Kadang takdir menggoda kita untuk jatuh cinta, kemudian meninggalkan begitu saja....
❤
Pukul 18.30 ...
Aku bersiap-siap. Entah apa yang Risa katakan pada Mami? Bisa-bisanya dia sampai meluluhkan hati Mami, malah... Mami membantu aku untuk bersiap-siap. Seakan ingin melepas aku untuk menikah saja. Hah..., ya ampun! Aku yakin, Risa pasti bilang ke Mami kalau aku bahagia banget. Kebahagiaan yang sempat hilang setelah Papi meninggal. Kini bisa terobati dengan kemunculan seseorang bernama ...
"Duh..., cantiknya anak Mami! Persis banget kayak Putri Cinderella!" pujinya saat meneliti dari ujung ke ujung.
"Mami kasih aku nama Cinderelia..., pasti karena kepingin aku secantik itu kan?" tanyaku setengah bercanda, kami berdua saling tatap melalui cermin.
"Pakai sepatu yang mana?"
"Yang hitam, yang nggak pernah aku pakai itu, Mi!" kataku mengingatkan Mamiku yang berwajah oriental khas orang Sumatera Selatan.
"Itu kan nggak mau kamu pakai karena bikin kamu sakit, sayang?"
"Nggak apa-apa Mi. Habisnya, itu sepatu yang paling bagus. Lagian..., nanti aku dijemput Mi, jadi nggak terlalu banyak jalan kaki. Paling kakiku sakit sedikit kalo pas berdiri atau jalan." Aku berbalik badan, memandang Mami yang memandangku penuh kasih. Mungkin dalam hatinya ia berkata betapa bahagianya Papi kalau bisa melihatku sudah tumbuh besar. Saat itu juga aku memeluk Mami penuh rasa cinta. "Terimakasih ... Mami sudah ngebesarin aku dengan penuh cinta."
"Iya sayang, itu sudah tugas Mami."
Aku membawa sepatu keluar kamar, duduk di sofa lalu memakainya. Handphone berdering tapi terlalu jauh dari tanganku. "Dek, tolong dong hape kakak!" pintaku.
"Kakak mau ke mana? Cantik banget."
"Terimakasih...!" ucapku saat menerima. "Kakak mau ketemu temen."
"Pasti mau pacaran? Hayo ngaku!"
"Yansen...!" tegur Mami.
Aku tersenyum membaca sms dari Risa.
Jam 7 teng! Selamat melayang...!
Cukup membuatku geleng kepala. Ada suara deru mobil berhenti tepat di depan rumah. Mami berjalan ke arah jendela untuk memastikan.
"Kayaknya itu yang jemput kamu, sayang. Coba deh, liat!" membuka gorden.
"Ya udah, aku langsung keluar aja Mi." Merapikan rambutku yang panjang-nya hanya lima jari dari pundak. Rambut hitam berombak, kubiarkan tergerai indah. "Gimana Mi?" aku memandangnya.
"Cantik. Anak Mami bangun tidur aja cantik, apalagi kalau dandan gini!"
"Ah, Mami. Aku keluar deh!" saat aku keluar, Mami dan Yansen mengikuti dari belakang. Ternyata orang yang membawa mobil tadi sudah berdiri di samping mobil BMW sport itu.
"Permisi! Apa benar, Anda ini Nona Yosy?" tanya seorang pria usia sekitar 35 tahun, perawakan tinggi gagah, berseragam safari hitam.
"Iya betul. Saya sendiri." Tanpa bertanya lagi ia segera berjalan menghampiri kami.
"Permisi Bu, saya diperintahkan oleh Ajo (mas) Rezky untuk menjemput Nona Yosy. Mohon ijinnya!" ucapannya dengan penuh norma kesopanan dan sedikit menunduk ketika menunggu jawaban Mami.
"Iya, silahkan. Tapi tolong. Anak saya harus sudah ada di rumah sebelum jam 9. Itu sedah peratusan wajib sebagai gadis Lampung." Mami tetap tegas.
"Baik Bu, permisi!"
"Silahkan Pak. Hati-hati!"
Sekali lagi Pak sopir, entah siapa namanya itu menundukkan kepala di hadapan Mami. Dan aku mengikuti langkahnya setelah berpamitan pada Mami dan Yansen yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Ia membukakan pintu mobil untukku.
"Terima kasih." Aku masuk perlahan. Saat ini juga aku punya banyak waktu berpikir. Siapa sebenarnya Rezky? Kenapa Risa nggak cerita tentang yang satu ini? Nggak sopan rasanya kalau aku harus bertanya tentang keluarga Rezky pada Pak sopir ini. Jadi terpaksa aku harus menahan dulu rasa penasaran untuk bertanya nanti pada Risa.
Entah sudah berapa lama perjalanan, aku nggak menghitung dan memperkirakannya. Tapi sepertinya sudah cukup jauh. Dan saat ini mobil memasuki daerah perkebunan yang asing bagiku. Ini pertama kali aku lihat ada perkebunan kopi seindah ini di sudut kota Bandar Lampung. "Ini... milik keluarga Rezky?" akhirnya aku bertanya.
"Iya Non. Perkebunan kopi terluas di Lampung," jawabnya tenang.
Cukup sampai di situ saja pertanyaanku. Tak mau terkesan ingin menyelidiki keluarga Rezky. Mobil pun berhenti, seketika itu juga aku memandang ke luar jendela mobil. Sopir itu keluar lalu mengitari mobil, dengan satu tarikan napas saja aku sudah melihatnya membukakan pintu. "Terima kasih...!" ucapku. Lagi-lagi ia hanya menundukkan kepala. Aku berusaha merapikan gaun. Nggak Sopan rasanya kalau aku muncul dengan gaun yang berantakan di hadapan si pemberinya. "Ha?" aku tersentak ketika melihat satu tangan yang putih dan bersih terjulur ke arahku.
"Selamat datang, Princess!"
"Rezky...," gumamku. Menegakkan wajah, dan langsung menemukan wajah itu. Wajah yang selembut sutra dan tutur katanya menyejukkan hati. Selalu bersikap santun. Bagai seorang pangeran yang penuh kesahajaan yang selalu ingin menjaga hati rakyatnya.
"Terima kasih sudah mau datang dengan gaun itu," ucapnya lagi.
Aku tak menjawab, melainkan hanya menyambut uluran tangannya saja lalu mengikuti ke mana ia membawa. Semua ini ... dan juga sikapnya yang sangat formal, membuat aku kehilangan kata.
Kalo udah begini mah, mau tanya apa juga bingung jadinya. Batinku.
Kami berhenti di sebuah hunian kecil tapi terkesan mewah dan unik di tengah perkebunan. Seperti sebuah kastil di tengah hutan. Ada teras besar di depannya yang dihiasi banyak bunga beraneka warna. Di tengah teras ada sebuah meja bulat dengan sepasang kursi yang saling berhadapan dan bernuansa putih. Rezky menarik satu kursi untukku.
"Tengkyu!" kataku yang lebih seperti gumaman. Dia hanya menjawab dengan senyuman lalu melepas tanganku dan duduk si kursi lain.
Kami duduk saling berhadapan. Aku masih menunda pertanyaan, hanya duduk dalam diam.
"Aku senang ... kamu nggak bertanya tentang apa maksud dari semua ini," melipat tangan di atas meja. "Karena, aku ingin kamu merasakan semua ini dengan hati. Dan ... dengan begitu tanpa bertanya pun hati akan tau jawabannya." Senyumannya sangat lembut, dan berkarisma.
"Aku memang banyak menahan pertanyaan. Tapi, aku yakin jawabnya hanya satu!" kataku, membalas senyumnya. Aku menggerakkan kaki kananku dan nggak menyangka rasa perih yang tadi kutahan kini terasa sakit sekali. Aku yakin di bagian tumitku ini tergores sampai berdarah.
"Kenapa? Wajah kamu kayaknya nahan sakit gitu?" tanya Rezky, tatapannya tak tenang.
"Oh, nggak!" Menggeleng. Aku sadar tadi sempat meringis. Tapi dia nggak boleh tau. "Aku nggak kenapa-napa kok!" tetap saja dia nggak percaya dan sekarang sudah berlutut satu kaki di hadapanku. "Ka-mu ... mau... apa?" aku terbata.
"Aku tau, tadi waktu berjalan kamu menahan sesuatu di bagian kaki kanan. Ayo geser ke sini!"
"Aku masih bisa nahan. Kamu nggak perlu begini. Duduk lagi di kursi..."
"Aku nggak akan beranjak sebelum melihatnya!" paksanya.
Aku menuruti tanpa mampu berkata apa pun lagi, "Maaf...!" ucapku dengan lembut, karena merasa nggak sopan saat lututku tepat berada di depan wajahnya. Aku menunduk memperhatikan Rezky yang sedang membuka sepatu aku dengan wajah serius.
"Apa yang kamu lakukan dengan kaki seindah ini?!" Rezky mengerluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya. Membersihkan darah dari tumitku.
"Maaf. Aku nggak punya sepatu yang cocok buat gaun ini, selain sepatu ini. Aku tau sepatu ini nggak nyaman, makanya nggak pernah aku pakai. Tapi..., demi malam ini aku..."
"Aku terharu jadinya. Demi untuk terlihat nyaman di mataku ... kamu rela tergores begini." Ucapnya, dia terus membersihkan luka di kaki aku dengan hati-hati.
Aku diam memandangnya, kuselipkan rambut ke balik telinga. Entah kenapa, setiap mendengarnya aku merasakan kesejukan damai di hati, dan sensasi kelembutan dalam setiap kalimatnya.
Oh Tuhan... saat ini dia memandang dan aku nggak bisa berpaling dari tatapan tajam itu. Seperti meminta untuk tetap bertahan. Keadaan ini membuatku membeku.
"Mm, tunggu sebentar ya, aku ambil P3K di mobil," kata Rezky.
Aku hanya mengangguk pelan dan memandang kepergiannya. Selama menunggu, aku sempat berpikir, "kenapa sepi sekali?" Rumah mungil yang sangat etnik, seperti rumah panggung tapi diberi sentuhan modern. Dan kenapa rumah ini juga sepi, seperti nggak berpenghuni?
"Ini bukan rumah tinggal."
"Hm?" aku sontak berpaling, Rezky menghampiri dan berlutut lagi. Aku bergeser lagi, tersenyum melihatnya lagi di hadapanku dengan kotak P3K, dan satu kotak yang lain lagi. Meletakkan dua kotak itu di lantai. Mulai mengobati lukaku.
"Rumah ini bisa dibilang seperti sebuah villa. Kalau sedang musim panen kopi, siapa pun keluarga aku yang datang untuk mengawasi panen, tinggalnya di sini." Rezky bicara terus sambil memberi obat merah pada luka lalu menutup dengan plaster. "Yaa..., kadang kami sengaja berlibur ke sini." Selesai mengobati, menyimpan kembali sapu tangan di dalam saku celananya.
"Terima kasih...!" ucapku. "Seharusnya kamu nggak perlu repot seperti ini," aku tersenyum dengan seluruh rasa yang aku punya sekarang.
"Semakin repot, aku semakin merasa berarti buat kamu."
"Hah, ya ampun kamu ini...," kalimatku terhenti karena tangan Rezky terjulur menyelipkan rambut ke balik telingaku.
"Kamu mau tau, lagu apa yang lagi pingin banget aku denger setiap saat?" bisiknya.
"Bukannya..., kemarin kamu bilang sama denganku?" balik mengingatkannya.
"Yeah, tapi sekarang rasanya setiap detak jantungku ingin menyanyikannya."
Rezky lalu mengeluarkan handphone. Memutar lagu yang dia maksud, lalu meletakkan handphone di meja. Detik berikutnya lagu Ungu, Kau Tercipta Untukku mulai terdengar mengalun merdu mengolah isi hati yang sendu.
Selama lagu bersenandung Rezky tetap berlutut di hadapan aku. Suasana ini membuatku semakin merasa canggung, seluruh sendi terasa dingin dan bergetar. Nggak sanggup berkata apa. Terlintas, apa ini yang Rezky bilang akan membuatku melayang?
"Lagu ini mewakili isi hatiku," ungkapnya lembut. Lagu masih terus mengalun dengany merdu. Sangat memanja-kan telingaku. Rezky mengambil lagi sapu tangannya lalu membasuh telapak kakiku. Mengambil kotak berwarna orange yang membuat aku penasaran. Rezky mengeluarkan sepasang sepatu dari dalamnya. Dia pun langsung memakaikan di kakiku. "Sebenarnya, sudah aku belikan sepatu untuk pasangan gaun ini, tapi Risa meninggalkannya di mobil. Malah, kayaknya dia lupa banget sama sepatu ini."
"Jadi, kalian berdua janjian buat belanja gaun dan sepatu demi aku?" melihat sepasang sepatu high heels hitam yang aku idamkan harganya hampir nggak bisa aku beli hanya untuk sepasang sepatu. Kini ada di kakiku. Pasti Risa ingat, dan dia tau persis seleraku. "Well, kamu pilih orang yang tepat banget buat jadi partner!" suaraku bergetar karena tawa.
"Kalian sepupu, aku yakin Risa tau persis seleramu."
Senyumku hilang. "Mm, tapi bukan berarti aku suka barang-barang mahal. Aku suka aja sama modelnya. Simple." Aku berkata seperti itu agar jangan sampai Rezky jadi salah paham padaku, mengira aku cewek matre, ogah!
"Iya, Risa sudah cerita banyak tentang kamu semuanya ke aku. Aku tau semua tentang kamu," kata Rezky.
"Semua? Habislah aku, sudah nggak punya rahasia apa pun lagi di hadapan kamu," sahut aku, sedikit tak mengira dan sekaligus juga tak terima jika memang iya.
Rezky tertawa.
Apa pun yang Risa bicarakan tentang aku, yang jelas detik ini dia bisa ada di hadapan aku berkat jasa Risa juga. Aku masih belum ingin melayang. Takut jatuh tiba-tiba. Mungkinkah dia akan bilang cinta padaku malam ini?
- - - * * * - - -