di atas kepalanya.
'Oh,jadi mau manas manasin!Maaf ya,aku tuh bukan penggemar sesuatu yang di panasin!Kalau basi ya basi aja!'Bian tidak mau terus terusan di tindas.
Bian lalu duduk di kursi lain yang kosong dan tidak duduk dengan Deza lagi.
"Aku duduk sini ya."Bian duduk di samping Andri.Anak yang heboh dan sering di hukum di kelas ini karena tidak mengerjakan PR.Andri suka sering membanyol tapi ia adalah anak band yang aktif.
"Boleh,duduk aja.Nggak bayar kok."Andri suka saja saat Bian mau duduk di dekatnya.
"Pruk..Pruk…Pruk."Andri sedang sibuk menggendang meja sambil bersenandung.
Bian memerhatikan dengan senyum yang asik."Kamu suka band Nirvana juga?"Tanya Bian karena senandung itu mengarah pada lagu kesukaannya juga.
Andri lalu terdiam sejenak."Kamu suka juga?"Tanya Andri antusias.
Bian mengangguk senang."Itu comes as you are kan?"Sepertinya Bian sudah menemukan teman yang sama nyambung dan bobrok seperti dirinya.Yang kurang dalam belajar dan lebih menikmati hal di luar pelajaran.
"Tos dulu lita."Andri dengan bangga menghadapkan tangan pada Bian.
"Plak."Bian langsung menyambut tos dari Andri.
"Gila,aku senang banget kamu juga suka Nirvana."Andri menambahkan lagi.
"Aku jago kali mainin semua lagunya pakai gitar.Lagunya tuh kayak nyerap gitu di hati!Aku nggak suka lagu lagu alay jaman sekarang."
"Sama,beneran deh.Aku juga mikir gitu.Coba mainin gih lagu Nirvana,aku bawa gitar nih."Tantang Andri lagi.
"Boleh."Bian dengan senang hati menerima tantangan itu.
Bian memakai gitar Andri dan mulai memainkan lagu Nirvana favoritnya yang berjudul smells like teen spirit.
Andri menikmati betul suara dan petikan jari lentik Bian yang memainkan gitar dengan lihai.
'Wih,nih cewek keren banget.Salud'Andri memuji Bian dalam hati.
Sekarang giliran Deza yang panas dan sakit hati.Ia tidak konsen lagi dengan Melzha tapi malah cemburu pada Bian dan Andri yang akrab.'Kurang ajar!Dia malah akrab dengan orang lain didepan aku!Jadi kamu memang mau berantem dan musuhan sama aku!Oke!'
Deza sangat terbakar amarah saat ini."Melzha,kamu balik kekelas kamu aja!"
"Eh,kenapa?Belum masuk kok."
"Udah sana aja!Aku mau belajar soalnya!"Tekan Deza lagi.
Melihat Deza yang marah,Melzha lalu mengalah dan kembali kekelasnya.
Giliran Deza yang berjalan dan menghampiri Bian.
"Kamu pindah duduk disini?!"Tanpa basa basi,Deza menyela Bian yang sedang bernyanyi.
Bian lalu menoleh dan menatap datar."Iya,aku pindah disini aja.Di sini asik,aku sepaham sama Andri."
Bian dan Andri saling tersenyum,sesama penggemar nirvana yang juga minus dalam pelajaran ini.
"Dia nggak bisa ngajarin kamu yang oon!"Tekan Deza lagi.
"Biarin,biar bisa dihukum sama bolos sama sama.Kan memang aku nggak pinter dari dulu.Udah,kamu sana aja!"
Bian lalu mencueki Deza.
"Udah Deza,sepupu kamu biar sama aku aja.Aman kok."Andri turut bicara agar mempermudah Bian.
"Sipp,asikan ngomong sama kamu disini."Bian balas memanasi Deza dengan membandingkan Deza dan Andri.
Deza dengan wajah merah padam menahan marah lalu berbalik dan kembali ke bangkunya.Ia menahan dadanya yang sesak dan berdegub lebih kencang itu.
Bian juga sengaja makin cekikikan dengan Andri.'Rasain tuh Deza!Emangnya kamu aja yang bisa!Aku nggak bisa tanpa kamu gitu?!Sory aku bukan cewek manja yang cengeng dan bisa kamu tindas cuma gara gara perasaan!'
***
"Bian,mau ikutan ngeband nggak?Kamu pandai main gitar tuh."Andri bertanya pada Bian saat guru sedang menjelaskan didepan kelas.
"Nggak PD lah,aku nggak pandai pandai amat kok."
"Coba aja gabung dulu,asik kok.Buat nambah teman juga."Andri pria berlesung pipi dan hitam manis ini kalau di lihat lihat lumayan dan pribadinya juga menyenangkan.Ia gampang berbaur dan banyak teman.
"Em,boleh deh.Tapi jemput ya,aku nggak ada motor.Minggu depan baru dikirim kesini sama orang tuaku."Bian lalu setuju di banding ia suntuk di rumah bertemu Deza.
"Sip."Ntar Wa aja kalau udah siap.
Asik asik berbincang,guru yang mengajar melahat upin ipin yang malah asik bicara sendiri itu.Siapa lagi kalau bukan Bian dan Andri.
Maka dari itu,2 penghapus papan tulis akhirnya harus terbang seperti ufo dan melesat tepat kekepala keduanya.
"PLAK."
"PLAK."
Bian dan Andri sama sama memegang kepalanya.
"Sibuk kalian ngomong saya lagi jelasin!Lagi rapat mau nikah kalian!Mau berhenti sekolah aja!Biar sekolah di luar buat anak hah!"Tidak tanggung tanggung omelan guru galak ini.
Bian dan Andri hanya cengengesan menahan malu dan sakit.
"Keluar!"Guru itu lalu mengusir Andri dan Bian.
Tapi keduanya malah kelihatan senang saja tidak belajar.
Deza semakin geram dan bahkan mematahkan pulpen di tangannya.Ia panas hati melihat kedekatan Andri dan Bian.
Terlebih keduanya di hukum bersama.Entah kemana tujuan mereka berdua.
Andri dan Bian malah mengendap di kantin dan menghabiskan semangkuk mie.Tidak ada beban ia di keluarkan dari kelas.
Andri senang karena ada gadis yang seperti Bian dan bukan tipe kemayu yang hanya sibuk berdandan.
***
Pulang sekolah,Deza juga semakin memanas saat melihat Bian di bonceng oleh Andri.Andri bahkan menyalipnya begitu saja.
Karena itu,Deza tidak mau kalah dan balas menyalip.Deza membawa motornya dengan kecepatan tinggi.
Bian tahu jika Deza marah besar pastinya.
Sesampainya di rumah,Bian masuk kekamarnya saja karena memang lelah dan ingin istirahat.
Tapi nyatanya ia harus kaget lagi saat Deza sudah ada di kamarnya lebih dulu.
"Deza."Bian kaget saat melihat Deza dengan pakaian sekolah menatapnya tajam.
"PRUK."Deza menyandarkan Bian ke belakang pintu.Deza menahan kedua bahu Bian dengan kuat.
"Deza!Kamu mau apa!"Bian panik.
Deza sudah geram dan tidak tahan lagi.
"SLAP."Bibir Bian langsung menjadi sasarannya.
Deza mencium Bian dengan kasar dan membabi buta.Ciuman itu bahkan melukai bibir Bian yang kesakitan.Deza sengaja menggunakan gigi giginya dan menyedot bibir Bian dengan kuat.
"Mmmhhh..Mhhh."Bian berusaha melepaskan diri namun tidak bisa.Tangan Bian terus berusaha mendorong Deza namun Deza terus menempelkan dirinya pada Bian.
Bian lalu sekuat tenaga mendorong Deza dan kali ini berhasil.
"BRUKK."Tubuh Deza terdorong kuat.
Bian sudah menangis bercucuran air mata."Kamu kenapa sih!Apa lagi mau kamu!"Bian menangis sesenggukan.
"Kamu gatal!Kamu ganjen!Kamu jalan nggak ada harga diri!Kamu mau nunjukin kalau kamu bisa dekat sama si Andri didepan aku!"Deza juga marah dan tidak menjaga kata katanya lagi.
"Jaga ya mulut kamu!Aku lebih nyaman berteman sama Andri daripada sama kamu!Ngaca kamu kalau ngomong!Kamu sama Melzha gimana hah!Nafsu banget kan kamu sama dia!Ya udah,nggak usah ngusik aku lagi!Aku nggak gangguin kamu kan!"Bian juga marah besar tentunya.
Deza dan Bian saling melampiaskan amarahnya.
Karena sudah kesal teramat sangat,Bian lalu mengucapkan sesuatu."Aku nggak bisa tinggal di sini!Aku bakalan keluar dan pindah!Aku benci kamu Deza!"Bian menuju lemarinya dan berniat mengemasi pakaiannya.
Saat Bian sudah mengeluarkan tasnya dan menaruh pakaian pakaiannya,Deza mulai panik.
Deza lalu menghampiri Bian dan memutar badan Bian lalu memeluk Bian.
"Nggak,jangan pergi.Aku minta maaf."Deza memeluk Bian erat.