Chapter 10 - INSECURE

990 Words
"Gue bukan anak Ibu, ya, Kak?" Teya ingin menyangkal ucapan Ceril, namun kehadiran Wika di tengah-tengah mereka mengurungkan niatnya. "Pada ngomongin apa, nih?" Wika duduk di hadapan kedua Kakaknya. "Kok muka kalian pada tegang?" tanya gadis yang baru saja menginjak kelas dua SMP itu. "Udah sana! Mending lo ke kamar aja," usir Teya. Wika menatap Ceril dan Teya secara bergantian sementara tangannya sibuk memasukkan roti ke dalam mulutnya. "Ibu lagi ngomong sama siapa, sih? Kok sampai teriak-teriak gitu?" tanya Wika sambil mengunyah. Wika ini tipe gadis yang santai dan bodo amat dengan sekitar. Tidak terlalu ambil pusing dengan keadaan yang menurutnya tidak penting. Tapi, kali ini sepertinya gadis itu mulai penasaran. Begitulah yang Ceril tangkap dari kepribadian Adiknya. Teya enggan menjawab, begitu pun dengan Ceril yang memilih menatap lantai. "Ibu dan Om itu nyebut anak-anak gitu." Wika menyudahi makannya, kemudian melipat kedua tangannya di atas meja serta  menatap penasaran ke arah Teya dan Ceril. "Kok pada diem, sih? Aku nanya, Kak!" Teya menarik napas pelan sebelum menanggapi pertanyaan Adiknya. "Anak kecil gak boleh tau! Mending lo ke kamar aja sana!" usir Teya emosi. Ceril berdehem. "Benar kata Kak Teya, mending lo ke ka-" "Aku juga penasaran sebenarnya." Wika memotong ucapan Ceril. "Sebenarnya Ayah kita siapa, sih?" Gadis itu mengubah posisinya menjadi bertopang dagu. Ceril menahan napas mendengarnya, terlebih Teya, terbukti dengan matanya yang terbelalak kaget. Gawat! "Lo kalau nanya jangan aneh-aneh!" sentak Teya. Kepalanya mendadak pening. Tidak bisakah Ceril dan Wika bertanya ke Ibu langsung?  Bagaimana pun juga Teya tidak bisa asal bicara. Ceril masih bergeming. Kepingan masa lalu saat ia kecil perlahan teringat olehnya. Di mana saat ia dititipkan oleh seorang Ibu-ibu paruh baya di sebuah desa yang jauh dari pemukiman padat penduduk. Dan bagaimana Jeni membujuknya agar mau tinggal di rumah Ibu-Ibu itu. Saat itu Jeni berjanji akan kembali menjeput Ceril. Awalnya Ceril enggan, namun akhirnya ia luluh juga. Ceril ingat betul masa itu, di mana Jeni akhirnya memenuhi janji. Jeni datang menjemput Ceril, namun ada yang berbeda saat itu. Jeni ... sedang mengandung. Jantung Ceril mencelos mengingatnya. "Kak," panggil Ceril. Teya sontak menoleh, begitu pun dengan Wika. "Lo inget gak pas gue dititipkan sama Ibu-ibu selama beberapa tahun yang lalu?" tanya Ceril. Awalnya Teya mengernyit bingung, namun beberapa detik kemudian ia mengangguk. "Dititipkan?" Wika membuka suara. Ia menatap Ceril penuh penasaran. "Dulu, gue dititipkan sama Ibu-ibu di desa, terus Kak Teya sama Ibu pergi, ninggalin gue." Ceril mendengkus. Wika mengerutkan dahi. Tidak mengerti. "Aku?" tanya Wika menunjuk dirinya sendiri. "Aku di mana waktu itu?" Teya dan Ceril saling melempar pandangan. Teya memilih diam dan pura-pura tidak mengerti "Lo ... masih di dalam perut Ibu." Ceril menjawab dengan napas tercekat. Wika mengangguk paham, seolah yang diucapkan Ceril bukan hal yang penting. "Terus waktu itu ada Ayah?" Teya menggigit bibir mendengarnya. "Enggak. Sejak lahir gue gak tahu siapa Ayah." Ceril memainkan gelas di hadapannya. "Sama kayak lo." Wika kembali mengangguk. "Berarti, di antara kita cuman Kak Teya yang kenal Ayah?" Tak ada yang menjawab. "Jadi, siapa Ayah kita, Kak?" tanya Wika dengan mimik wajah serius dan tidak memedulikan wajah Teya yang menegang. "Wika-" "Kak Ceril diem aja! Kakak juga penasaran, kan? Hidup di dunia tanpa Ayah jelas bukan