HARUS MEMILIH

1270 Words
Deza membawa Bian ke sebuah rumah,rumah itu milik orang tuanya juga yang kelak akan di wariskan ke Deza. Sebuah rumah yang cukup besar dan nyaman walau agak jauh dari perkotaan.Rumah itu biasanya di huni saat liburan akhir tahun karena tidak jauh dari tempat wisata. Deza menangis di dalam kamarnya,kamar yang biasa ia gunakan untuk tidur bersama orang tuanya saat kecil dulu. Di ranjang yang ia ratapi sekarang,dulu ia dan ayah juga ibunya tidur bersama seperti keluarga bahagia. Banyak tawa yang terukir di atas ranjang yang luas walau kini usang itu. "Slap."Bian lalu memeluk Deza yang duduk di tepian ranjang itu. "Deza,kamu nangis aja.Nggak apa apa."Bian juga ikut menangis sambil memeluk Deza.Ia bisa merasakan kesedihan yang Deza alami dan rasakan sekarang. "Kenapa,kenapa jadi kayak gini.Aku nggak tahu ini malah jadi skenario terburuk di hidup aku."Deza mendekap dalam pelukan Bian dan merutuk keadaan yang menimpanya. Bian hanya bisa mendengar dan terus memeluk Deza erat,menguatkan hati agar Deza tahu jika ia tidak sendiri dengan kehadirannya. "Jangan sedih lagi Deza,semua pasti bakalan baik baik aja.Semuanya sayang sama kamu." Deza lalu keluar dari pelukan Bian dan menatap Bian dengan wajahnya yang sembab."Aku nggak bisa bayangin kalau sekarang kamu nggak ada didekat aku Bian.Aku pasti udah mati di jalan kalau kamu nggak ada.Makasih atas kehadiran kamu." Bian tersenyum dan menyeka air mata Deza dengan tangannya. Deza sudah bisa mulai tersenyum.Deza memegang wajah Bian dengan kedua tangannya.Ia lalu mencondongkan wajahnya dan setelah itu menempelkan bibirnya pada bibir Bian. Deza mencium Bian dengan bibir lembabnya.Bian menyambut ciuman itu dengan lapang.Dengan lidah dan bibir yang saling sahut sahutan mengecup dan menyedot satu sama lain. Hingga ciuman itu malah kentara memuncahkan nafsu dan emosi yang berlebih didalamnya. Rasa galau dan sendu yang pekat malah membuat Bian dan Deza lupa diri di rumah kosong itu. Deza mulai membaringkan Bian di kasur dan masih menciumi bibir Bian.Tapi ciuman itu lalu turun dan menjejali leher Bian. Kiri dan kanan leher Bian terus di raba oleh bibir bringas Deza.Hingga Deza kini menindih Bian. Perlahan demi perlahan,seragam sekolah yang tadi terpasang di tubuh keduanya kini sudah lepas dan berhamburan kesana kemari. Tidak ada satu busanapun yang kini melekat di tubuh Bian dan Deza. Deza merazia seluruh tubuh indah Bian dari ujung rambut hingga ujung kaki.Lidahnya menari nari ria di atas d**a,perut hingga bibir kewanitaan Bian. Tanpa sadar,tidak ada satupun yang menolak dan sadar untuk berhenti.Sampai akhirnya acara puncak di mulai. Deza membenamkan miliknya pada sumber kesucian Bian.Deza melepas dan merobek selaput dara yang juga kehormatan bagi seoang wanita milik Bian. Bian meringis sesaat lalu menikmati setelahnya.Ia dan Deza menghabiskan siang itu dengan aktifitas intim yang tidak sepantasnya. "Bian,aku cinta sama kamu." "Iya Deza,aku juga cinta sama kamu."Bian memeluk Deza yang masih berada di atasnya dan melanjutkan permainan yang belum kunjung usai itu. *** Ayah dan ibu Deza kelabakan mencari keberadaan Deza dan Bian. Keduanya sama sama tidak bisa di hubungi,karena belum 24 jam maka keduanya belum bisa di laporkan hilang. "Deza,kamu dimana nak?"Ibu Deza terus bolak balik tidak tenang di rumah. Ayah Deza juga masih sibuk bertelepon kesana kemari mencari keberadaan Deza.Walau bukan darah dagingnya sama sekali,tapi ia sangat menyayangi Deza sama seperti menyayangi anak kandungnya. Menjelang malam pukul 8 barulah Deza dan Bian pulang ke rumah. Orang tua Bian juga ada di rumah Deza dan tahu duduk perkara pelik yang sedang menerpa keluarga Deza. "Deza."Ibu Deza langsung menghampiri Deza. Bian juga di hampiri oleh orang tuanya. Ayah dan ibu Deza senang karena baik Deza maupun Bian dalam keadaan baik baik saja. Tapi keadaan semakin runyam sebentar lagi.Deza tiba tiba menggenggam tangan Bian di hadapan para orang tua mereka. "Semuanya udah tahu kan kalau Deza bukan anak kandung papa.Sekarang Deza mau tegasin satu hal lagi."Deza mempererat genggaman tangannya pada Bian."Deza selama ini sama Bian pacaran." Perkataan Bian membuat semua mata hampir terlonjak keluar. "Iya ma,pa,om,tante,Bian sama Deza saling sayang dan saling cinta.Ini bukan hanya karena sepihak tapi Bian dan Deza memang saling cinta dan sayang."Bian menambahkan agar Deza tidak disalahkan. "Bian,kamu paham nggak sama omongan kamu!Orang orang tuh tahunya kamu sama Deza tetap sepupu walaupun Deza bukan anak ayahnya yang sekarang."Ayah Bian marah dan tidak senang dengan kelakuan Bian. Deza menaruh Bian di balik punggungnya."Om,Bian nggak salah.Deza mohon jangan marahin Bian." "Deza,masalah satu belum selesai sekarang kenapa kamu malah nambahin lagi?"Ibu Deza angkat suara lagi. "Masalah mama ya masalah mama,mama urusannya sama papa Andri.Nggak ada sangkut pautnya sama aku.Aku cintanya sama Bian dan mau sisa hidup aku sama Bian karena aku cinta sama dia.Aku nggak mau kayak mama yang nggak hidup bahagia sama papa dan malah selingkuh lalu nyakitin hati orang lain."Ucapan Deza seperti menampar ibunya keras saat ini. "Jaga bicara kamu Deza,dia tetap ibu kamu."Ayah Bian menegur Deza. "Nggak perlu om,ini biar mama sadar!Mama udah buat papa tersiksa dan aku jadi anak hina banget.Aku anak orang tapi di urus orang lain yang nggak ada hubungan darah.Bahkan mama nggak tahu malu,udah di baikin malah selingkuh lagi."Deza marah dan meluapkan semuanya. Ayah Deza terharu.'Ternyata kamu peduli dan sayang sama papa walaupun kamu tahu kamu bukan anak papa.' "Kalaupun mama mau balikan sama papa kandung aku,aku tetap akan sama papa aku yang sekarang.Papa yang sayang,cinta dan nerima aku tanpa syarat.Papa yang berani tanggung jawab walaupun bukan kesalahan dia.Papa aku papa paling gentleman sedunia.Cuma dia laki laki yang layak aku panggil papa dan bukan yang lain."Ucapan Deza mengalir keras bagai arus air yang sedang meluap. Ibu Deza tidak percaya,anaknya yang ia kenal cuek dan bahkan seperti tidak peduli ternyata memiliki perasaan yang peka.Ternyata amat sangat peduli keluarga. "Mama,minta maaf Deza.Mama memang salah dan malu maluin.Kalaupun mama sama papa pisah.Mama nggak akan maksa kamu harus milih siapa.Karena mama sama papa,semuanya sayang sama kamu."Ibu Deza menegarkan hatinya. Tapi yang jadi duduk perkara besar sekarang adalah masalah percintaan Deza dan Bian. "Bian,kamu harus pindah sekolah.Mama nggak restuin hubungan kamu sama Deza.Buat mama ini masih janggal banget.Deza juga belum jelas gimana status kedepannya.Hubungan kalian juga nggak sehat kalau sama sama terus.Kamu harus ngejauh dari Deza dan sekolah dulu benar benar."Ibu Deza mengkhawatirkan Bian sebagai wanita. "Tapi tante,Deza bakalan jaga Bian kok.Please,percaya sama Deza."Deza meneguhkan diri karena tidak mau Bian pergi. "Deza,kamu masih labil masih remaja.Apa yang tante kamu bilang itu benar.Om juga udah nggak tenang mau biarin Bian tetap tinggal disini.Bian bakalan om bawa pulang apapun yang terjadi.Kalau memang kamu sayang sama dia,kamu dan Bian harus ngejar masa depan dulu.Jadikan diri kamu pantas dan urus masalah keluarga yang lagi kamu hadapin.Kalau semua udah beres,hubungan kalian baru kita pertimbangkan kembali."Ayah Bian memberi saran terbaik untuk saat ini. Deza dan Bian saling berpandangan,keduanya takut untuk saling di pisahkan. 'Aku takut kita bakalan di pisahkan dan ini cuma alasan aja Deza.Apa mungkin kita tetap boleh sama sama nantinya?'Bian membatin dalam hati. 'Apa yang harus aku lakuin buat pertahanin kamu Bian?Aku nggak punya daya apa apa sekarang.Bahkan masalah keluarga aku juga belum beres.Aku nggak bisa ngejamin apapun karena aku tahu cinta aku nggak akan cukup untuk modalin semua ini.'Deza juga resah dengan keadaan.Ia tidak mungkin menang melawan orang tua Bian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD