Sudah tak ada lagi senandung lagu cinta itu. Dan kini kami berdua hanya saling diam tanpa sepatah kata pun juga, dan mata yang saling tatap. Mulut yang membeku membentuk senyuman mengikuti alunan hati masing-masing. Entah kenapa aku jadi gemetar, memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Rezky setelah ini nanti.
"Nggak ada yang bisa menggoyahkan hatiku sampai sedahsyad ini. Tapi ... hanya dengan melihat kamu ... semua itu bisa terjadi. Banyak yang berusaha untuk masuk ke dalam hatiku, tapi hati ini nggak mau membuka. Tapi kamu hanya diam saja, pintu hati ini sudah terbuka dengan sendirinya, dan ... ingin kamu masuk lalu tinggal di sana. Melukiskan kata-kata cinta di setiap sudutnya."
"Re-Rezky...," gumamku terpukau dengan kata-katanya.
"Maukah kamu masuk di hatiku ini?" tanya Rezky dengan tatap mata yang penuh cinta.
"Rezky..., aku..."
"Ikuti aku." Rezky mengambil tanganku, kemudian meletakkan di dadanya yang terlapisi oleh kemeja putih. "Pejamkan matamu," perintahnya kali ini.
"Iya," jawabku lembut yang hampir tak terdengar bahkan olehku sendiri.
"Rasakan seakan tanganmu mendorong pintu hatiku ini yang sudah nggak terkunci lagi. Rasakan terus..., dan sekarang ... apa kamu sudah masuk?" tanya Rezky.
Rezky tak pernah meninggikan volume suaranya, nyaris seperti bisikan saja. Membuat aku merasa sangat tenang.
"Iya. Sudah."
"Oke. Sekarang, aku akan mengunci kamu di dalam sini. Sekarang ... sudah aku kunci. Kamu sudah terkunci di dalam hati ini." Rezky menarik napas panjang. "Oke, open your eyes...!" pintanya lagi.
Aku perlahan membuka mata. Melihat tatapannya aku semakin membeku. Nggak tau lagi harus gimana dan berkata apa.
"Kamu benar-benar membuat aku seakan melayang di udara," akhirnya aku bisa mengucapkan itu. Aku nggak nyangka pada akhirnya aku bisa merasakan jatuh cinta. Aku jatuh cinta...!
"Itu janjiku. I love you princess!" ucap Rezky dengan tatapan penuh rasa cinta.
Aku yakin mataku berkaca saat ini. Aku menatapanya dengan penuh cinta, dan dengan bibir bergetar aku berusaha menjawabnya, "I... love... you to ...!" Rezky menatapku dalam.
Kemudian kembali ke kursi. Mengajak aku menikmati makan malam yang menunggu sejak tadi. Makan malam sederhana hanya spaghetti masakannya. Takut aku nggak mau makan berat malam begini, katanya. Bagiku ini juga sudah makan berat. Dan anggur tanpa alkohol.
Setelah makan, Rezky menuang air panas yang ternyata kopi ke dalam dua gelas kecil bergagang. Tercium aroma kopi yang menggoda.
"Kopi?" aku memicing.
"Iya. Kenapa, nggak biasa minum?"
"Ah hahaha...! Iya, minum sih. Tapi jarang. Hampir nggak pernah, setelah teman minumnya ... udah nggak ada."
"Papimu?" terkanya, dan aku mengangguk pelan membenarkan. "Ini kopi arabika punya keluargaku. Ayo coba."
"Oke. Tengkyu!" ucapku sambil menerimanya.
"Aku masih ingin ngobrol santai," katanya ketika kami duduk dengan secangkir kopi masing-masing.
"Mm..., tapi aku harus pulang sebelum jam 9. Emangnya sopir kamu nggak bilang sama kamu? Oh ya, mana Pak sopir tadi?" aku baru ingat sejak kami turun dari mobil tadi dia sudah tidak terlihat lagi ada di mana.
"Ya bilang, sih. Tapi misalkan nggak dibilangin juga aku tau aturan itu. Dan, Pak sopir itu Basri namanya. Dia sudah aku suruh pulang, lagian rumahnya nggak jauh dari sini, kok. Aku ingin yang jadi saksi di malam spesial ini hanya Tuhan, dan bulan. Bintang juga kalo ada." Tutur Rezky.
Aku tertawa kecil. "Tapi, nggak harus sampe nyuruh dia pulang juga! Kasian kan, dia sampai jalan kaki."
"Nggak apa-apa, biar dia istirahat di rumah. Dari pada dia cuma jadi sapi ompong karena menunggu kita berdua di dalam mobil!" kata Rezky lalu menyeruput kopinya. "Dia itu pertama kali bekerja saat aku masuk TK. Tugas utamanya nganterin aku sekolah. Ya, bisa dibilang kami sudah seperti ayah dan anak. Tapi, sejak SMA dan aku sudah bisa bawa motor, hampir nggak pernah minta antar dia. Kecuali, untuk malam yang spesial ini. Tugas khusus untuk menjemput princess Yosy." Rezky lalu menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk senyumnya padaku setelah selesai dengan kalimatnya.
Melihat senyumnya setampan itu membuat aku jadi ikut tersenyum. Entah senyum apa ini rasanya sangat ringan sangat ... nyaman. "Mm..., tentang malam spesial ini ... terima kasih, ya!" ucapku tulus padanya.
"Dan ... kamu sudah merusaknya dengan bertanya soal Pak sopir! Tadinya..., aku hanya ingin membahas soal cinta kita." Rezky seolah mendumal padaku.
"Hahaha...! Aneh kamu. Sory deh, kalo aku udah ngerusak," candaku.
"Aku suka, liat kamu ketawa, sangat cantik!" ucap Rezky yang membuat aku jadi tersipu malu.
"Ehm! Mm..., omong-omong kenapa kamu pakai pakaian yang serba putih? Dan kamu malah juatru beliin aku gaun warna merah?" aku memperhatikan penampilan Rezky saat ini dari atas sampai bawah, lalu aku menyeruput kopiku.
"Aku, ingin malam ini merah dan putih menjadi satu. Aku mengibaratkan dua warna yang berkarakter ini sebagai cinta kita. Kamu ... gadis yang memancar penuh cinta padaku. Dan aku ... cintaku tulus, ibarat putih yang menginginkan merah sepenuhnya," katanya. Lalu diam memandangku. Cukup lama kami hanya diam saling pandang. Udara membuat aku dan mungkin juga dia, semakin membeku. Malam semakin gelap pun tak dirasa. Lampu terang benderang, cahaya bulan, dan hati kami yang saling memancar membuat gelap malam itu pergi entah ke mana.
Rezky membimbing langkah kedua kakinya menuju ke arah tempat aku duduk. Mengambil tanganku lalu kemudian membawa aku untuk berdiri. Saling berhadapan mendengarkan alunan hati masing-masing. Rezky lalu membawa aku ke sebuah halaman kecil yang dihiasi dengan banyak jenis bunga yang indah di pandang mata. Kami berdua saling berpegangan tangan berdiri di tengahnya, dan di bawah sinar bulan yang memancarkan keromantisan. Kami pun lalu memutuskan untuk duduk di antara hamparan rumput hijau dan bunga demi untuk bisa memandang bulan di atas sana.
"Aku ingin bulan itu pun tau, bahwa aku sangat mencintai kamu, Cinderelia Yosy." Kalimatnya terdengar lembut dan diucapkan dengan sepenuh hati.
Aku hampir nggak bisa napas. Jantung aku pun berdetak makin kencang. Pandangannya manatap tajam hingga menembus ke jantungku, dan aku sampai bisa mencium aroma arabika tadi dari napasnya, aku yakin begitu pun dengan dia. Oh Tuhan, aku takut yang terjadi selanjutnya adalah ... ya, itu yang aku takutkan. Aku harus bisa tegas menolaknya untuk nggak melakukan hal itu. Ah, akhirnya ketakutan aku pun sirna. Pelan-pelan Rezky mengalihkan pandangan mata tajamnya dari aku. Mungkin dia bisa melihat ketakutan di mataku. Aku lebih menyukai jika dia adalah tipe cowok yang bisa menahan diri untuk melakukan hal yang tidak baik.
Dia kembali membawa aku ke satu tempat. Sentuhan tangan Rezky terasa sangat lembut dan hati-hati ketika dia menggenggam erat tanganku. Aku pun terpejam meraskan sentuhan dingin namun terasa hangat itu. Ya, saat ini aku benar-benar seperti sedang melayang. Dia seperti sedang membawa aku terbang. Aku hanya bisa mengikuti ke mana dia membawa. Lalu Rezky melepas dengan enggan dan perlahan. Aku tersenyum mencoba untuk berkata, "Ini sangat indah, seperti gambaran surga!" ucapku sangat terpesona dengan indah pemandangan. Di hadapan ada kolam yang dibuat seperti sebuah sungai kecil di tengah tetumbuhan kopi yang menjulang, di setiap sisi ada bunga yang indah, juga sebuah pohon cery. Beberapa ekor ikan terlihat menari-nari di bawah sorot rembulan malam. Mungkin akan lebih indah lagi jika ada kunang-kunang yang menari indah di udara sekitarnya.
"Aku tau. Makanya aku mengajakmu. Ini tempat favorit aku. Tapi entah kenapa, aku membawa kamu ke sini, seakan untuk yang pertama dan juga yang terakhir kali. Sedangkan aku akan menunggu kamu di tempat yang jauh lebih indah dari pada tempat ini. Ah, sudahlah ... hanya perasaan aku saja!"
"Aku merasa takut ... sampai ingin jatuh!" ucapku parau mendengar itu.
"Nggak akan aku biarkan hal itu sampai terjadi. Aku akan selalu menggenggam tanganmu. Nanti kalau aku nggak ada di samping kamu, lakukan gerakan mengangkat tangan setengah badan seperti ini, lalu kamu pejamkan mata. Rasakan tanganku sedang menggenggam erat tangan kamu. Seperti ini...."
"Aku sudah merasakannya. Akan aku simpan rasa ini, hingga aku benar-benar bisa mengenal rasa hangatnya. Agar aku bisa merasakan terus, meski kita saling berjauhan," ucapku dengan mata yang masih saja terpejam. Aku masih bisa merasakan tangannya meski dia sudah melepaskan tanganku. Terus merasakannya hingga mengenal lembut dan hangat tangannya yang menggenggam tanganku. Sekarang aku merasakan perlahan ia melepas tanganku. Aku tau maksudnya, jadi tanganku masih tetap terangkat setengah badan.
"Rasakan terus," suara Rezky sedikit menjauh. "Gimana?" tanya dia lagi seperti sedang memastikan sesuatu yang sangat penting.
"Iya. Aku masih bisa merasakan walau pun kamu sudah pergi!" kata aku dengan kedua mata yang tetap terpejam.
"Oke. Simpan baik-baik rasa itu! Ayo, aku harus antar kamu pulang sekarang. Aku nggak mau kesan pertama aku di mata orang tua kamu, buruk." Perkataan Rezky ada benarnya, jangan sampai nanti Mami berpikir buruk tentang Rezky, apa lagi dia belum dikenal sama Mami.
"Iya, aku juga. Ayo kita pulang!" balasku. Aku juga sadar, malam sudah semakin larut, sudah hampir jam 9. Paling tidak, butuh waktu kurang dari 20 menit untuk sampai rumah sebelum jam 9.
Rezky menggenggam erat tanganku selama kami berdua melangkah berjalan menuju mobil. Sepatu yang Rezky belikan untuk aku terasa sangat nyaman di kaki, tidak membuat tumit atau pun juga jempol kakiku panas. Jauh dari sepatu murahan yang aku punya. Ya terang aja. Tapi aku tetap saja membawanya pulang meski itu hanya sebuah sepatu murahan saja. Takut nanti Mami aku tanya, soalnya sepatu itu walau pun harganya murah, tapi dibeli dari hasil keringat Mami sendiri. Harus aku hargai meski pun begitu. Dan bukan karena masalah harga yang murahan, tapi bagaimana perjuangan Mami demi untuk membelinya untuk aku.
... Karena suatu pemberian akan menjadi begitu berharga bukan karena dari nilai harga benda itu sendiri, melainkan karena nilai kasih sayang dari si pemberinya.
- - - * * * - - -