Aku kebingungan menemukan cara bagaimana menghadapi Yansen ketika ia bertanya nanti. Dan sepertinya dia akan bertanya saat ini. Aku menatapnya yang juga sedang menatap aku dengan tanya. "Kakak kenapa manggil Kak Rezky? bukannya Kak Rezky sudah nggak ada lagi di sini, dia sudah ada di tempat yang sama dengan Papi." Aku mengangguk lalu senyum sebelum akhirnya bisa menjawab dengan jawaban sederhana saja yang dapat dimengerti dengan mudah oleh daya pikir anak seusia dia. "Iya Yansen, Kak Rezky memang sudah nggak di sini lagi, tapi tadi itu Kak Osy entah kenapa ngerasa Kak Rezky ikut main sama kita. Yeah, mungkin karena dia belum sempat main dengan kamu seperti janjinya di hari itu," kataku menjelaskan. "Oh..., gitu ya Kak!" ia berseru kemudian mendekat kepada aku yang duduk di kursi poj

