Chapter 11-INSECURE

1029 Words
"Kak, bunuh orang gak dosa, kan?" "Pertanyaan lo gak ngotak, Wik!" Ceril melotot dengan kesal. "Udah mending lo ke kamar. Belajar atau ngapa kek." Wika hanya diam dan menatap Ceril dengan seksama. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik Ceril yang bersiap beranjak dari sana. Ceril menoleh, menyadari tatapan Adiknya. "Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" "Kamu pas kecil sering dibully, kan, Kak?" Wika tersenyum saat menanyakannya. Ceril bergeming. "Wajar, sih." Setelah mengatakan itu, Wika mendorong kursinya, lalu beranjak dari hadapan Ceril yang terdiam. ---- Usai membersihkan diri, Ceril duduk di pinggir ranjang sambil menggosok rambutnya menggunakan handuk. Sudut matanya tak sengaja menangkap hoodie Naka yang telah terlipat rapi. Ah, iya, Ceril lupa. Rencananya ia ingin mengembalikan hoodie itu setelah ia cuci. Berhubung hari masih sore, Ceril pun berinisiaif mengantar Hoodie itu kepemiliknya langsung. ----- "Pake sepeda lagi?" tanya Naka yang sedang membuka pagar rumahnya. Ceril diam, malas menjawab. Toh, sepedanya terpampang dengan jelas. "Ngapain ke sini?" tanya Naka setelah berhasil membuka pagar rumahnya. "Kangen, ya?" godanya dengan alis turun-naik. Ceril mencebik kesal. "Gak usah ngomong macem-macem." Ceril membuang napas pelan sebelum berkata, "Gue mau balikin hoodie lo doang." Naka beralih menatap bungkusan yang terulur di hadapannya. "Udah lo cuci, kan?" tanyanya sambil mengambil bungkusan itu. Ceril tidak mengubris. Matanya menyorot malas ke arah cowok yang hanya menggunakan kaos pendek serta celana pendek, tidak lupa sandal jepit tersemat di kakinya. "Wangi," komentar Naka. "Wanginya kayak lo. Jadi kalau gue kangen sama lo, gue tinggal pakai hoodie ini, ya, Cer." Naka tertawa kecil setelahnya dan tidak memedulikan wajah speechless Ceril. "Gue pamit pulang." "Eh, tunggu!" Dengan cepat lelaki itu meraih pergelangan Ceril dan menggenggamnya dengan erat. "Jangan pulang dulu," ujarnya dengan tatapan memelas. Ceril yang melihat itu seperti melihat anak kucing  lapar dan memelas meminta s**u ke pada induknya. Menggemaskan. Ceril melirik tangan Naka yang sedang memegang pergelangannya. "Tangan lo." "Tangan gue baik-baik aja, Cer." "Tangan lo kurang ajar!" Ceril memperingati sambil menyorot Naka dengan datar. "Makanya jangan pulang dulu. Gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ceril mendengkus. "Astaghfirullah, gue serius Ceril! Gini amat kalau mau ngomong sama lo," ujar Naka nelangsa. Sudut bibir Ceril berkedut. Menahan diri agar tidak tersenyum. Bagaimana pun juga ia tidak melupakan peringatan Ibunya beberapa waktu lalu. "Ya udah, lo mau ngomong apa?" Bukannya menjawab, Naka malah berjalan ke arah sepeda Ceril dan naik di atasnya. Ceril melotot tidak percaya. Sekarang apa lagi yang mau dilakukan laki-laki itu? "Naik, Cer!" Ceril membeo. "Yee, malah bengong. Naik ke boncengan, Cer. Gue mau bawa lo ke suatu tempat." "Gak usah macem-macem!" ujar Ceril datar. "Ngarep banget, ya, gue macem-macem ke lo?" Naka menggelengkan kepalanya.  "Mungkin lo punya trauma buruk sama cowok  Cer, tapi asal lo tau, gue bukan cowok yang kayak gitu. Gue gak mungkin berani nyakitin cewek, apa lagi cewek yang gue ... sayang." Ceril mengerjapkan mata beberapa kali mendengar penuturan Naka. "Lo ngomong apa barusan?" tanya Ceril. Ia sudah bersiap naik di boncengan. "Lo mendadak b***k, Cer?" tanya Naka dengan ekspresi polos. Hoodienya ia taruh di keranjang sepeda Ceril. "Serah lo!" Naka terkekeh pelan sambil mengayuh sepeda Ceril. "Cer, lo pernah gak kepikiran  suka sama gue?" tanya Naka tiba-tiba. Ceril menahan napas mendengarnya. "Enggak." "Kok enggak?" tanya Naka tidak terima. Ceril mengernyit heran di belakang. Sebenarnya laki-laki yang sedang memboncengnya ini sedang kesambet atau bagaimana? "Itu gue jawab jujur." "Berarti gue harus berusaha dengan extra, ya." Naka bergumam dengan pelan. Hampir tak terdengar di telinga Ceril. Gadis yang sedang duduk di boncengan hanya merapatkan bibir sambil menatap jalanan. Jujur ... pertanyaan-pertanyaan random Naka perlahan menimbulkan rasa aneh di hatinya. "Kita udah sampai." Ceril mengucek matanya. Berharap tidak salah lihat. Pasalnya tempat yang mereka datangi bukanlah tempat yang indah, melainkan di pinggir jalan dengan berbagai macam bentuk rumah. "Terus kita mau ngapain ke sini?" Ceril menoleh ke samping, menatap Naka yang sedang menyandarkan sepedanya di tembok rumah orang. "Ya ... gak ngapa-ngapain." "Terus maksud lo bawa gue ke sini apaan?" Ceril berkacak pinggang, menatap garang ke arah Naka yang tampak biasa-biasa saja. "Mau ngomong sesuatu." Naka menjawab jujur dengan ekspresi lugunya. "Apaan?" "Jangan galak-galak, Cer." Naka maju selangkah. "Lo ngarep gue bawa ke tempat yang indah atau romantis gitu, ya?" goda Naka sambil mensejajarkan wajahnya dengan wajah kesal Ceril. Ceril sontak mundur beberapa langkah. "Ngarang lo!" ujar Ceril sambil menggaruk pipinya. "Gue cuman mau bilang ...." Ceril diam, menunggu kelanjutan ucapan Naka yang sengaja ia gantung. "Mau bilang ...." Ceril mengernyit. "Mau bilang ...." "Apaan?" sentak Ceril tidak sabar. Lagi pula ia merasa jika laki-laki di hadapannya ini sedang mempermainkannya. "I love ...." Ceril mengerjap bingung. "You." "WHAT?" "I love you," ujar Naka sambil menatap bola mata Ceril yang tampak kebingungan. "Gitu doang?" tanya Ceril setelah terdiam beberapa saat. Naka mengangguk. Bibirnya tersenyum penuh arti. "Itu yang mau lo bilang?" tanya Ceril sekali lagi. Naka kembali mengangguk. "Gue udah cocok gak nembak dia?" tanya Naka sambil mengulum senyum. Dia? Setelah mengerti, Ceril sontak mengulas senyum. Ia menunduk sejenak, menatap sepatunya yang menginjak bumi dengan kokoh. Beberapa saat kemudian, ia mendongak, membalas tatapan Naka yang begitu dalam. Bibir Ceril kembali tertutup saat netranya bertubrukan dengan netra Naka yang begitu menenangkan. Ceril ... merasa ia tidak baik-baik saja. Dia benci keadaan ini. Dia benci dengan spekulasi-spekulasi bodohnya. Dia ... hampir baper. "Udah cocok." Ceril melebarkan senyumnya dengan tatapan kosong. "Jadi, lo ngejadiin gue uji coba, Ka?" Naka ingin menggeleng, namun kepalanya berbohong. Ia memilih mengangguk sambil menatap penuh arti ke arah Ceril. "Gue pulang." Akhirnya Ceril memilih beranjak dari hadapan Naka. Entahlah, perasaannya mendadak tidak enak setelah mendengar penuturan laki-laki yang kerap kali membuatnya kesal dan senang secara bersamaan. Naka bergeming. Tidak menanggapi ucapan Ceril. Ia memilih diam dan menatap kepergian Ceril bersama sepedanya. "Argh! g****k banget, sih, gue! Ya Allah, maafkan hambamu ini telah berbohong." Naka menjambak rambutnya sendiri. "g****k! g****k! Kepala g****k! Mulut g****k! Hati g****k! Dasar g****k!" Naka terus merutuki dirinya sambil sesekali menampol kepalanya sendiri. "SUSAH BANGET, SIH, NEMBAK CEWEK! PAAA, MAAFKAN ANAKMU YANG TAK BERANI NEMBAK CEWEK." Naka kembali bermonolog dengan sendirinya sambil menyesali kegoblokannya. "Gue udah bohong!" Naka kembali menampol kepalanya. "Gue udah buat anak orang mikir yang enggak-enggak!" Satu tampolan kembali mendarat di kepala Naka. "Dasar g****k!" rutuk Naka. Tangannya meninju udara secara brutal, demi menuntaskan kekesalan yang ia lakukan sendiri. "Iya, Kakak memang g****k," celetuk seorang anak kecil yang menyimak kelakukan Naka. Naka merapatkan bibirnya, melirik sinis ke arah anak kecil itu. "Iya, gue emang g****k, Dek!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD