Tentang Mimpi Semalam

1312 Words
Sampai di kelas, Risa menelepon. Aku mulai menjawab seribu pertanyaan darinya. Dan semua tentang kejadian yang menimpa aku tadi malam. "Tengkyu ya, udah milihin gaun ama sepatu yang cantik banget buat gue," ucapku tulus padanya. "Astaga! Gue lupa soal sepatu itu, sory banget!" sahut Risa yang justru tidak mengingat itu. "Hah... elo tuh ya, kebiasaan!" ucapku lagi padanya. "Ya... kan udah bilang sory, cin...!" sahut Risa. "Iya-iya..., gue becanda doang kok!" aku menahan kalimat lalu melihat ke sekeliling. Aman deh kayaknya, Tina belom dateng soalnya. "Malah ... ceritanya jadi lebih seru!" ucapku menjaga volume suara. "What? Maksud loh?" tanya Risa dengan tampang yang terlihat penasaran setengah mati. "Yaaah..., pokoknya seru deh!" aku hanya menjawab dengan seruan. "Sumpah ya, elo bikin gue penasaran mampus, kunyuk!!" umpatnya. "Hehehe...! Iya gue ceritain tenang aja. Mm..., seru karena ... Rezky jadi ngobatin kaki gue yang lecet gara-gara make sepatu gue itu, yang waktu itu gue beli sama Mami." Akhirnya aku putuskan untuk mulai bercerita padanya. "Iya gue tau, sepatu itu! Wah... romantis dong...!" Risa berseru heboh. "Banget...! Terus... abis ngobatin kaki gue Rezky makein gue sepatu baru yang pilihan elo itu...." "Ha, sumpah lo?" Risa nggak percaya. "Sumpah. Beneran. Semalem tuh... adalah malam teromantis sepanjang hidup gue!" "Terang aja, lo kan jomblo!" ledek Risa. "Elo ditembak Rezky?" Tina tiba-tiba menerobos. "Ah..., lo bikin gue gigit jari aja! Saking kekinya harus gigit jari kaki tauk! Terus, ngapain lagi?" tuntut Risa. "Umm...!" aku memandang Tina yang lagi senyum nggak jelas lalu mengangguk padanya sambil gigit jari. "Aaaaaaaaaa.......!!!" teriak Tina sampai Risa ngedumel. "Sory, ini si Tina ganggu aja!" kataku pada Risa. "Cerita selanjutnya entar kita ketemu aja di rumah. Oke!" kataku akhirnya pada Risa. "Oke deh! Udah mau bel masuk juga nih. Eh itu dia si Rezky dateng. Gue mau tanya dia juga deh, bye sepupu!" balas Risa mengakhiri. Aku menyimpan handphone di saku kemeja kemudian beralih pada Tina yang sudah tidak sabar untuk mendengar ceritaku. "Aaa...! Tina...!!!" aku memeluknya gemas. "Akhirnya..., gue bener-bener ngerasain yang namanya CINTA...!" ucapku dampak dari rasa terlalu bahagia. "Selamat ya...! Gue juga ikut seneng banget dengernya," balas Tina dengan wajah sumringah. "Tengkyu," ucapku. Bel masuk berbunyi yang otomatis membuat ruang kelas jadi semakin padat penduduk. "Eh, terus gimana? Selain adegan Cinderela yang dipasangin sepatu sama pangeran tampan, terus apa lagi?" selidik Tina nggak sabar untuk tahu. "Ngng..., ceritain nggak ya...?" godaku. "Ih, si Osy mah, pelit banget cerita dong!" tuntut Tina mengguncang lenganku. "Oke. Tapi nggak sekarang. Percuma kan, bentar lagi ibu Marina dateng terus cerita gue kepotong." "Janji ya! Awas lo!" ancamnya. Aku hanya menjawab dengan anggukan sambil senyum berusaha untuk meyakinkan. Ketika pelajaran dimulai, aku berusaha mengusir Rezky dari pikiran, tapi ... susah banget sumpah! Aku tetap harus konsentrasi pada pelajaran. Beberapa kali Tina menendang kakiku karena aku senyum-senyum sendiri seperti orang nggak waras, katanya. Hari berlalu sangat terasa kalau lagi di dalam kelas dan dengan guru yang super serius kayak robot kaku. Akhirnya matahari semakin tinggi, artinya hari semakin siang. Suasana gaduh menyambut waktu istirahat yang baru saja tiba. Tina buru-buru menarikku dan, yeah... aku tau apa maksud dan tujuannya. Sesuai dugaanku. Kami masuk ke kelas IPA satu. Dan Tina benar-benar bikin aku memerah seperti tomat. Tina mengumumkan tentang kabar aku jadian sama Rezky. Al last... mereka semua histeris, tanpa tau alasan jelas. Asep, dan Sincan nggak mau ketinggalan teriak gaya cewek centil. "MAKAN... MAKAN...! MAKAN...!" teriak dua cowok nggak penting itu. Udah kayak orang kelaparan. "Gue traktir bakso! Tapi bakso tusuk, mau?!" candaku lalu tertawa. "Gue mau seratus tusuk!" seru Asep menanggapi. Aku pun memimpin para gadis untuk pergi ke kantin tanpa memerdulikan Asep dan Sincan. Mereka berdua tetap saja ikut, biasanya hanya sebentar karena mereka lebih banyak nge-basket kalau istirahat. Di kantin, aku bercerita dengan antusias. Bikin semua ngerasa keki. Aku sendiri menceritakannya seperti mimpi. Antara percaya dan tidak. Aku nggak sabar ingin tau ..., apa reaksi mereka. Ternyata semua sama. Semua mengungkapkan kegembiraan dengan berbagai cara, terutama Tia yang sedikit lebih mengenal Rezky secara pribadi dibanding yang lain terutama aku. Waktu berlalu sangat cepat kalau sudah berkumpul dan bercerita dengan teman-teman. Jam istirahat pun usai. Tapi seperti biasa, kami masih nyolong-nyolong waktu sebelum guru masuk kelas. "Yosy! Tina! Kalian pindah kelas!" tiba-tiba suara tegas itu menggema. Ternyata Pak Kevin sudah di ambang pintu. Aku dan Tina terpaksa harus melewatinya sambil merunduk dan malu-malu. Sudah biasa, kejebak guru saat nangga kelas sebelah! Setengah hari terlewati tanpa terasa olehku. Sebelum pulang ke rumah, hal yang aku lakukan dengan teman-teman adalah berkumpul bersama. Bercanda, saling mengolok, dan bercerita tentang apa saja yang ada di pikiran kami yang kadang entah apa, mungkin juga tidak masuk akal untuk diceritakan. Tapi kali ini habislah aku yang jadi bahan olokan. Karena Rezky, dan karena aku belum pernah pacaran sebelumnya. "Ih, tuh... kan, mukanya merah gitu. Cie..., benerkan... semalem ada adegan sensor...!" tuduh Dewi dengan tampang jahil. "Apa-an sih!" sangkalku untuk menutupi rasa malu. Sementara orang-orang rese di hadapan aku ini malah monyong-monyong seolah mencium seseorang. "s****n, rese lo semua pada! Pada gila ya! Nggak gitu juga kalee!" mereka semua tertawa puas, karena berhasil membuat pipiku semerah tomat. Sedang asik berjalan keluar gerbang, ada suara deru motor yang berhenti tak jauh dari kami. Aku sama sekali nggak tau motor siapa dan nggak peduli juga dengan yang mengendarai. Tapi, sorot mata dan wajah Asep membuat aku curiga. Cukup menandakan bahwa dia mengenali meski wajahnya tertutup oleh helm. Terdengar satu kali bunyi kelakson dari motor Kawasaki hitam metalik miliknya "Ehm!" Tia berdeham sambil menyiku pinggul aku. "Siapa sih?" bisik aku pada Tia. "Beneran nggak tau apa pura-pura nggak tau?!" godanya lagi. "Ya beneran...!" balasku yang semakin penasaran. Akhirnya terjawab sudah karena saat ini dia sudah membuka helm. Dan betapa karismanya dia terpancar dari wajah tampan itu. "Ada yang butuh tumpangan?" tanya dia, entah yang ditujukan pada siapa. "Ada banget...!" jawab Tina semangat, dia sampai mendorong aku ke tengah. "He-eh... ada, pasti ada!" Tia menambahi nggak kalah genit mendorong wajah aku yang menatap malu-malu. "Ayo..., hajar! Buruan jangan malu-malu!" Asep menarik aku tanpa ampun sampai aku berdiri tepat di samping motor yang keren dan si pengendaranya yang tampan bak pangeran. "Oke. Mm, guys..., duluan ya!" pamitku. Sumpah, perasaan apa ini, aku naik sambil malu-malu melihat mereka yang masih menggodai aku. "Hati-hati, jangan lupa alamat rumah ya!" ucap Tia yang entah apa maksud dari ucapannya sudah jelas hanya untuk menggoda saja. "Pegangan dong, Sy, entar kamu jatoh. Aku tuh nggak mau kalo kamu sampai jatoh!" teriak Asep entah serius atau hanya godaan saiton yang terkutuk. "Langsung pulang ya, jangan mampir ke sana-sini!" teriak Sincan nggak mau kalah juga, kalau ini biangnya tuyul. Mereka semua membuat aku geleng kepala. Mataku melihat mereka tampak makin jauh, lalu berpaling padanya yang memboncengku dengan tenang. Aku nggak berani pegangan, tapi sejurus kemudian dia seperti bisa mendengar pikiranku. "Nggak papa kalo kamu nggak mau pegangan, yang penting kamu pakai helm ini. Jangan dilepas ya, aku akan hati-hati. Tenang aja! Aku nggak suka ngebut kok." Suaranya teredam helm. "Iya." Jawaban singkatku. Oh Tuhan...! Ini seperti sebuah mimpi yang indah. Sangat indah. Hingga aku ingin meledak rasanya. Bersamanya adalah kebahagiaan yang teramat sangat bagiku. Hingga aku pun tak mampu untuk bagaimana mengekspresikannya lagi. Hatiku bersenandung ria dengan nada lagu cinta yang semalam mengiringi kisah cinta kami, aku dan dia. Aku seperti mendengar lagu itu dari balik punggung Rezky dan dari dalam hati aku. Rasanya terlalu cepat kami sampai di depan rumahku. Ini untuk ketiga kalinya Rezky mengantarku pulang. Tapi untuk status baru sebagai pacarnya ... ini kali kedua. Oh Tuhan... ini masih seperti mimpi! Kalau pun ini hanya mimpi ... aku tak ingin terbangun dari mimpi ini. Melambaikan tangan sampai ia tak nampak lagi di mataku. Plis Osy, jangan bangun dari mimpi yang paling indah bahkan terlalu indah ini.... - - - - - - - - - - - - * - - - - - - - - - - - - -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD