Setelah mengantarkan Yansen, selanjutnya tentu Rezky mengantar aku ke sekolah.
Tapi, ketika kami berhenti tepat di depan sekolah, Rezky mengatakan sesuatu yang tidak aku duga sama sekali sebelumnya.
"Apa, bolos?" aku nggak percaya kalau dia sampai berniat untuk membolos bahkan parahnya lagi dia sampai mengajak aku.
"Iya. Aku ingin pergi berdua dengan kamu ke pantai Kalianda hari ini," katanya.
Aku masih menatap tak percaya pada apa yang aku dengar darinya. "Ki, apa aku nggak salah dengar kalau kamu itu ternyata suka bolos, malahan kamu sampai mengajak aku segala."
"Aku ngerti kalau misalkan kamu sampai berpikir bahwa aku ini suka bolos, tapi tolong kamu percaya deh sama aku, aku baru kali ini punya niatan untuk membolos," kata Rezky berkilah.
Aku sungguh nggak bisa ngerti dengan bagaimana dan ke mana arah pikiran Rezky kali ini.
"Ki, aku ngerti kalau kamu ingin kita pergi berdua aja, tapi please ... nggak untuk membolos juga. Kita bisa pergi lain waktu. Aku janji sama kamu kalau kita akan pergi berdua ke mana pun kamu ingin ajak aku pergi, tapi tanpa membolos," kataku agar dia bisa merubah pikiran untuk membolos. "Jujur aku kecewa sama kamu, aku pikir kamu itu..."
"Aku ngerti kalau misalkan kamu sampai kecewa sama aku. Tapi sekali lagi aku mohon kamu percaya kepada aku bahwa aku baru kali ini punya niatan untuk membolos karena..."
"Karena apa Ki? kamu kenapa? dari tadi kamu cuma berputar di tempat yang sama," paksaku yang makin bingung dengan ke mana arah pikiran Rezky yang sejak tadi hanya berputar-putar saja. Sejenak aku mengabaikan rasa keterpesonaan aku sama dia karena dia kali ini membuka helmnya hingga membuatnya semakin keren dengan rambut yang berantakan seperti sekarang ini.
Rezky tampak bingung dengan apa yang akan dia sendiri katakan padaku sebagai jawaban.
"... Aku ngerasa kalau ... aku nggak bakal punya banyak waktu lagi untuk bisa mengajakmu pergi berdua dengan aku," balasnya lagi dengan tatap mata yang sepertinya jauh.
Aku menggeleng skeptis sebelum membalas kata-katanya lagi. "Kamu jangan ngaco deh, Ki. Masih ada banyak waktu dan juga kesempatan untuk kita bisa pergi berdua ke mana aja."
"...!"
"...?"
"Ya sudah kalau gitu aku akan ke sekolah, kamu sekarang masuklah. Aku nggak akan pergi dari sini sebelum aku liat kamu masuk," kata Rezky akhirnya.
Aku mengangguk sambil senyum yang sedikit aku paksakan.
"Oke. Aku masuk. Kamu hati-hati ya bawa motornya, karena kamu sekarang punya aku, jadi ... apa pun yang akan terjadi sama kamu, itu juga yang bakal terjadi sama aku," tuturku sebelum kami berpisah.
Rezky yang mengangguk untuk kali ini.
"Cepat masuk!" perintah Rezky sambil senyum dan kemudian ia memakai kembali helm sebelum pergi meninggalkan halaman sekolah aku atau lebih tepatnya lagi meninggalkan aku di sini.
Ketika aku sudah masuk pagar dan berdiri di balik pagar tinggi sekolah, aku berbalik badan untuk bisa melihat pacarku pergi meninggalkan aku. Dan kemudian Rezky pergi dari sana setelah memastikan aku masuk.
Aku berbalik badan lagi sambil memejamkan mata dan dengan bibir yang tersenyum, kemudian aku menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa ingin teriak. Namun hatiku ini sudah berteriak gembira sejak tadi.
Rasanya aku menjadi pusat perhatian hampir seluruh isi sekolah yang sempat melihat aku bersama dengan Rezky tadi. Siapa yang tidak kenal dengan pangeran basket smanthree yang super kece dan tampan, tentu saja aku bangga bisa menjadi paling indah di matanya.
Begitu aku sampai di kelas, mereka yang sempat melihatku tadi menjadi biang kerusuhan di kelas berteriak, "princess -nya pangeran basket datang...! beri yell... yell...!" teriak Dewi seenak rambut kriting mi instannya.
Dan semua pun berteriak ..., "Princess Osy ye... ye...!" mereka terus mengulang teriakan itu dan aku hanya bisa menutup kedua telinga dengan telapak tangan.
"Cie princess Osy yang sekarang udah punya pangeran, tiap hari dianter jemput dengan kuda besi!" ledek Tina sambil mencolek pinggul aku berulang kali sampai membuat aku merasa geli.
Aku merasa tersipu malu dan jadi salah tingkah karena ulah konyol mereka semua teman satu kelas. Dan ... ini semua karena dia, pangeran basket. Rezky -ku.
Pelajaran dimulai.
Sepanjang pelajaran berlangsung aku jadi tidak konsentrasi karena apa yang sudah terjadi dengan pagi ini dan juga tadi malam.
Aku kembali teringat dengan wajah dan kata-kata Rezky pagi ini. Entah mengapa aku melihat sesuatu yang menyiratkan hal yang tidak dapat aku baca. Rezky membolos dan ingin mengajak aku untuk pergi bersama dengan dia.
Tiba-tiba, rasa bahagiaku berubah menjadi sesuatu kekhawatiran.
Sepertinya aku sama sekali tidak mendengar perkataan dari Bu Susan hingga membuat Tina beberapa kali menyiku lenganku karena aku bengong terus katanya.
Semakin lama aku semakin kepikiran terus sama Rezky, tapi entah mengapa perasaan aku tidak enak kali ini. Kepalaku pun menjadi pusing dan d**a terasa sesak.
Jam istirahat pun tiba. Aku segera mencari ponsel di dalam tas agar aku bisa segera menelepon Rezky dan bertanya apa dia baik-baik saja.
"Elo kenapa sih, Sy?" todong Tina.
"Kenapa apanya?" aku balik bertanya tanpa berpaling dari kesibukan aku mencari ponsel yang kini sudah aku temukan.
"Ya elolah! bengong nggak jelas kayak orang lupa ingatan tau nggak," dumal Tina dengan tampang jutek.
"Gue mau telpon Rezky, dari tadi gue kepikiran dia terus dan firasat gue tuh ngga enak banget Tin," kataku menjelaskan sambil terus menghubungi Rezky yang belum juga diterima membuat aku semakin cemas saja.
"Gimana?" Tanya Tina yang penasaran.
Aku menggeleng kemudian mengakhiri panggilan. "Nggak diangkat," kataku lesu.
"Mungkin dia lagi maen basket dan nggak bawa hape, lo coba telepon Risa, deh," kata Tina menyarankan.
Aku mengangguk lalu kemudian segera menghubungi Risa seperti yang disarankan oleh Tina tadi. "Ayo dong Ris, angkat...," kataku karena tak ada jawaban.
"Risa nggak ngangkat telepon lo juga?" tanya Tina sambil mendekat untuk memastikan. "Atau mungkin mereka sedang ada kegiatan," kata Tina lagi.
Aku mengernyit ragu, "ya gue harap si, gitu. Tapi entah kenapa perasaan gue nggak enak deh, Tin."
"Ah, elo mah berlebihan, Sy. Udah ah, kita istirahat yuk! Jam istirahat adalah saat paling penting untuk dinikmatin selama kita ada di sekolah," ucapnya kemudian beranjak dari kursinya untuk menyeret aku tanpa ampun ke kantin.
"Ya tapi nggak perlu nyeret gue kaya ibu tiri juga kali, Tin!" protesku.
"Perlu, sebelum tempat favorit kita di kantin bakso uratnya Pak Mamat yang hepat keburu di tempatin rombongan dari kelas lain," jawabnya memprotes aku yang masih saja lamban.
Ketika aku dan Tina sampai di kantin baksonya Pak Mamat, tempat kami biasa duduk sudah diselamatkan oleh tim bawel Lasmi, Dewi, Zelta Dan Mila. Di sana juga sudah ada Asep dan Sincan yang langsung berdiri untuk mempersilakan kami duduk ketika kami sampai. Mereka berdua sampai mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan kursi sebelum kami duduk. Haha, mereka berdua itu memang selalu saja ingin bertingkah aneh dan lucu.
Untuk sejenak, pikiran aku tentang Rezky dapat aku singkirkan berkat kelucuan teman-teman di kantin di sela-sela kami menunggu lalu menikmati bakso urat Pak Mamat yang super nikmat, hemat, dan juga merakyat.
- - - * * * - - -