Suasana hati Ceril yang sepenuhnya belum membaik setelah pertemuannya dengan orang di masa lalu, semakin bertambah gundah saat ia menapakkan kaki di rumah. Di ruang tamu ia melihat Jeni sedang mondar-mandir dengan gelisah. "Assalamualaikum, Bu." Jeni langsung berjalan menghampiri Ceril yang sedang melepas kaus kakinya. "Waalaikumsalam. Kamu darimana aja, sih? Kok baru pulang jam segini!" todong Jeni langsung. Kerutan di wajahnya saat menatap Ceril semakin menandakan jika wanita itu sudah menua dimakan usia. Ceril menghela napas pelan, hatinya terenyuh jika melihat guratan lelah dan tanda menua di wajah Ibunya. Betapa bersyukurnya Ceril memiliki Ibu seperti Jeni yang mampu membesarkannya hingga kini. Terkadang perasaan bersalah menyeruak di relung hatinya, mengingat ia kadang kala kele

