Bian menangis dalam pelukan Deza."Kamu kenapa sih Deza!Aku salah terus!Maunya aku ikutin kamu terus!Kamu sayang,kamu benci,kamu lakuin semua yang kamu mau.Aku ini jadi kayak mencet lampu sen kiri tapi malah belok kekanan tahu nggak gara gara kamu!"
"Kamu yang jahat dan bodoh!Aku cemburu kamu sama Andri!Aku marah karena kamu tolak!Aku kecewa semudah itu kamu cuekin aku!Aku cuma manfaatin Melzha biar kamu sadar kalau aku berharga buat kamu!Tapi nyatanya kamu malah dekat dan ganjen sama Andri."Deza masih memeluk Bian walau hatinya berulam kesal.
"Kamu sih nggak peka!Aku tuh cewek!Kalau ngambek atau sok sok nolak tapi di pegang pegang masih mau kan tandanya aku juga suka!Lah kamu malah main ngambek,pergi,pulang bawak cewek!Ibarat isteri baru meninggal kemaren lah kamu udah nikah lagi!"Bian terpaksa harus mengclear semuanya sekarang.
Deza lalu melepas pelukannya dan melihat wajah Bian yang kusut karena menangis.Air mata di sana sini,belum lagi ingus yang naik turun dan mata bengkak juga bibir dowernya.
Tapi Deza tetap dengan wajah yang cool dan menawan.Deza dengan jantan dan tanpa rasa jijik menyeka air mata,ingus hingga merapihkan rambut Bian.
Setelah itu Deza memeluk Bian lagi dengan lembut dan memegang kepala belakang Bian dengan satu tangannya saat tangan yang lain merangkul pinggang Bian.
"Maaf ya,aku salah.Aku kira kamu serius.Tapi kamu harus jaga omomgan kamu.Perkataan kamu kemarin tuh nyakitin perasaan aku banget!Aku nggak terima banget dengan penolakan sementara aku udah nunggu nunggu jawaban kamu."Deza melembutkan nada bicaranya.
"Aku ngejilat ludah sendiri deh,niatnya nggak mau nerim kamu,sekarang malah nerima kamu.Tapi kamunya ngapain aja sama Melzha di kamar?!"
Deza tersenyum kecil."Nggak ngapa ngapain,dia cuma aku cuekin aja.Biar kamu sadar dan sakit hati karena udah nolak aku."Deza masih dengan tutur katanya yang lembut.
Bian lalu melepas pelukan itu.
"Slurrrrrttt."Bian menarik ingusnya.
"Jorok,di buang dong.Malah di tarik,di telan lagi."Komen Deza pada kelakuan jorok Bian.
"Sayang di buang,anggap aja cendol."Jawab Bian nyeleneh.
"Terserah kamu aja,mau jorok apa nelan ingus,tetap aja aku cinta."
Perkatan Deza membuat Bian bahagia sekarang.Bian tersenyum senyum merona."Jadi kita udah jadian kan?Tapi kita kan."
"Ssttt."Deza menaruh satu jari manisnya didepan bibir Bian.
"Kita tuh nggak sepupu."
Pernyataan Deza membuat Bian bingung."Maksud kamu?"
Deza lalu menurunkan jarinya.Wajah Deza agak murung dan datar."Aku harap kamu bisa jaga rahasia ini demi keutuhan keluarga aku."
Apa yang Deza katakan membuat Bian makin berdebar dan penasaran."Ia,aku janji bakalan jaga rahasia."
Deza menghembuskan nafas beratnya sesaat."Aku bukan anaknya papa,mama aku hamil aku sebelum nikah sama papa.Aku juga nggak tahu papa aku siapa.Tapi aku tahu ini waktu umur 11 tahun.Waktu mama sama papa bertengkar dan nggak sengaja ungkap identitas aku.Jujur aku shock,tapi setelah itu orang tua aku akur lagi.Aku mau nanya juga nggak enak,nggak mau mama terluka."
Pengakuan Deza membuat Bian merasa pilu dan sedih.Pantas saja Deza selalu tertutup,karena ia memiliki rahasia besar tentang dirinya yang ia simpan sendiri.
"Deza,kamu jangan sedih ya.Kan ada aku."Bian lalu mendekat pada Deza.
Deza tersenyum lemah."Aku udah nggak begitu ambil pusing kok.Tapi suatu saat,kalau udah dewasa aku akan cari tahu siapa papa aku."
"Iya,yang penting kamu nggak sedih aja."
Deza lalu mengelus wajah Bian dengan induk jarinya."Aku nggak sedih asal kamu ada di dekat aku Bian."
"Iya,aku bakalan disini terus kok.Tapi kamu jauhin Melzha ya."Bian rupanya memendam cemburu berat.
Deza senang dengan kecemburuan ini."Iya,aku bakalan jauhin dia.Tapi kamu juga jauhin Andri ya."Balas Deza yang juga cemburu.
"Iya,gampang.Ntar aku batalin deh janji jalan sama dia.Niatnya dia mau ajak aku ngeband,dia anak gaul kayaknya."
Jawaban Bian membuat wajah Deza kecut dan asam semeraut."Gaul gaul,ntar di gaulin mau!"
Bian serta merta cengengesan."Iya iya,nggak deh."
"Chat dia sekarang bilang kamu nggak mau di ajak jalan!"Tekan Deza lagi.
"Ashiap Komandan."Bian kembali jahil dan membuat gelak tawa Deza.
"Muach."Deza mengecup bibir Bian secepat kilat.
Bian merona dan malu malu,ia senang akhirnya berbaikan dengan Deza dan bahkan jadian dengan Deza yang ternyata bukan sepupu sedarahnya.
***
Bian mengikuti interupsi Deza agar memberi tahu Andri untuk tidak jadi keluar bersama.Bian mulai mengirim pesan pada Andri.
"Nih,udah."Bian duduk bersandar pada Deza di sofa yang mana Deza di belakangnya dan Ia duduk di depan Deza dengan posisi miring.
"Kecentilan sih,belum apa apa di ajak jalan mau."Deza bangkit kesal lagi.
Bian diam saja tidak mau melawan.'Kalau cewek salah di ungkit terus,kalau cowok salah kayak dia benar aja.Eh kebalik ya?Bukannya cewek yang selalu benar?!'
Deza melihat jelas mulut bebek Bian."Ngapain monyong monyong gitu,yuk kita jalan aja."
Bian lalu berbalik."Ayo,kita ke mall ya Deza."Bian langsung semangat kalau soal jalan.
"Slap."Deza malah curi curi kesempatan dan main sambar saja bibir Bian.Berhubung rumah sepi dan orang tuanya belum pulang.
"Mmmhh,mmmhhh."Deza meresapi ciuman berisik yang b*******h itu.Deza sengaja membuat suara untuk menambah sensasinya.Akhirnya ia bisa memacari gadis yang selama ini ia tunggu tunggu.
Bian juga memberi celah seleluasa mungkin untuk Deza.Bian sudah menikmati ciuman pacar tak terduganya ini.
Deza malah semakin b*******h dan enggan melepas pautan bibirnya.Hawa bibir Deza makin hangat dan bibir Deza juga makin melemas.'Aku nafsu banget,aku nggak bisa udahin ini.'
Saat tubuhnya melemas,keperkasaan Deza malah mengeras di bawah sana.
Bian juga semakin berdesir dan menikmati ciuman basah ini.Tubuhnya terasa panas dan bergairah.Semakin Deza melahap bibirnya,semakin ia ingin lebih dan lebih agar ciuman itu membersihkan dan menyisir seisi mulutnya.
Deza perlahan mencoba melakukan sesuatu,tangannya yang bebas ragu ragu terangkat lalu mendarat di atas d**a Bian.
"Sret."Bian merasakan hal itu.'Gimana nih!Mau nolak tapi kok tangan aku nggak mau gerak buat nepis.'Bian tanpa sadar membiarkan tangan Deza di atas dadanya yang ranum.
Melihat respon Bian dan diam,Deza merasa ini adalah lampu hijau.
"Slap."Deza mulai meremas gudukan kenyal di balik baju itu perlahan lahan.
Awalnya Bian merasa aneh,namun lama kelamaaan ia malah menikmatinya.
Begitu juga dengan Deza yang semakin terbuai dan larut dalam nafsunya.Betapa d**a kenyal gadis pujaan hatinya ini membuat tangannya terus lihai dan memijat.
"Mmmmhhh."Desis Bian tanpa sadar.
Deza membuka matanya yang sedari tadi terpejam,ia melihat wajah cantik Bian dan sepertinya merangsang hebat.
Deza tersenyum lalu menutup matanya lagi.Ia senang karena Bian tidak terpaksa dan memang suka sama suka saat melakukan hal ini.
Sekitar 15 menit,ciuman panas plus rabaan itu berakhir.Bian mengakhiri lebih dulu sebelum mereka kebablasan.
Keduanya tersenyum bersama setelahnya.Bian dan Deza lalu jalan jalan ke mall seperti mau Bian.
Sesekali Bian memeluk Deza saat sepi tapi melepaskannya saat ramai karena takut ada teman sekolahnya yang memergoki.
***
"Zha,bukannya itu Deza?Katanya dia gebetan kamu,kok malah sama cewek lain?"Teman Melzha malah melihat Bian dan Deza saat di Mall.
Melzha juga ada di mall itu di saat yang sama.Melzha melihat dengan teliti."Iya,itu Deza.Pantesan aja pesan aku di abai'in."Wajah Melzha nampak kesal sekarang.
"Ciee,kamu di buang kali ama dia.Kamu GR aja kali,padahal dia nggak suka sama kamu tuh."Teman Melzha malah memanasi Melzha.
"Yang di samping dia itu sepupu dia oon!Kamu jangan ngasal deh kalau nggak tahu!"Melzha emosi karena di ejek temannya.
Melzha lalu berjalan lebih dulu dan meninggalkan temannya.Ia berjalan lebih cepat dan menghampiri Deza dan Bian untuk meminta penjelasan.