perkara mudah, kan, Kak?" Wika membuang napas pelan. "Sebenarnya aku udah capek nahan diri mau tahu tentang Ayah, Kak, udah capek nahan diri kalau ditanya Ayah kemana dan semuaaa yang berkaitan dengan Ayah." Gadis itu tampak tenang saat mengatakannya, namun siapa pun yang melihat itu pasti dapat menebak jika gadis di depannya sedang tidak baik-baik saja. "Wika ...." "Kak Teya tahu semuanya, kan, Kak? Kenapa Kakak nyembunyiin tentang Ayah dari kita?" Teya masih bergeming di tempatnya dengan sorot mata kesal. "Kakak pasti ngerasain disayang sama Ayah. Gak kayak aku sama Kak Ceril, cuman bisa bertanya-tanya." "Cukup!" bentak Teya sambil menggebrak meja. "Gimana rasanya disayang-sayang dengan sosok Ayah, Kak?" Wika tidak memedulikan bentakan Teya. "Wika, ke kamar, yuk," ajak Ceril, ia takut Adiknya menjadi tempat luapan emosi Teya. Wika menepis tangan Ceril yang ingin memegang tangannya. "Kak Teya beruntung banget bisa ngerasain kasih sayang dari Ayah." Wika tersenyum manis. "Aku iri sama Kakak." "Kenapa kalian malah nyudutin gue?" Teya berdiri dari duduknya dan menatap marah ke arah Ceril dan Wika. "Apa-apa gue. Semua yang berkaitan dengan Ayah kalian luapin ke gue! Kenapa gak kalian tanyain langsung ke Ibu? Kenapa harus ke gue? Lo kira gue tau semuanya? ENGGAK!" Napas Teya tampak menggebu. Kedua tangannya mengepal penuh amarah. Ceril memilih menunduk. Lain halnya dengan Wika, ia membalas tatapan marah Teya dengan tatapan biasa saja. "HARUSNYA KALIAN JUGA PAHAM DENGAN POSISI GUE! GUE KAKAK KALIAN! KALIAN KIRA SELAMA INI GUE GAK ADA BEBAN?" Teya tertawa terbahak-bahak, entah apa yang ia tertawakan. "PERSETAN DENGAN SEMUANYA! GUE MUAK!" Teya menendang kursinya sebelum beranjak ke kamar. "Wika," panggil Ceril. Ia merasa bersalah dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ia merasa ini salahnya karena telah mengungkit sesuatu yang tidak seharusnya dibahas. "Keluarga kita lucu, ya, Kak." Wika beralih menatap kosong ke arah ruang tamu. Ceril diam. Menunggu kelanjutan ucapan Adiknya. "Bukannya saling menguatkan, tapi malah saling menjatuhkan. Dan tidak memedulikan satu sama lain." Wika menoleh menatap Ceril dengan tatapan kosong. "Seolah menutup mata dan telinga dengan apa yang terjadi sama penghuni rumah ini. Kamu, ya kamu. Aku, ya aku," lanjut Wika. Ceril tersentak mendengarnya. Bagaimana bisa Wika yang tidak pedulian dapat berpikir seperti itu. Seolah selama ini ia telah menjadi pengamat di rumah ini. Bahkan ia tampak paham dengan situasi yang ada. "Wika ...." Ceril kehabisan kata-kata. Ia tidak tahu bagaimana menimpali ucapan Wika. "Aku sama kayak kamu, kok, Kak." Wika tersenyum. "Sama-sama insecure." Wika menarik teko yang tak jauh dari tempatnya, lalu menuang isi teko itu ke dalam gelas yang tersusun rapi di hadapannya. "Gue insecure sama fisik dan keadaan," ujar Ceril pelan. "Insecure itu mematikan. Bisa membunuh mental dan hati sekaligus ... kalau tak kuat," timpal Wika terbilang santai. "Wik, jangan asal ngomong." "Kakak Insecure, kan?" Wika kembali menerbitkan senyum manis. "Insecure Kakak sebuah paket lengkap." Wika masih mempertahankan senyumnya. "Kakak ... gak takut mati?" "Lo ngomong apa, sih?" Wika menyesap minumannya dengan pelan. "Soal Ayah, ... sebenarnya aku bodo amat, Kak. Karena Ayah juga bodo amat sama aku. Tapi, aku penasaran sama pemilik wajah yang rela menyia-nyiakan anaknya itu." Ceril tercenung. Bingung harus menanggapi seperti apa ucapan adiknya. "Kak, bunuh orang gak dosa, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD