Yang Pergi Hilang, Yang Datang Mengganti

1031 Words
Tak seperti malam yang sebelumnya. Rasanya malam ini dipenuhi dengan bintang terang. Cahaya bulan yang temaram. Semua masuk menyinari relung hati. ?Osy Setelah melakukan ritual sebelum tidur, yaitu bersih-bersih dari wajah sampai kaki, aku pun lalu segera naik ke atas tempat tidur. Aku berbaring miring menghadap ke satu sisi, memandang sepucuk bunga mawar putih pemberian Rezky yang aku letakkan di meja samping tempat tidur. Lalu tanganku pun terjulur untuk mengambilnya. "Kamu ... mawar pertama yang aku terima," ucapku pada benda itu lalu mencium pucuknya. Malam sudah cukup larut, tapi aku belum juga terlelap. Aku belum juga bisa mengusir wajah Rezky dari kepala. Tatapan dan senyumnya yang hangat masih berseliweran di dalam ingatan. Suaranya yang lembut dan ucapannya yang teratur seperti dentingan lembut lagu cinta, masih saja mengiang di telinga. Aku yakin sudah terlelap. Tapi ... merasa ada Rezky di hadapanku. Dengan pakaian putih yang ia pakai tadi. Yang membuatnya seperti malaikat. Putih. Dia memandangku dengan penuh cinta, tapi aku seperti tak melihatnya ... hanya bisa merasakan hangat genggamannya. Sama sekali tak bisa aku tebak sejak kapan dan dari mana dia muncul. Aku tetap saja terlelap. Tapi, hangat tangan yang sangat kukenal itu, tetap bisa kurasakan. Aku merasa dia semakin jauh... jauh... lalu menghilang. Rezky menghilang seperti angin. Tanganku masih belum bergerak. Masih ingin menggapainya, tapi gagal. Yang tertinggal hanya rasa hangat yang sudah ia kenalkan padaku. Tanganku terasa pegal sekali, tapi tetap tak mau bergerak turun. Napasku sesak, seperti ingin menangis tapi ... air mataku habis. Ingat. Kamu harus mengangkat tangan setengah badan seperti ini setiap kali ingin mengingat hangatnya genggaman tanganku. Kamu pasti tetap bisa merasakannya ... meski aku sudah nggak di sampingmu lagi.... Kalimat itu terdengar semakin jauh lalu hilang terbawa angin. "Rezky...." Aku refleks mengangkat punggung. Mencoba mengingat cara bernapas. Mulutku menganga lebar, mencoba bernapas meski terputus-putus seperti kehilangan udara. Aku menekan kepala dengan dua tangan. "Mimpi," gumamku. Mimpi ... mimpi yang paling aneh sepanjang hidupku. Menjatuhkan lagi punggungku. Tangan terbentang lebar. Aku berkernyit saat ingatanku mereka ulang kejadian dalam mimpi tadi. Kemudian ... mengangkat tanganku seperti ... mimpi tadi. Cukup lama, sampai terasa pegal. "Hah...!" aku tertawa ringan karena, ya ini memang hanya mimpi. Kujatuhkan tangan. Tertawa lagi, masalahnya aku merasa mimpi ini hanya... karena Rezky tadi malam mengajariku bagaimana cara untuk tetap menggenggam tangannya meski jauh. Meraskan hangatnya, dan keberadaannya. Memang agak berlebihan, tapi aku suka setiap kali dia melakukan itu. Aku jadi merasa dia benar-benar tak mau kehilanganku. "Rezky." Aku beranjak untuk mandi. Seperti biasa, aku menggosok gigi dulu sebelumnya. Mengurangi rasa dingin jika tubuhku sudah basah seluruhnya. Saat aku menggosok gigi di hadapan cermin yang menggantung dan bisa memantulkan pundak hingga ujung rambut, aku kembali mengingat sesuatu. Tanganku berhenti menyikat gigi, kemudian memandang dengan seksama. Aku berusaha mengingat saat Rezky menatapku di dalam mimpi tadi. Mengapa... aku merasa tatapannya dingin? Sangat berbeda dari tatapan yang biasanya. Seperti ... tak begitu hidup. Secepatnya aku menepis pemikiran itu. Kemudian kembali menggosok gigi dan meneruskan untuk mandi. Pagi ini terasa sangat dingin. Setelah membungkus tubuh aku yang basah dengan handuk, aku pun kembali menghadap cermin. Ingatanku tentang mimpi itu kembali lagi. Kali ini bukan masalah tatapannya padaku. Tapi suaranya. Ya, suaranya ... Mengapa suaranya menghilang terbawa oleh angin yang entah ke mana arahnya? Rezky.... __ Setelah selesai bersiap diri untuk berangkat ke sekolah, aku pun kemudian menghampiri Yansen untuk mengantarnya ke sekolah seperti biasa. Mami menuntun Yansen untuk ke depan dan aku pun berjalan ke depan mendahului mereka. Ketika aku sampai di halaman depan rumah, aku berhenti karena melihat seseorang di sana. Yansen yang memang belum sempat untuk mengenal dia, tiba-tiba saja berlari karena dia yang berdiri di sana sudah siap untuk menendang bola milik Yansen yang memang selalu ada di halaman rumah. Dia menendang tidak begitu kuat, aku menangkapnya agar Yansen tidak bisa balas menendang bola. Yansen mematung di tempatnya karena tidak bisa menendang bolanya. Dia yang tadi menendang bola kemudian berjalan mendekat ke arah Mami untuk kemudian mencium tangan Mami. "Selamat pagi Tante," ucapnya kemudian. "Pagi," balas Mami dengan senyum ramah. "Ayo kak, main bola!" seru Yansen kepada Rezky meski ia baru pertama kali melihat. "Yansen, kita harus pergi ke sekolah sekarang, ayo!" kataku memperingatkan. Yansen otomatis langsung manyun, "huh kakak nggak seru!" protesnya. Rezky kemudian mendekati Yansen lalu berlutut dengan satu kaki tepat di hadapan adik kecilku itu. Rezky memegang ujung kepala Yansen lalu berkata, "nanti sepulang dari sekolah, kita main, kakak janji, oke." "Oke, kakak namanya siapa?" Rezky menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking mungil Yansen. "Nama kakak, Rezky. Mulai sekarang kita berteman. Oke." Rezky kemudian membentuk senyuman lebar di bibir merahnya hingga membuat matanya menyipit. "Oke! benerankan kakak Rezky janji?" Yansen bertanya agar lebih yakin. "Iya beneran, janji!" jawab Rezky. Aku tersenyum kagum sekaligus bahagia. Aku lihat Mami juga tersenyum. "Udah buat janji, kan? sekarang ayo kita berangkat," kataku. Rezky menegakkan tubuhnya kemudian beralih pada Mami lagi. "Ehm, Tante, aku mau minta izin untuk mengantar Osy dan Yansen ke sekolah," katanya dengan sangat sopan dan hati-hati. Mami tersenyum kemudian menjawab dengan anggukan ringan saja. "Terima kasih ya, kamu sudah mau repot mengantar Osy dan Yansen anak Tante ke sekolah," ucap Mami yang tidak aku duga. "Ah, aku sama sekali nggak ngerasa repot kok Tan, justru aku yang senang bisa diizinkan untuk mengantar mereka berdua," balas Rezky kemudian senyumnya mengembang. "Ya sudah ayo kita berangkat sebelum telat," kataku menyudahi. "Yuk!" Rezky memegang ujung kepala Yansen. "Permisi Tante," ucapnya kemudian. "Kita berangkat dulu ya Mam, assalamu'alaikum!" ucapku berpamitan. "Asyik... kita naik motor keren...!" Yansen berseru gembira sambil melompat beberapa kali. Aku melebarkan senyum, tidak pernah aku melihat Yansen adik kecil aku itu sebahagia pagi ini tepatnya setelah kami kehilangan Papi. Yansen tentu saja duduk di depan dan aku duduk di boncengan. Aku memeluk pinggang Rezky. Di sepanjang perjalanan senyum di bibir ini tidak pernah terhapus. Bahagia sekali rasanya aku bisa mengenal lalu memiliki dia. Terima kasih Tuhan karena engkau telah menggantikan kebahagiaan kami yang telah hilang setelah Papi tiada dengan kehadiran seseorang yang baru yang meski tentu saja dia bukan seseorang yang bisa menggantikan sosok Papi di hidup kami. - - - - - - - - - - - - - * - - - - - - - - - - - -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD